Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Titik terang


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Disebuah rumah semi permanen, tampak seorang anak balita berusia dua tahun setengah tengah asyik bermain mobil-mobilan yang baru di belikan bundanya. Bayi laki-laki yang memakai topi di kepalanya terlihat sangat gembira. Azka Pratama Dwipangga, nama yang diberikan bundanya untuk balita mungil itu. Amalia, bunda yang merawat Azka selama dua tahun setengah ini, menatap anaknya dengan tatapan haru.


Diusia anaknya yang sekarang harusnya mendapat perhatian lebih dari ayahnya. Tapi tidak dengan Azka. Amalia sengaja menyembunyikan jati diri ayahnya pada anaknya. Meskipun di usianya yang masih sangat kecil. Bayi itu sudah pandai bicara. Acap kali dia menyebutkan ayahnya, membuat Amalia tak kuasa meneteskan air matanya.


Nenek Asih sangat menyayangi Azka. Beliau sudah menganggap seperti cicitnya sendiri. Azka memang sangat pintar dan lucu. Sehingga membuat nek Asih sedikit terhibur dengan kelucuannya. Afdal, pria yang mempunyai lesung Pipit di kedua pipinya itu. Menjadi sosok ayah bagi Azka. Karena perhatiannya yang begitu besar, sehingga Azka begitu nyaman dengannya. Afdal juga sudah bertemu langsung dengan Azka. Karena setiap libur hari raya, dia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah neneknya. Afdal juga hampir setiap hari berkomunikasi dengan Amalia, melalui telepon.


"Lihat! anakmu begitu menggemaskan, Am." Nenek mencubit pipi gembul Azka membuat pemiliknya meringis karena geli.


"Iya Nek, aku sangat bahagia karena kehadiran Azka membuat hidup Am lebih berwarna," jawabku sembari menyuapi Azka.


"Apa kamu akan tetap merahasiakan keberadaan Ayahnya Am?" Pertanyaan Nek Asih membuat aku teringat sosok yang selalu hadir di dalam mimpiku. Dia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Aku mencintai nya tapi aku lebih memilih meninggalkannya. Cinta kami memang tidak bisa di satukan.


"Ada baiknya, kamu beritahu pada Azka. Siapa Ayahnya yang sebenarnya," lanjut nek Asih sembari menepuk pelan pundak ku.


Amalia tahu, dia memang salah menyembunyikan jati diri ayahnya pada Azka. Tapi dia juga gak mau kalau anaknya terus menerus menanyakan keberadaan ayahnya. Lebih baik dia memberi tahu pada anaknya kalau ayahnya sudah meninggal. Itu lebih baik daripada suatu saat terjadi masalah kedepannya.


Yang Amalia tahu Angga sudah bisa melupakannya dan sudah bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya. Orang yang selama ini memberikan informasi mengenai Angga. Sekarang sudah tak lagi di perusahaan milik Angga. Siska sudah keluar dari pekerjaannya karena di pinang oleh seorang pengusaha asal kota Bandung. Siska ikut dengan Suaminya di sana. Jadi Amalia tidak tahu informasi apapun mengenai pria yang dicintainya itu.


Di tempat lain.


Hari-hari Angga di lewati dengan sangat berat. Keterpurukannya karena di tinggal Amalia sampai sekarang pun masih mendarah daging. Kebiasaan nya yang pulang malam dalam keadaan mabuk kini terulang lagi. Bahkan dia jarang pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Kedua orangtuanya pun sudah tidak bisa lagi menasehatinya. Angga menyalahkan kehancuran hidupnya pada Papanya. Jadi apapun yang di bilang papanya tak pernah Angga hiraukan.


Kedua orangtuanya sering membujuk Angga untuk menikah dengan Angel. Tapi Angga tidak pernah memperdulikan bujukan dari keduanya. Bahkan dia sangat menjaga jarak dengan Angel.


Pagi itu ada rapat direksi di ruang rapat. Merasa membahas tentang tawaran kerjasamanya dengan "PT Dirgantara grup" perusahaan sawit terbesar di kota Pekanbaru. Karena permintaan barang dari area Sumatra sangat meningkat sehingga membuat perusahaan Angga kualahan melayaninya. Karena perusahaan itu penyuplai terbesar minyak mentah di perusahaan Angga. Mereka meminta perusahaan Angga untuk membuka cabang gudang produksi di sana. Agar lebih efisien memenuhi permintaan pasar di area Sumatra.


Sebenarnya tawaran kerjasama itu sudah di kirim dari tiga tahun lalu. Tapi Angga masih ragu untuk mengambilnya. Karena dia belum menemukan orang yang dipercaya menangani proyek itu disana.


Sepertinya kehadiran Afdal sebagai manajer produksi menjadi angin segar untuk Angga. Karena kinerja Afdal selama tiga tahun ini yang sangat baik. Sehingga Angga sedikit yakin menyerahkan proyek kerjasama nya dengan PT Dirgantara grup pada Afdal.


Akhirnya kesepakatan itu di bentuk. Angga bersedia membuka cabang gudang produksi di Pekanbaru. Dan rencananya minggu depan mereka akan bertolak kesana. Untuk meninjau lokasi yang tepat yang akan digunakan untuk membangun gudang itu.


"Kamu udah siapkan semuanya, Nik?" tanya Angga saat mereka selesai meeting.


Afdal yang mendengar ucapan mereka berdua, lantas ikut bicara. "Kalau soal itu, Bapak gak usah khawatir. Kebetulan di samping rumah saya ada penginapan kecil. Memang kalau dicari di Google map, tidak akan nemu," ujarnya menyampaikan informasi pada Niko dan Angga.


Angga tampak berfikir, setelah itu dia ingat. Kalau pegawainya itu berasal dari kota Pekanbaru. "Oh iya udah kalau begitu. Kamu urus semuanya." Niko merasa lega karena masalahnya selesai. Beberapa hari ini dia selalu berfikiran tentang itu. Untung ada Afdal, yang dari kota itu.


Mereka bertiga pun keluar dari ruang meeting. Saat Angga akan berjalan menuju keruangannya tiba-tiba seorang office girl menabraknya. Sehingga handphone yang ia pegang terjatuh.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja." Angga hanya mengangguk menanggapi ucapan office girl itu. Afdal yang berada tak jauh dari situ, turut membantu mengambilkan handphone Angga. Kemudian memberikan nya pada Angga. Angga langsung mengecek handphone nya, dengan menekan tombol on disana. Saat layarnya sudah hidup, ada foto Amalia yang terpampang di wallpaper handphone Angga. Afdal bisa melihat dengan jelas foto Amalia ada di handphonenya Angga.


"Maaf Pak, kalau saya lancang. Siapa wanita yang ada di handphone Bapak?" Afdal memberanikan diri untuk bertanya pada bosnya. Karena dia penasaran, kenapa foto Amalia ada di ruangan dan handphonenya Angga.

__ADS_1


"Oh ini, bukan siapa-siapa." Angga tidak bicara dengan jujur pada bawahnya itu. Tidak tahu alasannya apa, yang jelas dia langsung pergi meninggalkan Afdal disana.


Afdal sebenarnya belum puas dengan jawaban Angga. Tapi apa boleh buat. Siapa dia, yang ingin tahu kehidupan pribadi bosnya. Afdal pun pergi dari tempat itu dan menuju ke ruangannya.


**"***********


Hari ini adalah hari keberangkatan Angga menuju ke Pekanbaru. Dia sudah siap dengan barang yang akan dibawanya. Saat sedang melintas ke ruang keluarga. Angga berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Pa, Ma, Angga mau ke Pekanbaru untuk beberapa hari. Ada urusan bisnis disana!" pamitnya pada kedua orangtuanya.


"Kok mendadak sayang," balas mamanya mendekati Angga.


"Nggak mendadak juga. Karena sebenarnya proyek ini sudah Angga rencana dua bulan belakangan ini."


"Ngga, Papa harap setelah kepulangan mu dari Pekanbaru. Kamu bisa membuka hati untuk Angel," sambung pak Dwi mendapat tatapan tajam dari Angga.


"Sudah berapa kali Angga katakan pada Papa. Angga tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Amalia."Angga langsung pergi meninggalkan papa dan mamanya.


"Angga!!! Angga!!! Mau sampai kapan kamu menunggu wanita itu!!!" teriak pak Dwi namun tak menghentikan langkah Angga.


Bu Sundari hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia tidak menyangka anaknya akan sekeras kepala itu. Masih setia menunggu wanita pujaannya itu.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2