Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Mengetahui kenyataan


__ADS_3

Diamatinya foto itu. Foto itu di ambil saat kakaknya akan masuk ke penjara. Yang membuat Amalia bingung, ada hubungan apa suaminya dengan kakaknya. Sehingga foto itu ada di Labtob suaminya.


"Bun, ayo mana videonya," rengek Azka membunyarkan lamunannya.


"Iya sayang." Amalia kemudian memutar video yang diminta anaknya. Tapi dia masih penasaran dengan apa yang ia lihat.


Amalia menemani putranya nonton. Dia membawa Labtob itu ke sofa, agar ia bisa duduk. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang wanita dengan rok di atas lutut datang kearahnya.


"Oh seperti ini cara kamu mendapatkan Kak Angga. Licik," tukasnya menghina Amalia. Yang awalnya Amalia tidak ingin menanggapi omongan wanita itu. Kini dia tidak bisa hanya diam di hina wanita itu.


"Saya tidak mau cari keributan disini," ujar Amalia membuang muka.


"Hey, kamu wanita kotor!!! Dengan cara menjual tubuhmu, kamu menjerat kak Angga." Mendengar hal itu, Amalia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri wanita itu.


"Terus apa bedanya dengan wanita yang selalu mengejar-ngejar laki-laki yang jelas menolaknya, hah!" seru Amalia santai dan menunjuk ke wajah Amalia.


Azka yang melihat kejadian itu, menjadi ketakutan. Keributan mereka, mengundang perhatian orang yang melintasi ruangan Angga. Azka berdiri dan lari kearah bundanya.


"Dasar sampah!!!" Angel sudah tersulut emosi dengan perkataan wanita di depannya. Dengan sekali gerakan, dua menjambak rambut wanita itu. Seketika membuat Amalia meringis kesakitan sembari memegangi rambutnya.


"Kamu pantas mendapatkan itu." Angel semakin menjadi hingga teriakan bocah kecil di dekatnya sama sekali tidak ia hiraukan.


"Tante jangan sakiti Bundanya Azka. Huhuhu." Anak itu berusaha mendorong tubuh Angel, tapi tidak berhasil. Amalia melihat anaknya histeris membalas perlakuan Angel, Dengan menginjak kakinya. Seketika tangan Angel terlepas dari rambut ibu muda itu, dengan cepat dia menarik tangan anaknya untuk menjauh dari wanita itu.


"Brengsek!!" Umpatnya sembari menginjak-injakan kakinya di lantai untuk menahan rasa sakitnya. Saat dia akan membalas perlakuan Amalia. Sebuah suara menggema di ruangan itu, sehingga ia urungkan niatnya. Karena suara itu adalah suara Angga yang meradang melihat keributan itu.

__ADS_1


"Jangan sentuh istri saya!!!" Angga berjalan mendekat kearah Angel. Dengan satu gerakan dia memerintahkan satpam untuk mengusir wanita itu.


"Bawa wanita itu pergi dari tempat ini. Dan kamu, kemasi barang-barang kamu. Mulai hari ini, kamu saya pecat!!!" Gertaknya menunjuk wajah Angel. Tak terima dengan keputusan Angga. Angel berusaha berontak.


"Nggak bisa seperti ini, dong Kak! Aku gak mau di pecat dari sini!!" Teriaknya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman petugas keamanan kantor.


Setelah Angel pergi, Angga langsung mendekati anak dan istrinya. Azka masih terisak ketakutan karena bundanya disakiti wanita tadi.


"Kamu nggak apa, kan sayang? Ada yang luka?" Tanyanya khawatir karena rambut Amalia berantakan, dan ada sedikit goresan dipipi istrinya.


"Sakit sayang." Amalia memegangi pipinya, yang terkena goresan kuku wanita itu.


"Sini biar aku obati. Azka jangan nangis lagi ya, sayang!" Angga mengambil ikat p3k yang berada di meja sudut tak jauh dari tempat mereka duduk. Setelah itu, mendekati anaknya yang masih terlihat ketakutan.


Dengan telaten Angga mengobati bekas luka istrinya. Setelah selesai, di raihnya tubuh istri untuk ia peluk. Sebagai bentuk rasa sayangnya pada istrinya. Seperti kata-kata yang tertulis di sebuah artikel. Jika istrimu sedang sedih ataupun marah. Beri pelukan padanya. Karena pelukanmu bisa meredam itu semua. Hehehehe, gak percaya bisa di coba. Typo dikit gak apa ya, biar gak serius-serius amat bacanya.


"Sayang, aku tadi lihat ada foto kakak ku ada di Labtob kamu. Ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanyanya to the point.


"Yang mana, sayang? Foto di Labtob aku kan banyak?" jawab Angga balik bertanya pada istrinya.


Amalia mengambil ponselnya, dan mencari foto kakaknya di galeri. Setelah ketemu, di perlihatkan foto itu ke suaminya.


"Ini, sayang!" Setelah melihat foto itu, Angga mengerem mobilnya mendadak. Dia begitu terkejut melihat foto itu. Orang yang sama yang menjadi tersangka pembunuh kakaknya.


"Kamu kenapa, sayang?" Amalia kembali bertanya pada suaminya, yang tiba-tiba diam setelah melihat foto yang ia tunjukkan.

__ADS_1


"Itu benar foto kakakmu?" Raut wajah Angga berubah serius.


"Iya sayang. Sekarang dia di penjara, karena kasus pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan," jelas Amalia membuat Angga semakin terkejut dengan pengakuannya. Dia tidak menyangka istrinya adalah adik dari pembunuh kakaknya. Ini akan menjadi masalah yang baru dalam rumah tangga mereka.


"Kamu kenapa sih, sayang?" Merasa ada yang aneh dengan suaminya Amalia mulai menelisik apa yang terjadi pada Angga.


"Kita bicarakan di rumah, ya!" Angga melanjutkan perjalanan menuju ke rumah papanya. Sikapnya berubah pendiam pada istrinya. Bahkan sepanjang perjalanan, dia tidak bersuara. Saat ditanya pun, hanya di jawab seperlunya saja.


Setelah sampai di rumah. Mereka berdua turun secara bersamaan. Angga, menggendong anaknya yang terlelap di belakang. Setelah itu mereka masuk ke dalam.


Angga membaringkan tubuh anaknya di ranjang. Setelah itu dia pergi dari kamar, tanpa menoleh kearah istrinya. Amalia menjadi bingung dengan perubahan sikap suaminya.


Angga menuju ke ruang kerjanya. Dia pusing dengan masalahnya. Setelah mengetahui kebenaran itu Angga, tidak bisa bersikap seperti biasanya pada istrinya. Dalam dirinya mengutuk semua anggota keluarga pembunuh kakaknya. Karena dia, Angga harus mengurungkan cita-citanya menjadi seorang pembalap internasional. Karena harus mengurus perusahaan milik papanya. Impian yang sejak kecil ia bangun harus kandas karena kematian kakaknya. Di sela lamunannya, Pak Dwi datang.


"Kamu kenapa, Ngga! Papa lihat kamu seperti orang kesal?" Pak Dwi kemudian duduk di depan Angga, namun tersekat dengan sebuah meja.


"Nggak apa, Pa!", Soalnya sembari memegangi pelipisnya. Angga tidak mau papanya tahu, kalau Amalia adalah adik dari pembunuh kakaknya. Kalau sampai itu terjadi. Pak Dwi pasti akan membenci lagi istrinya.


"Ngga, Mamamu punya rencana akan membuat resensi pernikahan kalian," ucap pak Dwi menguraikan rencana mamanya. Angga semakin bingung dengan apa yang dikatakan papanya.


"Angga kira, nggak usah deh, Pa! Untuk apa juga, yang penting kan, Amalia sudah jadi istri Angga," tolak Angga membuat pak Dwi sedikit kecewa.


"Kamu anak Papa satu-satunya. Benar kata Mama mu, kita harus mempublikasikan pernikahan kalian. Agar tidak menjadi berita miring diluaran sana." Pak Dwi masih terus membujuk putranya agar setuju dengan rencananya.


"Papa akan membuat resepsi pernikahan kalian. Kamu hargai keputusan Papa, kali ini!" Pak Dwi kemudian pergi dari ruangan itu. Dia bingung melihat sikap Angga yang menurutnya aneh. Harusnya dia senang, dengan rencana itu. Toh dia menikahi wanita yang dicintainya. Tapi kenapa dia terlihat tidak suka dengan rencana itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Kenapa? Kenapa harus serumit ini jalan hidup, hamba!!!"


To be continued


__ADS_2