Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Restu Bu Renata


__ADS_3

Malam itu Angga memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sudah tidak mau lagi ribut dengan orang tuanya. Yang ingin dia lakukan saat ini hanyalah fokus mencari keberadaan Amalia.


Mobil Angga membelah keramaian ibu kota malam itu. Sepanjang jalan Angga hanya melamun. Mang Darma yang memperhatikan Angga yang sedang melamun, ikut prihatin dengan keadaannya. Sejak kecil Angga selalu menuruti kemauan papanya. Masalah pendidikan pun dia mengikuti kemauan papanya. Tapi kali ini tidak dengan cintanya. Dia ingin memperjuangkan cintanya pada Amalia.


Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah rumah di kawasan elit kota Jakarta. Saat mereka masuk ke halaman rumah, disana tampak ada sebuah mobil sedan berwarna biru terparkir di halaman. Mobil yang tak asing untuk Angga, karena dia sering melihatnya di kantor.


Angga turun dari mobilnya, sementara mang Darma melajukan mobilnya untuk di parkir di garasi. Angga lantas bergegas masuk kedalam. Dan benar saja, pak Burhan beserta istrinya sedang duduk di ruang tamu bersama papanya. Di sana tidak terlihat ada Angel. Saat Angga sedang mengedarkan pandangannya pada mamanya yang muncul dari dalam, Angga tercengang melihat Angel membuntuti mamanya.


"Sayang, kamu pulang juga." Mamanya menghampiri Angga yang masih berdiri mematung di ambang pintu.


Angel langsung berlari menghampiri Angga. Dia ingin memeluk Angga, namun Angga langsung menghindar. Perlakuan Angga membuat Angel semakin kesal.


"Ayo sayang gabung bersama Papa, dan yang lainnya!" ajak Bu Renata sedikit menarik tangan Angga. Angga hanya menurut, dan berjalan mengikuti mamanya untuk bergabung dengan papanya dan tamunya.


Angga langsung duduk di sofa yang tak jauh dari papanya duduk. Sikap anaknya yang masih terlihat marah padanya, lantas membuat pak Dwi mencairkan suasana.


"Gimana pekerjaan di kantor?" tanya pak Dwi membuka percakapan.


"Semuanya baik," jawab Angga singkat.


"Angga, bagaimana perkembangan kinerja Angel di kantor. Apa dia merepotkan mu?" Sekarang giliran pak Burhan yang bertanya pada Angga.


Angga sebenarnya malas membahas hal yang tak penting seperti ini. Dia lebih memilih mengistirahatkan tubuh dan pikirannya di kamar. Secara beberapa hari ini dia tidak bisa istirahat dengan tenang. Tapi akan tidak sopan jika dia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa para tamunya.


"Angga kira semuanya berjalan dengan baik." Angga menjawab sekenanya saja. Karena dia sendiri tidak tahu persis dengan kinerja Angel di kantor. Karena dia menugaskan Niko untuk membimbing Angel.


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh iya, sebenarnya Papa ingin menyampaikan sesuatu padamu, Ngga" ujar pak Dwi sedikit serius.


"Tentang apa Pa?" Angga sedikit menaruh curiga dengan gelagat papanya yang terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Papa akan menikahkan mu dengan Angel.." Belum juga psk Dwi menyelesaikan ucapannya, Angga langsung memotongnya.

__ADS_1


"Angga tidak akan menikahi Angel. Papa tahu-kan alasan Angga apa? Jadi berhenti mengusik kehidupan Angga!"


"Angga!!!! Kamu sudah berani menentang Papa!!!" gertak pak Dwi, namun Angga terlihat santai.


"Kenapa Kak Angga menolak menikah dengan Angel. Apa gara-gara office girl itu?" Sahut Angel menatap sinis Angga.


"Ya benar, memang itu alasannya." Angga tersenyum remeh pada Angel.


"Jadi benar, anakmu ini berhubungan dengan office girl itu?" Pak Burhan menatap kearah pak Dwi.


"Sampai kapanpun Papa tidak akan merestui hubungan kamu dan wanita itu!" seru pak Dwi semakin tersulut emosi.


"Dan sampai kapanpun Angga tidak akan pernah berhenti memperjuangkan Amalia!!" sahut Angga kemudian meninggalkan tempat itu. Semua orang yang berada di situ tercengang dengan ucapan Angga. Sepertinya Angga tidak main-main dengan ucapannya.


"Aku nggak akan pernah nyerah untuk mendapatkan mu Kak" batin Angel.


Angel menatap kebencian pada Angga yang terus saja menolaknya. Dia berniat akan menyusun rencana untuk bisa mendapatkan Angga.


"Tante tinggal dulu ya, biar Tante yang bicara pada Angga. Mas, aku masuk dulu ya!" Ujar Bu Renata pamit pada Angel dan pak Burhan.


Bu Renata menjadi ragu untuk menikahkan Angga dengan Angel. Melihat Angga sangat mencintai Amalia membuat sedikit penyesalan di hati Bu Renata.


Saat sudah ada didepan kamar Angga, Bu Renata langsung masuk kedalam. Karena kamarnya tidak tertutup dengan rapat. Bu Renata melihat Angga yang sedang menatap layar handphone nya.


"Sayang!!" Bu Renata memegang pundak Angga.


"Kalau Mama datang kesini untuk membujuk Angga menikah dengan Angel, Angga tidak akan pernah sudi. Angga tidak akan pernah mengubah keputusan Angga." Pandangan Angga tidak beralih pada ponselnya.


"Sayang, dengarkan Mama dulu. Apakah kamu benar-benar mencintai gadis itu?" tanya Bu Renata membuat Angga beralih menatap mamanya.


"Angga sangat mencintainya Ma. Dia wanita yang sempurna di mata Angga. Yang terpenting saat ini, dia hamil anak Angga." Angga menatap mata mamanya.


Melihat ketulusan hati Angga pada Amalia. Membuat Bu Renata menjadi semakin merasa bersalah. Apalagi selama ini, putranya sudah menjadi anak yang baik. Apapun selalu ia turuti agar kedua orangtuanya bangga padanya. Tapi sepertinya kali ini, Bu Renata yang harus mengalah.

__ADS_1


"Cari dia, temukan gadis itu dan bawa pulang ke sini. Mama merestui kalian," ucap Bu Renata dengan mata berkaca-kaca.


"Benarkah itu Ma? Mana merestui hubungan Angga dengan Amalia?" Angga kemudian memegang kedua tangan mamanya. Dia seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Iya sayang, Mama merestui kalian."


"Terimakasih Ma, terimakasih. Angga akan mencari Amalia sampai ketemu."


Luapan kasih sayang antar ibu dan anak itu menutup malamnya Angga. Setelah kepergian mamanya, Angga membaringkan tubuhnya di ranjang. Sedikit beban masalahnya hilang, dengan restu yang di berikan mamanya. Bu Renata juga berjanji pada Angga yang akan berusaha membujuk papanya agar merestui juga hubungan mereka.


Pagi harinya Angga sudah berada di .. Dia berjalan menuju keruangannya. Saat sedang melintasi ruangan karyawan nya, terdengar suara sayu-sayu menyebut namanya. Angga mempertajam pendengarannya dan berhenti sejenak disana.


"Eh, tau gak! Pak Angga mau menikah Lo dengan Bu Angel," ujar salah Windi pada dua temannya.


"Masa sih! Bukannya Pak Angga itu ada hubungan khusus ya dengan Amalia?" sambung si Viona.


"Hmm mungkin Amalia itu cuma dijadiin hiburan aja oleh Pak Angga. Secara gak mungkin juga kan, Pak Angga suka beneran Ama dia," imbuh Desi dengan senyum mengejek.


"Kamu dapat darimana kabar itu?" tanya Viona penasaran.


"Ada deh pokoknya, yang jelas mereka akan menikah dalam waktu dekat ini."


Mendengar obrolan para karyawan nya membuat Angga meradang. Lalu dia menghampiri para karyawan yang sedang membicarakannya.


"Jadi seperti ini kerja kalian, menggosip di jam kerja!" gertak Angga membuat mereka bertiga terkejut.


"Ma-af Pak."


"Lanjutkan pekerjaan kalian dan saya tidak mau mendengar kalian membicarakan saya lag!!!" Angga kemudian meninggalkan tempat itu. Angga sudah bisa menebak siapa dalang di balik penyebar gosip tersebut. Kini dia tahu kemana akan pergi.


Tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang bola mata yang mendengar obrolan mereka.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2