Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Pertemuan Amalia dengan Kakaknya


__ADS_3

"Makasih ya, Ngga! Kamu tepati janji kamu untuk membebaskan saya!" ujar Delon saat mereka masih ada di lapas.


Angga memang sengaja menjemput kakak iparnya sendiri.


"Iya, Kak. Sama-sama. Oh iya, apa Kakak gak ingin ketemu dulu dengan Amalia?" balas Angga. Delon tampak memikirkan apa yang dikatakan oleh adik iparnya. Setelah itu, dia mengambil keputusan untuk menemui adik kesayangannya sebelum pulang ke Bogor.


"I-ya, saya akan menemui Amalia dulu. Tapi, bukannya kalian tinggal bersama orangtua kamu, Ngga?"


"I-ya, Kak. Angga tahu, maksud Kakak. Kakak belum siap bertemu dengan papa?"


"Bukan itu Ngga. Tapi saya takut papa kamu tidak akan menerima kehadiran saya," kata Delon, dan di benarkan oleh Angga. Dia belum bisa mempertemukan mereka berdua. Masih ada rahasia yang harus ia tutupi dari istrinya. Dan belum saatnya Amalia tahu.


"Kita ketemu Amalia di kantor saya aja, Kak. Nanti biar assisten saya yang akan menjemput Amalia di rumah. Kita tunggu saja di kantor," saran Angga dan di setujui oleh Delon.


Akhirnya mereka benar-benar ke "Siantara grup" kantor Angga. Saat masih di dalam perjalanan, Angga menghubungi assistennya untuk menjemput istrinya di rumah dan membawanya ke kantor.


Niko yang kebetulan masih ada di apartemennya, langsung melaksanakan tugas dari bos-nya. Sementara Santika, dia masih di sembunyikan di apartemen Niko. Sementara Niko pergi menjalankan tugasnya. Beberapa bodyguard yang mengawal Santika di sana. Untuk semua pekerjaannya, Santika sudah mengalihkan semuanya pada assistennya. Selama dia sembunyi. Namun jika ada hal yang harus melibatkan dia, Santika memilih untuk bertemu di apartemen assistennya Angga. Karena hanya tempat itu yang aman untuk sementara ini. Sebelum Valentino dan teman-temannya tertangkap.


Sebelum menuju ke kantornya. Angga membawa Delon ke salon langganannya untuk memotong rambut Delon yang mulai memanjang. Angga juga membawanya ke restoran untuk makan siang terlebih dulu. Usai makan siang Angga membawa kakak iparnya ke butik khusus menjual baju pria. Tidak maksud menghina kakak iparnya. Hanya saja, Angga ingin mempertemukan istri dan kakak iparnya dengan penampilan yang layak. Agar istrinya tidak merasa sedih melihat penampilan kakaknya, selama di lapas.


Angga sangat mengenali istrinya. Wanita itu tidak akan tegaan jika melihat orang yang ia sayang menderita. Tidak mungkin dia membawa Delon dalam keadaan rambut yang mulai panjang, dengan kumis dan jenggot yang mulai memanjang. Di tambah lagi, pakaiannya yang lusuh. Wanita itu pasti akan sedih. Itu yang membuat Angga berinisiatif merubah dulu penampilan kakak iparnya.


"Nah, kan kalau gini tambah ganteng," puji Angga, Delon tergelak.


"Makasih ya, Ngga. Sekali lagi, makasih."


"Kak, harusnya Angga yang bilang makasih pada Kak Delon. Apa yang sudah di lakukan oleh keluarga Angga, Kakak masih mau memaafkan kami," ujar Angga, suasana pun menjadi haru.

__ADS_1


"Sudahlah, Ngga. Kita tidak usah bahas lagi masalah itu. Mungkin sudah garisan takdir Kakak yang harus seperti itu. Yang terpenting apa yang terjadi sekarang, jadikan pelajaran kedepannya. Satu lagi, kakak minta padamu, jangan pernah sakiti hati adik kakak. Kalau itu kamu lakukan, kakak sendiri yang akan mengambil dia dari kamu!"


"Angga janji, Kak. Akan selalu membuat Amalia bahagia!" Mereka berdua lalu berpelukan.


Banyak hal yang merubah sifat dan sikap Delon selama di penjara. Di sana dia belajar untuk menjadi orang yang ikhlas. Ikhlas menjalani kehidupannya yang suram. Di sanalah dia tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.


Angga kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor. Selama kurang lebih setengah jam mereka sampai di gedung "Siantara grup". Di gedung berlantai dua puluh sembilan, mobil Angga terparkir di halamannya.


Delon begitu tertegun melihat kantor "Siantara grup". Perusahaan itu benar-benar sudah berubah di tangan Angga. Banyak sekali kemajuan dari yang terakhir kali dia lihat, sepuluh tahun lalu. Sebelum dia masuk ke penjara.


Dia ingat betul, saat papanya yang selalu membicarakan perusahaan itu. Perusahaan yang menjadi pesaing terberat di perusahaan milik pak Sapta.


"Ayo, kak!" ajak Angga, saat melihat Delon hanya berdiri mematung di depan gedung Siantara grup.


"Iya," balasnya, seraya mengedipkan matanya.


"Ini, kak ruangan saya! Kakak duduk dulu, di sana. Saya akan suruh OB untuk membuatkan minum dulu," ucap Angga saat mereka sudah berada di dalam ruangan.


Delon mengikuti apa yang di bilang adik iparnya. Dia memilih duduk di sofa. Sembari menunggu Amalia datang. Angga menceritakan pengalamannya memimpin perusahaan itu. Lika-liku yang dihadapi, saat perusahaan itu hampir bangkrut di tangan papanya. Bagian itu yang menjadi pusat perhatian Delon untuk menanyakan sesuatu pada adik iparnya itu.


"Perusahaan ini hampir bangkrut di tangan papamu?" tanya Delon dengan nada sedikit kaget.


Delon tahu betul sifat pak Dwi. Karena itu dia tidak percaya, orang selicik pak Dwi bisa kalah tarung dengan lawannya.


"I-ya Kak. Bahkan perusahaan ini sudah hampir di jual oleh papa dengan perusahaan asing yang berada di Jakarta," jelas Angga.


"Kenapa bisa seperti itu, bukankah papamu orang yang ulet, tak terkalahkan di kancah rekan bisnisnya?"

__ADS_1


Pertanyaan Delon membuat Angga menautkan kedua alisnya. Dia berfikir, kakaknya tahu banyak tentang papanya.


"Kak Delon sepertinya tahu banyak tentang papa saya!"


"Tentu saja saya tahu, karena kelicikan papamulah yang membuat papa harus menjual perusahaannya dengan Burhan." Batin Delon.


"Saya hanya sekilas mendengar tentang papa mu dari Papa," jawab Delon sedikit berbohong.


"Apa mereka saling kenal?" tanya Angga lagi.


Sebelum Delon menjawab pertanyaan dari adik iparnya. Pintu ruangan Angga terbuka. Di sana tampak Niko bersama dengan Amalia yang masuk kedalam.


Amalia berdiri diambang pintu. Perhatiannya tertuju pada sosok lelaki yang begitu dia rindukan. Sosok laki-laki yang selalu memanjakannya. Cairan bening mulai merembes di pipinya. Tangis haru, bahagia tumpah menjadi satu. Perlahan dia berjalan kearah lelaki yang memakai kaos berkerah dan setelan celana jeans panjang. Pun dengan lelaki itu. Rasanya mimpi, saat melihat adiknya tumbuh menjadi dewasa. Adik yang selalu dia goda saat akan pergi ke sekolah. Sekarang sudah menjadi wanita yangdewasa. Rasanya baru kemarin, adiknya bergelayut manja di punggungnya. Sekarang, adiknya sudah menjadi milik orang lain.


"Kakak!!"


"Am!!"


Dua orang sedarah itu saling berpelukan melepas kerinduan yang membuncah di dalam dadanya. Selama lebih dari lima tahun ini mereka tidak pernah bertemu. Terakhir mereka bertemu, saat sebelum kejadian pelecehan itu. Dia menemui kakaknya di lapas.


"Kakak, Am seneng akhirnya kakak bisa bebas dari penjara." Amalia masih enggan melepas pelukannya.


"Kakak juga seneng bisa ketemu kamu lagi!" Delon mengusap punggung adiknya.


"Coba lihat, sekarang kamu sudah sedewasa ini. Cantik...!'


To be continued

__ADS_1


__ADS_2