Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Penyekapan


__ADS_3

Mendengar suara bel berbunyi, Amalia yang sedang bermain dengan anaknya berinisiatif untuk membukakan pintunya. Wanita itu meminta putranya untuk menunggu sebentar di tempat itu.


"Azka disini dulu ya, Nak. Bunda bukain pintunya dulu, mungkin Kakek dan nenek yang datang," ucapnya, kemudian beranjak. Sementara Azka, anak itu hanya mengangguk patuh dan melanjutkan mainnya lagi.


Amalia berjalan mendekati pintu itu, dan saat dia membuka pintu itu. Dia melihat ada dua orang pria bertubuh kekar dengan masker yang menutup wajahnya berdiri di depan pintu. Amalia ketakutan saat melihat dua pria itu. Tubuhnya mulai gemetar namun dia masih bisa menanyakan tujuan orang itu datang ke rumah untuk apa.


"Maaf, mencari siapa?" tanyanya dengan gugup. Salah satu pria itu menarik tubuh Amalia, dan membungkamnya dengan sapu tangan yang ia pegang. Amalia berusaha berontak, sekuat tenaga dia mencoba bersuara, "to...long." Teriakannya berhenti saat obat bius yang ada di sapu tangan itu mendarat di bibir dan hidung wanita itu. Tubuh Amalia yang sudah tak sadarkan diri itu, di bolong oleh pria yang membungkam mulutnya tadi.


Azka yang mendengar bundanya minta tolong, anak itu berlari untuk melihat bundanya. Saat sudah ada di ruang tamu, Azka menangis dan berteriak memanggil-manggil nama bundanya. "Hua...Bunda...jangan di bawa bunda Azka...huaaa." Azka berlari mengejar kedua pria itu yang sudah membawa Amalia menuju ke mobilnya.


"Itu anaknya, gimana!" ucap salah seorang pria itu.


"Tinggalkan saja! Kita hanya di perintah untuk membawa wanita ini," seru pria satunya lagi.


Azka terus meraung menangisi mobil yang membawa bundanya sudah mulai menjauh dari rumah pak Dwi. Assisten rumah tangga di rumah itu mendengar teriakkan Azka berlari menyusul anak itu.


"Den Azka, kenapa ada di sini?" Wanita itu merengkuh tubuh Azka, yang masih terisak.


"Bunda...Hua hua..." Tangis anak itu menunjuk ke jalan. Pandangan wanita itu beralih pada satpam yang tergeletak di depan pintu gerbang.


"Astaghfirullahalladzim, ada apa ini." Sambil menggendong anak majikannya, wanita itu berjalan menuju ke depan pintu gerbang.


"Pak Sugeng...pak Sugeng... bangun!" Wanita itu menepuk-nepuk pipi psk Sugeng, satpam di rumah itu.


Perlahan satpam itu membuka matanya. Kepalanya masih sangat berat akibat pengaruh obat bius tadi. Saat dia sudah sadar seluruhnya, dia langsung menanyakan apa yang terjadi di rumah itu.


"Bunda Hua..Hua..." Tangis Azka pecah lagi. Anak itu terus meraung mencari bundanya. Bu Lastri, berusaha menenangkan anak itu. Setelah tenang, dia bertanya pada Azka. Apa yang terjadi pada bundanya.


"Aden, tenang ya. Sekarang katakan pada Bibi, Bundanya Azka kemana?"


"Bunda di bawa olang ke sana." Azka menunjuk sebelah timur rumah itu.


"Ya Allah, nyonya di culik, Pak Sugeng!" seloroh bi Lastri pada pak Sugeng.


"Kita hubungi tuan Dwi dan nyonya Renata," usul pak Sugeng mengambil ponselnya.


Bu Renata dan pak Dwi yang sedang berada di panti asuhan, langsung pulang ke rumah. Saat pak Sugeng memberi tahu pada mereka, kalau menantunya di culik.


Saat sudah ada di rumah. Pak Dwi menanyakan kejadian itu pada Bu Lastri dan pak Sugeng. Mereka berdua mengatakan yang sejujurnya. Kaldu ada dua orang yang mendidik masker datang ke rumah itu dan membawa menantunya pergi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, pak Dwi langsung menghubungi Angga untuk segera kembali ke Jakarta. Angga yang mendengar itu langsung syok dan panik.


"Ada apa, Ngga?" tanya Delon saat mereka ada di kamar.


"Amalia di culik, Kak!" jawabnya panik. Angga langsung beranjak dan pamit pada mertuanya. Dia juga memberitahu keadaan yang sesungguhnya pada pak Sapta dan Bu Leha. Mereka berdua juga tak kalah terkejutnya dan syok atas apa yang menimpa putrinya.


Setelah pamitan, Angga langsung pergi dari rumah Sapta dengan di temani oleh Delon. Mereka berdua langsung meluncur ke Jakarta.


"Valentino brengsek!!!" Umpat Angga memukul-mukul ban stir mobilnya.


"Tenang, Ngga. Kita harus tenang menghadapi orang seperti dia," kata Delon menenangkan adik iparnya.


"Angga gak bisa tenang, Kak. Angga takut terjadi apa-apa dengan Amalia." Angga meraih ponselnya. Dia menghubungi Niko untuk datang ke rumahnya dan mengecek CCTV di rumah itu. Mungkin ada petunjuk dari sana.


Apalagi perjalanan menuju ke Jakarta memakan waktu empat jam dari perkebunan itu. Itu artinya, dia tidak bisa melacak mobil itu. Tak berapa lama, ponselnya berdering. Tapi nomor yang menghubunginya, adalah nomor yang tidak dia kenal. Angga langsung mengangkat telpon itu.


"Kalau Lo ingin istri Lo selamat, cabut tuntutan kasus pembunuhan Adipati." Hanya itu yang disuarakan oleh orang yang di seberang sana. Setelah itu telponnya di matikan.


"Brengsek!!!! Pengecut!!!!" teriaknya tak henti-hentinya dia mengumpat.


"Apa itu tadi dari Valentino, Ngga?"


"Iya, Kak. Dia minta agar saya mencabut kasus itu." Angga masih fokus menyetirnya dan sesekali dia memukul-mukul stir mobilnya. Wujud kekesalannya pada Valentino.


"Gimana, Kak?" Delon menggeleng, setelah itu mengembalikan ponselnya ke tangan Angga.


"Ada kemungkinan, Valentino akan membawa Amalia ke markasnya. Kita mulai pencariannya di sana saja," usul Delon. Mendapat tatapan dari Angga.


"Kakak tahu, dimana markas dia?"


"Seingat Kakak ada di gudang, tempat terjadinya pembunuhan itu. Tapi apa masih mungkin, itu sudah lama sekali," jawab Delon ragu.


"Apa salahnya kita mencarinya ke sana," ujar Angga.


Angga masih melajukan mobilnya menuju ke Jakarta. Target pencariannya adalah gudang yang menjadi basecamp Valentino dan geng nya.


Di lain tempat.


Mobil yang membawa Amalia berhenti di sebuah rumah kosong di kawasan Tamrin. Rumah itu jauh dari pemukiman warga. Di sekeliling rumah itu hanya ada rimbunnya pepohonan. Amalia di bawa masuk kedalam dengan tubuh yang masih tak sadarkan diri. Valentino yang sudah menunggu kedatangan mereka tersenyum puas, saat tawanannya berhasil di bawa oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Ikat dia di sana," perintah Valentino menunjuk sebuah kursi yang terletak di sekitar tetumpukan kardus-kardus bekas. Pria yang membopong tubuh Amalia, meletakkannya di kursi itu. Setelah itu diikatnya mengeliling tubuh Amalia. Tak lupa, mata dan mulut Amalia juga di tutup oleh mereka.


"Bagus, kerja kalian memang bagus!" teriak Valentino setelah itu dia tertawa lepas.


"Mau macam-macam dengan saya, hahhh mimpi!! cuihhh," decaknya lagi.


"Kamu baru anak kemarin sore, Angga. Sudah berani menabuh genderang perang dengan saya. Saya tidak akan segan-segan menghabisi istri kamu yang cantik ini." Valentino memutari tubuh Amalia yang terikat di kursi itu.


Kevin, dia adalah orang yang tidak setuju dengan penyekapan itu. Meski demikian dia tidak berani membantah perintah Valentino.


Kevin memang dibayar oleh pak Dwi untuk tidak datang ke persidangan dan menjadi saksi Delon. Tapi, Valentino yang mengetahui pergerakannya memanfaatkan dia untuk berada di pihaknya. Karena keadaan yang mendesak, akhirnya Kevin pun mengikuti perintah Valentino dan sekarang menjadi anak buahnya.


Tak cukup di situ. Kevin yang notabenenya orang baik-baik. Dia pernah bicara pada bosnya untuk menyerahkan diri ke polisi, setelah mengetahui Delon di bebaskan. Tapi Valentino justru memukul pria itu dan mengatai bodoh. Bahkan saat Valentino merencanakan penculikan Amalia, dia adalah orang yang tidak setuju dengan rencana itu. Tapi dia bisa apa, selain tutup mulut dan menjalankan perintah bos-nya itu. Walau hati nuraninya menolak itu, tapi keadaan yang memaksa dirinya untuk terlibat dalam kasus ini.


Mobil Angga sudah sampai di kawasan Jakarta. Sebelum menuju ke gudang itu, Angga terlebih dulu menghubungi assistennya untuk menanyakan petunjuk di CCTV itu. Niko hanya mendapat petunjuk nomor plat mobil si penculiknya tersebut. Setelah di lacak, ternyata pemilik mobil itu adalah pengusaha rental yang terkenal di Jakarta. Berarti mobil itu hanya rentalan saja, dan kemungkinan besar sudah di kembalikan ke pemiliknya.


Angga mulai frustasi, saat mereka menuju gudang itu. Ternyata gudang yang dulunya berdiri di sana, sudah menjadi bangunan mewah, semacam club' malam. Itu artinya, Valentino punya base camp baru.


Di saat keprustasiannya. Angga mendapat telpon dari nomor yang tidak di kenal. Dengan cepat dia mengangkat telponnya.


"Temui gue di cafe garden, besok pagi. Gue bakal kasih tahu, dimana istri Lo di sekap." Orang itu langsung menutup telponnya.


Angga sedikit terkejut dengan ucapan orang yang menelponnya barusan. Dia mencoba menerka-nerka, siapa orang tersebut.


"Siapa Ngga?" tanya Delon saat melihat wajah kebingungan adik iparnya itu.


"Nggak tahu, Kak. Tapi orang itu bilang akan memberitahu dimana Amalia di sekap."


"Kita jangan terkecoh Ngga, siapa tahu itu salah satu jebakan dari mereka," ucap Delon, dan Angga membenarkan hal itu.


"Lebih baik kita laporkan ini ke polisi. Agar mereka bisa membantu kita, mencari keberadaan Valentino dan teman-temannya," usul Delon, tapi Angga masih mempertimbangkan hal itu.


"Tapi, Kak. Apa itu tidak akan membahayakan keselamatan Amalia."


"Kita jangan gegabah dulu, Kak. Ini menyangkut hidup dan matinya Amalia," tambah Angga.


Dan mereka memutuskan untuk kembali ke apartemennya Angga. Mereka memilih untuk istirahat dulu. Dan mencari cara agar menemukan Amalia.


Keesokan paginya. Angga mendapat lagi telpon dari nomor yang semalam menelponya. Pria itu mengatakan, kalau dia sudah berada di cafe garden. Tempat yang di katakan pria itu semalam.

__ADS_1


Angga memilih menemui pria itu, tentu saja dengan di temani oleh Delon. Sekarang mereka berdua sudah menuju ke cafe tersebut. Kebetulan cafe tak jauh dari apartemen Angga. Hingga mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di cafe garden.


Delon begitu terkejut saat melihat pria, yang sedang duduk menunggu kedatangan dia dan Angga.


__ADS_2