
Angga menatap bingung dokter itu yang hanya menanggapi pertanyaannya dengan tersenyum. Sementara Amalia menarik ujung kemeja suaminya, memberi kode agar suaminya itu tidak terlalu banyak bertanya.
"Pak Angga tenang dulu, maaf jika apa yang akan saya sampaikan membuat bapak kecewa." Ucapan dokter itu seketika merubah raut wajah laki-laki yang memakai kemeja berwarna biru muda itu menjadi cemas.
"Apa? Apa yang terjadi dengan istri saya, dok?" tanya laki-laki itu tidak sabar.
"Keadaan istri bapak baik-baik saja. Hanya.." Ucapan dokter muda itu terhenti sejenak, ada sedikit keraguan pada dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Hanya apa, dok? Jangan membuat saya khawatir?" Angga benar-benar sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang terjadi dengan istrinya. Pria itu bahkan terlihat cemas saat dokter itu tidak cepat mengatakan keadaan yang sesungguhnya.
"Sayang, tenang dulu. Jangan emosi!" Wanita disampingnya itu mengingatkan Angga untuk tidak terbawa emosi. Melihat hal itu, dokter yang menangani Amalia tidak ragu lagi untuk mengatakannya.
"Istri bapak hanya kelelahan. Istri bapak tidak hamil. Dan masalah terlambat datang bulan, itu sudah biasa terjadi pada semua wanita. Tunggu saja, satu dua hari ini. Kalau ibu tidak mendapatkan haid, ibu bisa melakukan pemeriksaan ulang," jelas dokter itu sedikit membuat Angga menjadi lega. Namun tidak bisa dipungkiri, pria itu sedikit kecewa karena istrinya belum bisa hamil lagi.
"Maaf ya, sayang. Aku belum bisa mewujudkan keinginan kamu," ucap Amalia pada suaminya, dia tahu suaminya pasti sangat kecewa. Karena memang Angga sangat berharap bisa memberikan adik buat anak sulungnya itu.
"Bunda, Azka gak jadi punya adik, dong!" Bukan hanya suaminya yang merasa kecewa mendengar kabar itu, tapi putranya pun sama. Dengan berat Amalia menggeleng dan menatap wajah anaknya.
Tahu bunda dan ayah nya sedih. Azka langsung memberi semangat untuk kedua orangtuanya.
"Bunda, Ayah. Jangan sedih, ya! Kan ada Azka yang sayang Ayah, Bunda." Anak itu kemudian merentangkan kedua tangannya minta di peluk orangtuanya. Angga dan Amelia saling pandang, setelah itu menyambut pelukan sang buah hatinya.
"Terimakasih ya, sayang. Maafkan kami, ya! Belum bisa ngasih adik untuk Azka." Melihat kejadian mengharukan di depannya. Membuat dokter itu tersenyum hangat melihat keharmonisan keluar kecil itu.
Mereka bertiga saling melepaskan pelukan. Setelah itu kembali dengan dokter yang menangani Amalia.
"Saya sudah buatkan resep vitamin untuk ibu. Dan saya juga ingin memberi saran pada Bapak, jangan terlalu sering mengajak berhubungan dengan istrinya. Hehehehe.. agak sedikit di kurangi. Karena itu, Bu Amalia terlihat pucat dan muntah-muntah," ujar dokter itu memberi sarang. Seketika wajah suami istri itu berubah menjadi merah.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Angga memang sangat bersemangat berhubungan intim dengan istrinya. Dalam semalam bisa dua kali, bahkan lebih. Itu pun dilakukan setiap hari. Amalia hanya bisa libur saat sedang menstruasi saja. Kalau tidak, suaminya tidak memberi ampun untuk dirinya.
********************
Mereka sampai juga di rumah pak Dwi. Rumah yang sudah enam bulan ini tidak di jamah oleh Angga. Keadaan rumah itu masih sama. Hanya saja, tanaman hias yang sering di rawat oleh Bu Sundari terlihat tak terawat. Banyak yang lagi, ataupun mati. Angga membawa anak dan istrinya untuk masuk kedalam. Saat Angga mau menekan bel-nya, pintu itu sudah terlebih dulu terbuka.
Seorang pria paruh baya berdiri tegak di ambang pintu itu. Angga bisa melihat dengan jelas papanya terlihat kurusan dari terakhir kali ia lihat. Angga menatap wajah papanya, pun sama dengan pak Dwi. Beliau seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sosok yang ia cari selama enam bulan ini ada di hadapannya.
"Kamu kembali, Nak!" seru pak Dwi dengan suara berat. Angga langsung mendekat kearah papanya dan memeluk tubuh laki-laki yang dihadapinya itu.
"Maafin Angga, Pa!" Mereka saling melepas rindu. Sesaat kemudian pandangannya beralih pada seorang wanita yang menggandeng putranya. Sementara Amalia tersenyum ramah pada mertuanya itu, saat mata mereka saling bertemu. Pak Dwi kemudian melepaskan pelukannya, dan beralih mendekat kearah Amalia.
"Ama-lia, kamu.." Pak Dwi menunjuk Amalia, membuat wanita itu tak berani lagi menatapkan wajahnya lagi kearah mertuanya. "Dia, siapa?" Kemudian pak Dwi menunjuk bocah yang digandeng Bundanya.
"Dia anak Angga, pada!" sahut Angga.
"Jadi kalian! Selama ini tinggal bersama?" Pak Dwi menunjuk Angga kemudian menunjuk kearah Amalia.
Mereka kemudian masuk kedalam. Angga sedikit merasa lega karena papanya tidak mengusir istrinya. Pak Dwi kemudian memanggil istrinya di kamar untuk mengabarkan kalau putranya sudah pulang kerumah. Mendengar hal itu, Bu Renata sangat berantusias untuk menemui Angga. Beliau langsung menuju ke ruang tamu. Setelah melihat anaknya, Bu Renata dan Angga saling berpelukan. Sama dengan apa yang dilakukan oleh pak Dwi tadi. Bu Renata pun terkejut saat mendengar anaknya sudah menikah. Tapi beliau justru senang mendengar hal itu.
"Oh, jadi ini menantuku cantik," ucapnya memeluk Amalia. Amalia tidak menyangka kalau Bu Renata menerima dia dengan baik. Setelah berpelukan dengan Amalia. Wanita paruh baya itu, melihat sosok lucu yang diduga di samping menantunya itu.
"Halo, Nek!" sapa Azka pada wanita itu, seketika Bu Renata menghambur memeluk cucunya itu.
"Cucuku, kamu lucu banget, sih!" Puas berpelukan dengan cucunya Bu Renata kemudian ikut duduk di sebelah pak Dwi. Tidak lupa memangku cucunya.
"Kenapa kalian baru datang, setelah kalian sudah enam bulan belakangan ini?" tanya pak Dwi mengintrogasi anaknya.
__ADS_1
"Angga takut papa belum merestui hubungan kami," jawab Angga.
"Bagaimana mungkin kamu tahu kalau papa tidak merestui kamu. Sementara kamu menghilang tanpa jejak," ujar pak Dwi sedikit menaikan nada suaranya.
"Pa, jangan dimarahi lagi anaknya." Bu Renata memperingati suaminya agar tidak emosi pada anaknya.
"Maaf, pa. Terimakasih ya, pa! Papa sudah mau merestui hubungan Angga dengan Amalia." Pak Dwi hanya diam tidak menanggapi ucapan Angga.
Sepertinya pak Dwi belum sepenuhnya menerima Amelia sebagai menantunya. Tapi karena bujukan dari istrinya, dia harus mau menerima wanita itu menjadi menantunya.
"Sayang, kalian tinggal disini saja!" ucap Bu Renata yang begitu dekat dengan cucunya.
"Maaf Ma, Angga sudah membeli rumah di daerah Bogor. Maaf, kalau Angga tidak bisa menuruti kemauan mama," kata Angga. Mendengar hal itu, Bu Renata menjadi sedih. Baru saja mereka bertemu, kini harus berpisah lagi.
Adzan Maghrib pun berkumandang. Angga mengajak anak dan istrinya masuk ke kamarnya. Untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Kamar itu masih terlihat sama, saat terakhir Angga tinggalkan. Hanya saja ada sedikit yang beda dari kamar itu. Foto-foto Angga dari Angga masih bayi sampai dia dewasa terbaru tempel di dinding.
"Ayah, itu foto siapa?" Azka menunjuk foto seorang bocah kecil yang sedang membawa bola.
"Itu Ayah saat masih kecil," jawab Angga.
Amalia mendekati sebuah foto dua orang laki-laki yang usianya tidak beda jauh itu. Satu diantara mereka, sangat ia kenal. Tapi, yang satunya lagi. Dia belum pernah mengetahuinya. Tapi, dia seperti pernah bertemu laki-laki yang berada di foto itu.
"Sayang, ini siapa?" Angga mendekati istrinya. Melihat foto yang ditunjuk Amalia. Angga menjawab pertanyaan Amalia.
"Itu kakak ku, sayang." Amalia kemudian menatap wajah suaminya.
"Kakak? Kamu gak pernah cerita tentang itu sama aku , sayang!"
__ADS_1
"Maaf sayang, dia sudah meninggal."
To be continued