
Udara dingin kota Jakarta perlahan tersapu di gantikan hangatnya sinar mentari. Awan gelap perlahan berubah menjadi terang, menandakan hari sudah berganti.
Seorang pria dengan tatanan rambut belah tengah, dan jam yang melingkar di lengannya sudah siap memulai aktivitasnya hari ini.
Sesuai perintah atasan sekaligus adik iparnya, pria itu akan menuju ke kantor Santika group. Perusahaan milik Santika, seorang wanita yang pernah singgah di hati pria itu. Namun, karena sebuah kesalahan yang di lakukan oleh wanita itu, perasaan cinta yang ia miliki berubah menjadi rasa benci yang teramat dalam. Bagaimana pun juga, dia harus profesional dalam pekerjaannya. Mengingat Santika lah yang bisa menyelamatkan perusahaan tempat ia bekerja dari ambang kebangkrutan.
Sebuah rencana telah disusun sedemikian rupa untuk menjebak Burhan dan Angel. Dua orang yang menjadi benalu dalam perusahaan Siantara group, perusahaan tempat dia bekerja.
Mobil sedan berwarna biru melaju membelah kepadatan ibukota. Mobil yang di kendarai oleh Delon berhenti di sebuah bangunan berlantai lima di Jakarta pusat. Seorang satpam di kantor itu menghampiri dirinya yang sudah memarkirkan kendaraannya dengan tepat.
"Selamat pagi Pak," sapa satpam itu ramah.
"Pagi, apa bu Santika sudah datang?" balasnya kemudian bertanya pada satpam itu.
"Belum Pak, mungkin sebentar lagi beliau datang," jawab Satpam itu.
__ADS_1
Setelah berbincang dan dapat pengarahan dari petugas cleaning servis, Delon berjalan menuju ke sebuah ruangan di lantai dasar. Ruangan itu terkhusus untuk tamu yang sedang menunggu pemilik perusahaan tersebut. Hampir seperempat jam dia menunggu, gerakan hendle pintu diiringi terbukanya pintu tersebut membuat Delon terbelalak. Saat iris miliknya menangkap kehadiran seorang wanita dengan setelan blezer dan rok sebatas lutut, di tambah tatanan rambut model kekinian membuat wanita itu lebih muda dan cantik dari usianya. Hingga pria yang sedang duduk di ruang tunggu itu menelan slavinanya kasar.
"Pak De-lon?" terka wanita itu memastikan pria di depannya adalah orang yang ia kenal.
Kalimat Santika membuyarkan lamunan Delon, segera ia tarik pandangannya kearah lain. Tujuannya tak ingin Santika melihat kegugupan dari dalam dirinya.
"Harusnya pimpinan itu memberi contoh yang baik untuk bawahannya," gerutu Delon mencarikan kecanggungan mereka berdua.
"Maaf Pak, tadi saya ada urusan sebentar. Maaf juga sudah buat Bapak menunggu," bela wanita itu yang sudah duduk di seberang Delon.
"Apa ada hal yang penting, sehingga anda ada di sini?" Delon menatap bingung dengan ucapan Santika.
"Ti-dak Pak, apa ada masalah." Delon mendengus kesal, bisa-bisanya adik iparnya itu mengerjai dirinya.
Akhirnya Delon menceritakan maksud dan tujuannya datang ke kantor Santika. Dengan seksama wanita bermata sipit itu mendengarkan informasi yang disampaikan oleh rekan bisnisnya itu.
__ADS_1
"Tapi saya tidak punya dana sebanyak itu untuk membeli separuh saham mereka," ujar Santika sedikit pesimis bisa membantu mereka.
"Soal itu anda tidak perlu khawatir. Karena pak Angga sendirilah yang akan menyiapkan dananya." Jawaban dari Delon membuat Santika mengerti maksud dan tujuan mereka.
Dirinya hanya dijadikan alat untuk mengembalikan perusahaan samudera cinta dari tangan Burhan untuk pak Sapta, perusahaan yang memang milik keluarga mereka.
"Baiklah, saya bersedia membantu anda menjalankan misi."
Kecanggungan diantara mereka kembali mengusik, setelah pandangan mereka bertemu dan beberapa detik terkunci.
"Terimakasih sebelumnya, kalau begitu saya permisi dulu." Delon menarik diri dari tempat duduknya, dan mulai berjalan kearah pintu. Secara bersamaan Santika pun sama, dia berinisiatif untuk membukakan pintu untuk tamunya. Sehingga tangan mereka secara bersamaan memegang gagang pintu. Mereka saling melempar pandang, jarak wajah mereka sangatlah dekat. Hingga deru nafas masing-masing bisa terdengar. Tiba-tiba gejolak dalam dada keduanya mulai menimbulkan keanehan, getaran yang dulu pernah ada. Kini kembali bersarang. Tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi yang seperti ini, Delon segera menarik tangannya.
"Em....maaf saya gak sengaja," ujar Santiko terlihat gugup.
Sementara Delon tak menanggapinya ucapan maaf dari wanita di sebelahnya, dan memilih berlalu meninggalkan wanita itu setelah pintunya terbuka. Sikap dinginnya bukan semata-mata karena dia masih membenci wanita itu. Tapi juga untuk melindungi dirinya agar tak kebablasan jika berlama-lama dekat dengan Santika. Tak dipungkiri oleh pria berlesung pipi itu, pesona Santika masih sangat kuat. Hingga dia hampir lepas kontrol.
__ADS_1
"Huhhh sial... Angga Lo harus tanggung jawab atas situasi ini," desisnya mengumpat adik iparnya. "Ini pasti rencananya. Dasar!!!!"
Sepeninggal Delon, Santika masih berdiri mematung memandangi punggung pria yang sedang berjalan menuju ke lift. Hingga sosok itu menghilang di balik lift tersebut. Debaran jantungnya masih tak beraturan. Rasa yang tumbuh sepuluh tahun lalu, kini sepertinya hinggap lagi di hatinya. Namun dirinya berusaha membentengi rasa itu agar tak semakin berkembang. Dia takut kecewa, terlebih kesalahannya yang sangat fatal hingga membuat pria yang di cintainya itu menderita.