
Itu lihat makeup kamu jadi luntur kan!" Angga tersenyum tipis, saat dia tersadar dari lamunannya.
"Masa sih?" Amalia mengusap-usap air matanya.
"Beneran! jadi jelek dong saya, pak?" tanya Amalia tidak percaya. Angga semakin tersenyum.
"Lihat aja sendiri!" Angga mengarahkan kaca spion kearah Amalia.
"Mana coba lihat! nggak kok, masih cantik," ujar Amalia dengan pedenya.
"Pede banget ngerasa dirimu cantik, ya gak mungkin lah make-up kamu luntur, secara barang mahal," ungkap Angga mengejek Amelia.
"Sebenarnya saya mau diajak kemana, pak?" Amalia kembali bertanya pada Angga, dia masih penasaran dari tadi.
"Temenin saya ke pesta pernikahan mantan saya," jawab Angga jujur. " Apa?" Amalia kaget mendengar ucapan Angga. " Biasa aja bisa kan?" Angga menggeleng kepalanya.
"Dasar ya, Bapak mau memanfaatkan saya! lagian kayak gak ada gadis lain aja, sampai-sampai ngajakin saya." Amalia gak habis pikir, kenapa Angga memilih dia yang mendampingi Angga, diacara nikahan mantannya.
"Apa kamu keberatan, bisa jalan dengan bos kece, kayak saya" imbuh Angga seraya menepuk dadanya.
"Kece darimana nya Pa!, arogan gitu, udah itu suka maksa pula." Amalia bicara menerocos, kayak bajaj gak ada remnya.
"Ingat, nanti kalau disana kamu harus pura-pura jadi pasangan saya. Kita harus nampak serasi di depan orang banyak." Angga kemudian memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh Amelia saat berada di pesta.
"Nggak janji"
"Kamu" Amalia semakin gemas bisa membuat bosnya marah. Entah demi apa, dia harus menuruti kemauan bosnya itu.
Amalia gak habis pikir, kenapa dia masih mau menuruti kemauan bosnya. Padahal sudah jelas-jelas, Angga yang merenggut harga dirinya.
Mereka tiba di hotel, tempat diselenggarakannya pesta pernikahan Dona dan suaminya. Angga menggandeng tangan Amalia, bak Cinderella yang digandeng dengan pangerannya. Mereka tersenyum ramah, pada tamu undangan lainnya. Sebuah hotel berbintang lima, itulah tempat resepsi pernikahan Dona. Banyak tamu undangan yang sudah hadir disana. Kebanyakan dari mereka adalah, selebriti papan atas, temannya Dona. Disana juga, banyak pers yang meliput acara pernikahan Dona.
Angga juga mengenali beberapa tamu undangan, mereka dari kalangan pengusaha hebat di tanah air. Sepertinya, suami Dona bukan dari kalangan selebriti, melainkan pengusaha juga. Angga berjalan menggandeng Amalia menuju ke singgasana, tempat kedua mempelai duduk.
"Selamat menempuh hidup baru Don, dan suami. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah." Angga memberi ucapan selamat pada Dona dan suami, disusul oleh Amalia. Jujur, Amalia sangat gugup. Karena banyak orang penting yang hadir di pesta itu. Dia hanya takut, kalau ada yang mengenalinya disana. Jika itu terjadi, akan membuat bosnya malu.
__ADS_1
"thanks ya Ngga. Ngga, jadi dia pacar baru kamu?" tanya Dona tersenyum ramah ke Amalia.
"Eh, iya! dia adalah Amalia" sahut Angga gugup.
"Cantik banget Ngga, cocok sama kamu!" Goda Dona, membuat Amalia tersipu malu.
"Kapan kalian akan nyusul kami?" imbuh Dona, melirik Suaminya.
"Inshaa Allah secepatnya." jawab Angga datar.
"Ya udah, jangan lupa undang kami ya!" Angga hanya tersenyum, setelah itu pergi dari singgahan pengantin. Amalia hanya mengekor di belakang Angga, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia takut, jika salah bertindak. Akan membuat kacau semuanya.
Angga memilih duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak WO. Dia duduk tepat disudut ruangan itu, tampak pemandangan indah dari luar jendela. Lampu-lampu bertebaran, menghiasi malamnya ibukota.
"Kamu lapar?" tanya Angga, Amalia mengangguk.
"Ya udah, biar saya aja yang ambil makanannya. Kamu disini saja!" Angga beranjak dari tempat duduknya. Dia pergi untuk mengambil makanan, untuk dirinya dan Amalia. Angga memilih mengambil cake coklat dengan batter diatasnya, dan mengambil dua gelas orang juiece.
Selesai mengambil makanannya, Angga kembali duduk ditempatnya yang tadi.
"Ya ampun Pak, cuma makan kayak gini! mana kenyang Pak?" Amalia menggerutu setelah tahu makanan yang di ambil Angga.
"Kamu tuh cewek, harus bisa jaga pola makan kamu. Ini sudah malam, jangan makan yang berat-berat." Kemudian Angga memberi alasan, tentang makanan yang ia ambil.
"Itu kalau saya dari tadi siang udah makan, saya belum makan Pak dari siang tadi. Masa Bapak tega, menyiksa perut saya, dengan cuma makan ini," ujar Amalia menunjuk makanan di meja.
"Gak usah cerewet deh kamu, nanti selepas dari sini saya akan tlaktir kamu. Sekarang makan dulu, makanan yang ada," usul Angga.
"Wah, beneran Pak! mau banget, hehehehe." Amalia mulai memakan, makanannya. Sementara Angga cuma ngeliatin, Amalia yang sedang makan. Saat sedang makan cake nya, batter nya menempel di sudut bibir Amalia. Dengan sigap Angga mengelap, sisa better di sudut bibir Amalia. Angga memandangi seluruh wajah Amalia. Dengan pelan, di lap nya bekas better itu.
Mendapat perhatian dari Angga, membuat Amalia menjadi gugup. Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdegup kencang. Apalagi, saat Angga menatap mata Amalia, membuat jiwanya terbang melayang.
"Kayak anak kecil aja, makan pake belepotan kayak gitu." Ucapan Angga menyadarkan Amalia dari khayalan nya.
"Saya bisa bersihin sendiri Pak, gak usah sok baik deh. Ujung-ujungnya bikin sengsara saya." Amalia mengambil tisyu dari tangan Angga, kemudian membersihkan sendiri bibirnya.
__ADS_1
Seorang wanita dan pria paruh baya berjalan mendekat ke arah Angga dan Amalia.
"Ngga, kamu disini juga?" tanya Psk Burhan saat sudah ada di dekat Angga.
"Eh iya Om, kebetulan pengantin wanitanya, adalah teman saya," Tutur Angga sopan
"Kak Angga kok gak bilang sih, kalau mau kesini! kan kita bisa barengan." Angel langsung bergelayut manja di lengan Angga.
"Sebenarnya saya tadi gak sengaja datang kesini," papar Angga memberi alasan.
"Kakak Dateng kesini dengan cewek ini." Angel menunjuk Amalia, "Iya!" seru Angga singkat.
"Gak salah nih, Kakak kesini dengan office girl kantor Kakak. Ya ampun Kak, bikin malu aja." Angel terus memojokkan Amalia, dan membuat Amalia tertunduk, tak berani menatap Angga.
"Apa Ngga, dia office girl kamu?" tanya pak Burhan kaget.
"Memangnya kenapa Om, kalau dia office girl saya. Bukankah semua orang itu sama?" Angga yang tak terima melihat Amalia direndahkan, ikut berbicara.
"Dia lebih terhormat dari siapapun," imbuhnya lagi.
"Hey, dasar cewek gak tau malu. Kamu sengaja kan, menggoda Kak Angga." Angel mendorong tubuh Amalia hingga roboh, dengan sigap Angga menangkap nya. Amalia hanya diam, tidak membalas perlakuan dari Angel.
"Kamu itu gak pantes dampingi Kak Angga, dateng ke pesta ini. Gak level!" Ucapan Angel memporak-porandakan pertahanan Amalia, air matanya lolos dari pelupuk matanya.
"Angel! jaga bicara mu, kamu pikir kamu siapa, menentukan siapa yang pantas mendampingi saya di pesta ini. Ini privasi saya, jangan coba-coba kamu merendahkan dia." Angga mendekap Amalia yang sedang menangis.
"Angga! kalau sampai Ayah mu tahu dengan sikap mu ini, dua bakalan kecewa sama kamu!" bentak Pak Burhan tak terima anaknya dimarahi di depan umum.
"Kita pergi dari sini!" seru Angga meninggal tempat pesta itu, dan ditariknya tangan Amalia untuk mengikutinya.
Mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan disana, bahkan ada seorang wartawan yang mengambil video mereka.
Angga mengajak Amalia keluar dari hotel itu, dia menghubungi sopir pribadinya. Angga merasa tidak enak dengan Amalia, karena dipermalukan didepan umum oleh Angel dan Pak Burhan.
"Kita ke restoran Uya, ya Mang," perintah Angga pada sopir pribadinya, saat mereka sudah di dalam mobil.
__ADS_1