Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Pulang ke Bogor


__ADS_3

Angga dan Amalia menengok kearah Azka berdiri. Pria bertubuh atletis itu tersenyum getir, karena usahanya untuk bercumbu dengan calon istrinya harus gagal karena kehadiran putranya.


"Sayang bangun?" Azka pun mengangguk.


"Azka bobo Ama Ayah Angga aja yuk!" Angga pun langsung menghampiri anaknya untuk diajak tidur bersamanya. Tapi dengan cepat ditolak oleh Amalia.


"No! Azka bobo dengan Bunda. Kamar Ayah Af-dal kan kecil. Gak muat kalau Azka juga tidur disana." Amalia langsung menarik pelan tangan putranya.


"Kapan Azka bobo baleng Ayah Angga nya?" Sepertinya Azka sudah sangat ingin tidur bersama Angga. Sampai-sampai mukanya berubah murung saat bundanya melarang tidur bersama Ayahnya.


"Tuh kan Mas, lagian kalau ngajak tuh liat-liat dulu. Kalau gini kan Azka jadi kecewa," gerutu Amalia yang terlihat kesal pada Angga. Angga hanya mengerinyitkan keningnya. Alih-alih mau nyenengin anaknya. Malah dapat Omelan dari bundanya.


"Iya-iya, aku yang salah," ujarnya dengan wajah memelas.


"Ya emang salah." Amalia pun langsung mengajak anaknya masuk kedalam. Angga tercengang melihat kepergian Amalia dan Azka. Tapi dia merasa sangat bahagia, bisa berkumpul lagi dengan wanita pujaannya itu. Dia tidak bisa membayangkan. Akan serame apa rumah tangga mereka kelak. Amalia yang rame, ditambah lagi anaknya yang terlihat aktif. Pasti seru menjalani rumah tangga yang seperti itu. Angga jadi sudah sabar, ingin cepat menghalalkan ibu dari putranya itu.


Pagi harinya mereka sarapan bersama sekaligus membahas kepulauan Angga dan Amalia. Jujur nek Asih begitu berat berpisah dari keduanya. Karena besar harapan nek Asih untuk menjadikan Amalia cucu menantunya. Tapi beliau pun tak ingin menjadi egois. Mengingat perjalanan hidup Amalia, beliau merasa Amalia memang sudah waktunya untuk bahagia. Kebahagiaan cucu Angkatnya itu terletak pada pria yang disebut Ayah biologisnya Azka.


Rencananya sore ini mereka akan terbang langsung ke Bogor. Angga tak mau membuang waktu lagi untuk bisa bersatu dengan Amalia dan putranya.


Pagi itu selepas sarapan, sesuai jadwal kemarin Afdal dan Angga akan mengunjungi ke pembangunan gudang produksi nya. Mereka ingin meninjau berapa persen pembangunan gudang itu. Angga puas dengan para pekerja yang bekerja membangun gudang itu. Bukan cuma kerjanya yang rajin, mereka juga cepat.


"Apa Bapak yakin hari ini akan pulang ke Bogor?" tanya Afdal saat mereka ada di mobil menuju pulang.


"Yakin, karena saya tidak bisa menunggu lagi untuk segera menikahi Amalia," jawab Angga.


"Saya harap tidak ada kendala lagi untuk Bapak dan Amalia bersatu. Bapak harus janji, harus bisa menjaga Amalia dengan baik. Karena kalau tidak, saya siap mengambil dia dari Bapak," ucap Afdal tergelak.

__ADS_1


"Wah sebuah ancaman kah itu? Kamu tidak usah khawatir, saya akan menjaga dia dengan baik. Saya tidak akan membiarkan air matanya kembali menetes. Itu janji saya," tegas Angga diapun tergelak.


Dua orang lelaki yang mencintai satu wanita yang sama. Tapi hanya dengan Angga, Amalia bisa tertawa lepas. Afdal hanya bisa berdoa agar mereka berdua selalu bersama. Dan dia bisa segera move on dari Amalia.


Mereka sampai di rumah Nek Asih. Semua barang-barang Amalia pun sudah siap. Sementara toko baju miliknya diserahkan kepada Nek Asih. Tapi dia Amalia memperkerjakan satu karyawan untuk mengelolanya. Hasil penjualannya yang menerima Nek Asih.


Mereka bertiga sudah siap untuk berangkat ke bandara. Azka dia nemplok pada Afdal. Anak kecil itu sepertinya enggan berpisah dengan ayah angkatnya. Karena bagaimanapun dia sudah dianggap sebagai ayah kandungnya. Dengan sedikit penjelasan akhirnya Azka pun mau berpisah dengan Afdal.


Sebuah mobil MPV sudah berhenti di depan rumah nek Asih. Semua barang-barang sudah dimasukkan ke bagasi mobil. Angga dan Azka pun sudah masuk kedalam. Usai berpamitan pada pemilik rumah dan cucunya itu. Giliran Amalia yang akan masuk, tapi aktivitasnya terhenti. Dia melihat Afdal yang menatap nanar kepergiannya. Amalia tahu, laki-laki itu mempunyai perasaan dengannya. Akhirnya dia meminta izin pada Angga untuk bicara dengan Afdal.


Amalia pun menghampiri Afdal dan tersenyum padanya. "Kenapa kok gak Cepetan masuk. Atau kamu berubah pikiran ingin tinggal disini bersama ku," gurau Afdal sembari tergelak.


"Ihh kepedean Amat sih! Aku cuma mau ngucapin makasih ya, sudah menerima aku dan Azka disini." Ucapannya Amalia terhenti sejenak.


"Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama muslim untuk saling menolong. Mungkin sekarang kamu yang aku tolong, tapi besok kita tidak tahu. Kan!" ujar Afdal bersikap seperti dirinya tidak apa-apa.


"Aku juga minta maaf padamu. Karena aku tidak bisa mewujudkan permintaan Nenek." Amalia terlihat murung dan menunduk.


"Aku pamit ya, semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku." Afdal pun mengangguk, dan Amalia bergegas masuk kedalam.


Mobilnya pun langsung melaju menuju bandara. Amalia tidak pernah menyangka. Kaldu dia akan kembali secepat ini. Rasanya dia belum siap bertemu orang tuanya dengan kebohongannya. Dia takut tidak akan diterima oleh kedua orangtuanya. Tapi Angga selalu menyakinkan pada Amalia. Untuk tidak memikirkan hal itu. Dialah yang akan mengatakannya sendiri pada Mama dan papanya Amalia.


Didalam mobil Azka pun tertidur. Angga yang penasaran dengan apa yang dibicarakan Afdal dan Amalia pun langsung bertanya pada wanita yang duduk disampingnya.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Afdal tadi. Kalian Sepertinya terlihat akrab?" Angga menoleh kearah wanita itu, Amalia pun tersenyum geli melihat Angga yang sedikit cemburu.


"Aku hanya berpamitan saja, gak lebih kok!" jawab Amalia dengan santai.

__ADS_1


"Benarkah itu? Tapi apa kamu kalau dia mencintai mu?" tanya Angga lagi.


"Tahu, emangnya kenapa kalau dua cinta denganku? Yang penting aku kan nggak cinta dengan dia." Jawaban Amalia sedikit membuat hatinya Angga menjadi lega.


"Aku mungkin tidak akan sanggup jika ada laki-laki lain yang memiliki mu. Mungkin aku bisa gila, jika itu terjadi." Angga menatap yakin mata Amalia.


"Kamu hanya boleh menjadi milikku Am, milikku!" Lanjutnya lagi.


Suasana menjadi hening sesaat setelah Angga mengutarakan isi hatinya pada Amalia. Kalau dia benar-benar takut kehilangan bundanya Azka.


Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dipikirkan dan hatinya Amalia. Selain restu kedua orangtua Angga masih ada satu lagi yang jadi beban pikirannya.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Angel. Bukankah kalian akan dijodohkan waktu itu?" Akhirnya Amalia berani menanyakan pada Angga.


"Kamu benar, Papa sempat memaksaku untuk menikah dengan Angel. Tapi aku tidak pernah mau. Aku ada kabar baik buat kamu!"


"Apa?"


"Mamaku sudah merestui hubungan kita. Dia sempat bilang padaku untuk mencarimu dan membawa kamu dihadapannya." Ucapan Angga membuat Amalia terkejut.


"Benarkah?" tanyanya seakan tak percaya.


"Iya apalagi dengan kehadiran Azka ditengah-tengah kita. Aku semakin yakin kalau sebentar lagi papa juga akan merestui hubungan kita."


To be continued...


Kira-kira apa benar yang dibicarakan oleh Angga.

__ADS_1


Di part selanjutnya kalian akan temukan jawabannya....


Jangan lupa like', komen, vote hadiahnya...


__ADS_2