
Apa yang direncanakan Angga berjalan dengan lancar. Dari mulai mengelabui dua manusia licik itu, hingga perusahaan Samudera cinta berhasil menjadi miliknya. Setelah satu minggu berlalu, kini saatnya pria itu memberi kejutan untuk Angel dan Burhan.
Dengan di dampingi oleh Delon, kakak iparnya. Mereka tiba di gedung perusahaan itu. Di sebuah ruangan yang cukup luas dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya. Angga duduk di kursi kebesaran, milik pemimpin perusahaan itu. Layaknya seorang penguasa yang dengan kekuasaannya, dia duduk menghadap jendela dan membelakangi pintu masuk ruangan itu.
Disisi lain, seorang pria paruh baya baru saja menginjakkan kakinya di gedung itu memincing heran. Tak biasanya dirinya diacuhkan oleh beberapa pegawainya. Tak mau mengambil pusing dengan hal itu, ia tetap berjalan menuju ruangannya. Bibirnya yang merekah, bak seorang yang baru saja menang tender pertanda dirinya sedang bahagia. Betapa tidak? Ia berfikir masih bisa melindungi aset berharga miliknya.
Hingga ia sampai di ruangan yang biasanya menjadi tempat ia bekerja. Kenop pintu ia putar, dan pintu sudah terbuka sempurna. Iris miliknya menangkap sebuah kepala yang sedang bertender di kursi miliknya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, karena posisinya membelakangi dirinya.
"Hey!!! Berani-beraninya kamu duduk di tempat itu!!!" teriaknya lantang penuh amarah.
Setelah berjalan sedikit mendekat kearah meja kerjanya, langkah kakinya terhenti kala orang itu memutar kursinya, sehingga ia bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk disana.
"Angga," lirihnya, masih menatap bingung orang yang melempar senyuman padanya.
"Apa-apaan ini! Kenapa kamu duduk di tempat itu. Pergi!!! Karena sayalah yang berhak duduk di___." Ucapannya terhenti kala Angga mengangkat tangannya.
"Om Burhan!" Angga memperhatikan pria yang sedang berdiri di hadapannya dari ujung kepala sampai kakinya. "Sungguh Om tidak tahu malu, mengaku-ngaku apa yang bukan menjadi milik Om lagi." Burhan hanya bisa melongo mendengar ucapan lawan bicaranya.
"Apa Om lupa? Kalau perusahaan ini sudah menjadi milik saya?" Pertanyaan Angga semakin membuat pria itu terperangah.
"Apa maksud kamu?" Akhirnya ia membuka suara, setelah beberapa saat tercengang.
Angga melempar sebuah map berwarna hitam ke meja seraya berkata, "baca dokumen itu!" Tak mau menunggu lama Burhan dengan cepat menyambar map itu dan membukanya. Seperkiandetik sorot matanya memerah, ia kepalkan tangannya dan satu pukulan mendarat di meja.
Bruakkkk
"Brengsek kamu, berani-beraninya kamu berbuat licik terhadap saya!!!!" gertaknya namun mendapat gelak tawa dari Angga.
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Dengan cara itu juga 'kan? Om mengambil perusahaan ini dari tangan ayah mertua saya." Pikiran Burhan menelisik saat ia dengan cara yang sama merebut apa yang seharusnya bukan menjadi miliknya.
__ADS_1
Dengan wajah yang masih memerah, sesak di dadanya mulai menyerang pria itu. Hingga kakinya dengan sendirinya melangkah kebelakang. Brughh tubuhnya tumbang di kursi. Seketika tubuhnya melemas. Karena ia kehilangan semuanya dalam waktu sekejap. Sama saat ia mendapatkannya dulu.
Tak terima dengan kenyataan itu, akhirnya ia pun berdiri. Lalu menghampiri Angga dan langsung mencengkeram tubuh Angga lewat kerah baju miliknya.
"Cuiihhh, licik. Kamu pikir kamu sudah menang melawan saya?" decaknya memperat cengkramannya.
Angga hanya menyunggingkan sebelah bibirnya. Tak sedikitpun membuat dirinya takut, walau ia sedang terpojok.
"Seharusnya Om bersyukur, karena Angga masih baik hati pada Om. Bisa saja, masalah ini saya laporkan ke pihak berwajib. Tapi itu tidak Angga lakukan. Karena Om adalah sahabat ayah Angga," ucapnya menahan sesak di tubuhnya.
Sungguh tak membuat Burhan menghentikan perbuatannya. Mendengar hal itu, justru membuat dirinya gelap mata. Hingga satu pukulan mendarat di sudut bibir Angga. Di waktu yang sama, Delon datang membawa dua securiti untuk mengamankan Burhan.
Mendapat pukulan yang cukup keras dari Burhan, membuat sudut bibir Angga memar. Walau begitu ia tak ada niat untuk membalasnya. Hingga dua satpam itu melakukan pekerjaannya. Dengan sigap mereka menangkap orang yang sudah melukai bosnya.
Sambil meronta Burhan pun berteriak, "lepaskan saya!!! Beraninya kalian memperlakukan saya seperti ini!! Lepas!!"
"Lepaskan!!! Brengsek kalian!!! Brengsek!!!" Semua mata karyawan tertuju pada pria paruh baya itu, yang sedang meronta meminta kebebasan dari cengkeraman dua satpam itu.
Orang yang beberapa hari lalu disegani oleh mereka. Kini dia hanyalah seorang tersangka yang baru saja terpergok karena kejahatannya.
Meninggalkan Burhan dengan kepedihannya. Berbeda dengan dua orang pria yang masih berada ruangan itu. Pandangan mata Delon memperhatikan inci demi inci ruangan itu. Tak ada yang beda, masih sama dengan keadaan sepuluh tahun yang lalu. Sepertinya, perusahaan itu memang tidak berkembang di tangan Burhan.
"Selamat Ngga, akhirnya perusahaan ini bisa jatuh ke tangan mu juga," ujar Delon menepuk bahu adik iparnya.
"Nggak Kak, perusahaan ini bukan milik Angga. Tapi__ perusahaan ini adalah milik keluarga Kakak," sahut Angga dengan wajah sayu.
Kalimat dari Angga, sontak membuat Delon tercengang. Ia mencoba mencerna apa yang disampaikan oleh pria yang mengenakan jas berwarna hijau muda itu.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan dari Delon, yang langsung di sambut senyuman oleh Angga. Seraya mengambil sebuah map berwarna biru, kemudian di berikannya map itu pada kakak iparnya.
"Apa ini?" tanya Delon setelah menerima map itu dari tangan Angga.
"Perusahaan Samudera cinta adalah milik Kakak. Jadi, Angga sudah balik nama perusahaan ini menjadi milik Kakak."
Betapa terkejutnya Delon mendengar itu. Ia bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Setelah sekian lamanya perusahaan itu lepas dari tangan keluarganya. Kini perusahaan itu kembali di tangannya, melalui adik iparnya itu. Sungguh tak pernah ia menyangka sebelumnya.
Raut berbinar tampak dari wajah Delon. Air mata haru menjadi saksi betapa berterimakasihnya dia pada Angga atas kepercayaan yang diberikan Angga padanya.
"Ngga, Kakak gak bisa terima ini."
"Terima Kak. Ini adalah janji Angga pada mendiang papa untuk mengembalikan perusahaan ini ke tangan Kakak. Perusahaan yang sudah di ambil paksa oleh papa dan om Burhan. Mungkin dengan ini juga, papa bisa tenang di sana. Maafin papa Angga Angga, Kak."
Mereka berdua larut dalam haru, sedih, dan bahagia. Hingga mereka berdua saling berpelukan, sebagai wujud berakhirnya dendam itu.
"Terimakasih Ngga, terimakasih."
Kebahagiaan mereka berdua turut disaksikan oleh seorang wanita yang ikut membantu mereka.
"Bu Santika!" seru keduanya setelah mereka menangkap sosok itu.
"Selamat Pak Angga dan Pak De-lon."
"Hemmm... Kayaknya udah ada perkembangan nih..."
Mereka bertiga tergelak. Memang hubungan keduanya sudah sangat membaik. Kebencian yang dulunya membayang-bayangi Delon terhadap Santika. Kini sudah memudar. Terhapus oleh perasaan tulus dari wanita itu. Cinta yang dulu pernah bersemi, hingga kini cinta itu merekah dan akan segera berbunga. Artinya, mereka resmi menyatakan perasaan mereka masing-masing. Tinggal menunggu mereka mengukuhkan cinta itu dalam ikatan pernikahan.
To be continued
__ADS_1