Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Akhirnya


__ADS_3

Angga, Delon, dan Azka. Mereka sedang ada di musholla rumah sakit. Mereka bertiga usai melaksanakan sholat ashar berjamaah. Meski adzan sudah berkumandang sejak tadi, tidak ada kata terlambat dalam beribadah. Usai sholat Azka berdoa.


Ya Allah yang baik, sembuhkan bunda Azka ya Allah. Angkat penyakitnya, agar Azka bisa main lagi sama Bunda, Aamiin.


Delon dan Angga pun ikut meng-aamiin-kan doa-doa Azka. Anak itu terlihat sedikit muram, sejak kejadian penculikan Amalia. Meskipun masih bisa di handle oleh nenek dan kakeknya. Tapi, Azka begitu bersedih saat di ajak menengok Amelia di rumah sakit. Apalagi, ayahnya yang masih melarangnya untuk bertemu bundanya karena Amalia masih me jalankan operasi.


"Sayang, kita kembali ke tempat bunda yuk!" ajak Angga, mengulurkan tangannya. Azka langsung menyambutnya dengan mendaratkan tubuhnya dalam dekapan ayahnya, setelah itu Angga berdiri sembari menggendong anaknya. Saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Amalia, Azka menatap bingung dengan pria yang berjalan beriringan dengan ayahnya. Karena memang sebelumnya, Azka belum pernah bertemu dengan pamannya. Akhirnya anak itu bertanya langsung pada ayahnya, siapa yang pria di samping ayahnya itu untuk mengobati rasa penasarannya.


"Ayah, Oom ini siapa?" tanyanya sambil menunjuk Delon. Angga menghentikan langkahnya kakinya, dan menurunkan anaknya dari gendongannya, setelah itu dia berjongkok mensejajarkan diri agar bisa seimbang dengan anaknya dan mengenalkan Delon pada Azka.


"Sayang, Oom ini pamannya Azka. Oom ini kakaknya Bunda! Namanya paman Delon." Pria yang disebutkan namanya itu langsung tersenyum saat pandangan Azka beralih padanya, pun dengan Azka. Anak itu membalas senyuman pamannya, dan berjalan mendekat ke arah Delon.


"Halo Azka, sini sama Paman!!" sapa Delon kemudian jongkok, dan mengulurkan tangannya pada ponakannya itu.


"Paman?" Dilihat dari nada bicaranya, Azka masih terlihat bingung. Tapi anak itu membalas uluran tangan Delon seraya tersenyum ramah pada pamannya.


"Iya, sayang! Paman! sini gendong Paman!!!" Delon menggendong ponakannya yang terlihat semakin gembul itu.


"Kok Azka gak pelnah lihat Paman?" tanyanya polos.


"Paman...Paman tinggal di..." Kata-kata Delon terhenti.


"Paman tinggal di luar negeri sayang. Jadi, Azka gak pernah lihat Paman Delon sebelumnya," potong Angga memberi isyarat pada kakak iparnya itu.


"Wah, hebat!!! Azka mau kayak Paman, di lual negeli...!" seru anak itu mendapat senyuman getir dari keduanya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat obrolan mereka bertiga. Mereka bertiga melanjutkan lagi langkah mereka menuju ke ruang operasi. Setelah sampai di sana, kebetulan dokter yang menangani Amalia keluar dari ruang operasi. Angga langsung mendekat kearahnya.


"Gimana Dok? Gimana operasinya? Berhasil, kan Dok?" cecar Angga yang terlihat panik. Karena raut wajah dokter itu terlihat masam, sehingga Angga menafsirkan kalau Amalia tidak baik-baik saja.


"Pak Angga.." Dokter itu menjeda ucapannya, membuat Angga dan yang lainnya menjadi semakin penasaran. "Bu Amalia saat ini masih belum sadar, tapi operasinya berjalan dengan lancar." Ucapan dokter itu membuat mereka bisa bernafas lega.


"Alhamdulillah!" sahut mereka semua.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Oh iya, istri Bapak sudah di pindah di ruang VIP. Tapi untuk menjenguknya harus satu persatu dulu, ya. Karena keadaan pasien belum mungkinkah untuk berinteraksi dengan banyak orang!" jelas dokter itu, diikuti anggukan dari mereka. Setelah itu, dokter itu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Kalau begitu, kita ke ruang VIP sekarang!" ajak Angga pada semuanya.


Mereka berjalan menuju ruang VIP, ruang yang di sebutkan oleh dokter tadi. Setelah berjalan melewati tiga ruangan dari ruang operasi, mereka masih harus melewati laboratorium. Ruang itu terletak di seberang Lab. Dalam ruangan itu terdiri dari beberapa ruangan, hingga mereka sampai di ruang Amalia. Mereka memisahkan diri, setetes sampai di ruang itu. Angga, dia yang lebih dulu menemui istrinya m sementara yang lain, masih harus menunggu di luar.


Angga mendekati istrinya yang masih belum sadar dari pingsannya. Dia berdiri tepat di samping tubuh Amalia. Setelah itu, perlahan dia meraih tangan istrinya yang masih terasa dingin. Di tatapnya lekat wajah istrinya, seraya merundungkan tengkuknya.


"Sayang, cepat bangun. Azka nyariin kamu!" Angga mulai membuka suara, sesaat sebelum itu suasana hening mencekam di ruang itu. Tidak ada suara selain dari nafas Angga yang memperlihatkan kepanikannya, dan suara alat medis yang terletak di samping atas tubuh Amalia. "Kenapa kamu lakukan itu, sayang? Harusnya kamu biarkan aku yang terluka?" lanjutnya lagi.


Disaat yang bersamaan, di luar ruang VIP. Mereka bertiga terlihat canggung, bahkan Bu Renata yang sedari tadi ingin tahu siapa pria yang bersama anaknya itu tak berani bertanya langsung. Sekarang mereka berempat sedang bermain dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga dering ponsel Delon bunyi dan memecah keheningan di sana. Delon permisi pada pak Dwi dan Bu Renata untuk mengangkat telponnya terlebih dulu. Setelah mendapat izin dari mereka berdua, barulah Delon berjalan sedikit menjauh dari mereka.


Delon mengecek ponselnya, sapa yang sedang menelpon dia. Setelah tahu, siapa yang meneleponnya Delon buru-buru mengangkatnya. Delon menempelkan benda pipih itu di pipinya seraya berucap, "iya Ma!"

__ADS_1


"Gimana keadaan Amalia, Lon? Dari tadi papa telpon Angga kok gak di jawab! Amalia baik-baik saja, kan!" Suara dari seberang.


Sejak foto Amalia terjatuh di lantai tadi, orangtuanya selalu menghubungi ponsel menantunya tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya, pak Sapta ingat kalau Delon sempat meninggalkan nomor handphonenya di ponsel papanya. Setelah itu, beliau mencari nomor itu, dan langsung menghubungi nomor Delon setelah ketemu.


"Mama tenang, ya? Amalia sekarang ada di rumah sakit, Amalia di tusuk oleh penculiknya dan harus mendapat perawatan di rumah sakit," ungkap Delon bicara sejujurnya pada orangtuanya.


"Innalilahi, kenapa kamu gak kabari Mama! Delon, terus sekarang gimana keadaan Amalia?" tanya Bu Leha panik.


"Alhamdulillah udah melewati masa kritisnya, Ma. Tinggal menunggu Amalia sadar saja," jawab Delon.


"Ya sudah, Papa dan Mama akan ke Jakarta sekarang!!!" Duggg, Delon terbengong saat namanya memberitahu kalau mereka akan ke Jakarta sore itu juga. Itu artinya, mereka akan bertemu dengan pak Dwi dan istrinya. Tidak bisa dibayangkan oleh Delon, jika kejadian itu terjadi. Delon berusaha mencegah agar, orangtuanya tidak datang ke Jakarta sore itu. Karena bukan waktu yang tepat untuk dia musuh bebuyutan itu bertemu, mengingat keadaan adiknya yang masih belum sadar dari pingsannya.


"Ma, ini udah sore. Besok aja, ya! Delon takut, kenapa-kenapa di jalan!" seru Delon mencari alasan yang tepat.


"Tapi Mama khawatir dengan keadaan Amalia. Mama takut..."


"Tenang Ma, Amalia sudah melewati masa kritisnya. Jadi, Mama doakan saja dulu Amalia. Besok pagi, Delon sendiri yang akan jemput papa dan mama di Bogor," ucap Hanif dan mendapat persetujuan dari orangtuanya. Setelah itu Bu Leha menutup telponnya.


Sepeninggal Delon pergi dari tempat itu, Bu Renata yang ingin tahu pria yang selalu bersama anaknya, lantas bertanya pada Azka. Berharap cucunya bisa memberi informasi mengenai Delon.


"Sayang! Nenek mau tanya, Azka tahu nggak pria yang tadi bareng Azka sholat di mushola, yang selalu bersama dengan ayah?" Azka mencoba memahami pertanyaan neneknya, setelah paham dengan lantang dia menjawab pertanyaan neneknya.


"Oh paman Delon. Dia kakaknya bunda, Nek!" Bu Renata terkejut mendengar jawaban cucunya.


"Apa!!! Kamu gak salah, kan sayang?"


"Pa! Papa gimana sih, masa Papa gak tahu kaldu pria itu adalah kakaknya Amalia!!!" omel Bu Renata sedikit kesal pada pak Dwi.


"Papa mana tahu, Ma! Kan Angga dan Amelia belum pernah memberitahu pada kita!" kilah pak Dwi yang terlihat sedikit gugup.


Tak lama setelah itu, Delon kembali dari telponnya. Pria itu masih setia berdiri menyender di dinding, tepat di samping kursi ruang tunggu. Bu Renata langsung menghampiri Delon, setelah itu mengulurkan tangannya seraya berkata, "kakaknya Amalia, ya?" Delon menyambut tangan Bu Renata dan menegakkan tubuhnya yang tadi menyender di dinding.


"Iya, Bu. Saya Delon, kakaknya Amalia!" Mereka saling melempar senyum, setelah itu Bu Renata memanggil suaminya untuk berkenalan dengan Delon.


"Papa, ayo sini!" Pak Dwi mengangkat tubuhnya dari kursi itu dan berjalan mendekat kearah mereka berdua. Sekarang giliran pak Dwi yang mengulurkan tangannya, setelah istrinya.


"Kamu orang tua Angga! Maaf saya tidak tahu sebelumnya, kalau kamu kakaknya menantu saya," ucapnya basa basi.


"Iya Pak Dwi, mungkin keluarga kita belum pernah bertemu. Jadi, kita tidak saling tahu." Tatapan matanya Delon seakan mengunci gerakan pak Dwi. Pria itu terlihat tidak berkutik saat Delon menyebutkan orangtuanya.


Jabatan tangan itu berakhir saat Delon menepuk pundak pria di hadapannya. Pak Dwi langsung tersadar dari lamunannya.


"Oh iya, apa kamu sudah memberitahu keadaan adikmu pada orangtua kalian?" tanya Bu Renata mulai mengakrabkan diri pada Delon.


"Sudah."


"Terus mereka tidak kesini? Oh iya, saya juga belum tahu tempat tinggal besan saya dimana?"

__ADS_1


"Oh, itu. Mereka tinggal di Bogor. Hanya belum bisa menjenguk Amalia sekarang. Karena sudah sore," terang Delon, mereka berdua mengangguk.


Tak lama setelah itu Angga keluar dari ruang rawat Amalia. Bu Renata langsung menanyakan keadaan menantunya pada putranya. "Gimana Ngga, apa Amalia sudah sadar?" Angga menggeleng. "Mama mau lihat keadaan menantu Mama, sekarang?" Mendengar hal itu Azka langsung berlari menghampiri neneknya untuk ikut masuk kedalam.


"Azka mau ikut, Nek!!" rengek bocah itu.


"Ngga, apa boleh?" Bu Renata bertanya pada Angga.


"Angga tanyakan dulu dengan perawat, itu!" Angga memanggil perawat yang baru saja melintas di tempat itu, dan menanyakan kalau anaknya ingin bertemu dengan bundanya yang berada di ruang itu. Dengan pertimbangan dan syarat yang di berikan oleh perawat itu, akhirnya dia memberi izin untuk Bu Renata membawa masuk Azka ke dalam. Setelah mengatakan itu, perawat itu langsung pergi dari sana. Dan Bu Renata juga langsung masuk kedalam bersama cucunya.


Dan kini hanya tinggal mereka bertiga yang berada di tempat itu. Awalnya suasana menjadi sedikit tegang. Hingga Delon membuka percakapan, "Ngga, besok papa dan mama akan ke Jakarta. Mereka sudah tahu keadaan Amelia yang sesungguhnya! Kakak yang memberitahu mereka." Pak Dwi terlihat salah tingkah menanggapi ucapan Delon. Tapi dia berusaha melawan rasa tegangnya itu dengan mulai membuka suara.


"Lon, Om mau minta maaf atas kesalahan yang Om pernah lakukan padamu dan keluargamu!" Delon sedikit terkejut dengan permintaan maaf nya pak Dwi.


"Iya, Om. Delon sudah maafkan Om!" balas Delon tersenyum damai pada pak Dwi. Mereka akhirnya saling berpelukan, sebagai tanda diantara mereka sudah berdamai.


"Alhamdulillah, Angga seneng. Akhirnya papa dan kak Delon bisa bertemu disini. Dan yang membuat Angga lebih seneng lagi, hubungan diantara kalian sudah membaik." Mereka saling melempar senyum.


"Pa, apa Papa sudah siap bertemu dengan mertua Angga?" Ranum kebahagiaan itu hanya sesaat, setelah Angga menanyakan itu pada papanya. Wajah pak Dwi kembali murung lagi.


"Inshaa Allah Papa siap!" jawab pak Dwi sedikit ragu. Bukan ragu untuk bertemu dengan pak Sapta. Tapi dia ragu, kalau pak Sapta akan emosi, dan kemungkinan terbesarnya adalah pak Sapta akan mencabut restu hubungan anaknya dan Angga. Itu yang membuat pak Dwi menjadi ragu untuk bertatap muka dengan musuhnya, dulu.


"Inshaa Allah, Delon akan bantu untuk bicara dengan papa. Semoga beliau bisa mengerti!" sahut Delon yang melihat kegusaran dalam wajah pak Dwi.


"Terimakasih, Lon!"


"Nggak masalah, Om!"


Masalah kegusaran pak Dwi sudah menemukan titik terangnya. Dan mereka sudah mulai terlihat akrab dan saling bercerita. Hingga Angga bertanya pada kakak iparnya itu. "Tapi mereka kesini naik apa, kak?" Delon akan menjawabnya, tapi terhenti saat Angga berucap. "Kakak susul aja mereka, bawa mobil Angga."


"Iya, Ngga. Tadi kakak juga sempat berfikiran seperti itu. Kasihan kalau mereka harus naik kendaraan umum," terang Delon.


Tak lama setelah itu, Bu Renata dan Azka keluar dari ruang rawat Amalia. Mereka membawa kabar gembira buat semua yang sedang menunggu Amalia.


"Sayang, Amalia sudah sadar!" seru Bu Renata pada Angga.


"Alhamdulillah!!" sahut semuanya.


Angga langsung masuk ke dalam lagi. Dia sudah tidak sabar melihat istrinya yang sudah sadar dari pingsannya. Dia langsung mendekati Amelia. Tapi langkahnya terhenti saat dokter yang menangani Amalia masuk kedalam ruangan itu.


"Maaf Pak Angga, buat saya periksa dulu pasiennya!" seru dokter itu pada Angga.


"Tapi, Dok!"


"Hanya sebentar Pak Angga."


Angga memilih mengalah dan keluar dulu dari ruangan itu, dan membiarkan dokter itu memeriksa istrinya. Sementara Azka, anak itu sudah semakin lengket dengan pamannya. Terlihat, dia sudah duduk di pangkuan Delon. Sementara Bu Renata dan pak Dwi, mereka pamit pulang dulu.

__ADS_1


__ADS_2