Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Pengakuan pak Dwi


__ADS_3

"Bapak, yakin gak ada yang ngikutin Bapak?" tanya Niko.


Angga sejenak mengingat-ngingat kejadian saat dia akan masuk ke lift. Dia memang sedikit curiga, ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya. Tapi kecurigaannya itu di tepis oleh saat dia tidak melihat siapa-siapa di tempat itu.


"Saya yakin, gak ada orang yang mengikuti saya," jawab Angga dengan penuh keyakinan.


Suara bel terdengar lagi. Niko mengangkat tubuhnya dari sofa tempat duduknya dan berjalan menuju pintu masuk apartemennya. Sebelum membuka pintunya, dia mengintip dulu lewat monitor yang menghubungkan Cctv di depan apartemennya. Dia sempat syok, saat mengetahui Pak Dwi yang berdiri di depan pintu apartemennya. Niko memegangi keningnya, karena bingung harus berbuat apa.


"Siapa, Nik?" Suara Angga memecah kebingungannya. Angga sudah berada di belakangnya. Dia juga melihat di layar monitor itu, kalau papanya lah yang mengikutinya.


"Papa!"


"Gimana, Pak Angga. Apa saya harus membuka pintunya?"


"Buka saja. Mungkin sudah saatnya Papa tahu keberadaannya." Perintah dari bos-nya langsung di kerjakan oleh Niko. Sementara Angga, kembali di tempat duduknya.


Perlahan dia membuka pintunya, Pak Dwi yang sudah berada di ambang pintu langsung masuk tanpa izin dari Niko.


"Mana Angga?" tanyanya pada Niko. Sesaat pandangannya menangkap sosok yang ia cari. Tapi dia begitu kaget saat melihat anaknya duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Tanpa menunggu lama lagi, pak Dwi menghampiri Angga. Dengan banyak pertanyaan membuncah di kepalanya.


"Angga!! kamu memang tidak pernah berubah!!! Bisa-bisanya kamu menyembunyikan wanita lain di sini! Sementara istri dan anakmu mengkhawatirkan mu semalam. Jadi ini alasannya, ponsel kamu gak bisa dihubungi, pulang terlambat," bentaknya. Angga hanya mengerutkan keningnya, dia bingung dengan apa yang diucapkan Papanya.


"Papa tenang dulu. Angga akan jelaskan semuanya!!" Angga mencoba menenangkan papanya yang mengira dia berselingkuh dengan Santika.

__ADS_1


"Dan kamu. Apa kamu nggak tahu, kalau dia sudah mempunyai istri dan anak!!!" Pak Dwi sudah tersulut emosi, sehingga dia tidak mau mendengarkan kata-kata anaknya. Dia justru mengatai, wanita yang duduk di sebelah Angga. Sementara Santika, dia juga terlihat bingung dan ketakutan melihat kemarahan pria yang berdiri di depannya.


"Pa, Papa jangan emosi. Angga bisa jelasin semuanya. Papa duduk dulu!" Angga bangkit dari duduknya, dan mendekati papanya. Menuntun pak Dwi untuk duduk di sofa dan bicara baik-baik. Setelah Pak Dwi duduk, dan sedikit lebih tenang. Angga membuka suara.


"Wanita ini adalah saksi kunci pembunuhan kak Adi." Amarah pak Dwi seketika memudar saat Angga mengatakan yang sebenarnya.


Angga menceritakan kejadian demi kejadian saat pembunuhan itu terjadi. Dia juga mengatakan kalau sudah menyelediki kasus itu sehingga nyawanya terancam. Pak Dwi benar-benar syok mendengar pengakuan dari Santika. Sekelebat perasaan bersalah menyelimuti dirinya.


Karena ada sebuah rahasia yang tidak di ketahui oleh Angga. Rahasia itu yang memberatkan Delon sehingga di vonis hukuman 15 tahun penjara. Dia tidak pernah menyangka, kalau dia salah menangkap orang.


Melihat papanya diam. Membuat Angga sedikit gusar. Dia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh papanya. Sehingga membisu seribu bahasa, saat mengetahui kebenaran itu.


Angga hanya memberitahu tentang kebenaran tentang kasus pembunuhan itu. Dia belum sanggup menceritakan kalau Delon adalah kakak dari istrinya. Dia masih merahasiakan hal itu. Setelah pelakunya tertangkap, dia akan memberitahu pada semuanya. Termasuk istrinya, Amalia.


"Pa, apa yang Papa pikiran?" tanya Angga membuyarkan lamunan papanya.


"Ngga, Papa...." Pak Dwi tak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa, Pa? Apa Papa mengetahui sesuatu?" cecar Angga yang mulai sedikit menaruh curiga pada papanya. Terlihat jelas di wajah pak Dwi, kalau dia sedang gusar.


"Papa... melakukan kesalahan yang fatal. Tentang kasus itu...sehingga Delon di vonis hukuman 15tahun penjara," ungkap pak Dwi dengan terbata-bata.


"Apa yang Papa lakukan?" tanya Angga, yang mulai diliputi perasaan takut.

__ADS_1


Angga takut kalau yang dilakukan itu adalah kelicikan papanya. Angga sangat mengenal pak Dwi, dia adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Pak Dwi mulai menceritakan tentang kelicikannya.


Begitu tahu yang membunuh putranya adalah anak dari saingannya. Pak Dwi memiliki rencana licik, agar saingannya itu semakin terpuruk saat anaknya di vonis lama di penjara. Dia yang meminta Kevin untuk pergi dari tempat tinggalnya, sehingga pak Sapta tidak bisa menemukan saksi utama pembunuhan itu. Selain itu, pak Dwi juga yang membawa saksi palsu, hingga memberatkan terdakwa. Dengan pengakuan dari saksi itu. Delon memang sudah menyiapkan gudang itu untuk membunuh Adi. Saksi yang di bayar pak Dwi adalah salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari tempat kejadian.


Angga yang mendengar itu, mengelap mukanya kasar. Dia memukul-mukul kepalanya. Begitu banyak rintangan yang akan di hadapannya nanti. Setelah ini, apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya?


"Papa tahu nggak? Itu kriminal!!! Papa bisa dituntut balik oleh mereka!! Astaghfirullahalladzim, Pa!" racau Angga frustasi. Lagi-lagi dia ada di tempat yang menyudutkan dirinya.


"Maafkan Papa, Ngga. Papa gak nyangka, kalau bukan dia pelakunya," sesal Pak Dwi tidak berani menatap wajah putranya.


"Biarkan itu menjadi urusan Angga. Tapi, Papa harus menyembunyikan ini dari Amalia dulu. Jangan sampai Papa membahas itu di depan dia," pinta Angga pada papanya.


"Sekarang Papa pulang aja, dulu. Angga akan ke kantor polisi, mengantarkan Santika untuk membuat pengakuan. Angga takut mama khawatir dengan Papa!" lanjut Angga.


Pak Dwi mengikuti saran putranya untuk pulang ke rumah. Dan menyerahkan semuanya pada Angga. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, dia menyesali perbuatannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kalau pun dia harus di hukum atas kesalahannya, Pak Dwi harus menerimanya. Karena itu termasuk konsekuensi dari perbuatannya.


Angga berharap tidak ada lagi kebohongan-kebohongan dari papanya yang akan mengancam hubungannya dengan Amalia. Dia tidak akan sanggup, jika berpisah dari wanita itu. Sudah terlalu banyak rintangan yang menghadang hubungan dia dan istrinya.


Sepeninggal Pak Dwi, Angga mengantar Santika ke kantor polisi untuk membuat pengakuan. Dia juga akan menjamin kalau wanita itu tidak akan di tahan, karena sudah membuat pengakuan palsu di persidangan waktu itu.


Dengan di dampingi pengacaranya. Angga dan Santika sampai juga di kantor polisi yang berada di Jakarta pusat. Santika mengatakan semuanya yang ia lihat waktu kejadian itu. Polisi bisa menyimpulkan, kalau Delon tidak bersalah atas kasus pembunuhan Adipati Dwipangga. Dengan bersamaan, Delon bisa di bebaskan saat itu juga.

__ADS_1


Untuk Santika, dia memang tidak di tahan. Karena pengacara Santika yang menjaminnya dan dari situ, polisi akan melakukan penangkapan Valentino dan teman-temannya yang terlibat dalam pembunuhan itu.


To be continued...


__ADS_2