
"Nggak kok, Ma. Bukan apa-apa. Itu Angga mau menengok teman Angga, aja kok!" Bu Renata hanya tersenyum menanggapi ucapan Angga dan berjalan menuju westaple untuk mencuci tangannya.
"Aku mau liat Kakek main ikan dulu, ya Yah," kata Azka minta diturunin dari gendongan ayahnya. Angga akhirnya menurunkan anaknya, setelah itu Azka berlari menghampiri kakeknya yang sedang memberi makan ikan-ikan kesayangannya.
Sementara Angga, dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum masuk ke kantor. Amalia dan Bu Renata sibuk menata hidangan untuk sarapan, pagi itu.
"Sayang, bilang ke suamimu nanti pulang jangan malam-malam. Mama udah rekomendasikan butik langganan Mama untuk kalian fitting baju, nanti!" seru Bu Renata pada Amalia.
"Iya, Ma. Nanti Am bilang ke Mas Angga." Tak lama setelah itu, Angga datang di susul oleh Azka dan Pak Dwi arah berlawanan. Mereka bertiga duduk di tempat mereka masing-masing. Bu Renata pun ikut duduk. Sementara Amalia masih menuangkan minuman ke dalam gelas mereka semua. Usai melakukan pekerjaannya, dia juga ikut duduk di tempatnya. Mereka sarapan pagi bersama dengan menu nasi goreng, dan telor ceplok sebagai lauk nya.
Kehikmatan sarapan mereka, di buka dengan suara Pak Dwi yang bicara pada putranya.
"Ngga, tarik kembali Angel untuk bekerja di perusahaan kita." Angga menjadi tersedak saat papanya bilang seperti itu.
"Uhukkk.. buat apa Pa! Angga gak butuh dia di kantor," ucapnya setelah minum segelas air putih yang ada di hadapannya.
"Perusahaan pak Burhan sedang ada masalah. Bisa jadi, dalam waktu dekat ini mereka akan bangkrut. Angel sangat butuh pekerjaan itu," jelas pak Dwi membuat Angga tidak bersemangat melanjutkannya sarapannya.
"Kalau soal itu Angga bisa bantu untuk investasi modal ke perusahaan Om Burhan. Yang penting anaknya itu bisa jauh-jauh dari Angga," ungkap Angga yang malas membahas masalah ini.
"Tapi Ngga. Om Burhan juga tidak bisa menerima Angel untuk bekerja di perusahaannya. Karena tidak ada lowongan, di bidang keahlian Angel. Lagian juga, dia cukup berkompeten membantu kamu mengurus perusahaan," ujar Pak Dwi yang semakin ngotot mempekerjakan Angel di perusahaan mereka.
"Apa kamu takut Amalia akan marah?" Pertanyaan Pak Dwi kali ini membuat yang disebut namanya tersedak karena kaget. Bisa-bisanya mertuanya berfikir seperti itu.
"Kamu nggak marah, kan Am?" Karena tidak dijawab oleh anaknya. Pria itu bertanya langsung pada Amalia.
__ADS_1
"Nggaklah Pa. Untuk apa juga Am harus marah. Am percaya dengan suami Am," jawab Amalia sedikit ragu. Sama dengan Angga, wanita itu juga menaruh curiga pada Angel.
"Sayang, kamu terima kembali aja ya Angel. Kasihan dia, gak punya kerjaan," bujuk Amalia membuat pak Dwi bahagia.
Bukan karena rencananya berhasil. Tapi beliau bahagia karena menantunya bijaksana dalam menentukan sikap. Dan tidak pencemburu.
"Akan Angga pertimbangkan," jawab Angga sedikit ketus. "Sayang, aku berangkat dulu, ya!" Lanjutnya menatap kearah istrinya. Setelah itu, Angga beralih kearah papa dan mamanya, tak lupa juga pada Azka untuk berpamitan akan berangkat kerja. "Pa, Ma, Angga berangkat. Sayang, Papa berangkat, ya."
Amalia ikut beranjak dari tempat duduknya mengawal suaminya sampai ke depan.
"Sayang, kamu beneran gak apa kalau Angel kerja sama aku lagi?" tanya Angga saat mereka sudah ada di teras rumah.
"Nggak, kok! Udah kamu tenang aja, aku malah seneng kalau kamu bisa bantu dia," jawab Amalia.
"Ya, udah aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Amalia baru ingat pesan mama mertuanya tadi untuk memberitahu suaminya.
"Ada apa, sayang. Ada yang ketinggalan?" tanya Angga yang sudah berhenti dari langkahnya.
"Tadi Mama bilang, katanya pulang jangan malam-malam. Mama mau ajak kita fitting baju buat resepsi nanti," jelas Amalia mengungkapkan pesan mertuanya tadi.
"Iya, sayang. Ya udah aku berangkat, ya!"
"Tunggu, sayang!"
"Hmmm, apalagi. Mau di sun disini?" goda Angga pada istrinya. Amalia langsung menggeleng.
__ADS_1
"Bukan, sayang. Aku mau tanya, apa kamu jadi jenguk kakakku di lapas?" Pertanyaan Amalia seketika merubah wajah pria itu.
Angga terlihat agak serius.
"Jadi, nanti saat jam makan siang. Ya udah aku berangkat dulu, ya." Amalia pun mengangguk karena puas dengan Jawaban suaminya. Selain itu dia juga bahagia karena Angga mau menjenguk kakaknya, tanpa menaruh curiga dengan rencana Angga yang sebenarnya.
Amalia kembali ke dalam setelah suaminya benar-benar pergi dari tempat itu. Dia melanjutkan pekerjaannya lagi. Azka yang sudah di bawa oleh pak Dwi untuk mandi, tidak bergeming saat bundanya lewat. Azka lebih dekat dengan kakeknya ketimbang dengan neneknya. Karena pak Dwi bisa membuat anak itu tertawa saat bersamanya.
Di kantor, dengan segudang pekerjaan menunggu Angga untuk di selesaikan. Hari ini ada beberapa meeting dengan klien sesuai yang dijadwalkan Niko, sebagai assistennya. Berhubung sekertaris Angga tidak ada, sementara semua pekerjaan itu di lakukan oleh assistennya. Walau sedikit keteteran, tapi pria itu cukup profesional melakukan pekerjaannya dengan baik.
Kebetulan meeting hari itu dilakukan di gedung Siantara grup, jadi Angga tidak harus pergi dari kantor. Pagi itu, mereka melakukan meeting terkait peluncuran produk baru, yang akan dirilis akhir bulan ini. Sebuah produk minuman sehat, penerus produk yang diiklankan oleh Dona waktu itu. Ternyata, konsumen produk itu cukup besar. Sehingga di kembangkan lagi oleh perusahaan Angga.
Meeting berakhir pukul 10.30. Dengan kesepakatan, Angga puas dengan hasil kerja karyawannya yang luar biasa.
Meeting kedua di lakukan di ruangan Angga. Perwakilan yang di utus oleh Afdal selalu direktur umum dari gudang produksi yang berada di Pekanbaru. Dia mengutus anak buahnya untuk melaporkan hasil penjualan, dan sedikit trik agar semakin berkembangnya produk mereka di kota itu. Persentase yang membuat Angga salut dengan utusan Angga. Tidak sia-sia kerja Afdal di sana. Benar-benar memuaskan. Selama kurun enam bulan produk mereka sudah mendapat rating pertama di kota itu. Benar-benar pencapaian yang luar biasa.
Kini tiba saatnya jam makan siang tiba. Angga memutuskan untuk pergi ke lapas yang berada di Jakarta Pusat. Dia hanya sendiri, pergi disana.
Tak memakan waktu lama, dia sampai di tempat itu. Angga langsung masuk kedalam dan melapor pada petugas yang berjaga disana. Kalau dia ingin bertemu dengan penghuni tahanan yang bernama Delon Saptaradja. Petugas itu meminta Angga untuk menunggu di ruang tunggu, sementara dia memanggilkan orang yang di maksud Angga.
Seorang pria yang berambut sedikit gondrong, badan tidak terurus keluar dari sel di kawal oleh petugas untuk menemui Angga. Setelah sampai di ruang kunjungan, pria itu menatap punggung Angga. Dia tidak mengenali sosok yang membelakanginya. Pria itu perlahan berjalan mendekat kearah Angga yang sedang duduk di sebuah kursi. Pria itu menatap bingung Angga. Kemudian dia ikut mendaratkan bokongnya untuk duduk di kursi seberang Angga.
"Anda siapa?" tanyanya dengan nada bingung. Angga menatap lekat wajah pria yang duduk dihadapannya itu. Kemudian Angga mengulurkan tangannya kearah pria itu.
"Kenalkan, saya Angga Dwipangga. Adik dari Adipati Dwipangga." Angga memperkenalkan dirinya pada Delon. Pria itu langsung berdiri dan berteriak.
__ADS_1
"Untuk apa anda datang kesini, heh. Sudah puas keluarga anda membuat keluarga saya menderita!!!!" Angga terkejut dengan reaksi Delon yang begitu marah padanya.
"Saya kesini, bukan untuk mencari musuh. Tapi saya akan bantu anda."