
"Sekarang kita kemana Pak?" tanya Niko pada Angga saat mereka masih ada di dalam mobil.
"Ke apartemen ku saja! kira-kira saya harus mencari Amalia dimana ya, Nik?" jawab Angga.
"Gimana kalau kita cari alamat tempat tinggal Amalia di Dinata group company saja Pak. Siapa tahu kita bisa dapat informasi disana," ujar Niko masih fokus menyetir.
"Ya sudah, antar saya kesana!" perintah Angga pada asistennya itu.
"Tapi Pak, apa Bapak tidak lelah. Lebih baik Bapak istirahat saja dulu Pak. Saya takut Bapak akan sakit," Niko melirik Angga, dan benar saja wajahnya kusut dan tampak jelas ada lingkaran hitam di bagian matanya.
"Saya tidak mau membuang-buang waktu saya hanya untuk berdiam diri. Saya gak bisa seperti ini Nik. Saya kehilangan separuh hati saya, saat ini!" sergah Angga sedikit meninggikan suaranya.
"Maaf Pak."
Bukan tanpa alasan Niko memberi saran pada Angga agar mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Pasalnya mereka bolak balik Jakarta Bogor dalam seharian ini. Apalagi, mereka terjebak macet di jalanan. Sehingga harusnya sampai jam 02.00 dini hari. Tapi mereka harus sampai di Jakarta lagi jam 06.30.
Tapi sepertinya Angga bersikeras mau mencari Amalia tanpa memperdulikan kesehatan nya. Bahkan Angga belum makan sejak kemarin. Niko sudah berusaha membujuknya. Tapi bukan Angga namanya kalau tidak keras kepala.
Mereka sudah sampai di kawasan ibu kota. Niko mengendarai mobilnya menuju kawasan Thamrin untuk datang ke Dinata group. Mereka berencana akan mencari alamat tempat tinggal Amalia selama dua bulan belakangan ini. Mungkin dari situ mereka bisa mendapatkan informasi kemana Amalia pergi.
Mereka sampai di kantor DINATA GRUP. Angga dan Niko turun dari mobilnya. Mereka berjalan menuju lobi kantor, setelah itu mereka berjalan ke ruangan reception yang tak jauh dari lobi kantor.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai receptionis pada mereka berdua.
"Apa benar, disini ada office girl yang bernama Amalia Rahayu Saptaradja?" jawab Angga.
"Sebentar saya cek dulu ya Pak." Pegawai itu membuka sebuah folder yang berisi daftar pegawai di kantornya.
"Iya Pak, ada."
"Bisa saya minta alamat tempat tinggalnya Amalia?"
Setelah mengantongi alamat kost-kostan Amalia. Angga dan Niko langsung menuju ke alamat yang diberikan pegawai receptionis tadi.
__ADS_1
Tak jauh dari kantor ada sebuah gang kecil menuju ke kostan Amalia. Mereka memilih jalan kaki menuju ketempat nya.
Mereka sampai ditempat tujuan mereka, setelah ibu-ibu muda yang sedang menyapu dihalaman. Angga mendekatinya dan bertanya tentang Amalia. Ibu itu adalah pemilik kosant Amalia. Beliau mengatakan tidak tahu kemana Amalia pindah. Sepertinya Angga tidak mendapat petunjuk apapun dari ibu-ibu itu.
Sekarang Angga sudah berada di kantornya. Karena banyak pekerjaan yang terbengkalai karena kepergiannya mencari Amalia.
Di ruangannya Angga hanya duduk termenung tanpa melakukan pekerjaan apapun. Dia baru ingat, ibunya Amalia sempat memberikan nomor telpon Amalia padanya. Angga langsung mengecek handphone nya untuk mencari nomor Amalia. Setelah menemukan nomornya, Angga menelpon nomor itu. Nada panggilan nya masuk, tapi tidak diangkat. Dicoba lagi oleh Angga, lagi, dan lagi.
"Angkat Am!!!!" racaunya dengan mimik wajah emosi.
"Stttt... kenapa kamu nggak Angkat, Am. Arghhhh!" Dilemparnya handphone miliknya di meja. Untung saja tidak pecah.
"Kenapa, kenapa kamu pergi. Lagi-lagi kamu buat aku menderita Am." Angga mengacak-acak rambutnya frustasi.
Suara pintu terbuka membuat Angga menatap seorang wanita yang sedang berjalan kearahnya.
"Kak Angga, kamu kenapa?" Angel mencoba mendekati Angga.
"Stop, jangan dekati saya!"
"Itu bukan urusan kamu, gak usah sok perhatian dengan saya!"
"Kaka masih mikirin itu cewek murahan..." ucapan Angel lantas dipotong oleh Angga.
"Tutup mulutmu, sekali lagi kamu bicara merendahkan dia, jangan harap kamu bisa hidup dengan normal."
"Wanita seperti dia tidak pantas untuk kakak tangisi!" Ucapan Angel semakin membuat Angga naik pitam. Brakkkk, Angga menggebrak mejanya dengan keras. Angel sangat terkejut, dan merasa takut melihat Angga.
"Kamu, keluar!!!!"
Tanpa menunggu lama lagi, Angel langsung keluar dari ruangan Angga. Sementara Angga yang masih kesal dengan Angel hanya bisa membuang nafasnya kasar. Setelah dikiranya sudah lebih membaik. Angga kemudian memeriksa dokumen yang ada di mejanya.
Beberapa dokumen tersebut adalah kontrak kerjasama dengan klien-kliennya. Salah satunya adalah dari PT Guntara Grup, yang ada di Pekanbaru. Perusahaan ini adalah penyuplai minyak mentah di perusahaan Angga. Mereka meminta perusahaan Angga untuk membuat gudang produksi di sana. Agar lebih efisien menyebarkan produk-produk nya di Sumatra dan sekitarnya. Tapi Angga masih ragu, karena belum ada orang yang di percaya untuk menghendel proyek di sana.
__ADS_1
Jam pulang kantor pun tiba, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Angga. Jadi dia memutuskan untuk nglembur malam ini. Itung-itung dia mengulur-ulur waktu untuk pulang kerumah. Dia masih malas untuk pulang ke rumahnya.
Saat Angga sedang memeriksa beberapa dokumen. Pintu ruangannya terbuka. Pak Dwi dan Bu Renata sudah berdiri diambang pintu, kemudian mendekati Angga.
"Kamu kemana aja, Ngga? Beberapa hari ini tidak pulang ke rumah?" Bu Renata langsung menghambur memeluk Angga.
"Angga banyak urusan,Ma!" jawab Angga malas.
"Urusan dengan wanita murahan itu?"
"Cukup Pa, sekarang katakan pada Angga. Apa yang Papa katakan pada Amalia sehingga dia pergi meninggalkan Angga?" tanya Angga dengan tatapan intimidasi pada papanya.
"Papa hanya bilang dia tidak sepadan dengan kita. itu aja!"
"Terus tentang uang 300 juta, Papa bisa jelasin pada Angga?"
"Sudahlah Ngga, untuk apalagi kamu bahas wanita itu. Dia memang tidak cocok untuk mu!!!"
"Tidak semudah itu Pah, Amalia hamil anak Angga!!! Anak Angga!!!" Angga menekankan kata-katanya, agar mata hatinya orang tuanya bisa terbuka.
"Dia bisa menggugurkan kandungan nya, dengan uang itu!!!"
"Pa!! Angga yang salah, karena telah melecehkan Amalia. Untuk itu Angga akan menikahinya. Dan asal Papa tahu, rencana Papa ini tidak akan bisa merubah perasaan Angga pada Amalia. Selamanya, Angga akan mencari Amalia sampai Angga menemukan dia!!!"
Perkataan Angga membuat pak Dwi dan Bu Renata terdiam sejenak. Bukan karena menyesali perbuatannya. Tapi mereka tidak akan pernah membiarkan Angga menemukan Amalia. Kebenciannya terhadap Amalia sudah sangat mendarah daging.
Pak Dwi dan istrinya kemudian pulang lebih dulu. Angga masih berdiri mematung menghadap ke jendela. Bias lampu-lampu yang menyinari ibukota menjadi background di tempat Angga berdiri.
"Am, kenapa kamu tega meninggalkan ku!"
Puas bermain dengan pikirannya, Angga memutuskan untuk menghubungi kembali nomor Amalia. Dia berharap kali ini akan ada jawaban dari Amalia. Lima belas detik kemudian, nada telpon Amalia terhubung.
"Am, kamu dimana sayang?”
__ADS_1
To be continued....