Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Keseruan keluarga Angga


__ADS_3

Angga menemui tamunya di ruang tamu. Seorang pria yang memakai setelan kaos berkerah dan celana jeans sedang menunggu kedatangan bosnya. Dia adalah Niko. Pria itu sengaja datang menemui bos-nya karena ada beberapa hal penting yang tidak bisa di selesaikan di telpon. Sebelumnya pria itu tidak tahu tempat tinggal bosnya yang sekarang. Tapi semalam, dia sudah terlebih dulu mengabarkan pada bosnya jika ingin bertemu. Dan Angga memberikan alamat rumahnya lewat google MAP.


Angga duduk di samping asistennya itu. Beberapa hari ini, dia memang sengaja menyerahkan semua pekerjaannya pada Assisten nya.


"Sekarang katakan pada saya. Apa yang sudah terjadi?" Tanya pria yang terlihat cool dengan celana jeans sebatas lututnya.


"Jadi begini,Pak. Saya mau memberi tahu kepada Bapak, kalau PT samudera cinta ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan kita!" jelas Niko pada bosnya. Angga seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Bukannya itu adalah perusahaan milik pak Burhan, papanya Angel?"


"Benar Pak," jawab Niko. Angga mengerinyitkan keningnya.


"Untuk apa mereka menjalin kerjasama dengan perusahaan kita. Bukankah perusahaan kita tidak ada keterkaitan dengan perusahaan mereka?" Angga menatap serius ke arah asistennya.


"Mereka saat ini memerlukan suntikan dana yang cukup besar untuk menyelamatkan perusahaan mereka agar tidak bangkrut." Belum selesai Niko berbicara, laki-laki yang terkenal cool itu terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh asistennya.


"Bangkrut?" Sahut Angga tidak percaya.


"Iya, Pak. Jadi begini perusahaan yang dipimpin pak Burhan itu sebenarnya bukan perusahaan keluarga mereka. Pak Burhan dulu adalah direktur utama di perusahaan itu. Tapi entah kenapa perusahaan itu menjadi milik pak Burhan. Rupanya beliau salah menginvestasikan dananya ke perusahaan GAMA grup. Perusahaan yang hampir koleb itu. Intinya mereka di kelabui oleh Pak Wicaksono." Angga tampak mendengarkan cerita Niko secara seksama. Entah kenapa dia berfikir ingin mengetahui informasi lebih dari perusahaan yang dipimpin oleh sahabat Papanya itu.


"Darimana kamu mendapat informasi itu?"


"Saya mendapatkan informasi itu dari Pak Husni, perwakilan dari PT samudera cinta." Angga diam sejenak, menelaah kata demi kata yang di sampaikan oleh Niko.


Dia masih bingung, kenapa tidak pak Burhan sendiri yang menemuinya atau menemui papanya. Dan hanya mengutus salah satu orang kepercayaannya. Menurut Angga itu hal yang aneh.


Angga kemudian menandatangani dokumen-dokumen penting yang tidak bisa diwakilkan pada Niko. Sebenarnya Angga kasihan pada assistennya, karena harus bolak-balik Jakarta Bandung. Bersyukur, Niko memang sudah ada di Bandung dari kemarin. Karena ada urusan penting terkait pekerjaan.


Selepas kepergian Niko. Angga kembali ke kamarnya. Istrinya ternyata sudah terlelap. Mengingat semalam istrinya tidak tidur dengan cukup. Angga pun menyusul istrinya dengan berbaring disamping tubuh istrinya.


Sementara Azka, di tempat neneknya. Anak itu terlihat senang. Karena bisa bermain apapun yang ia suka. Tanpa harus mendengar larangan dari siapapun. Nenek dan kakek nya memang memanjakan cucunya itu. Apapun mereka perbolehkan. Asal tidak membahayakan cucunya.

__ADS_1


Seperti siang itu, pak Sapta baru saja mengajak cucunya memancing di sungai, belakang rumah. Azka terlihat gembira saat kail pancingnya di makan ikan. Kakeknya membantu Azka untuk menarik kailnya ketepian. Anak itu melonjak gembira.


"Yeaaaa dapat ikan, gede banget. Kakek, Azka mau pegang ikannya." Azka meraih kail pancing yang berada di tangan kakeknya. Setelah itu, dia memegang ikan yang mengepak-ngepakan terkena umpan kail Azka.


"Nanti di goreng aja ya, Kek!" Pak Sapta mengangguk sembari mengacak rambut Azka.


"Azka. Dulu Azka tinggal dimana sebelum kesini sama ayah dan bunda?" Amalia memang belum cerita pada orangtuanya perihal tempat tinggalnya yang dulu.


"Azka, nggak tahu Kek!" Pak Sapta tersenyum kearah cucunya.


Mereka berdua berjalan arah pulang kerumahnya. Hari sudah semakin siang, terlihat dari matahari yang bersinar tepat di atas kita. Pak Sapta memberikan hasil pancingannya pada istrinya untuk di olah.


Sementara dia memandikan cucunya sudah terlihat Kumal itu.


Usai mandi dan sholat Dzuhur. Mereka berdua duduk di meja makan sembari menunggu Bu Leha selesai memasak. Reyhan yang baru pulang dari sekolahnya ikut bergabung dengan papa dan keponakannya.


"Assalamualaikum, Pa!" sapa remaja yang masih memakai baju sekolah.


"Udah, Pa. Dek, nanti ikut Kakak nonton reog, ya!" seru anak itu pada anak kecil yang berpipi gembul itu.


"Reog? Dimana ada Reog, Rey?" potong pak Sapta.


"Di lapangan, Pa!" balas Reyhan.


"Reog apaan, Kek?" tanya bocah itu penasaran.


"Itu Lo, topeng besar yang gambarnya singa Ama burung merak. Kayak gini, ni!" Reyhan menunjukkan gambar reog pada Azka lewat ponselnya. Keponakannya itu malah ketakutan melihat gambar itu.


"Gak mau, Azka gak mau.. Hua hua." Azka menjerit ketakutan sembari menangis. Membuat orang yang ada disitu bingung cara mendiamkan bocah itu.


Di sebuah kamar yang cukup luas. Sepasang suami istri yang mulai terbangun dari tidurnya saling menatap. Mereka secara tidak sadar tidur dengan saling berhadapan, dan juga terbangun di waktu bersamaan.

__ADS_1


"Sayang, kamu udah bangun." Angga membelai lembut wajah istrinya.


"Maaf ya, Sayang. Aku ketiduran. Oh iya, tadi siapa yang datang." Angga membenarkan posisi tidurnya sehingga kepala istrinya menyender di dadanya.


"Niko, sayang. Kamu lapar, Sayang?" Amalia menggeleng.


"Aku sudah kenyang, sayang. Apalagi, kalau aku selalu ada didekat mu. Seperti ini," goda Amalia, membuat Angga tergelak.


"Kamu sekarang sudah bisa menggombal, ya. Oh iya, Azka gimana, ya? Kok gak ada kabar dari Papa, disana?" Amalia langsung terbangun duduk dan menatap wajah suaminya.


"Ya ampun, sayang. Aku sampai lupa kalau Azka ada di rumah Papa. Sekarang telpon dia, sayang. Aku udah kangen, nih!" pinta Amalia pada suaminya. Angga kemudian mengambil ponselnya yang ada di meja. Dan langsung menghubungi nomor Reyhan. Tapi, tidak ada satupun yang mengangkat telpon Angga. Karena mereka, sedang sibuk mendiamkan bocah yang dari tadi tidak berhenti menangis.


"Kok gak diangkat ya, sayang?" Amalia memegangi pelipisnya. Firasatnya jadi tidak enak.


Angga kemudian menelpon supir yang ditugaskan untuk berjaga di rumah pak Sapta. Sama, supir itu juga tidak mengangkat telpon Angga. Mereka berdua sudah mulai terlihat panik. Tapi selang beberapa saat, Reyhan menelpon balik ke nomor Angga.


"Assalamualaikum, Reyhan."


"Waalaikumussalam, Kak."


"Azka gimana?" Pak Sapta memberi kode pada Reyhan untuk tidak memberi tahu kakaknya. Kalau anaknya barusan menangis.


"Aman." Jawaban dari Reyhan membuat tenang sepasang suami istri itu. Kini mereka melanjutkan lagi adegan mesra-mesraan nya setelah menutup telpon dari adiknya.


To be continued


maaf telat up ya...


Kok ceritanya jadi gak greget lagi Thor?


Author sengaja buat adegan keseharian rumah tangga mereka dulu. Author ingin buat adegan bahagia dulu. Karena setelah ini akan banyak penderitaan dalam rumah tangga Amalia dan Angga. Author tidak cuma sembarangan masukin adegan disini. semua itu nanti akan ada keterkaitan dengan jalan cerita selanjutnya. jadi sembari menyelam, minum air juga....

__ADS_1


__ADS_2