Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Diungsikan


__ADS_3

Malam itu Azka akhirnya tidur bersama Amalia lagi. Bocah itu semakin manja aja pada bundanya. Angga tidak bisa berkutik lagi. Tidak mungkin dia mengulang kejadian semalam. Yang ada membuat keributan di tengah malam lagi. Akhirnya dia memilih mengalah pada anaknya itu. Dan memikirkan bagaimana caranya agar anaknya bisa terpisah dulu pada bundanya. Malam itu di lalui oleh Angga, dengan tidur memeluk anaknya.


Pagi harinya, saat mereka di meja makan. Azka yang disuapi oleh bundanya, tapi tidak selahap biasanya. Bundanya juga heran pada anak itu. Tidak biasanya dia seperti itu. Makan seperti tidak selera. Angga pun sama, menyadari hal itu.


"Sayang, kenapa makannya cuma sedikit?" Anak itu menatap ke wajah ayahnya.


"Ayah, Bunda. Azka pengen mamam sayur yang di buat nenek. Yang rasanya asem, itu Lo!" Sepertinya anak itu kangen dengan masakan neneknya yang ada di Bogor. Sehingga makan pun tidak selera.


"Apa sayang? Azka kangen sayur asem buatan nek Leha?" Anak itu tersenyum mengangguk. Terlintas di kepala Angga untuk membuat rencana agar putranya bisa menginap di rumah mertuanya.


"Azka sini! Deket Ayah!" Anak itu beranjak dari duduknya dan mendekat kearah ayahnya. Angga langsung memangku putranya saat sudah ada di dekatnya.


"Azka pengen makan sayur asem buatan nek Leha, kan!" Azka pun mengangguk.


"Ayah bakal Anter Azka kesana. Tapi, dengan satu syarat." Amalia yang mencium bau tidak beres pada suaminya hanya membeliakkan matanya. Angga tersenyum manis kearah istrinya, saat dia tahu reaksi istrinya.


"Apa syayatnya Ayah?" tanya Azka polos. Angga pun tersenyum penuh harap. Semoga rencananya kali ini berhasil. Mengingat anaknya selalu memegang erat janjinya. Itu terlihat ketika, Amalia meminta Azka untuk tidak makan es krim lagi. Azka tidak melakukan apa yang dilarang bundanya itu. Karena dia sudah berjanji pada Bundanya. Sepertinya itu dijadikan alat oleh Angga untuk melancarkan rencananya.


"Azka janji dulu Ama Ayah." Angga menunjukkan jari kelingkingnya, dengan cepat Azka menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya. Angga pun tersenyum penuh kemenangan.


"Azka nanti tinggal dulu di rumah nek Leha dan kakek Sapta, ya!" Anak itu terlihat diam, sedang memikirkan sesuatu.


"Nanti disana Azka bisa bermain ke sungai lagi sama Kak Reyhan. Mancing ikan dengan Kakek," bujuknya agar anaknya mau menuruti permintaannya. Dengan cepat anak itu mengangguk.


"Azka mau, Yah. Nanti Azka main tangkap kupu-kupu sama Kak Reyhan." Angga berhasil membujuk anak itu. Dalam hatinya melonjak kegirangan. Akhirnya rencananya berhasil. Istrinya yang melihat hal itu, hanya tergelak. Melihat tingkah suaminya.


"Ok kalau gitu. Azka siap-siap dulu sama Bunda. Ayah tunggu di depan, ya!" Azka turun dari pangkuan ayahnya. Setelah itu menarik tangan bundanya untuk mengemas pakaiannya.

__ADS_1


"Sayang, apa kita gak keterlaluan. Membiarkan Azka menginap di rumah Mama?" Amalia sedikit ragu untuk meninggalkan putranya di rumah orangtuanya. Bukan tanpa alasan. Jarak antara tempat tinggalnya ke rumah orangtuanya itu lumayan jauh. Dia takut kalau Azka akan rewel minta pulang kerumahnya.


"Nggak sayang. Kan di rumah neneknya. Nanti biar, aku tugaskan satu orang supir dan mobil untuk bersiap disana. Berjaga-jaga kalau Azka minta pulang lagi kesini." Amalia hanya pasrah dengan rencana suaminya.


Dengan dibantu oleh Neneng. Amalia mempersiapkan keperluan anaknya selama disana. Berbagai peralatan dan perlengkapan di bawa semua oleh Amalia. Termasuk mainan kesayangan anaknya itu. Susu, Pampers, dan yang paling penting guling bayi kesayangannya tidak tertinggal. Kalau sampai tertinggal, auto balik lagi untuk mengambilnya. Benda itu seperti benda keramat bagi anak itu. Kalau tidur tidak memeluk guling itu. Dia tidak akan bisa tidur.


Karena tidak ingin terlalu merepotkan mamanya. Akhirnya dia juga menugaskan Neneng untuk ikut kesana. Berjaga, kalau-kalau mamanya kualahan menghadapi keaktifan anaknya. Neneng langsung mengemas barang-barangnya.


Setelah siap semuanya. Amalia pamit pada Bu Mina untuk pergi dulu ke Bogor. Dia juga berpesan agar memasak untuk malam nanti. Karena dia dan suaminya akan pulang. Bu Mina pun mengangguk patuh dengan perintah majikan wanitanya itu.


"Udah siap, sayang?" tanya Angga saat mereka sudah sampai di deket mobilnya.


"Udah, sayang!" Jawab istrinya. Angga membantu Azka naik ke dalam mobilnya. Anak itu tidak mau duduk di belakang bersama Neneng. Dia memilih duduk di depan bersama bundanya. Sepertinya anda itu masih belum mau dengan kakak asuhnya. Dan Amalia bisa memaklumi itu. Anaknya memang sekarang lebih menutup diri kepada orang asing. Apalagi semenjak Reyhan cerita tentang penculikan di desanya. Sepertinya itu menjadi ketakutan tersendiri bagi anak itu. Jika berinteraksi dengan orang asing.


Memakan waktu kurang lebih lima jam mereka sampai di perkebunan teh, tempat pak Sapta bekerja. Angga menghentikan mobilnya disana.


Saat pak Sapta baru saja akan masuk kerumahnya. Suara teriakan anak kecil menghentikan langkahnya dan langsung mencari sumber suara itu.


"Kakek!!!!" teriak Azka berlari menuju ke kakeknya. Pak Sapta yang sedikit terkejut melihat kedatangan anak, menantu dan cucunya langsung menyambut gembira.


"Cucu Kakek!!!" Azka langsung menghampiri ke gendongan kakeknya.


"Am, Angga! Kalian kesini?" tanya pak Sapta sedikit heran. Baru tiga hari anaknya itu pergi dari rumahnya. Sekarang sudah ada disitu lagi.


"Iya Pa. Azka kangen Ama neneknya," jawab Amalia.


"Ayo masuk-masuk! Ma....ini cucumu kangen, nih!" Teriak pak Sapta memanggil istrinya setelah menyuruh mereka bertiga masuk kedalam.

__ADS_1


Bu Leha yang mendengar teriakkan suaminya. Bergegas menemuinya. Dia tak kalah terkejutnya melihat kedatangan cucunya.


"Ya Allah.. cucuku." Bu Leha beralih menggendong Azka.


"Senengnya bisa liat cucu kesayangan Nenek. Kalian nginep, kan!" Pak Sapta kemudian duduk di kursi yang masih kosong disana. Sementara Bu Leha masih menggendong cucunya.


"Nggak, Ma! Azka aja yang nginep disini!" jawab Angga malu-malu. Pak Sapta dan Bu Leha langsung melirik kearah Amalia.


"Hmmm pasti cucumu itu buat ulah, Ma. Mangkanya mau di ungsikan disini!" goda pak Sapta, Bu Leha pun tergelak.


"Nenek! Azka mau mamam sayul uang asem itu, Lo!" celetuk Azka yang merasa dicuekin oleh Neneknya.


"Sayur asem." Azka pun mengangguk.


"Iya sayul asem. Azka suka, nek!" ulang Azka mengacungkan kedua jempolnya kearah neneknya.


"Ya udah. Ayo kita makan siang bersama. Kebetulan nenek buat sayur asemnya banyak. Azka bisa mamam sepuasnya."


Mereka semuanya menuju ke ruang makan. Dan menyantap makan siang disana. Di sela makan siang mereka. Pak Sapta bertanya perihal wanita yang bersama Amalia.


"Oh, iya. Mbak ini siapa?" Pak Sapta menatap kearah Neneng.


"Ya ampun. Hampir lupa. Ini Neneng Ma, Pa. Dia yang akan membantu Mama untuk mengurus Azka selama disini," jelas Amalia pada papanya. Pak Sapta pun hanya mengangguk.


Usai makan siang. Angga dan Amelia langsung pamit pulang. Tak lupa dia menitipkan anaknya pada kedua orangtuanya. Namun saat Amalia dan Angga melangkah keluar. Azka berteriak memanggilnya.


"Ayah!!! Bunda!!!!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2