
"Selamat Pagi pak Angga, pak Niko!" sapa Afdal namun tak mendapat balasan dari Angga. Perhatian Angga berpusat pada seorang anak kecil yang bergelayut manja di lengan Afdal. "Pagi Pak Afdal," balas Niko.
Melihat bos-nya hanya diam mematung memperhatikan anak yang datang bersama Afdal, akhirnya Niko pun bersuara. "Pak Angga, apa kita bisa berangkat sekarang?" Tak mendapat juga sahutan dari bosnya, Niko kemudian menepuk bahu Angga. "Pak."
"Eh, iya maaf." Angga pun tersadar dari lamunannya dan beralih menatap dua karyawannya. Tapi pikiran Angga masih diliputi sosok anak kecil itu.
"Ayah!" Terdengar suara dari mulut bocah berusia dua tahun setengah itu. Sehingga membuat Angga dan Niko tercengang.
"Oh iya Pak, maaf dia keponakan saya. Dia memang seperti itu kalau melihat laki-laki yang baru ia kenal. Pasti di panggil ayah olehnya." Afdal pun memperkenalkan Azka pada Niko dan Angga.
Angga yang masih penasaran dengan anak itu, kemudian berjongkok dan mengelus rambutnya. "Hey, siapa namamu." Angga pun mencubit pipi gembul si Azka. "Azka," jawab anak itu sembari tersenyum pada Angga.
Sosok anak yang membawa bola ditangan kirinya itu. Mengingatkan Angga pada masa kecilnya. Dia selalu membawa bola kesayangannya Kemanapun dia pergi. Angga menatap lekat anak yang ada didepannya, tanpa dia sadari air matanya menetes. Dengan cepat ia mengelapnya. Tapi sepertinya anak itu menyadari kalau Angga sedang mengeluarkan air mata. "Ayah nangis?" tanyanya polos. "Ayah nggak nangis. Kamu lucu sekali, bolehkah ayah menggendong mu?" Azka pun mengangguk tanda dia setuju.
Angga menggendong anak yang baru saja ia kenal itu. Ada perasaan aneh yang meliputi dirinya saat ini. Seperti ada sesuatu pada anak itu. Angga begitu menikmati saat dia menggendong Azka. Sembari membayangkan yang sedang ia gendong itu adalah anaknya.
Niko dan Afdal pun tak kalah terkesima melihat kedekatan mereka. Padahal baru pertama ketemu. Tapi Azka sudah nemplok pada Angga. Puas menggendong Azka, Angga pun menurunkan anak itu dari gendongannya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Angga pada kedua karyawannya itu.
"Azka, sekarang Ayah antar pulang dulu ya. Ayah mau kerja dulu, nanti kita main lagi!" seru Afdal pada anak angkatnya itu. Tapi sepertinya ada ketidakrelaan dari Azka untuk berpisah dari ayah angkatnya. Melihat hal itu Angga pun ikut bicara. "biarkan dia ikut kita sarapan."
__ADS_1
"Benelan boleh ikut Ayah?" tanya anak itu melonjak kegirangan. "Azka seneng?" tanya Angga kemudian. Azka pun hanya mengangguk. "Tapi Azka harus janji, hak boleh rewel ya."
Mereka bertiga akhirnya pergi ke warung makan yang deket dari penginapan Angga dan Niko. Tak ingin membuat Amalia khawatir karena anaknya dibawa terlalu lama. Afdal pun menelpon wanita itu. Tapi beberapa kali dia menghubunginya, tapi tidak diangkat oleh Amalia. Afdal pun mengirim pesan pada itu kalau anaknya ikut menemani sarapan bosnya.
Disebuah warung makan Padang, mobil mereka berhenti. Mereka berempat turun dari mobil untuk masuk kedalam. Kebetulan warungnya baru buka. Jadi belum terlalu ramai pembeli. Mereka memilih tempat duduk yang kiranya nyaman untuk membicarakan proyek yang akan mereka tangani.
Angga dan Niko memesan makanan karena mereka belum sarapan. Angga memesan nasi rendang dan gulai pucuk ubi. Sementara Niko, dia memesan udang asam manis, khas dari warung makan itu. Afdal dan Azka mereka tidak memesan makanan, hanya memesan minuman saja. Afdal dengan kopi susunya, dan Azka dengan jus mangganya.
Setelah pesanan mereka tiba. Mereka segera menyantapnya. Azka yang melihat Niko begitu menikmati makanannya. Membuat dia sesekali menelan Slavina nya. Niko yang menyadari sedang diamati oleh anak kecil yang ada di depannya, lantas menawarkan makannya. "Azka mau udangnya?" Azka pun menjawabnya "kata bunda Azka gak boleh makan udang. Nanti bentol-bentol kayak gigit nyamuk."
Angga pun seketika tercengang saat Azka berkata seperti itu. Dia dan anak itu sama-sama alergi makan udang. Sebuah kebetulan yang aneh menurutnya.
Usai sarapan, mereka mengantar pulang Azka terlebih dulu. Afdal yang turun dari mobil mengantarkan Azka sampai kedalam. Setelah itu mereka bertiga berangkat meninjau lokasi gudang yang akan dibangun. Memakan kurang lebih dua jam mereka sampai di lokasi.
Tak memakan waktu lama untuk mereka meninjau lokasi tersebut. Karena lokasinya sesuai dengan angan-angan mereka. Kini mereka sudah kembali lagi ke penginapan.
Sore itu cuaca mendung meliputi daerah Taluk kuantan. Sepertinya hujan akan turun. Angga merasa bosan berada di kamar. Sehingga dia keluar untuk mencari udara segar. Dia berdiri di teras penginapan itu. Ada sesuatu yang mencuri perhatiannya.
Seorang anak kecil yang sedang bermain bola ditemani neneknya. Anak itu adalah Azka. Anak kecil yang sedikit sudah mencuri hatinya. Angga pun mendekati Azka yang sudah bersiap menendang bola.
"Nenek udah ciap," ucapnya bersiap menendang. "Azka!" Suara Angga pun menghentikan aktivitas Azka. Anak kecil itu pun menoleh kearah Angga. "Ayah," ucapnya berlari memeluk Angga.
__ADS_1
Nek Asih pun mendekati mereka. Dia merasa tidak enak hati karena cucunya main peluk-peluk orang yang belum ia kenal. "Azka, turun sayang." Angga pun tersenyum ramah pada Nek Asih. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan wanita yang sudah berumur setengah abad lebih. "Nek, saya ini atasan Afdal. Saya juga sudah mengenal Azka. Tadi pagi saya bertemu dengannya." Angga pun memberitahu pada Nek Asih tentang siapa dia. Nek Asih pun tersenyum lega, dan tidak mencurigainya lagi.
Rintik hujan pun mulai jatuh ke bumi. Dengan cepat nek Asih mengajak Azka masuk kerumahnya. Sementara Angga dia kembali ke penginapan. Tapi dia tak lantas masuk ke kamarnya. Dia berdiri di teras dan menatap kosong ke jalanan.
Niko yang sedari tadi mencari bosnya. Akhirnya menemukan Angga diteras. Dia kemudian duduk di kursi yang ada disitu.
"Pak Angga! Apa ada yang sedang mengganggu pikiran anda?" tanya Niko sembari terus memperhatikan bos-nya itu. Angga diam sejenak, lalu menghembuskan nafas panjang. Seraya berkata, "mungkin jika anakku ada bersama ku saat ini. Dia sudah sebesar Azka. Tumbuh menjadi anak yang periang." Pandangannya pun tak lepas memperhatikan air yang jatuh dari langit.
"Kenapa sampai sekarang tidak ada petunjuk apapun mengenai keberadaan Amalia." Niko pun ikut sedih mendengar perkataan Angga.
"Apa Bapak percaya dengan yang namanya takdir?" Niko ikut berdiri disamping Angga. "Bapak tidak akan pernah merasa takut akan hal itu. Suatu saat nanti Bapak akan dipertemukan lagi dengan Amalia." Kata-kata Niko sedikit membuat hatinya Angga tenang. Meskipun ada sedikit ketakutan didalamnya. Takut jika takdir tidak menyatukan dia dan Amalia.
to be continued...
Gimana nih....
masih mau lanjut gak?
ayo dong jangan kasih kendor...like komenya, votenya jangan kasih kendor. berikan untuk Angga dan Amalia...
untuk saat-saat ini blm bisa up dua bab
__ADS_1
inshaa Allah bulan depan Aku bakal up Dua bab...maka dari itu like komen kalian bikin penyemangat buat aku nulis