Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Perjuangan yang sia-sia


__ADS_3

Kamu serius Am?" tanya Siska tak percaya dengan ucapan Amalia.


"Huhuhu iya, usia kandunganku sudah memasuki sepuluh minggu!" jawab Amalia jujur.


Amalia menceritakan semuanya pada Siska. Tentang pelecehan yang dilakukan Angga terhadap dia, tentang hubungannya dengan Angga yang ditentang oleh orang tua Angga. Semua ia ceritakan pada Siska, sedikit membuat dia lebih tenang.


"Apa kamu mencintai Pak Angga, Am?" Siska menatap wajah Amalia, Amalia kemudian menunduk.


"Sudah Am, gak usah kamu jawab pertanyaan aku. Aku sudah tahu jawabannya, terus sekarang apa yang akan kamu lakukan selanjutnya." Siska kemudian menempelkan kepala Amalia di dadanya. Dia mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Aku gak tahu Sis, harus bagaimana. Aku mau pergi dari kota ini, agar Pak Angga tidak bisa menemukan aku. Tapi dimana, aku juga tidak tahu!" keluh Amalia, menghapus air mata yang masih menetes di pipinya.


"Dengan uang ini, mungkin aku bisa bertahan hidup, selama aku mengandung sampai melahirkan nanti!" sambung Amalia lagi.


"Gini aja, Nenek aku yang ada di Pekanbaru kan cuma tinggal sendiri. Beliau punya usaha toko baju disana, mungkin kamu bisa tinggal di sana untuk sementara!" saran Siska, memberi solusi masalah sahabatnya.


"Dulu ada sepupu aku yang tinggal bersama Nenekku. Tapi semenjak dia kuliah di Jogja, dia tidak bisa lagi tinggal bersama Nenek. Nanti aku coba hubungi dulu Nenek ya, dia orangnya baik. Pasti bakalan senang hati menerima kamu!" lanjut Siska mengambil ponselnya, lalu menghubungi neneknya.


Amalia hanya bisa pasrah, mungkin itu jalan terbaik agar dia bisa menjauhkan dari kehidupan Angga. Setelah menelpon neneknya dan memberi tahu semuanya pada neneknya, Siska bisa tersenyum lega. Neneknya mau menampung Amalia untuk tinggal bersamanya. Siska bisa bernafas lega, karena bisa membantu Amalia.


"Tapi disana tempatnya gak serame disini, karena masih termasuk daerah pedalaman gitu. Tapi mending lah, udah mulai rame kok sekarang." Siska menjelaskan keadaan di tempat neneknya pada Amalia. Berharap Amalia betah tinggal di sana.


"Tapi bagaimana kalau Nenek kamu tahu, aku hamil tanpa suami. Apa beliau masih mau menerima aku?" tanya Amalia masih ragu-ragu.


"Tidak akan tahu, kalau kamu tidak memberitahu nya. Sudah gak usah paranoid gitu, ah!" balas Siska menyakinkan Amalia.


"Tapi bagaimana dengan orangtuaku Sis, apa yang akan aku katakan pada mereka."


"Kamu bilang aja kalau kamu dipindahkan di kota lain gitu lah, agar mereka tidak curiga padamu Am!"


Amalia sudah mantap untuk pergi meninggalkan Angga. Dia akan memulai hidup baru di rumah neneknya Siska. Meskipun jauh dari tempat tinggal orang tuanya, tapi tak menyurutkan niat Amalia. Dengan di bantu oleh Siska, Amalia mempersiapkan semuanya untuk kepergiannya besok. Di mulai dari packing pakaian yang harus ia bawa. Siska juga meminta Amalia untuk menanfers uang pemberian pak Dwi ke rekening nya. Agar lebih aman, jika ia berpergian. Mengingat sudah sore, Bank juga sudah tutup, akhirnya Amalia memutuskan untuk menunda pergi ke Bank untuk mengurus semuanya.

__ADS_1


**********


Di tempat lain, Angga yang terbaring di ranjangnya terlelap karena kelelahan. Semalam dia harus bergadang menjaga Amalia. Udara dingin malam itu menyentuh kulit Angga. Perlahan Angga tersadar dari mimpinya. Di lihatnya hari sudah malam, Angga tersentak kaget, karena dia meninggalkan Amalia terlalu lama. Angga beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi.


Selang beberapa saat, Angga sudah menyelesaikan mandinya dengan berpakaian lengkap turun dari lantai dua. Bu Renata dan pak Dwi yang menyadari Angga akan pergi, lantas memanggilnya.


"Angga! mau kemana kamu?"


"Angga mau menemui Amalia!" seru Angga yang tetap melanjutkan langkahnya.


"Angga! kamu benar-benar sudah tidak bisa di atur. Apa hebatnya perempuan itu, sampai-sampai kamu jadi membangkang Mama!" Bu Renata berusaha mencegah Angga agar tidak menemui Amalia.


"Ma, Angga sudah bicara dengan Mama dan Papa. Kalau Angga mencintai Amalia, dan akan menikahi dia!" tegas Angga meninggalkan Mamanya yang masih berdiri mematung, mencerna kata-katanya.


"Sudahlah Ma, biarkan dia pergi. Angga tidak akan bisa menemui perempuan itu!" jelas Pak Dwi yang terlihat santai.


"Maksud Papa apa?"


Angga mengendarai mobilnya seorang diri. Dia memilih tidak meminta mang Darma untuk mengantarkan dia menemui Amalia. Karena Angga berniat akan menemani Amalia lagi malam ini. Meskipun dia belum mendapat restu dari orangtuanya, tapi cintanya tak sedikitpun goyah.


Sesampainya di rumah sakit, Angga langsung menuju ruangan tempat Amalia di rawat. Di ruang Anggrek no 203 tempat Amalia di rawat tadi. Angga tidak menemukan Niko disana, Niko yang ia tugaskan untuk menjaga Amalia tidak ada di tempatnya. Perasaan Angga semakin tidak enak, di bukanya pintu kamar, dan dia begitu kecewa saat Amalia tidak ada ditangannya.


"Kemana Amalia pergi!" gumamnya panik.


Angga keluar untuk menanyakan pada dokter yang merawatnya. Angga kebetulan bertemu dengan perawat yang bertugas merawat Amalia tadi.


"Sus, dimana pasien di kamar 208 tadi?"


"Ibu Amalia sudah check out Pak, siang tadi."


"Check out?"

__ADS_1


"Iya Pak."


"Terimakasih ya Sus."


Angga melanjutkan langkahnya, Angga teringat pada Niko. Terakhir dia menitipkan Amalia pada Niko, tapi Niko tidak mengabarinya kalau Amalia sudah check out.


"Nik, kenapa kamu tidak menghubungi saya kalau Amalia sudah di bolehkah pulang oleh pihak rumah sakit!" cecar Angga saat telponnya terhubung pada Niko.


"Hmm, saya gak tahu kalau Amalia sudah keluar dari rumah sakit!" sahut Niko Jujur.


"Apa maksud kamu bilang tidak tahu, bukankah saya menugaskan kamu untuk menjaga Amalia!!" seru Angga dengan nada mulai keras.


Niko menceritakan perihal kedatangan psk Dwi dan anak buahnya ke rumah sakit. Dia juga bilang kalau Pak Dwi yang menyuruh dia untuk meninggalkan pak Dwi dengan Amalia. Setelah itu apa yang terjadi, dia tidak tahu.


"Brengsek, Papa!" Angga mematikan ponselnya.


Dengan perasaan yang memanas, dia kembali ke rumahnya untuk meminta penjelasan pada Papanya. Sampai di rumah, Angga langsung menemui papanya sedang menonton TV di ruang keluarga bersama mamanya.


"Dimana Papa sembunyikan Amalia sekarang!" gertak Angga saat sudah ada di dekat Papanya.


"Apa maksud kamu bertanya seperti itu pada Papa!"


"Papa, sekali lagi Angga tanya dimana Papa sembunyikan Amalia? katakan Pa!"


"Papa tidak menyembunyikan perempuan itu. Tapi baguslah kalau dia sadar diri pergi meninggalkan kamu. Dia memang tidak pantas ada ditengah-tengah kekurangan kita!"


Ucapan Papanya membuat Angga semdkin emosi. Dia sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Argggg, dimana kamu pergi Am!" Angga pergi meninggalkan orang tuanya. Pak Dwi dan Bu Renata tersenyum melihat rencananya berhasil.


"Kemana aku harus mencari mu, Am!"

__ADS_1


__ADS_2