Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Bertemu ayahnya Azka


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan selama 11 jam dari Jakarta ke Taluk kuantan. Lewat jalur darat maupun udara. Mereka sampai juga di salah satu desa yang ada di kecamatan Taluk kuantan. Mereka tiba pukul 01.00 dini hari. Mereka langsung menuju ke penginapan di samping rumah nek Asih. Sebelumnya Afdal sudah mengabari pemilik penginapan itu melalu via telpon.


Sebuah bangunan bercat warna biru, mobil yang membawa mereka berhenti. Angga menyewa mobil dan supir pribadi lewat jasa penyewaan kendaraan. Mereka bertiga turun dan langsung masuk kedalam. Beruntung seorang penjaga penginapan itu masih terjaga. Jadi mereka tidak sulit untuk bisa masuk kedalam.


Angga menyewa dua kamar untuk dirinya dan Niko. Sementara Afdal tentu saja akan tinggal di rumah nek Asih. Afdal mengantar bosnya itu ke kamar miliknya.


"Maaf ya Pak, kalau tempatnya kurang nyaman untuk Bapak," ujar Afdal setelah mereka masuk kedalam. Afdal melihat Angga kurang nyaman dengan penginapan yang mereka sewa. "Kalau anda butuh sesuatu jangan segan untuk hubungi saya," lanjutnya tanpa ada balasan dari Angga.


Afdal bingung dengan perubahan sikap bosnya itu. Menjadi pendiam dan tidak fokus. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Afdal pun meninggalkan kamar Angga setelah berpamitan pada bosnya.


Sepeninggal Afdal, Angga hanya duduk mematung menandingi dinding kamar itu. Dia menjadi teringat sesuatu. Kamar itu mengingatkan sosok yang sangat ia rindukan. Cat kamar dan disain tempat tidur itu sama persis Seperti rumah Bi Rumi. Tempat terakhir kalinya Angga bersama Amalia.


Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar itu. Dia memposisikan tubuhnya berbaring di kasur. Dia menggambarkan Amalia dan anak yang ada didalam kandungnya. Mungkin sekarang anak itu sudah lahir, bahkan sudah tumbuh besar bersama Amalia.


Amalia benar-benar menghilang bak di telan bumi di hadapan Angga. Bahkan wanita itu tidak memberikan petunjuk apapun untuk Angga. Anak yang seharusnya menjadi pelengkap hidup mereka. Tapi harus terpisah oleh ayah kandungnya. Jangankan untuk bermain bersama, bertemu pun mereka tidak pernah.


Afdal sampai di depan pintu rumah nek Asih. Dia tidak mungkin mengetuk pintunya. Sudah pasti penghuni di dalamnya sudah terlelap. Akhirnya dia menghubungi ponsel Amalia. Menurutnya itu lebih baik dari pada menimbulkan suara berisik dengan mengetuk pintu. Sesaat kemudian Amalia mengangkat telponnya. Afdal memberi tahu kalau dia sudah ada di depan pintu.


Selang beberapa saat pintu terbuka dari dalam. Seorang wanita yang memakai baju tidur berdiri di depan pintu. "Afdal, kamu kok sudah sampai." Mereka kemudian masuk kedalam. "Ya udah aku istirahat ke kamar dulu ya," ujar Afdal mendapat anggukan dari Amalia. Setelah mengunci pintunya kembali dan melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


Pagi harinya suara khas orang memasak mengganggu pendengaran Azka. Anak itu kemudian turun dari tempat tidurnya menuju ke dapur. Amalia yang masuk menggoreng ikan tak menyadari kehadiran putranya.


"Bunda, Azka mimik susu," pinta Azka dengan suara cadalnya. Amalia langsung menoleh kearah putranya. "Anak Bunda dah bangun!" ujar Amalia menggendong putranya.


Amalia kemudian mematikan kompornya, setelah itu mendudukkan Azka di kursi, ruang makan. Amalia segera membuatkan susu untuk anaknya. Nek Asih yang baru pulang dari maraton langsung menhampiri anak yang sedang duduk menunggu susunya.


"Am, semalam Afdal pulang ya?" tanya nek Asih sembari menuangkan air kedalam gelasnya. Setelah itu ia minum sampai habis air itu. "Iya Nek, tapi kayaknya belum bangun deh. Mungkin kelelahan karena sampai rumah juga sudah larut malam." Amalia kemudian menyerahkan sebotol susu pada anaknya.


"Ayah Af-dal pu-lang," kata Azka begitu antusias mendengar kepulangan pria yang di sebut ayah. "Iya sayang, tapi Ayah masih capek. Jadi belum bisa nemuin Azka." Amalia memberi pengertian kepada anaknya agar tidak menggangu Afdal dulu. Mengingat anak itu selalu nemplok jika sudah bertemu dengan cucunya nek Asih.


Afdal belum lama ini pulang ke Pekanbaru. Libur hari raya tahun ini. Belum genap dua bulan, dia sudah kembali lagi kesini. Di situlah, awal mula kedekatan Azka dengan dengan cucu pria itu.


"Ayah!!!" teriaknya sembari memeluk pria yang berjalan menuju meja makan. Dengan sigap pria itu menangkap tubuh gembul, Azka. "Hallo anak nya Ayah...makin gembul aja ini pipi." Afdal mencubit pelan pipi anak yang ada di pangkuannya.


Afdal kemudian duduk di samping nekk Asih, dengan masih memangku Azka. "Ayah kok, gak omong-omong mau pulang?" Afdal tersenyum lepas mendengar ucapan Azka yang menurutnya lucu. "Ayah kan, mau kasih kejutan buat Azka." Anak itu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ayah nya.


"Nek, Afdal sekarang kerjanya udah gak di jauh lagi. Afdal di tugaskan untuk mengurus gudang produksi yang akan di buka disini," jelas Afdal pada semua orang yang ada di sana. Azka melonjak girang karena dia bisa bermain lagi dengan ayah angkatnya itu. "Benelan ayah gak kelja jauh-jauh lagi." Azka menatap kearah wajah Afdal. "Iya sayang."


"Syukurlah kalau begitu. Nenek senang mendengarnya," sahut nek Asih ikut senang mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Oh iya Am, bos aku itu tinggal di samping rumah ini Lo! Di penginapan Bu Rosa," ujar Afdal beralih menatap Amalia yang sedang menyuapkan gorengan kedalam mulutnya.


"Nanti deh kapan-kapan aku kenalin ke kalian," sambungnya kemudian ikut mengambil gorengan yang ada di meja. "Wah naik jabatan dong," gurau Amalia. "Hmm Alhamdulillah," jawab Afdal.


"Sayang sini, Ayah Af-dal mau makan dulu. Azka sama Bunda ya?" Azka kemudian turun dari pangkuan Afdal dan langsung naik ke paha bundanya.


Usai sarapan pagi, mereka di sibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Afdal mengajak Azka untuk mandi bersama. Nek Asih menyapu teras depan sementara Amalia mencuci piring bekas sarapan tadi.


Azka yang sudah berbaju lengkap, pergi mengambil bolanya di tempat mainan. Usai mandi tadi, Afdal dengan telaten menggantikan bajunya Azka. Sudah tidak diragukan lagi kasih sayangnya pada anak itu sangatlah besar. Dia sudah menganggap Azka seperti anak kandungnya sendiri.


Afdal yang sudah siap untuk menemui bos-nya berjalan ke teras depan. Azka yang melihat Ayahnya akan pergi, langsung merengek untuk ikut bersamanya. Afdal pun tak keberatan jika anak itu ikut bersamanya.


Usai mandi dan berganti pakaian Angga sudah di tunggu Niko untuk sarapan pagi. Niko sudah ada di depan kamar Angga. Rencananya mereka hari ini akan langsung meninjau lokasi pembangunan gudang produksi itu. Karena lokasinya agak jauh dari penginapan, maka Angga menugaskan sopir sewanya untuk mengantar mereka.


"Mari Pak kita cari sarapan dulu," ajak Niko saat Angga sudah keluar dari kamarnya.


"Apa nggak sebaiknya kita nunggu Afdal dulu. Kita kan gak tau dimana rumah makan yang enak dan nyaman untuk kita bahas proyek ini," tolak Angga sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Baik Pak, biar saya hubungi Pak Afdal dulu." Niko merogoh ponselnya yang ada di saku jasnya kemudian mencari nomor Afdal. Namun aktivitas nya terhenti saat dia melihat ada seorang pemuda yang menuntun anak kecil berjalan menuju kearahnya.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2