
Melihat Azka sudah tertidur lelap dalam pelukannya. Dengan perlahan, Amalia menarik tangannya dan membenarkan posisi putranya itu agar terlihat nyaman dalam tidurnya. Usai memberikan kecupan di kening Azka, Amalia merangkak turun dari ranjang hendak menyusul suaminya yang sudah menunggunya di kamar sebelah.
“Astaghfirullah!” Tubuh Amalia tak sengaja menabrak tubuh milik suaminya saat pria itu juga hendak masuk ke kamar untuk melihat keadaan Azka. Refleks tangan Amalia mengusap dahinya yang terasa panas.
“Maaf maaf, Sayang. Ak--.”
Ucapan Angga terpotong kala sebuah tangan mendarat di mulutnya.
“Jangan berisik! Dia baru saja tertidur.” Angga mengangguk membuat Amalia menarik tangannya dan beralih mengandeng lengan Angga.“Ayo kita ke kamar.”
“Sebentar sayang. Aku mau melihatnya dulu.” Angga mencoba menerobos pintu kamar yang baru saja di tutup rapat. Namun tertahan saat Amalia mencekal tubuhnya.
“Tidak usah, Mas. Kita langsung ke kamar saja.”
Angga menatap Amalia dan menyeringai.
“Apa?” tanya Amalia yang terlihat bingung.
“Bilang dong, kalau udah kangen.” Angga mengarahkan manik matanya ke bawah tepat di bagian intinya yang mulai menegang membuat Amalia memukul lengan suaminya itu yang mulai tampak mesum.
“Mulai deh, mesumnya! Aku melarangmu masuk karena aku tidak mau Mas menganggu Azka. Mas, ‘kan jahil. Suka noel-noel pipi Azka kalau dia bangun bagaimana?”
Angga terkekeh geli. “Habisnya aku gemes, Sayang."
Amalia hanya memutar bola matanya malas. "Kita ke kamar, Mas. Aku ngantuk, nih!"
"Ayo ayo ayo." Angga merangkul pundak istrinya seraya melangkah menuju kamar mereka yang berada tepat di seberang kamar Azka.
Sesampainya mereka di kamar, Amalia masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sementara Angga duduk menyandar di headboard. Sembari menunggu Amalia menyelesaikan urusannya, Angga meraih ponselnya. Dahinya mengernyit melihat beberapa pesan dari Niko yang mengatakan orang tuanya tak henti-hentinya menanyakan keberadaannya.
"Ada apa, Mas?"
Angga tersentak dengan suara Amalia tiba-tiba sudah berada di tepi tempat tidur. Pria itu tak menjawab. Tubuhnya mematung. Walau dalam temaram cahaya lampu tidur, wajah Amalia begitu cantik.
Ia melirik tubuh istrinya. Wanita itu memakai gaun tidur bertali spaghetti, hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang aduhai. Melihat pemandangan itu, seketika darahnya berdesir hebat.
__ADS_1
"Mas! Kenapa menatapku seperti itu?" Amalia menunduk, menyembunyikan semu merah di wajahnya.
Angga meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ia beringsut maju hingga mendekat pada Amalia.
"Sayang ... Lihat Mas!" Angga mengangkat dagu Amalia supaya wanita itu menatapnya. "Kamu sangat cantik, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas." Tanpa permisi, sebuah kecupan singkat mendarat tepat di bibir Angga. Pria itu membeliakan matanya, sungguh ia tak menyangka Amalia bisa seagresif ini.
"Ma-maf Mas. A-aku kelepasan." Amalia kembali menunduk. Tapi tak lama, Angga kembali mengangkat wajahnya.
"Mas suka sayang dengan sikapmu yang seperti ini."
"Ak—.'
Seketika Angga menarik tengkuk Amalia dan membungkam mulut istrinya itu. Lenguhan pelan mulai terdengar. Angga tersenyum disela ciumannya karena Amalia tanpa canggung membalas perlakuannya dengan tak kalah hebat. Mungkinkah ini efek rindu yang memuncak di antara keduanya?
Tanpa melepaskan ciumannya, Angga membaringkan tubuh istrinya di tengah-tengah ranjang. Puas bermain dengan bibir Amalia, Angga melepaskan ciumannya dan beralih menelusuri dagu, leher hingga tulang selangka wanita itu. Tak lupa juga pria itu meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana.
"Shh ... Ahhh." Desisan serta desahan tak mampu membendung kenikmatan itu. Apalagi tangan Angga mulai menjalar dengan lihainya di area-area sensitif istrinya.
*******, sesapan serta ******* tak terhenti di bibir Amalia disaat tangan suaminya itu mulai menelusup masuk ke dalam pakaian yang ia kenakan. Sesaat kemudian, hanya dengan sekali gerakan, Angga mampu melepaskan kaitan pada kain yang membungkus kedua aset penting Amalia.
"Akh ...." Amalia merasakan cengkraman telapak tangan Angga di dadanya yang mana membuat tubuh wanita itu mengelijang. Sungguh Amalia ingin mengumpat, betapa nikmatnya sentuhan yang diberikan suaminya itu.
Tak puas hanya dengan meremas, Angga menenggelamkan wajahnya di salah satu dada Amalia sementara tangannya tetap gentanyangan di kesana kemari hingga terhenti di aset paling berharga istrinya. Amalia terkesiap dan nyaris berteriak saat jari Angga bermain-main dengan bulu-bulu halus di sana.
"Mas ...."
"Keluarkan saja, Sayang. Jangan menahannya." Suara Angga terdengar serak. Kabut gairah begitu pekat menyelimuti dirinya. Lidahnya menjalar ke atas puncak dada tersebut, memilin dan menggoda benda itu.
"Mas ... Ah ... Aku ...."
"Panggil namaku, Sayang."
"Mas ... Akh ...." Amalia tersentak ketika Angga memberikan gigitan kecil di puncak dadanya membuat kedua tangannya refleks mengacak rambut Angga dan membenamkannya lebih dalam lagi pada dadanya. Seolah-olah meminta lebih dari perlakuan suaminya tersebut.
__ADS_1
"Angga!"
Tubuh Amalia menggelepar seketika. Wanita itu telah sampai di puncak kenikmatannya yang pertama. Angga menjauhkan tubuhnya dari Amalia yang perlahan mulai melemas dengan napas yang terengah-engah. Ia pandangi wajah istrinya yang basah oleh keringat. Rupanya, hawa dingin yang dipancarkan oleh AC ruangan itu tak mampu lagi membendung lagi hawa panas yang menguar dari tubuh dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
“Sayang … Aku sudah tidak kuat menahannya.” Dari manik mata Angga, Amalia dapat melihat kilatan nafsu yang sudah membumbung tinggi di sana. Wanita itu mengangguk mengiyakan.
Angga manarik diri. Baru saja ia ingin menurunkan celananya sebuah teriakan dari balik pintu terdengar berisik.
“Ayah … Bunda ….!”
Seketika wajah Angga berubah pucat pasi. Ingin rasanya dia mengumpat kesal. Namun akal sehatnya mengalahkannya. Angga kemudian turun dari ranjang untuk membuka pintu. Sementara Amalia dia merapikan pakainya yang hampir terlucuti.
Setelah pintu terbuka, seorang anak kecil langsung memeluk kaki ayahnya.
"Ayah, Azka takut bobo sendiri. Azka mau bobo Ama Ayah dan Bunda ya." Angga pun segera menggendong anaknya dan menuju ke ranjang.
"Ya udah Azka bobo sini dulu ya," ucap Angga membaringkan anaknya disamping tubuh istrinya. Kemudian Angga beranjak dari tempat itu. Namun sebuah tarikan menghentikan langkahnya.
"Mas mau kemana?" Amalia tahu, suaminya pasti kecewa karena tidak bisa mengeluarkan hasratnya malam ini.
"Aku ambil minum dulu sayang," ujar Angga tersenyum paksa pada istrinya. Amalia pun melepaskan tangan suaminya. Dengan langkah gontai, Angga berjalan menuju kedapur.
"Azka kenapa kok nangis?" Wanita yang terlihat cantik dari biasanya mengusap lembut rambut putranya.
"Azka takut Bunda. Azka gak mau bobok cendili. Bunda tinggalin Azka," keluh anak itu seraya memoyongkan mulutnya.
"Maaf ya sayang. Bunda tadi cuma temenin Ayah sebentar kok. Sekarang Azka bobok lagi ya." Azka pun mulai memejamkan matanya kembali.
to be continued...
Terimakasih buat teman sekaligus sahabat saya yang sudah membantu saya dalam hal penulisan. Terimakasih materi-materinya sehingga tulisan saya lebih layak lagi dibaca.
reader setia Angga Amalia... mampir juga ke novel di bawah ini ya... ceritanya gak kalah seru Lo...
__ADS_1