
Hari ini adalah hari dimana Angga melakukan kunjungan kerja di PT Guntara grup. Perusahaan penyuplai minyak terbesar di perusahaannya. Dia ingin melihat langsung cara pengolahan buah sawit yang dijadikan minyak mentah disana. Sembari menunggu peresmian pembangunan gudang produksi. Dengan ditemani langsung oleh Afdal, Niko dan direktur utama dari perusahaan tersebut.
Baru kali ini dia melihat langsung mesin-mesin penggiling buah sawit menjadikan cairan bening, minyak mentah. Meskipun perusahaannya sudah lama mempromosikan minyak kemasan yang cukup tenar di tanah air. Tapi dia belum pernah melihat langsung pengolahan bahan baku menjadi bahan setengah jadi.
Usai melihat-lihat proses produksinya. Mereka melanjutkan meninjau perkebunan sawit milik PT Dirgantara grup. Ada puluhan ribu hektar, pohon sawit menghiasi daerah itu. Yang membuat PT Dirgantara grup terkenal memiliki buah sawit terbaik di tanah air ini. Karena memang buah-buah sawit yang bergelayut di pohon-pohon itu sangat lebat dan tanpa cacat sedikitpun. Menjadikan hasil minyaknya juga banyak.
Mengingat hari sudah sore rombongan Angga pun undur diri. Mobil yang mereka bawa pun melaju sedikit kencang membelah kesunyian Area perkebunan sawit milik PT Dirgantara grup. Sesekali ada pengendara motor yang melintas disekitar jalanan itu. Mereka adalah pekerja yang baru pulang dari kerjanya menuju mes. Disana tidak sembarangan orang bisa masuk. Harus memiliki id card pegawai agar bisa masuk area perkebunan itu.
Adzan Maghrib pun tiba, tapi mereka belum sampai ke penginapan. Karena itu supir sewaan Angga menghentikan mobilnya di sebuah masjid terdekat disana. Afdal dan sopirnya kemudian turun dari mobilnya menuju ke masjid. Sementara Angga dan Niko tak beranjak dari tempat duduknya. "Pak, ayo kita sholat magrib dulu," ajak Afdal pada keduanya. Mereka berdua hanya saling pandang. Afdal pun tersenyum melihat keduanya.
"Saya melihat Bapak memiliki semuanya yang tidak dimiliki orang lain. Tapi kenapa saya merasa Bapak tidak bahagia?" Pertanyaan Afdal sontak membuat dia tertunduk lemas. "Adukan beban hidup Bapak pada-Nya. Inshaa Allah, Alah akan meringankan beban hidup kita. Mintalah pada-Nya memberi kehidupan. Karena Dia-lah pemilik alam semesta dan segala isinya."
Angga semakin terenyuh dengan kata-kata Afdal. Benar saja, selama ini dia tidak pernah mengadukan masalahnya pada pemilik kehidupan ini. Dia merasa menjadi manusia yang sombong. Dengan segala yang ia punya, tapi dia tak pernah merasa bisa menikmatinya. Hatinya kosong diliputi rasa kekecewaan. Kecewa pada hidupnya. Dia baru sadar sekarang, karena dia tak pernah mengadukan masalahnya pada Allah. Dia merasa hidupnya banyak menanggung beban.
Mereka akhirnya sholat berjamaah. Selepas sholat Angga pun berdoa, memohon padanya untuk di ringankan beban hidup yang selama ini ia tanggung.
"Ya Allah, ampunilah aku yang sudah menjadi hambamu yang sombong. Melalaikan perintahmu dan lebih banyak berbuat dosa. Aku tahu engkaulah tempat mengadu yang paling baik. Tidak ada masalah yang tidak bisa engkau selesaikan. Engkau tahu apa yang terbaik untukku. Jika memang takdir mempertemukan aku dengan wanita yang mengandung anakku, maka mudahkanlah takdir itu. Tapi jika dia sudah bahagia dengan yang lain, maka kikis lah perasaan ini dihati hamba. Agar hamba tidak menanggung beban yang berat ini. Kabulkan doa hamba mu ini. Aamiin."
Benar saja, kini perasaan Angga sudah sedikit lega. Mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju ke penginapan.
Usai mengantar bosnya ke penginapan. Afdal pun langsung pulang. Kebetulan semua anggota keluarganya masih berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang menonton televisi. Azka, yang sedari tadi berceloteh membuat suasana di ruangan itu sedikit rame. Menyadari ayah angkatnya datang Azka langsung, memeluk Afdal.
__ADS_1
"Sayang Ayah Af-dal capek, sini!" Perintah Amalia pada anaknya. Afdal pun hanya tersenyum dan berkata, "Azka kangen Ayah, ya." Anak kecil itu mengangguk girang. "Ayah mandi dulu ya, nanti kita main lagi." Azka pun turun dari pangkuan ayahnya dan beralih kepangkuan bundanya.
"Sayang, kalau Ayah Af-dal baru pulang. Azka gak boleh langsung minta pangku. Ayah capek, kasihan." Amalia pun menasehati putranya agar tidak berbuat itu lagi. "Azka kangen sosok ayahnya, Am. Biarkan saja, lagian hanya Afdal yang sudah dianggap Azka Ayahnya," sahut nek Asih. "Azka ada Ayah balu, Bunda." Ucapan Azka membuat Amalia terkejut.
"Ayah baru? Siapa Nak?" tanya Amalia pada anak laki-lakinya itu.
"Azka lupa namanya. Ayah balu Azka cayang banget Ama Azka. Gendong-gendong Azka juga," jawab anak itu polos.
Afdal yang sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap mendengar percakapan ibu dan anak tersebut, lantas membuat dia ikut bicara. "Itu loh Am. Bos aku, dia sayang banget sama Azka. Tiap kali ketemu Azka pasti selalu digendongnya."
"Iya Bunda," sahut Azka mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Nanti deh aku kenalin Ama dia. Orangnya baik kok," timpal Afdal.
"Nenek mau bicara dengan kalian berdua." Nek Asih terlihat serius dengan apa yang akan dia sampaikan.
"Kalian lebih baik menikah saja. Nenek lihat, Afdal begitu menyanyangi anakmu Am. Nenek juga melihat kalian terlihat akrab. Kenapa kalian tidak menikah saja. Lagipula kalau kamu menikahi Amalia, Nenek akan senang sekali. Karena dia tidak akan pergi dari sini." Ucapan Nek Asih membuat keduanya terlihat canggung. Afdal memang sudah mulai menaruh hati pada Amalia. Tapi Amalia, dia sampai sekarang masih sangat mencintai Angga.
"Gimana kamu Afdal?" Nek Asih bertanya pada cucunya. Afdal sekilas melirik Amalia. Kemudian dia berkata, "Afdal sih terserah Amalia saja Nek!"
Amalia menjadi salah tingkah karena Afdal melempar pertanyaan Nek Asih padanya. Dia bingung harus menjawab apa. Akhirnya Amalia meminta waktu untuk menjawab permintaan nek Asih.
__ADS_1
Keesokan harinya. Azka merengek ingin bertemu dengan ayah barunya. Katanya semalam dia mimpi di belikan mainan baru oleh Ayahnya. Karena itu setelah bangun tidur dia langsung minta dipertemukan dengan Ayahnya. Amalia jadi pusing dan bingung untuk mengabulkan permintaan anaknya itu. Sementara Afdal sedang lari pagi bersama nek Asih. Sehingga tidak ada yang dimintai tolong oleh Amalia.
Amalia bahkan sudah mengalihkan Azka dengan mengajaknya jalan-jalan untuk melihat odong-odong di taman bermain. Tapi tidak mempan. Azka tetap ingin bertemu dengan Angga. Akhirnya Amalia pun menyetujui permintaan anaknya.
Ibu dan anak itu berjalan kedepan menuju ke penginapan samping rumah. Tapi pintu ruang masuknya masih tertutup. Penjaganya belum ada disitu. Jadi mereka berdua menunggu pegawainya membuka dari dalam. Amalia tidak enak hati pada bosnya Afdal karena ulah anaknya yang ingin bertemu. Apa yang akan ia katakan nanti.
Sepuluh menit kemudian, pintunya sudah dibuka dari dalam pegawainya yang melihat Amalia dan Azka di depan langsing menghampiri. "Azka, Amalia! Mau ngapain?" Amalia hanya tersenyum getir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mbak, Azka mau ketemu Ayah." Azka lah yang menjawabnya.
"Ayah?" Pegawai penginapan itu mulai bingung dengan ucapan Azka. "Itu loh, pria yang dari Jakarta. Yang nginap di sini," jelas Amalia kemudian.
"Oh dia. Ya udah masuk aja. Kayaknya orangnya udah bangun kok. Pintu kamarnya juga udah kebuka."
Azka pun langsung menarik masuk tangan Amalia. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan ayahnya. Amalia pun hanya pasrah mengikuti anaknya kemana akan mengajaknya pergi.
To be continued...
masih mau lanjut...
jangan bosan-bosan like komen dan votenya...
inshaa Allah akan up tiap hari...
__ADS_1
awal bulan author usahakan untuk up dua kali....
beri dukungan untuk Angga dan Amalia ya....