
Mobil Angga berhenti tepat di gang kostan Amalia. Dengan antusias Angga turun dari mobilnya, menuju kostan Amalia. Angga di sambut anak-anak jalanan di sana. Karena Angga tidak membawa makanan, akhirnya dia memberikan beberapa lembar uang ratusan untuk mereka.
Saat sudah dekat dengan kostan Amalia, Angga terkejut. Karena lampu kostan Amalia mati. Angga mempercepat langkah kakinya, dan benar saja, saat sudah berada di depan kostan Amalia, ternyata pintunya tergembok.
Angga mengetuk-ngetuk pintu kostan Amalia. Namun, tidak ada yang menyaut.
"Assalamualaikum, Am... buka pintunya Am..! seru Angga masih tak percaya kalau tidak ada orang di dalam.
"Am, aku tahu kamu bercanda kan?" racaunya frustasi.
"Am....Am!!!" teriak Angga, putus asa.
Angga terkulai lemas di lantai teras Kostan Amalia. Dia tidak menyangka, kalau Amalia akan pergi meninggalkan dia. Di saat dia sudah mendapat restu dari orangtuanya, Amalia yang memilih pergi dari nya.
"Am, kenapa kamu lakukan ini padaku? aku sudah berhasil mendapat restu Papa, tapi kenapa kamu pergi? huhuhu" rutuknya tak percaya.
"Am....Am..." Angga menggedor kembali pintu kostan Amalia, dia masih berharap kalau ini adalah candaan dari Amalia.
"Mas, Amalia sudah pindah dari kostan ini!" seru wanita yang melihat Angga menangis di depan kosant Amalia. Angga kemudian berdiri dan menghampiri wanita itu.
"Pindah, pindah kemana Bu?" tanya Angga, saat sudah ada dihadapan wanita itu.
"Saya gak tahu Mas, tapi dia pindah karena udah pindah kerja, katanya!" jawabnya jujur.
"Ibu, Ibu pemilik kostan ini ya?" tanya Angga lagi, dan wanita itu mengangguk.
"Kapan Amalia pergi dari sini?" Angga masih belum menyerah untuk mencari informasi dari pemilik kosant Amalia.
"Barusan aja Mas, belum ada sepuluh menit yang lalu," ujar pemilik kosant.
__ADS_1
"Amalia naik Angkot, yang baru saja lewat Mas" sambung pemilik kostan. Angga jadi ingat, saat melihat Angkot yang di depannya tadi. "Terimakasih ya Bu informasi nya." Angga beranjak dari tempat itu, untuk mengejar angkot yang di tumpangi oleh Amalia.
Angga melajukan mobilnya dengan fokus melihat di depannya. Dia berharap akan bisa menemukan angkot yang membawa Amalia. Tapi usahanya sia-sia, karena Angga tidak tahu nomor plat angkot itu. Sedangkan Angkot yang di depannya banyak. Angga benar-benar frustasi. Dia bingung harus mencari dimana lagi, keberadaan Amalia.
Angga sampai tidak kepikiran untuk menghubungi Amalia. Sangking paniknya, dia sendiri lupa kalau sudah menyimpan nomor ponsel Amalia. Cuma ini satu-satunya cara, agar dia bisa memberitahu Amalia, kalau papanya sudah merestui hubungan mereka. Angga mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir, di depan sebuah ruko kosong, Angga mengambil ponselnya. Dicarinya kontak Amalia. Setelah mendapati kontak Amalia, Angga memencet tanda telpon dari handphone nya. Tapi Angga harus kecewa, karena nomor Amalia tidak aktif.
"Am......" teriak Angga memukul stir mobilnya.
"Kenapa kamu pergi? kenapa Am? bukankah aku sudah bilang ke kamu, untuk bersabar agar aku bisa menyakinkan orang tuaku untuk menerima mu. Tapi, setelah aku mendapat restunya, kamu pergi Am......!" racaunya tak henti-hentinya memukuli stir mobilnya.
Angga pergi dari tempat itu, menuju ke rumahnya. Mungkin dia bisa berfikir jernih, jika sudah di rumah. Sesampainya di rumah, Angga langsung masuk ke kamarnya. Kedua orangtuanya yang melihat perubahan sikap Angga, hanya bisa saling menatap. Pak Dwi yakin, terjadi sesuatu pada Angga. Sehingga merusak moodnya. Pak Dwi menjauh dari istrinya, dan menghubungi orang suruhan nya.
"Apa yang terjadi dengan gadis itu?" tanyanya pada orang yang di seberang sana.
"Gadis itu pergi dari kosant nya Pak, mereka belum sempat bertemu lagi." jawabnya.
"Bagus, terus awasi Angga. Jangan sampai dia bertemu dengan gadis itu lagi. Apa kalian tahu, tempat tinggal gadis itu yang sekarang?" tanya pak Dwi lagi.
Setelah mendapat informasi dari orang suruhannya, Pak Dwi tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa menjauhkan Angga dengan Amalia, tanpa harus takut dengan ancaman Angga lagi.
Di dalam kamarnya, Angga terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa menemukan Amalia. Dia tidak punya petunjuk lagi, selain nomor ponselnya Amalia.
Pagi harinya Angga berangkat ke kantor lebih awal. Dengan perlahan mobil Angga melaju membelah kepadatan ibukota. Berharap bisa bertemu dengan Andika di jalan. Tapi harapannya Angga harus pupus. Sampai di kantor nya, dia tidak bertemu Amalia.
Angga kemudian mencari Siska, sahabat dekat Amalia. Kebetulan Disikapi ship pagi, jadi sudah berangkat lebih awal. Angga mendekati Siska yang sedang mengelap kaca di lobi kantor.
"Sis, bisa kita bicara sebentar!" seru Angga yang sudah berada di di belakang Siska.
Siska terkejut, karena Angga menyapanya secara tiba-tiba. "Astaghfirullahalladzim, iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Siska menunduk.
__ADS_1
"Ikut keruangan saya sebentar," perintah Angga pada Siska, kemudian dia berjalan terlebih dulu. Siska hanya membuntuti Angga, dengan perasaan tak menentu. Dia bingung, kenapa bosnya memanggilnya ke ruangannya. Dia takut telah melakukan kesalahan, sehingga sampai di panggil bosnya.
Angga sengaja meminta Siska untuk keruangannya. Karena dia tidak ingin, pembicaraan nya akan di dengar oleh karyawan lainnya. Angga tak ingin menjadi gosip, kalau nantinya mereka mendengar, jika Angga menanyakan keberadaan Amalia.
"Sis, kamu tahu kosant Amalia yang baru?" tanya Angga saat mereka sudah sampai di ruangan Angga.
"Kosant Amalia yang baru?" ulang Siska bingung.
"Saya baru tahu dari Bapak, kaldu Amalia pindah kosant. Dia gak pernah cerita, kalau mau pindah Kost-an," sambung Siska, membuat Angga mengerti jawaban Siska.
"Ya sudah, kamu boleh kembali ke pekerjaan mu," perintah Angga pada Siska.
Setelah kepergian Siska, Niko masuk keruangan Angga. Dia akan menyampaikan agenda Angga hari ini. "Pagi Pak, hari ini Bapak ada meeting di koffierasse wisma mandiri . Saat jam makan siang" jelas Niko dengan agenda Angga siang ini.
"Kamu urus semuanya!" seru Angga malas.
"Tapi Pak, Bapak tidak bisa mewakilkan pada saya. Karena hari siang ini, akan ada rapat dengan team promosi. Meeting itu penting, karena membahas mengenai kerjasama dengan perusahaan Genta Buana," sambung Niko lagi.
"Ya sudah, saya akan datang. Kamu urus berkasnya, setelah selesai, kamu berikan pada saya," ujar Angga pasrah.
"Berkasnya sudah ada dengan Bu Angel, karena beliau yang akan menemani Bapak," jelas Niko lagi.
Dengan malas akhirnya Angga pergi bersama Angel menuju tempat meeting hari ini. Di kawasan Tamrin, tempat janjian meeting Angga bersama klien nya. Kebetulan tempatnya tak jauh dari tempat Amelia bekerja. Saat melintasi kantor DINATA GROUP, Angga melihat sekilas wanita yang mirip dengan Amalia.
To be continued...
Beneran Amalia bukan ya?
Penasaran gak nih!!!
__ADS_1
terimakasih yang sudah dengan setia nunggu kelanjutan novel ini..
Semoga kalian suka dengan alur ceritanya...