Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Secercah harapan


__ADS_3

Delon hanya bisa pasrah dengan keputusan papanya. Dia memilih waktu yang tepat, agar papanya mau mengerti dan menerima permintaan maaf dari pak Dwipangga dan Angga.


Azka yang merengsek di gendong oleh Neneknya, menjadi pusat perhatian Angga. Pria itu langsung menemui anaknya yang berada tak jauh dari tempat dia duduk. "Sayang, sini sama Ayah!!" Angga menggambil tubuh anaknya dari gendongan Bu Leha. "Ma, maafin Angga!" Satu kalimat terlontar dari bibir Angga untuk wanita yang di hadapannya. Wanita itu tampak tersenyum melihat raut wajah Angga yang menyesal.


"Kamu yang sabar, ya! Mama akan berusaha ngomong ke papamu!" Ucapan Mama mertuanya membuat Angga sedikit lega. Paling tidak, dia masih mendapat dukungan dari Mama mertuanya dan Kakak iparnya.


Angga bersama anaknya dan Bu Leha menghampiri pak Dwi dan Bu Renata yang masih duduk di tempat yang tadi. Angga gak tega melihat Papanya yang terlihat lelah karena memikirkan masalah ini, begitupun juga dengan mamanya. Karena itu Angga meminta mereka untuk pulang dulu ke rumah. "Pa, Ma. Lebih baik Mama dan Papa pulang aja dulu, biar Angga yang di sini!"


Pak Dwi terlihat lesu, karena usahanya bersandi dengan pak Sapta gagal. Berbagai cara sudah di coba, sampai berlutut di depannya pun sudah. Tapi sepertinya hati besannya masih tertutup dendam yang menganga. "Maafkan suami saya, ya Pa Dwi dan Bu Renata. Saya tahu, kalian Bapak dan Ibu pasti kecewa dengan sikap keras kepalanya. Tapi, saya akan berusaha ngomong baik-baik nanti sama suami saya. Saya harap, Bapak dan Ibu tidak kecewa," tutur Bu Leha meminta maaf.


"Kamilah yang seharusnya minta maaf. Karena kesalahan saya, anak- kita harus menanggungnya," sahut pak Dwi menyesal. "Terimakasih ya Bu, Ibu sudah mau membantu kami. Saya mohon, tolong bujuk Sapta, agar mencabut kata-katanya. Kasihan mereka!" lanjut Pak Dwi menatap putranya yang masih menggendong Azka.


"Insha Allah, Pak!"


Setelah berpamitan pada Bu Leha, pak Dwi dan istrinya pamit pulang dulu. Bukan cuma rasa bersalah yang meliputi hatinya tapi penyesalan yang tak akan ada gunanya lagi. Dia tidak pernah berfikir sebelumnya. Sifat egois dan ketamakannya sekarang menjadi bumerang untuk dirinya. Disaat kebahagiaan mulai dia rasakan, dengan kehadiran menantu dan cucunya. Kini dia harus menanggungnya bersama putra semata wayangnya. Di saat umurnya yang sudah senja, tinggal menikmati kebahagiaan. Tapi terampas keegoisan di masa lalunya.


Sementara Angga, pria itu tidak menyerah walau dirinya sudah mendapat penolakan dari Papa mertuanya. Dia tetap setia menunggu istrinya di luar. Sesekali dia mengintip dari balik jendela ruangan itu.


Saat itu Pak Sapta akan ke mushola rumah sakit. Karena adzan dhuhur sudah berkumandang, beliau keluar dari ruangan itu, dan melihat Angga masih duduk mematung di sana. Tanpa basa-basi lagi, beliau berseru. "Untuk apa lagi kamu ada di sini?" Lantang suaranya bagai petir di siang bolong di telinga Angga.


"Pa, Angga berhak ada di sini. Amalia istri Angga, Pa!!" Angga mulai hilang kesabaran.


"Tapi sebentar lagi, dia bukan istri kamu!!!" salaknya menatap tajam ke bagian mata Angga, pria itu tersenyum getir menertawai orang yang berdiri di depannya.


"Dan asal Papa tahu! Angga tidak akan pernah menceraikan istri Angga, sampai kapanpun, tidak akan pernah!!!" teriak Angga tak mau kalah. "Dan Angga akan pastikan, Amalia tetap berada di sisi Angga dan menjadi ibu dari anak-anak Angga!" Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya. Akankah dia bisa mempertahankan pernikahannya dengan Amalia. Setelah tahu, papa mertuanya jelas-jelas menentang pernikahan mereka.


Pak Dwi tidak Ndu berdebat lagi dengan Angga, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu menuju mushola. Sepeninggal mertuanya, Angga langsung masuk kedalam. Kebetulan Bu Leha dan Delon masih ada di sana, tapi setelah Angga masuk. Mereka berdua keluar, memberikan kesempatan untuk sepasang suami istri itu untuk bicara.

__ADS_1


Angga mendekati Amalia, Amalia menangis tersedu saat melihat kehadiran Angga di sana. Dia sempat menyesal karena kesal pada suaminya. Tapi kenyataannya rasa cintanya begitu besar, hingga dia tidak perduli dengan kesalahan yang di buat oleh Angga. "Sayang!!!" seru Angga dengan suara parau. Pria itu menyentuh wajah istrinya yang membasah karena air matanya. "Maafin aku!!!" lanjutnya, ikut meneteskan air matanya.


Amalia meraih tangan Angga, air matanya masih saja mengalir belum mau berhenti. "Kamu gak salah, sayang!" Di pegang nya erat tangan itu. Rasanya dia takut jika mereka akan terpisah lagi. "Kita hadapi sama-sama, ya!" Angga tersenyum sedih. Rasanya baru kemarin mereka mengenyam kebahagiaan. Tapi sekarang masalah sudah hadir lagi di tengah-tengah rumah tangga mereka.


"Sayang, aku janji akan mencari cara agar Papa mau merestui lagi hubungan kita!!!!" Amalia mengangguk. "Aku yakin, kita bisa lewatin ini semua. Kamu yang sabar, ya sayang!" Amalia tak mampu lagi berkata-kata, air matanya yang mewakili perasaannya saat itu.


"Dimana Azka?" tanyanya di sela tangisnya.


"Azka rewel, dia ikut Papa dan Mama pulang!!!" Ucapan suaminya semakin membuat wanita itu bersedih. Jika dia ingat, betapa bahagianya saat anak itu bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi sekarang, setelah masalah ini terjadi. Sedikit banyak akan mengguncang mental Azka. Apalagi kalau sampai mereka berpisah. Amalia sudah tidak bisa lagi membayangkan hal itu terjadi. Sakit, jelas akan sakit.


Sementara di luar, Delon merasa cemas. Bagaimana tidak, kalau sampai papanya tahu, Angga masuk kedalam. Jelas akan terjadi keributan lagi. "Ma, kita harus bagaimana ini?" tanya Delon yang terlihat bingung.


"Kita harus bantu bicara dengan Papa, Lon. Kita harus bisa satukan lagi dua insan yang saling cinta itu!" ucap Bu Leha menatap anaknya. "Biar Mama yang ngomong dengan Papa. Kamu tunggu di sini, dulu!" Delon mengangguk.


Bu Leha mencari keberadaan suaminya. Jujur jika di bilang sakit hati dengan keluarga pak Dwi, iya. Tapi, dia tidak seegois suaminya. Apalagi melihat ketulusan Angga, belum lagi permintaan maaf dari besannya itu sedikit melunturkan rasa sakit hatinya. Dan tugasnya sekarang adalah membujuk suaminya untuk mengikis dendamnya selama ini. Bu Leha tahu suaminya seperti apa. Pak Sapta memang tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Tapi sekalinya orang itu mencari masalah dengannya, dia tidak akan begitu saja memaafkan orang itu.


Pak Dwi yang baru saja selesai sholatnya, akan keluar dari mushola itu. Namun di cegah oleh istrinya. "Pa!!" Belum sempat istrinya bicara Pak Dwi sudah menatap tajam istrinya.


"Pa, mereka saling cinta. Apa Papa lupa, pengorbanan anak kita saat menjauhi Angga. Tapi alam mempertemukan lagi mereka. Betapa kuat cinta mereka, Pa. Papa sanggup melihat anak kita menderita?" Kata-kata istrinya sedikit menyentuh dalam hatinya. Tapi kembali lagi, saat dia ingat betapa pak Dwi mempermalukan dirinya di depan awak media. Bukan cuma itu saja, saat pak Dwi menampar Delon di depan matanya. Dan memenjarakan Delon dengan perbuatan yang tidak ia lakukan, menutup kembali rasa luluh di hatinya.


"Ngga Ma, sebelum Angga bisa merebut kembali perusahaan milik Papa. Papa tidak akan pernah bisa memaafkan Dwi dan keluarganya," ucapnya tegas dan tak ingin di bantah lagi.


Tapi bukan Bu Leha namanya, jika dia tidak bisa meyakinkan suaminya. "Untuk apa, Pa? Apa Papa mau memimpin perusahaan itu lagi? Papa sudah tua, waktunya istirahat. Biar Delon yang bekerja!!!" bujuknya.


"Papa bilang nggak ya nggak, Ma!!!" Pak Sapta langsung pergi meninggalkan istrinya. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya. Bu Leha langsung mengambil handphonenya dan mengabari Delon agar membawa keluar Angga dari ruangan Amalia.


Angga keluar dari ruangan Amalia bersama Delon sebelum papa mertuanya datang. Tak masalah baginya jika harus main petak umpet dengan pak Sapta agar bisa bertemu dengan Amalia. Daripada dia tidak bisa bertemu lagi dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Ngga, sebaiknya kamu pulang dulu! Kamu istirahat di rumah dulu, kamu pasti lelah, kan!" usul Delon yang melihat adik iparnya sangat lelah.


"Nggak, Kak! Anggap akan pernah pergi dari sini! Angga akan tunggu di sini, sampai istri Angga pulang!" sahut Angga.


Bu Leha pun datang. Dia langsung menemui menantunya. Memberikan kabar yang ia dengar dari suaminya tadi. Syarat agar Angga bisa bersatu lagi dengan putrinya, akan dia sampaikan pada menantunya itu. "Ngga, Papamu tidak akan mengubah keputusannya, sebelum kamu bisa merebut kembali perusahaan Papamu!" Angga terlihat mendongakkan kepalanya setelah mendengar kata-kata Bu Leha.


"Benarkah itu, Ma? Itu syarat dari Papa?" Angga seperti mendapat angin surga setelah mendengar itu dari Bu Leha.


"Iya! Dan Mama paham, Papamu memilih syarat itu. Karena perusahaan itu adalah perusahaan keluarga papamu. Kakekmu yang merintisnya dari Nol. Dan karena kecurangan pak Dwi, Papamu harus menjualnya dengan Burhan dengan harga yang sangat murah. Bahkan tidak cukup untuk melunasi hutang-hutang kami di Bank!" jelas Bu Leha. Angga bisa mengerti itu.


"Baik, Ma. Kalau itu syarat dari Papa, Angga akan berusaha mewujudkannya. Angga akan cari cara agar perusahaan itu jatuh ke tangan Papa lagi! ucap Angga penuh semangat dan keyakinan.


"Kakak akan bantu kamu, Ngga. Kamu yang semangat, ya!" ujar Delon menyemangati adik iparnya.


"Makasih, Kak!"


Itu hal yang mudah buat Angga merebut kembali perusahaan pak Burhan ketangan papanya. Karena perusahaan itu sekarang sedang di ujung tanduk posisinya. Mereka kalah bersaing dengan perusahaan asing yang menjual produk yang sama dengan mereka. Dengan cara membeli lima puluh persen saham dari perusahaan itu, Angga sudah bisa menguasai perusahaan itu. Angga sangat yakin, akan bisa merebut kembali perusahaan itu.


"Mama masuk dulu, ya!" pamit Bu Leha pada Angga dan Delon.


Belum sempat Bu Leha masuk, pak Sapta lebih dulu keluar dan berteriak memanggil dokter. Dan itu mengundang perhatian Angga. "Apa yang terjadi dengan istri saya!!!" teriak Angga panik.


"Dok, tolong periksa anak saya. Perutnya yang bekas jahitan itu terasa sakit," ujar Pak Sapta pada Dokter yang menangani Amalia.


Dokter itu masuk kedalam, Angga hanya bisa pasrah menunggu di luar. Rasanya sakit, disaat Istrinya kesakitan. Dia tidak bisa berada disisinya.


"Amalia akan baik-baik saja, kamu gak usah khawatir!!!" ucap Delon.

__ADS_1


Sikap pak Sapta sedikit berubah. Dia tidak lagi menggebu-gebu seperti pagi tadi. Apalagi setelah melihat putrinya kesakitan bahkan tak sadarkan diri. Tapi bukan berarti dia sudah luluh, dan bisa menerima permintaan maaf Angga.


To be continued


__ADS_2