
Disebuah rumah megah, seorang wanita paruh baya sedang duduk melamun dipinggiran kolam ikan. Makanan ikan yang ia pegang pun tak lantas ia masukkan ke kolam. Pandangannya tertuju pada ikan-ikan yang berenang indah di kolam itu. Tapi pikirannya berkelana tidak tahu kemana. Hingga sebuah tepukan pun tak lantas membuatnya sadar.
"Ma, kamu kenapa disini?" Pak Dwi yang dari tadi berdiri dibelakang Bu Renata menatap bingung istrinya. Bu Renata pun tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah Suaminya.
"Eh Papa, sejak kapan Papa disitu?" tanya Bu Renata pada suaminya. Pak Dwi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. Beliau kemudian ikut duduk disamping istrinya.
"Mana lagi mikirin apa sih! Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Papa." Pak Dwi mulai memeluk istrinya, mencoba menenangkan hati istrinya.
"Mama mikirin Angga Pa. Kenapa dia belum pulang, padahal Niko sudah kembali dari dua hari yang lalu. Kemana dia Pa?" Bu Renata mulai mengeluarkan air matanya, dia begitu rindu putra semata wayangnya itu.
Pak Dwi pun bertanya hal yang sama. Kemana putranya itu pergi. Sementara Niko tidak memberi petunjuk apapun padanya. Niko bercerita katanya, Angga ada urusan ke Medan masalah bisnis barunya. Niko tidak mengatakan yang sejujurnya pada orang tua Angga. Ya tentu saja, dilarang oleh bosnya.
"Mungkin kita terlalu keras pada anak kita Pa. Sehingga dia tidak nyaman tinggal bersama kita. Dia merasa tertekan." Bu Renata pun teringat kejadian-kejadian saat mereka bertengkar dengan Angga. Saat mereka menentang hubungan putranya dengan Amalia.
"Pa, kalau Angga pulang ke rumah. Ma janji, akan merestui hubungan dia dengan Amalia." Ucapan Bu Renata sedikit membuat pak Dwi terkejut. Padahal dia sudah susah-susah memisahkan putranya dengan Amalia.
"Papa juga harus merestui mereka Pa," bujuk Bu Renata dengan wajah memelas.
"Kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Angga anak kita Pa. Biarkan dia menentukan kebahagiaannya. Mama sadar, kota sudah terlalu banyak ikut campur masalah pribadinya. Biarkan dia yang menentukan hidupnya. Dia pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri," sambung Bu Renata menatap wajah suaminya.
Pak Dwi terdiam. Dia masih memikirkan kata-kata istrinya. Sebelum dia sadar, apa yang dikatakan istrinya itu memang benar. Angga sekarang adalah harta mereka satu-satunya yang paling berharga. Untuk apa kekayaan yang banyak, kalau mereka berpisah dengan anak kandungnya.
"Semenjak kematian Roy, kita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya Angga Pa. Hanya dia yang kita punya. Apalagi wanita itu hamil anak Angga. Cucu kita, cucu kita." Kata-kata Bu Renata benar-benar masuk kedalam hati pak Dwi. Sehingga dia sadar apa yang ia lakukan selama ini salah. Memisahkan anaknya dengan wanita yang dicintainya.
Semenjak kematian anak sulungnya. Angga memang selalu menjadi kebanggaan Bu Renata dan pak Dwi. Mereka berdua tidak mau kalau Angga menikah dengan wanita yang tidak sederajat dengan mereka. Ingin semua orang memandang hebat keluarganya. Sehingga mengesampingkan kebahagiaan putranya.
"Tapi wanita itu pergi jauh Ma. Papa sendiri kehilangan jejaknya. Papa tidak tahu keberadaannya dimana," sahut pak Dwi menyesal.
"Bagaimana kita bisa menyatukan mereka. Kalau Amalia saja tidak tahu kemana," timpal Bu Renata.
"Papa janji akan menyuruh orang-orang Papa untuk mencari wanita itu lagi. Semoga kita bisa menemukan Amalia, ya Ma." Bu Renata bisa tersenyum lega. Karena suaminya sudah mau merestui hubungan putranya dengan gadis pilihannya. Janjinya pada Angga sudah dipenuhi. Sekarang tinggal, bagaimana caranya agar bisa menemukan Amalia.
Di tempat lain.
__ADS_1
Angga dan Amalia sudah sampai di Bogor. Sedikit lagi mereka sampai di rumah pak Sapta. Jantung Amalia begitu cepat berdetak. Dia takut kalau Papanya akan marah. Apalagi dia sudah banyak berbohong pada orangtuanya itu.
"Bunda, sebental lagi kita sampai lumah kakek?" Amalia menatap putranya, setelah itu tersenyum.
"Iya sayang, nanti di rumah kakek Azka gak boleh nakal ya!" Timpal Angga yang menjawab pertanyaan anaknya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu takut?" Cecar Angga yang melihat Amalia seperti orang yang sedang ketakutan.
"Kamu tenang ya. Nanti biar aku yang cerita pada papa dan mamamu," sambungnya lagi sembari meletakkan kepala Amalia dipundaknya.
"Gimana kalau mereka tidak mau mengakui Azka sebagai cucunya"
"Stttt, kamu gak boleh ngomong seperti itu. Kasihan didengar Azka Lo sayang!" Angga berusaha membuat Amalia tenang. Tapi sepertinya tidak berhasil. Wanita itu berkali-kali mengelap keringatnya yang mulai berjatuhan.
Mereka sampai juga di perkebunan teh tempat pak Sapta bekerja. Karena memang jalanan menuju rumah pak Sapta tidak bisa dilewati oleh mobil. Jadi mereka berhenti disana.
Kebetulan hari masih pagi sekali. Sehingga para pekerja belum ada disana. Azka begitu senang melihat pemandangan yang ada disekelilingnya. Pohon-pohon teh yang masih basah terkena embun pagi. Suara kicauan burung-burung membuat hati yang merasakan seakan damai disana. Tapi tidak dengan Amalia. Wajahnya semakin pucat.
"Am, saha eta. Menih kasep pisan?" Tanya seseorang yang sedang berpapasan dengan Amalia. Sepertinya orang itu sudah kenal dengannya.
"Ini teh anak Amalia, teh. Nuhun ya teh, Amalia pamit duluan." Orang itu langsung berbisik-bisik dengan temannya. Membuat Amalia semakin ketakutan.
"Sudah gak usah dipikirin. Ayo!" Seru Angga yang mengajak jalan lagi.
Sampai lah mereka dirumah pak Sapta. Bangunan itu masih sama seperti yang terakhir Angga lihat. Yang berbeda hanya satu. Pohon mangga yang berada di depan rumahnya sedang berbuah lebat.
Angga mengetuk pintunya. Selang beberapa saat pintu itu dibuka oleh Reyhan, adiknya Amalia.
"Kak Amalia!!" Reyhan langsung memeluk kakaknya begitu tahu kakeknya yang datang. "Ayo masuk Kak!" Lanjutnya mempersilahkan mereka masuk. "Ini siapa Kak?" Kemudian dia bertanya siapa yang bersama dengan kakaknya itu.
"Nanti kakak ceritakan. Mana Papa dan Mama Dek?" Amalia langsung bertanya keberadaan orang tuanya.
"Ada di dapur. Bentar Reyhan panggilkan dulu." Adiknya pun langsung ke belakang untuk memanggil orangtuanya.
__ADS_1
Amalia menoleh kearah Angga. Meminta kekuatan untuk menghadapi kedua orangtuanya. Lima menit kemudian. Bu Leha dan pak Sapta menemui putrinya. Betapa terkejutnya dia saat Amalia benar-benar ada disana.
"Am, Mama kangen." Amalia langsung berdiri dan memeluk mamanya, begitupun psk Sapta langsung memeluk istrinya.
Mereka melepas rindu. Tangis haru pun menjadi pemandangan disana. Angga dan Azka masih tetap duduk ditempatnya. Sesekali Azka ingin ikut berpelukan seperti bundanya. Tapi Angga mencegahnya dengan iming-iming nanti diajak ke sungai.
Mereka bertiga saling melepaskan pelukannya. Pandangan pak Sapta kemudian beralih pada Angga dan Azka yang sedang duduk di kursi.
"Am, siapa mereka?" Amalia pun duduk ditempatnya tadi. Disusul oleh Bu Leha yang duduk disamping pak Sapta.
"Pa bukannya dia yang dulu kesini mencari Amalia," terka Bu Leha diikuti anggukan dari Angga.
"Oh iya, Papa baru ingat sekarang. Bagaimana kabarnya Nak? Kok bisa ketemu sama anak saya?" Amalia dsn Angga pun saling pandang. Seakan mereka saling memberi kode untuk menjawab pertanyaan orang tua Amalia.
"Eh ini anak siapa Am. Ganteng banget?" tanya Bu Leha pada putrinya.
"Ini anak Am, Ma."
To be continued....
Waduhhh kira-kira gimana ini.....
Diterima gak ya Angga jadi mantunya pak Sapta....
Besok lagi ya..
Oh iya mampir juga dong di cerita author lainnya...
Suamiku tak pernah mencintaiku...
Ceritanya gak kalah seru Lo dengan kisah Amalia dan Angga....
Love bejibun buat kalian.
__ADS_1