
Hari sudah menjelang sore, rutinitas di kantor pun sudah mulai usai. Beberapa karyawan pun sudah mulai meninggalkan ruangannya. Sama halnya dengan seorang pria yang memakai setelan jas warna hijau muda. Pria itu tampak menutup labtopnya, dan membereskan berkas yang baru saja ia pelajari. Setelah semuanya siap, ia segera menarik diri untuk pulang ke rumah. Berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Setelah seharian beraktivitas di kantor yang sangat menguras tenaga dan pikirannya. Di rumah itukah ia bisa menghilangkan penat kala melihat senyum merekah dari wanita yang ia cintai.
Hari-harinya sekarang lebih berwarna sejak ia menikahi Amalia. Di tambah hadirnya seorang malaikat kecil yang selalu menjadi penyemangatnya. Tak lupa seorang gadis kecil yang merupakan pelengkap dalam keluarga kecilnya. Serta seorang ibu yang juga menjadi teman sekaligus sahabat untuk dirinya dan istri.
Lengkap sudah kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka. Setelah badai yang mengancam karamnya rumah tangganya bersama Amalia. Kini dia harus bersyukur bisa melalui itu semua.
"Assalamualaikum," ucapnya saat sudah sampai di rumah.
"Waalaikumsalam," balas seorang wanita yang mengenakan gamis berwarna pink lengkap dengan hijabnya.
Penampilan wanita itu membuat Angga terperangah. Hingga tak sedikitpun ia mengedipkan matanya. Sadar menjadi pusat perhatian suaminya, Amalia berseru, "ada yang salah dengan penampilan ku ya Mas! Jelek ya?"
Angga mengedipkan matanya, segera ya menghampiri sang istri yang mulai tidak pede dengan penampilannya. "Kamu cantik, sayang?" Kemudian memuji penampilan barunya sang istri.
"Kamu gak sedang berbohong 'kan Mas?" Angga menggeleng.
"Nggak sayang. Sungguh, kamu terlihat manis dan cantik. Hati ini jadi adem rasanya. Rasanya enggan berkedip mataku ini." Baru saja Angga mau memeluk Amalia, anak-anaknya datang dari arah belakang dan mengejutkan mereka berdua.
"Bunda, Ayah. No no no.... Gak boleh penyuk-penyuk bundanya Azka." Angga mendelik sebal dengan kelakuan anaknya yang suka merusak kesenangannya.
Melihat Azka bergelayut manja di tangan Amalia. Sontak membuat Nadira menunduk sedih teringat mendiang ibunya. Menyadari hal itu, Angga langsung mendekat.
"Sayang, Dira boleh kok peluk Bunda Amalia. Iya 'kan Azka?" Sekilas Dira memandang, dan segera mendekati Amalia saat Azka mengangguk senang, dan melambaikan tangannya agar ia juga bisa memeluk bundanya.
Amalia memeluk kedua bocah itu. Pelukan kasih sayang yang penuh kehangatan. Tak ada yang di beda-bedakan kasih sayangnya antara Nadira dan putra kandungnya. Bagi Amalia semua sama. Nadira tak lagi dianggap anak angkat olehnya. Melainkan ia juga menganggapnya Putri kandungnya sendiri.
Semalaman mereka habiskan dengan bercerita bersama, bermain bersama, bahkan tidurpun bersama. Hingga pagi menjelang, Amalia terbangun lebih dulu. Tak lupa ia membangunkan suaminya.
"Mas bangun." Angga pun menggeliat.
"Jam berapa, sayang?" tanyanya masih enggan membuka matanya.
"Udah mau subuh." Amalia menarik tangan Angga agar pria itu tidak tidur lagi. "Mas!!"
__ADS_1
"Iya sayang."
Usai sholat subuh bersama, Angga memeluk istrinya dari belakang. Seraya berbisik, "aku kangen kamu, sayang."
"Apaan sih Mas. Nanti di liat anak-anak loh." Amalia menggerutu.
"Aku punya kabar gembira buat kamu," ujar Angga, semakin mempererat pelukannya.
"Apaan. Jangan bilang kamu mau ngajak aku bulan madu lagu," ketusnya saat teringat kata-kata Angga malam itu.
"Hahaha salah satunya itu. Tapi aku yakin berita ini akan membuatmu sangat bahagia." Angga tergelak melihat ekspresi istrinya dari balik kaca lemari.
"Apaan sih sayang. Jangan bikin aku penasaran deh!"
"Aku udah berhasil merebut kembali perusahaan samudera cinta."
"Hahhh. Serius?"
Angga menceritakan semuanya pada istrinya. Dari awal hingga akhir ia mendapatkan kembali perusahaan samudera cinta dari tangan Burhan. Bukan lagi rasa bahagia dan haru yang dirasakan oleh wanita itu. Tapi dia juga bangga memiliki suami yang benar-benar peduli dengan dirinya dan keluarganya.
Siang itu semuanya berkumpul di kediaman Angga. Keluarga Amalia dari Bogor pun ada di sana. Tak lupa Delon dan Santika mereka undang. Tujuannya satu, untuk merayakan syukuran keberhasilannya meluncurkan produk baru yang sekarang menjadi booming di tanah air. Juga untuk peresmian di depan keluarga kepemilikan perusahaan samudera cinta.
Setelah menikmati hidangan makan siang. Mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Ngga, Papa berterimakasih padamu. Atas apa yang kamu berikan pada kami." Pak Sapta menitikkan air mata haru. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perusahaan yang sudah lama lepas dari tangannya. Kini berkat menantunya, perusahaan itu bisa kembali ke tangan keluarganya.
"Semua ini berkat Kak Delon juga Pa. Kalau saja Kak Delon tidak membongkar kebusukan Angel saat itu. Mungkin, perusahaan Angga juga akan berhasil mereka rebut." Angga menatap pria yang duduk di samping ibu mertuanya.
"Dan karena kamulah, Papa bisa tahu kebusukan Burhan yang mengadu domba Papa dan mendiang Papa kamu. Papa merasa bersalah, sudah salah paham pada beliau." Air mata yang tadinya hanya menumpuk di kelopaknya. Kini perlahan jatuh membasahi pipinya.
"Pengorbanannya yang luar biasa. Demi menyatukan cinta kalian. Papa sungguh menyesal." Mereka pun ikut larut dalam kesedihan itu. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Terlebih Amalia. Wanita itu begitu terpukul jika mengingat kejadian itu. Ia bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk meminta maaf pada mendiang papa mertuanya.
"Sudahlah Pak Sapta. Semuanya sudah terjadi. Saya yakin, almarhum suami saya ikut senang melihat keberhasilan Angga yang bisa mengembalikan perusahaan milik keluarga Bapak." Bu Renata menengahi.
__ADS_1
"Sekarang yang terpenting adalah kita saling menjaga," imbuhnya.
"Mas, aku ingin ziarah ke makam Papa," pinta Amalia dalam sesegukan.
"Iya sayang. Kita kesana ya nanti." Angga pun mengutarakan permintaan istrinya itu.
"Nenek, Kakek Azka mau main sama Kakek." Suasana penuh haru itu mencair kala dua orang bocah itu meminta di temani bermain dengan kakeknya. Banyak permainan yang mereka mainkan salah satunya, bermain kuda-kudaan.
"Sayang, kasihan Kakek loh!" tegur Angga yang tak tega melihat papa mertuanya ngos-ngosan ditunggangi oleh putranya.
"Aduhh, ternyata cucu kakek udah gede ya?" Semua orang tergelak melihat tingkah pria paruh baya itu yang meragakan keberatan menggendong cucunya.
"Hmmm... Mumpung semuanya ada di sini. Delon akan menyanyikan kabar bahagia untuk kita semua." Kini semua orang yang berada di tempat itu menatap kearah pria yang memakai setelan jeans dan kaos pendek.
"Delon dan Santika sudah resmi bertunangan." Mengejutkan. Mereka semua terperangah dengan ucapan pria itu. Betapa tidak, dalam waktu yang singkat. Pria itu sudah melangkah lebih maju tentang asmaranya.
"Wah beneran Kak?" Santika tertunduk malu, saat pertanyaan itu terlontar dari mulut calon adik iparnya.
"Kakak jahat ihhhh. Gak ngomong-ngomong sama Am."
"Ya ampun Dek. Masa iya begituan ngomong ke kamu. Yang ada, Kakakmu yang ganteng ini dapat ledekan dari noh suamimu."
"Udah-udah gak usah ribut," lerai Bu Yuni yang ikut bahagia mendengar berita itu.
"Selamat ya Kak."
Kehangatan, kebersamaan keluarga itu berlanjut hingga menjelang sore. Sesuai janji Angga tadi. Mereka semua berziarah ke makam pak Dwipangga. Di sebuah pemakaman di Jakarta pusat, mobil mereka berhenti.
Mereka segera turun menuju ke nisan yang bertuliskan nama almarhum Dwipangga. Setelah sampai tepat di depan nisan itu. Mereka melantunkan doa-doa untuk almarhum.
"Pa, papa yang tenang ya disana. Angga sudah mewujudkan impian papa. Menyatukan kembali keluarga ini. Dan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Kak Delon." Angga mengusap-usap batu nisan itu.
"Lihatlah mereka berdua, anak-anak kita. Merekalah yang melebur dendam di antara kita. Kamu.. kamulah sahabat sejati itu, Wi." Kini giliran Pak Sapta yang bersuara.
__ADS_1
Semua orang pernah melakukan kesalahan. Karena manusia tempatnya khilaf dan dosa. Jika memaafkan lebih indah daripada menjalin permusuhan. Maka hapuslah dendam dalam hatimu. Karena dendam mu yang akan menggerogoti hatimu.
***********Selesai**********