
"Ayah, Azka pengen lihat Bunda!" rengek anak itu yang langsung turun dari pangkuan Delon saat melihat ayahnya keluar dari ruang rawat bundanya.
"Iya sayang! Bentar lagi ya. Bunda masih di periksa oleh dokter," seloroh Angga mencubit gemas anaknya.
Setelah kepergian dokter yang memeriksa Amalia. Angga dan Azka langsung masuk kedalam diikuti oleh Delon di belakangnya. Kondisi Amalia sudah mulai stabil sehingga dia sudah bisa di jenguk lebih dari satu orang.
Walau keadaannya sudah sedikit membaik, tapi Amalia belum boleh bergerak lebih. Karena bekas jahitan di organ dalam tubuhnya belum pulih benar sehingga pergerakannya harus di batasi.
Melihat bundanya masih terbaring lemas di brankar rumah sakit, Azka tidak berani memeluknya. Anak itu takut melukai bundanya. Jadi, dia hanya berdiri di sampingnya saja. Begitupun dengan Delon dan Angga. Tampak jelas ranum bahagia meliputi wajah Angga saat itu, seulas senyuman terpancar dari bibir manisnya. Sehingga membuat orang yang melihatnya terasa damai.
"Sayang, kamu sudah sadar! Aku seneng, akhirnya kamu bisa melewati masa kritis." Angga mengusap lembut wajah istrinya dengan jari telunjuknya. Amalia masih datar melihat perlakukan suaminya pada dia. Angga masih berhutang penjelasan padanya.
"Dek, Kakak seneng kamu udah sadar." Sekarang giliran Delon yang bicara. Kini wajah Amalia beralih menatap kakaknya. Di perhatikan secara seksama, pria yang berdiri disisi kiri brankarnya.
"Kakak, Am minta maaf..." Amalia tidak melanjutkan kata-katanya. Wanita itu lalu menatap kearah lain.
"Minta maaf? Minta maaf buat apa, Dek?" tanya Delon masih bingung dengan ucapan maaf dari adiknya. Wanita itu justru menangis, dan terisak saat kakaknya mulai mendekatinya. Melihat istrinya menangis, Angga langsung menghapus air mata yang mulai mengalir mengenai bantal.
"Sttt...sayang, kamu kenapa menangis? Jelaskan pada kami!" Tak kalah khawatirnya dengan paman dan ayahnya, Azka pun ikut bersuara.
"Bunda kenapa sedih?" tanya Azka polos. Kini iris mata Amalia beralih menatap anaknya. Dia tersenyum pada Azka.
"Sayang, anak Bunda. Bunda gak sedih kok!" kilahnya tidak mau membahas masalah itu di depan anaknya. Amalia memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk mencari jawaban atas perkataan Valentino waktu itu.
"Sayang, jangan nangis lagi ya." Angga ikut senang saat Amalia sudah berhenti terisak. Tapi ada yang aneh yang dirasakan oleh Angga. Amalia seakan menghindar darinya, setiap kali dia bicara padanya tak pernah di jawab oleh istrinya. Membuat Angga sedikit khawatir.
Keesokan harinya. Angga meminta Delon untuk mengantar anaknya pulang ke rumah papanya. Malam itu mereka menginap di rumah sakit. Azka, sebenarnya saat Bu Renata dan pak Dwi pulang sudah diajak mereka untuk ikut. Tapi Azka tidak mau, dia bersikeras mau bersama bundanya. Akhirnya karena gak tega melihat Azka yang terus merengek, Bu Renata dan pak Dwi membiarkan cucunya untuk tidur di rumah sakit. Lagi pula di ruang VIP, tempat Amalia di rawat ada sofa panjang bisa untuk tidur anak itu. Meskipun para orang dewasa harus tidur dengan keadaan duduk.
Sesuai permintaan Angga, Delon membawa Azka untuk pulang ke rumah kakeknya. Anak itu yang awalnya menolak, dengan sedikit rayuan dari ayahnya. Akhirnya setuju untuk ikut pulang bersama pamannya. Setelah mengantar pulang ponakannya, Delon langsung pergi ke Bogor untuk menjemput orang tuanya.
Sementara di rumah sakit, Amalia yang sudah terjaga dari tidurnya menatap kosong kearah jendela. Dia masih mengingat-ingat kejadian yang melukainya. Ada banyak pertanyaan terlintas di benak Amalia. Tapi dia seakan tak percaya dengan yang ia dengar saat itu. Tapi jika dihubung-hubungkan kejadian demi kejadian, memang menjurus ke arah itu.
Angga yang baru saja ke cafe rumah sakit, masuk kedalam. Dia melihat istrinya sudah membuka mata. Sehingga membuat Angga meletakkan makanan yang baru saja ia beli diatas meja, dekat dengan sofa. Angga memilih menyapa istrinya terlebih dahulu, apalagi melihat Amalia terlihat murung. Membuat dia ingin tahu apa yang sedang mengganjal pikiran istrinya itu.
"Sayang, kamu udah bangun?" Angga menarik kursi yang tak jauh dari tempat Amalia terbaring. Setelah itu, dia mendaratkan tubuhnya disana.
"Sayang, kamu kenapa? Kok diemin aku kayak gini!" Amalia tak mengalihkan pandangannya dari arah jendela.
"Katakan sayang! Aku sudah berbuat apa, sehingga membuat kamu bersikap kayak gini sama aku?" Pertanyaan Angga menarik perhatian wanita itu untuk beralih memandang kearah dia.
"Sekarang, jelaskan apa yang terjadi?" lanjut Angga menatap lekat wajah istrinya.
"Apa kamu merahasiakan sesuatu padaku?" Pertanyaan Amalia langsung membuat Angga gemetar. Tak bisa di pungkiri. Jika dia sudah dihadapkan dengan situasi ini, Angga tidak akan bisa lagi mengelak.
"Kenapa diam?" Tak kunjung dijawab pertanyaannya, Amalia mendengus kesal.
"Iya sayang, apa yang ingin kamu tahu tentang aku?" Pertanyaan Angga semakin membuat Amalia menjadi kesal, bukannya menjawab pertanyaannya, Angga justru balik bertanya padanya.
"Kenapa kamu bertanya padaku. Jawab dulu pertanyaan ku, tadi!" Amalia membelalakkan bola matanya. Membuat Angga semakin terpojok.
"Iya sayang. Aku memang memiliki rahasia yang belum kamu ketahui. Tapi percayalah sayang, jika waktunya tepat aku sendiri yang akan membongkar rahasia itu padamu," jelas Angga.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sudah tahu semuanya!" sahut Amalia malas menatap wajah Angga yang memelas.
"Tahu apa, sayang?" Angga tersentak kaget.
"Tahu, tentang rahasia kematian kakakmu!" Angga membelalakkan matanya.
"Kenapa? Kamu terkejut?" lanjut Amalia.
"Valentino sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang papa yang membayar agar saksi kunci itu tidak datang ke pengadilan. Tentang kami yang mau membebaskan kakakku. Dia menceritakan semuanya. Dan apa kamu tahu siapa papa sebenarnya?" Amalia menjeda kalimatnya untuk mengatur nafasnya yang mulai sesak di dadanya. "Papa juga yang menghancurkan bisnis papaku. Sehingga dia menderita."
Angga nafsu di sambar petir disiang bolong mendengar ucapan istrinya. Apalagi ini, masalah satu belum selesai. Kini sudah menjalar lagi ke masalah baru, dia benar-benar tidak menyangka. Kalau papanya lah orang yang di benci oleh keluarga Amalia.
"Kenapa? Apa kamu juga baru tahu tentang kenyataan itu. Atau kamu memang sudah tahu itu semua dan berusaha menyembunyikannya padaku." Angga hanya bisa menatap nanar wajah istrinya, dia juga bingung harus bagaimana. Tapi tidak, ini semua tidak bisa di biarkan begitu saja. Dia harus menjelaskan pada istrinya tentang rahasia yang masih di sembunyikan oleh dirinya.
"Sayang, kamu salah paham. Aku memang tahu tentang kasus kakak. Tapi aku baru tahu, kalau papa adalah orang yang di benci oleh papa kamu!!!" Angga berusaha menjelaskan pada istrinya.
"Tapi kenapa kamu sembunyikan itu dari aku? Istrimu? Kenapa?" Amalia mulai terisak lagi. Dan itu membuat dia mengerang kesakitan lagi di perutnya. "Arghhhh."
"Sayang, kamu kenapa? Kamu tenang dulu ya sayang! Jangan emosi dulu?" Angga berusaha menenangkan istrinya yang mulai lepas kontrol sehingga membuat perutnya terasa nyeri.
Angga langsung memanggil dokter untuk memeriksa kembali kondisi istrinya. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Amalia yang masih meringis kesakitan akibat terlalu banyak menangis.
"Tinggalkan aku disini sendiri!" seru Amalia pada Angga. Setelah di periksa dan di beri obat anti nyeri oleh dokter, wanita itu kembali terlihat sedikit lebih segar.
"Sayang! Aku mohon dengarkan aku. Aku punya alasan untuk melakukan itu padamu!" sangkal Angga masih dengan wajah memelas, tidak ingin istrinya mengusirnya.
"Aku mohon, biarkan aku sendiri." Angga tidak bisa melihat jika Istrinya sudah memohon seperti itu. Akhirnya dia mengalah untuk keluar dulu dari tempat itu dan membiarkan istrinya sedikit tenang lebih dulu.
"Bunda mana, Yah?" tanya Azka yang masih bergelayut di gendongan kakeknya.
"Bunda ada di dalam, sayang!" jawab Angga singkat.
"Kamu kenapa, Ngga! Kenapa mukamu jadi kusut begitu?" Sekarang giliran pak Dwi yang bertanya. Angga melihat sekilas papanya, setelah itu dia kembali tertunduk.
"Ngga, apa ada masalah sayang?" Bu Renata ikut bersuara. Dia khawatir terjadi sesuatu pada menantunya. "Amalia baik-baik saja, kan!" lanjut Bu Renata.
"Amalia baik-baik aja, kok Ma! Dokter baru saja memeriksa dia," sahut Angga.
"Ya sudah, sayang. Kita ketemu bunda dulu, yuk!" ajak bu Renata pada cucunya. Azka langsung melonjak kegirangan. Dia sudah gak sabar ingin bertemu dengan bundanya.
Di tempat lain, Delon baru saja sampai di rumah orangtuanya yang berada di Bogor.
Delon langsung disambut oleh papa dan mamanya yang sudah siap berangkat ke Jakarta untuk menengok adiknya, Amalia. Tapi justru itu membuat hatinya Delon merasa was-was. Apalagi jika nanti mereka bertemu dengan pak Dwi. Apa yang akan terjadi di sana. Itu membuat Delon melamun, membayangkannya.
"Lon, ayo kita berangkat sekarang!" seru Bu Leha yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya.
"Iya, Ma!" sahut Delon gelagapan.
"Kamu kenapa, Lon? Apa ada sesuatu mengenai adikmu?" tanya pak Sapta. Kini mereka sudah mulai berjalan menuju ke mobil yang sudah terparkir di area perkebunan.
"Nggak kok, Pa! Gak ada apa-apa. Semua baik-baik saja!" jawab Delon.
__ADS_1
Mereka menjadi pusat perhatian para pekerja yang melihat keluarga pak Sapta membawa tas besar, seperti mau ke suatu tempat. "Mau kemana ari teh, Pak Sapta?" tanya salah satu pekerja.
"Oh ini. Kita mau ke Jakarta, Kang Asep!" jawab pak Sapta berkata jujur.
"Wuiii, mau ketemu besan ya. Wah menih enak pisan pak Sapta mah. Dapat menantu orang kaya," seloroh Kang Asep nyengir.
"Ya sudah ya Kang. Kita permisi dulu. Takut kemalaman sampai di Jakarta," pamit pak Sapta tidak terlalu menanggapi ucapan kang Asep.
"Oh iya, sok atuh!"
Sekarang mereka sudah dalam perjalanan menuju ke Jakarta. Di dalam mobil, tidak terlalu Randi dengan suara mereka. Delon terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu. Sementara pak Sapta dan Bu Leha, mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putri mereka. Hingga keheningan itu terpecah, saat pak Sapta bertanya pada Delon tentang mertua putrinya.
"Lon, kamu udah bertemu dengan orangtua Angga?"
"Su-dah, Pa!" Angga terlihat gugup. Takut jika papanya akan bertanya lebih padanya.
"Orangnya gimana, Lon?" Delon mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan papanya itu.
"Orangnya ramah, Pa!" jawabnya sekenanya.
"Wah, Papa sudah gak sabar ingin bertemu mereka. Amalia juga sering ngomong, kalau mertuanya sekarang sangat menyayanginya. Papa bersyukur, Amalia bisa diterima dengan baik oleh mereka!" seru pak Sapta membayangkan pertemuannya dengan besannya.
"Iya, Mama juga udah gak sabar bertemu dengan mereka!" sahut Bu Leha. Seketika membuat Delon menelan Slavinanya sendiri. Dia tidak bisa membayangkan pertemuan itu akan seperti apa. Akankah pertemuan kedua keluarga itu akan indah seperti bayangan kedua orangtuanya. Atau sebaliknya, pertemuan itu akan membuat kegaduhan diantara pak Dwi dan papanya. Sungguh, Delon tak mampu berandai-andai.
Hingga tidak terasa, mereka sampai di rumah sakit tempat Amalia di rawat. Kebetulan hari sudah menjelang senja. Jadi kemungkinan besar, pak Dwi dan istrinya sudah pulang ke rumah. Delon membawa orangtuanya menuju ke ruang rawat adiknya. Saat sudah sampai di sana, kedatangan mereka di sambut hangat oleh Angga. Mereka semua masuk ke ruangan itu. Dan benar saja, pak Dwi dan istrinya memang sudah pulang sejak jam empat sore tadi. Jadi untuk sementara masih aman. Belum terjadi sesuatu.
"Sayang, Amalia. Gimana keadaan kamu?" Bu Leha langsung menghampiri anaknya.
"Mama!" Amalia terkejut melihat kehadiran orangtuanya disana.
"Iya, sayang. Kamu khawatir dengan keadaan mu. Gimana sayang, apa yang di rasakan, sekarang?" tanya Pak Sapta, yang mengelus rambut putrinya.
"Alhamdulillah sudah mendingan Pa. Sudah lebih berkurang rasa sakitnya," jawab Amalia tersenyum paksa.
"Am, dimana mertuamu dan cucu Papa?" Pak Sapta clingak-clinguk mencari keberadaan mereka.
"Sudah pulang, Pa!" Raut wajah mereka sedikit kecewa, karena belum bisa bertemu dengan besannya hari itu.
"Kak, bisa ikut Angga sebentar!" bisik Angga pada kakak iparnya. Delon mengangguk, dan mereka keluar dari tempat itu.
"Ada apa, Ngga?" tanya Delon saat mereka sudah ada di luar.
"Amalia sudah tahu semuanya, Kak. Valentino yang menceritakannya!" sahut Angga memegangi pelipisnya.
"Dan sekarang, Amalia berubah pada Angga. Dia kecewa dan menyalahkan Angga," lanjut Angga, kemudian dia duduk di kursi.
"Kamu yang sabar, Ngga. Itu memang tidak mudah untuk Amalia bisa menerimanya. Kakak yakin, dia akan kembali seperti dulu lagi, kok! ke kamu. Sabar ya!" Delon memberi pengertian pada adik iparnya itu.
"Iya, Kak. Ini salah Angga. Dari awal sudah menyembunyikan masalah ini dari dia." Delon ikut duduk disamping Angga. Perasaan mereka sama, khawatir dengan keadaan kedepannya. Belum-belum saja, Amalia sudah bersikap itu pada Angga. Apalagi Pak Sapta yang tahu.
"Sekarang kita berdoa saja, agar masalah ini bisa cepat di selesaikan." Pak Sapta yang sedikit mendengar percakapan mereka, ikut bertanya.
__ADS_1
"Masalah? Masalah apa?