
Usai makan malam bersama keluarga pak Burhan, Amalia menemani anaknya tidur terlebih dulu. Azka sedikit lelah hari ini. Karena seharian beraktivitas. Anak itu merengek minta tidur duluan.
Lelah menunggu istrinya tak kunjung keluar juga dari kamar, akhirnya Angga menyusul. Saat sudah ada di dalam, Angga mendapati Amalia yang sedang berganti pakaian tidurnya. Angga menunggu wanita itu selesai mengganti pakaiannya dengan duduk di sisi ranjang. Menyadari suaminya menyusul dirinya, Amalia mendekat dengan memakai dress tidur kesayangannya.
"Ngapain Mas, disini?" Pertanyaan istrinya membuat Angga menaikkan satu alisnya. Menatap bingung wajah istrinya, yang mempertanyakan keberadaannya di sana.
"Mau nyusul kamu, sayang!" jawabnya menggoda istrinya.
"No no no no! Kamu nggak boleh tidur disini. Sesuai perjanjian siang tadi. Kamu harus tidur sendirian di kamar sebelah." Jawaban istrinya membuat pria itu seketika melemas. Dia pikir istrinya sudah lupa dengan hukumannya tadi siang. Ternyata ingatan Amalia masih tajam juga.
"Sayang, beneran nih aku tidur di kamar samping?" Amalia mengangguk.
"Beneran gak nyesel." Wanita itu menggeleng.
"Sayang, please!!" Seketika Amalia membelalakkan matanya. Membuat Angga terpaksa keluar dari kamar itu.
Dia berjalan gontai menuju ke kamar kosong, tepat berada di sebelah kamarnya. Sepertinya istrinya itu tidak main-main dengan hukumannya.
Angga memasuki kamar berukuran lebih kecil dari kamar yang ia tempati biasanya. Kamar itu memang tidak pernah di pakai, sejak pemiliknya meninggal dunia. Kamar itu bekas kamar Adi, kakaknya.
Saat berada di kamar itu, Angga langsung membaringkan tubuhnya di bed. Dia mencoba menetralkan pikirannya yang mulai diliputi dengan pembunuhan kakaknya itu. Dadanya mulai sesak diliputi kesedihan dan amarah. Sejurus kemudian, dia teringat dengan kata-kata istrinya. Kalau kakaknya bukanlah pembunuh Adi. Rasa ingin mempercayai istrinya itu ada, namun di cekal dengan bukti dan pengakuan saksi yang memberatkan Delon.
Sulit untuk pria itu memejamkan matanya. Bukan karena tidak tidur bersama istrinya tapi pikirannya diliputi dengan bagaimana caranya agar dia bisa membuktikan apa yang di katakan istrinya itu benar adanya. Pria itu menarik tubuhnya, duduk menyender di dinding bed. Di raihnya ponsel yang berada di atas meja. Tapi dia masih bingung, apa yang akan dia lakukan dengan ponsel itu. Otaknya benar-benar tidak bisa bekerja dengan lancar. Tiba-tiba dia ingat dengan ponsel kakaknya. Ponsel itu masih tersimpan di laci, lemari yang ada tak jauh dari bed itu.
Angga pun beranjak dan mencari ponsel itu. Ponsel android keluaran tahun 2012, di ambil oleh pria itu. Di perhatikan ponsel itu, masih sama seperti terakhir yang ia lihat dulu, masih utuh. Harapan Angga cuma satu, semoga ponsel itu masih bisa di hidupkan.
__ADS_1
Pria itu mencari tombol power dari ponsel itu, yang terletak di samping kanan atas dari ponsel itu. Setelah menemukannya, dia mencoba menekan tombol itu. Beberapa kali dia coba menekannya tapi ponselnya tidak nyala. Dengan mendengus kesal, Angga mengacak-acak rambutnya.
Tak berhenti di situ. Dia mencoba mencari charger dari ponsel itu di laci lemari itu. Di bukanya lagi laci itu, ada beberapa barang yang ada didalamnya. Namun yang menjadi pusat perhatian Angga. Sebuah charger bertulisan merk handphone kakaknya terletak tak jauh dari kotak berisi jam tangan. Dengan cepat, Angga mengambil charger itu. Dan menghubungkannya dengan terminal listrik yang berada di dinding kamar itu. Setelah menunggu beberapa menit. Handphone itu nyala. Itu artinya handphone itu masih bisa di gunakan. Angga bernafas lega dan berharap ada petunjuk dari ponsel itu.
Angga menunggu agar baterainya terisi terlebih dulu. Sembari membaringkan tubuhnya di bed itu. Mendengar ada langkah kaki menuju ke kamarnya, pria itu berpura-pura memejamkan matanya di balik selimut yang membungkus tubuhnya.
Amalia yang tidak bisa tidur, tanpa suaminya. Dia berniat menengok Angga di kamar yang ia tempati malam itu. Amalia masuk ke kamar dengan mengendap-endap. Sebelumnya dia memastikan dulu, kalau suaminya tidak terjaga. Baru setelah itu dia masuk dan mendekat ke arah Angga. Angga yakin yang datang adalah istrinya, dia menahan tawanya di balik selimut.
"Hmmm rupanya hukuman dari aku, sana sekali tidak membuatmu tersiksa. Aku pikir, kamu tidak akan bisa tidur, jika tidak bersama ku," gumam Amalia, Angga semakin tergelak di balik selimutnya.
Amalia mendudukkan dirinya di sisi ranjang dan memperhatikan sekeliling kamar itu. Yang menarik perhatiannya foto berukuran besar terpampang di dinding kamar itu. Orang yang ada di dalam foto itu, lagi-lagi mengusik pikirannya. Dia seperti sudah pernah bertemu dengan pria itu.
"Kenapa aku merasa sudah bertemu sebelumnya dengan orang itu," gumamnya lagi.
"Sayang, aku benar-benar takut saat kamu bersikap dingin padaku. Aku takut cintamu terkikis, dan pergi meninggalkan aku, juga Azka." Angga yang mendengar kata-kata istrinya menahan sesaknya, perasaan bersalahnya meliputi lagi di dalam dirinya.
"Selamat tidur, sayang. Mimpi indah.. love you.." Amalia pun beranjak dari tempat itu, sejurus kemudian bajunya ditarik oleh Angga. Membuat dada wanita itu berdegup kencang. Dia ketangkap basah sedang menemui suaminya. Suami yang ia hukum untuk tidur tanpa dirinya. Alih-alih membuat suaminya tersiksa, tapi dia sendiri yang tidak bisa tidur tanpa Angga disisinya.
"Mau kemana?" Satu suara keluar dari mulut pria itu membuat Amalia tertunduk karena menahan malu.
"Sayang, suamimu tanya, Lo! Kok gak dijawab, kamu mau kemana?" ulang Angga semakin gencar menggoda istrinya yang tidak bisa berkutik lagi.
"Sini, temenin suamimu yang gak bisa tidur ini." Angga menarik tubuh istrinya, lalu membaringkan sejajar dengan tubuhnya. Dengan begitu dia bisa melihat wajah ayu istrinya malam itu.
"Aku, mau kembali ke kamar," ujar Amalia yang akan beranjak namun di tahan oleh tangan Angga.
__ADS_1
"Disini, aja!"
"Tapi, nanti Azka nyariin!" tolak Amalia.
"Nggak akan. Udah temenin aku, ya." Angga tersenyum manis di depan wajah istrinya. Membuat wanita itu akhirnya luluh.
Mereka tak lantas memejamkan matanya. Tidak juga melakukan EA EA. Karena saran dokter masih terngiang di kepala Angga. Mereka hanya saling bertukar cerita. Karena jarang sekali moment itu ada. Selama ini, jika sudah di kamar apalagi yang mereka lakukan jika bukan EA EA. Angga sangat tidak bisa membiarkan istrinya nganggur, langsung hajar pokoknya. Tubuh istrinya itu bagai candu di mata Angga.
"Sayang, pertanyaan ku tadi siang belum kamu jawab, loh!" Angga tampak mengingat-ingat.
"Yang mana, saya?" tanyanya saat tidak mendapat jawaban.
"Kenapa foto kakak ku ada di Labtob kamu." Angga terdiam. Antara bingung harus berkata jujur atau tidak.
"Sayang?"
"Hmmm, iya sayang. Kakak mu adalah temen kuliah dari Almarhum kak Adi," jelas Angga jujur.
"Oh gitu, emang kamu kenal ya dengan kakak ku?" Amalia bertanya lagi. Untuk pertanyaan itu Angga bingung harus menjawab apa. Dia takut istrinya akan mencecar pertanyaan lain kalau dia menjawab mengenal kakaknya.
"Kenal."
"Berarti kamu juga tahu, kasus yang menimpa kakak ku?" Benar dugaan Angga, istrinya akan bertanya tentang itu padanya.
to be continued
__ADS_1