
Seorang wanita yang baru saja melintas di perkebunan melon itu terhenti kala melihat seorang pria yang menggendong seorang anak kecil. Wanita itu mendekati, ternyata pria itu sosok yang pernah singgah di hidupnya dulu.
"Kak Angga," sapanya sembari tersenyum ramah pada pria itu. Angga pun menghentikan langkahnya kemudian melihat kearah wanita itu. Betapa terkejutnya dia, setelah tahu wanita itu adalah Purnama. Wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya dulu sebelum dia mengenal Dona.
"Purnama?" Wajah wanita itu berbinar saat Angga menyebut namanya.
"Kakak masih ingat denganku?" Angga diam sejenak, kemudian dia pun tersenyum pada wanita yang memakai caping di kepalanya.
"Sedikit pangling sih. Penampilan mu berubah total!" Seru Angga tak enak hati. Dia kelepasan bicara sehingga sedikit menyinggung wanita di depannya itu.
"Ayah. Ayo kita pelgi! Nanti Bunda malah!" Azka memukul-mukul lengan ayahnya, mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Iya sayang. Purnama, aku pamit dulu! Ya." Pria yang menggendong putranya itu pergi meninggalkan wanita berparas manis sendirian. Dia mengejar istrinya yang merajuk karenanya. "Azka nanti minta maaf ke Bunda ya Nak!" Azka pun mengangguk.
Amalia sudah sampai di rumahnya. Dia menuju kedapur untuk membantu bi Mina yang sedang memasak. Selang beberapa saat sebuah pelukan dari belakang mengejutkan wanita itu. Bu Mina yang mengetahui kejadian itu, menarik dirinya untuk segera pergi dari dapur. Dia tidak mau mengganggu majikannya yang sedang bermesraan itu.
"Sayang, maafin aku ya!" bisik Angga di telinga Amalia. Wanita yang sedang mencuci sayuran itu pun menghentikan aktivitasnya. Merasa terganggu dengan ulah suaminya. Amalia mencubit kecil tangan suaminya. Seketika Angga melepaskan pelukannya.
"Kok di cubit, sih!" gerutunya sembari meniup-niup tangannya yang terasa panas. Tak lama setelah itu bocah kecil yang menggemaskan itu datang. Bocah itu langsung memeluk kaki bundanya sembari berkata, "Bunda maafin Azka,ya!"
Ucapan anaknya membuat Amalia merasa bersalah. Perlakuannya terhadap anaknya tadi membuat wanita itu memasang wajah menyesal. Dia memang sudah keterlaluan. Memarahi putranya di depan suaminya. Amalia langsung berjongkok dan memeluk putranya. "Bunda yang minta maaf ya, sayang. Bunda gak bermaksud marahi Azka." Pria yang berdiri di belakangnya tampak tersenyum lega. Hubungan ibu dan anak itu akhirnya membaik lagi.
"Bunda gak malah lagi, kan! Sama Azka?" Amalia kemudian tersenyum pada anaknya.
"Nggak dong sayang! Kita sarapan Yuk," ajak Amalia pada anaknya. Angga langsung mendekati kearah mereka berdua.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya menuju ke meja makan. Tidak banyak makanan yang tersaji di meja makan pagi ini. Hanya ada tiga gelas susu dan roti beserta selainya. Setelah sarapan bersama, Angga memandikan anaknya. Sementara Amalia membereskan bekas mereka sarapan tadi.
Selepas mandikan anaknya. Kali ini Angga yang membersihkan dirinya. Badannya terasa gerah setelah berolahraga pagi tadi. Dengan memakai celana jeans dan kaos lengan panjang, Angga turun menemui anaknya yang sedang bermain dengan Bu Mina. Bundanya masih ada di dapur.
Melihat suami dan anaknya sudah rapi. Wanita muda beranak satu itu pun mendekat. "hmmm.. pada mau kemana ini?" Melihat istrinya mendekat membuat Angga merangkul pundak istrinya itu.
"Bunda ikut jalan-jalan gak? Aku mau ajak kalian ke kebun melon yang udah siap panen. Jadi nanti biar bisa merekam buah melon khas perkebunan disini," ujar Angga membuat bocah yang memakai setelan celana kodok dan kaos lengan pendek itu melonjak kegirangan.
"Yeaaaa. Kita cari buah melon." Azka memang sangat menyukai bush itu. Semenjak baru keluar giginya, bocah itu sering di beri cemilan buah itu. Karena itu, dia begitu terpana melihat perkebunan melon yang berada tak jauh dari rumahnya yang sekarang.
"Ya udah, aku siap-siap dulu ya sayang." Amalia beranjak dari duduknya kemudian menuju kamarnya. Azka dan Angga melanjutkan lagi nonton kartunya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk ibu muda itu menyiapkan diri. Dengan memakai celana panjang berbahan katun hijab, dan setelan kemeja setengah lengan membuat wanita itu sedikit lebih muda dari usianya. Membuat suami yang memandangnya tak bisa mengedipkan matanya.
"Subhanallah sayang. Kamu cantik banget sih. Istri siapa sih! Ini." Angga mencubit gemas pipi istrinya membuat anaknya menjingkrak kegirangan.
"Bunda cantik banget," puji putranya membuat ibu muda itu semakin tersipu malu.
"Anak dan Ayah pinter banget gombalnya. Ayok kota berangkat sekarang. Nanti keburu panas!" Amalia segera menggandeng dia pria di sampingnya itu. Itu dia lakukan agar mereka cepat beranjak dari tempat itu.
Dengan mengendarai mobilnya. Mereka sampai di perkebunan milik tuan Takur. Perkebunan itu adalah milik pribadi bukan di kelola oleh sebuah perusahaan. Luas perkebunan itu mencapai 500 hektar, dan semua ditanami dengan buah melon. Hanya saja bertahap waktu panennya.
Mereka turun di sebuah lahan parkir untuk pengunjung yang ingin langsung datang ke perkebunan itu. Bukan cuma sebuah perkebunan biasa, tapi tempat itu dijadikan wisata argo oleh pemiliknya. Di hari kerja seperti ini tidak terlalu banyak pengunjung. Apalagi mengingat hari masih terlalu pagi untuk datang ke wisata perkebunan melon itu.
Mereka berjalan ditengah-tengah pohon melon yang masih kecil-kecil. Karena mereka harus masuk kedalam untuk menuju ketempat perkebunan melon yang siap panen. Dengan diantar oleh pekerja disana, Mereka sampai juga di tempat.
__ADS_1
Mereka berhenti di sebuah pondok yang tidak terlalu besar, yang sekelilingnya di penuhi buah-buah melon yang sudah siap panen.
"Buahnya becal-becal ya Bun," celoteh anak itu melihat kagum buah melon dihadapannya.
"Iya sayang. Sekarang Azka pilih yang mana yang mau di bawa pulang," sahut Angga mengejek Azka mendekat ke pohon melon itu.
"Azka mau di makan cekalang Ayah," pinta anak itu. Sesuai keinginan anaknya, Angga memetik buah melon yang paling besar disana. Setelah itu membawanya kembali ke pondok itu. Angga membukanya dengan pisau yang memang sudah disediakan pemiliknya. Angga memotong melon itu menjadi beberapa bagian. Azka sudah tidak sabar ingin mencicipinya.
"Ayah mau... Mau..." Azka mengambil satu bagian lalu di makannya buah melon itu kedalam mulutnya. Setelah mengetahui rasanya. Azka menjadi ketagihan ingin mencicipinya lagi. Pun demikian dengan kedua orangtuanya. Mereka juga sama, seperti ketagihan makan buah itu. Lagi dan lagi. Hingga tidak disadari mereka bertiga hampir menghabiskan satu buah melon yang berukuran lumayan besar.
"Ini benar-benar manis dan segar ya sayang buahnya. Gak sia-sia kita kesini ya, sayang." Ditengah kebersamaan mereka seorang gadis yang bertemu Angga tadi mendekat kearahnya.
"Kak Angga, disini juga?" tanya Purnama saat sudah ada ditengah-tengah mereka bertiga.
"Iya. Kita kesini karena ingin memetik langsung buah melon dari pohonnya," jawab Angga tersenyum ramah pada Purnama.
"Oh iya Kak, mereka ini siapa?" Tanya Purnama lagi. Wanita muda itu sepertinya ingin mengorek-ngorek informasi mengenai mantannya itu.
"Oh iya kenalkan. Mereka ini istri dan anak aku." Angga memperkenalkan keluarga kecilnya itu dengan mantannya.
"Amalia." Ibu muda itu mengulurkan tangannya pada wanita yang ada didepannya.
"Purnama, aku mantannya Kak Angga."
To be continued
__ADS_1