Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Mulai bucin


__ADS_3

Amalia yang merasa namanya disebut, dia menengok kebelakang. Betapa terkejutnya dia saat siapa yang yang ia lihat. Laki-laki yang berusaha dilupakan Amalia, berdiri di belakangnya. Angga pun langsung menarik tubuh Amalia dalam pelukannya. Sesak yang selama ini ia rasakan, perlahan sirna terbawa air yang mengalir dari pelupuk matanya.


Orang-orang disekitarnya pun menatap aneh dua insan yang sedang berpelukan. Begitupun Azka, dia sampai terbengong melihat bundanya di peluk Angga. Lama mereka saling berpelukan. Hingga Amalia merasa dirinya tak bisa nafas, dia berusaha melepaskan pelukan itu. Tapi Angga belum mau melepaskannya.


"Pak Angga, saya tidak bisa bernafas." Perkataan Amalia membuat Angga merenggangkan tubuhnya dari Amalia. Hening diantara mereka hanya saling tatap. Menyakinkan bahwa apa yang sedang mereka lihat itu nyata. Hingga suara anak kecil membuyarkan lamunan mereka berdua.


"Bunda, Ayah Angga." Mereka berdua bersamaan memandang ke arah Azka, setelah itu memeluknya. Tapi Amalia mengurungkan niatnya untuk memeluk anaknya setelah Angga terlebih dulu memeluk Azka.


"Azka, kamu anak Ayah..." Angga pun menangis sesenggukan di bahu anak kecil itu. "Dia anak kita, Am." Amalia hanya mengangguk. Dia merasa bersalah telah memisahkan mereka.


"Ayah Angga kenapa nangis, Azka sedih." Angga tak mengindahkan kata-kata Azka. Dia terlalu haru, bahagia karena apa yang ia bayangkan segera bisa menjadi kenyataan.


Setelah drama tangis-tangisan itu. Mereka masuk ke dalam rumah nek Asih. Angga meminta Niko untuk pulang terlebih dahulu ke Jakarta. Dia juga bilang kalau dia sudah menemukan wanita pujaannya.


Angga menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya dan Amalia pada Afdal dan Nek Asih. Nek Asih sempat syok mendengar cerita Angga dan tidak menyangka kalau selama ini Amalia belum pernah menikah.


Afdal menjadi teringat saat dia melihat foto Amalia di meja kerjanya Angga. Kalau saja saat itu dia bertanya pada Angga tentang Amalia. Mungkin dia bisa mempersatukan cinta mereka. Angga pun merutuki kebodohannya.


"Jadi rencana ke depan kalian apa?" tanya nek Asih ditengah-tengah perbincangan mereka.


"Saya akan menikahi Amalia Nek. Karena hanya dia wanita yang Angga cinta," jawab Angga begitu antusias. Tapi tidak dengan Amalia. Wanita itu tertunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu. Angga yang menyadari itu, langsung minta izin untuk bicara berdua saja dengan Amalia. Nek Asih pun mengizinkan mereka berdua untuk bicara.


Amalia dan Angga pergi ke teras depan. Mereka duduk disana. Hening sesaat, belum ada percakapan dari keduanya.


"Am, apa kamu percaya pada takdir?" Pertanyaan Angga membuat Amalia semakin tertunduk. Dia tidak seperti Amalia yang Angga kenal dulu. Dia lebih pendiam saat didepannya.

__ADS_1


"Sejauh apapun kamu menghindari takdir itu. Tapi jika Allah menghendaki takdir kita untuk bersatu, maka Allah akan mempertemukan kita tanpa kita sengaja. Apa kamu masih ragu akan hal itu?" Amalia menatap kearah Angga.


"Saya takut, kalau orang tua Bapak akan.." kata-katanya terpotong. Amalia menjadi ingat saat pak Dwi mengancamnya dulu. Ancaman pak Dwi menjadi momok yang menakutkan bagi Amalia.


"Kalau itu saya bisa mengurusnya. Habis ini kita ke Bogor. Kita ceritakan semuanya pada orang tuamu. Dan saya akan menikahi mu." Jawaban Angga sedikit membuat dia percaya diri untuk bersatu dengan pria yang dia cintai itu.


Angga memegang kedua tangan Amalia. Dia ingin menyakinkan wanita itu, kalau dia akan membuatnya bahagia. "Katakan padaku, apa benar kamu tidak mencintaiku selama ini. Sesuai apa yang kamu tulis disurat itu."


Amalia menunduk, "tatap mata saya, Am." Perlahan dia mengangkat pandangannya, dan memandang mata Angga. "Katakan padaku Am. Apa kamu tidak pernah mencintaiku selama ini."


"Saya...saya sangat mencintai Bapak." Ungkapan cinta Amalia membuat Angga tersenyum puas. Ternyata menyakinannya selama ini tidak salah.


"Sekarang tidak ada lagi kata Bapak, saya tidak mau mendengar kata itu dari mulut kamu. Panggil aku sayang," perintahnya membuat wajah Amalia merah merona.


Mereka kemudian masuk kedalam lagi. Lega, perasaan Angga sudah lega. Karena diantara mereka berdua saling mencintai. Angga berjanji akan membahagiakan Amalia setelah ini.


Angga mengajak Azka dan Amalia untuk pergi bersama. Dia ingin menikmati quality time bersama orang-orang terkasih. Mereka pergi ke pasar tempel yang berada tak jauh dari tempat mereka tinggal. Itung-itung wisata kuliner di daerah tersebut.


Mereka berhenti di sebuah kedai telur gulung. Makanan yang sangat digemari Azka. Azka bshkan selalu minta pada Amalia, saat dia belanja di pasar sebagai oleh-oleh.


"Ayah suka telul gulung?" tanya anak itu menunjuk pesanan mereka.


"Ayah belum pernah merasakannya. Tapi kalau Azka suka, Ayah pasti juga suka," jawabnya sembari menyuapkan satu buah telur gulung ke mulut Azka. Amalia sangat senang, melihat kedekatan keduanya. Dia bahkan tidak pernah menyangka, kalau anaknya akan sangat dekat pada ayah kandungnya.


"Sekalang, gililan Ayah yang makan." Gantian Azka yang menyuapkan telur gulung ke mulut Angga. Angga pun melahap telur gulung yang disuapkan anaknya. Sembari mengunyah- ngunyah makanan itu, kepala Angga manggut-manggut. Pertanda makanan yang ia makan itu memang enak.

__ADS_1


"Ayah suka?" tanya Azka tertawa sembari menutup mulutnya dengan tangan.


"Suka, enak. Ayah mau lagi dong!" Azka pun menyuapkan lagi telur gulungnya.


"Bunda suapin Ayah, maca Bunda cuma liatin aja." Angga pun menuruti permintaan anaknya untuk menyuapi Amalia. Dengan canggung, Amalia membuka mulutnya. Ternyata ada tertinggal saus disudut bibir Amalia. Sehingga membuat Angga mengelap bibirnya dengan tangannya. Sontak mendapat perhatian para pengunjung yang ada disana. Begitupun dengan Azka, dia mengejek kedua orangtuanya itu.


"Cieeee Ayah sayang Bunda...yeahhhh" sontak membuat Amalia tersipu malu. Karena kemesraannya bersama Angga dilihat oleh anaknya.


"Hmmm iya dong,, Ayah sayang kalian berdua." Angga seperti tak menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya. Dia malah tak tanggung-tanggung memeluk Azka dan Amalia disana.


"Mas, malu ih..." Amalia langsung mencubit kecil Angga, membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.


"Sakit sayang. Eh tunggu-tunggu apa tadi kaki bilang. Mas, kamu panggil aku Mas, sayang?" Amalia semakin malu, hingga tak berani menatap wajah Angga. Dia juga tidak sadar memanggil Angga dengan sebutan Mas.


"Aku seneng, kamu udah gak panggil aku Bapak lagi. Tapi aku akan lebih senang, jika kamu panggil aku dengan kata, SAYANG!" seru Angga, membuat para pengunjung disana bersorak ramai melihat kemesraan pasangan yang ada didepannya itu.


To be continued...


Sesuai janji author kemarin


Mulai hari ini up dua kali....


Kalian seneng?


Jangan kasih kendor...

__ADS_1


Like, komen, vote, hadiah berikan pada keluar kecil ini....


__ADS_2