Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Dingin


__ADS_3

Lelah menunggu suaminya, namun tak kunjung kembali ke kamar. Amalia memutuskan untuk menyusul suaminya di ruang kerjanya. Dia masih tidak mengerti, apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Mas, apa kamu masih didalam?" tanya wanita itu sembari mengetuk pintu.


Mendengar istrinya datang keruang kerjanya. Angga langsung menemui Amalia.


"Iya, sayang!" balas Angga saat dia sudah keluar dari ruangan itu.


"Kamu kenapa Mas, kok gak balik ke kamar lagi?" Wanita itu kembali bertanya.


"Aku sedang mengecek beberapa dokumen penting," ucap Angga berbohong. "Apa Azka masih tidur?" Angga bertanya tentang anaknya pada wanita yang berdiri disampingnya.


"Iya Mas, kita makan siang duluan aja. Nanti biar aku yang suapin Azka, kalau dia sudah bangun," ajak wanita itu menggandeng tangan Angga. Tapi, Angga melepaskan genggaman tangan istrinya sembari berkata,


"kamu duluan aja. Nanti aku nyusul." Amalia sangat syok dengar perlakuan suaminya saat itu. Pria itu bersikap dingin padanya. Tak ingin banyak bertanya, akhirnya Amalia menuruti kemauan suaminya untuk lebih dulu ke meja makan.


Di meja makan, sudah ada mertuanya yang memang sedang menunggu kehadiran mereka. Tapi saat menyadari Amalia datang seorang diri, mereka langsung mencecar pertanyaan pada wanita itu.


"Sayang, mana suamimu? Kok gak diajak sekalian bareng kesini?" Bu Renata menatap kearah menantunya. Sementara Amalia bingung harus menjawab apa.


"Iya Ma, katanya masih ada kerjaan sedikit yang harus di selesaikan. Tadi Amalia udah keruang kerjanya, tapi katanya disuruh duluan," jelas Amalia pada kedua mertuanya itu.


Bu Renata merasa aneh dengan sikap Angga. Dia tidak seperti biasanya, melewatkan makan siangnya hanya karena pekerjaan.


Tak lama setelah itu, orang sedang mereka bicarakan turun dari lantai atas. Tapi tidak ada senyuman seperti biasa dilakukan Angga pada istrinya. Dia bersikap datar pada Amalia. Bahkan dia tidak menyapa wanita yang ada disebelahnya.


"Ngga, kamu udah bicara dengan istrimu tentang rencana Mamamu?" Pak Dwi yang bertanya pada anaknya.


"Rencana apa, sayang? Kok kamu nggak ngomong sama aku?" Angga terlihat tidak menanggapi pertanyaan keduanya, dia justru sibuk mengambil makanan di atas meja.

__ADS_1


"Itu, Lo sayang. Mama rencananya mau buat acara resepsi pernikahan kalian. Kamu gak keberatan, kan?" sahut Bu Renata menatap kearah menantunya. Amalia sedikit syok dengan rencana ibu mertuanya itu. Tapi dia juga tidak punya alasan untuk menolak rencana itu.


"Untuk saat ini, lebih baik jangan dulu, Ma. Angga masih banyak kerjaan di kantor," sergah Angga yang terlihat tidak setuju dengan rencana mamanya.


Dia sendiri pun masih bingung, apa yang sekarang menjadi keraguannya untuk tidak setuju dengan rencana itu. Apa takut kalau orangtuanya mengetahui keluarga istrinya. Atau dia mulai ragu dengan perasaannya.


"Kenapa Ngga? Kemarin-kemarin juga kamu tinggalkan pekerjaan kamu beberapa bulan. Kamu nggak keberatan. Ini cuma dua hari, kamu keberatan. Kamu ini kenapa, Ngga?" Merasa ada yang aneh dengan anaknya, pak Dwi mengambil sikap.


"Iya, sayang! Kamu nggak usah menolak rencana Nama. Mama udah persiapkan semuanya. Kalian hanya tinggal nurut ke Mama. Ok!" sambung Bu Renata menengahi perdebatan anak dan papanya itu.


Amalia semakin bersedih dengan sikap suaminya. Dia merasa ada yang salah dengan suaminya. Tapi dia juga tidak tahu apa. Suasana semakin dingin, karena tidak ada obrolan dari mereka berempat. Sampai Azka datang ke meja makan. Anak itu bangun sendiri dari tidurnya dan mencari keberadaan orangtuanya.


"Ayah, Bunda. Azka kok gak bangunin?" Andi itu langsung nemplok ke bundanya. Amalia langsung memangku anaknya.


"Maaf sayang. Bunda gak tega bangunin, Azka. Sekarang kita cuci muka dulu, ya!" Azka menggagguk, kemudian Amelia menggendong Azka dan membawanya ke kamar mandi bawah. Dengan telaten, dia mencuci muka anaknya. Pikirannya menelisik kearah sikap dingin suaminya. Membuat ibu muda itu terlihat murung. Bocah itu menyadari kalau bundanya sedang bersedih, lalu dia bertanya ke Bundanya.


"Bunda nggak sedih, kok. Udah yuk, kita kembali lagi ke meja makan!" ajak Amalia, tapi sekarang Azka tidak di gendongnya. Karena anak itu berlari duluan menuju ke meja makan.


Saat sudah kembali disana, ternyata suaminya tidak lagi ada di sana. Membuat anda itu mencari keberadaan ayahnya.


"Mana ayah?" tanyanya mengarah ke kakek dan neneknya, sembari mencari-cari keberadaan Angga.


"Ayah udah duluan ke kamar, katanya mau bobo siang. Capek, Azka makan sama bunda aja, ya. Nenek juga mau kekamar," jelas Bu Renata membuat wajah Azka ikut sedih. Melihat hal itu, Amalia langsung menghibur putranya.


"Sayang kita makannya sambil lihat ikan, yuk!" Anak itu terlihat girang lagi, dia langsung menggagguk dan bersorak.


"Yeah, ikannya Kakek. Di sana banyak, Bun."


"Iya, yuk!" Amalia menarik tangannya Azka pelan untuk mengajaknya ke kolam ikan, yang terhubung dengan ruang makan. Setelah mengambil makanan.

__ADS_1


Sementara di kamar, Angga masih terlihat gelisah. Pikirannya terpecah menjadi dua. Antara benci dan cinta. Benci kepada siapa? Dia benci dengan takdirnya yang seakan mempermainkan dia. Cinta, dia sangat mencintai keluarga kecilnya. Tapi, tidak bisa di pungkiri, kalau dia sedikit kecewa saat mengetahui kebenaran Amalia adalah adik dari pembunuh kakaknya.


Dia berdiri di dekat jendela memandang ke arah luar. Mencari jawaban atas pertanyaan yang membelenggu di hatinya.


"Apa yang aku lakukan pada Amalia, aku sudah melukai hatinya," gumamnya.


"Tapi, bagaimana jika kebenaran itu juga akan diketahui papa dan mama. Apa mereka masih mau menerima Amalia sebagai menantunya? Ya Tuhan. Ini terlalu berat bagiku," racaunya sembari meninju-ninju kaca jendelanya pelan.


"Aku harus melakukan sesuatu, aku akan menyelidiki kasus itu lagi. Bukannya tadi Amalia bilang, kalau Delon bukanlah pelakunya. Tapi siapa?" Dia mengambil ponselnya dan tampak menghubungi seseorang.


"Kamu cari tahu orang ini!" Perintahnya pada seseorang di seberang sana. Selang berapa lama, dia mengirim beberapa foto ke nomor orang yang barusan ia telpon.


Setelah itu dia kembali keruang kerjanya. Untuk mencari tahu, siapa Delon Saptaradja itu. Apakah dia mengenal kakaknya, sehingga dia berada disana saat kejadian itu terjadi.


Beberapa petunjuk dia dapatkan dari sana. Dan memang benar mereka satu kampus dan satu jurusan. Jelas mereka saling kenal. Yang memperkuat dugaannya kalau Delon adalah pelakunya adalah mereka berdua pernah terlibat baku hantam karena merebutkan seorang primadona di kampus itu.


Informasi itu dia dapatkan dari beberapa aku media sosialnya Adipati, kakaknya. Dia melihat di chat pribadinya, kalau mereka saling bermusuhan. Saling mengumpat dan saling membenci.


Di buka lagi, artikel pemberitaan tentang tawuran yang meregang nyawa kakaknya. Disitu tertulis, dua gerombolan saling menyerang tapi beda kampus. Sekarang Angga menjadi ragu, kalau Delon lah yang membunuh kakaknya. Tapi kenapa orang itu ada di tempat kejadian? Itu yang masih menjadi pertanyaan di benaknya.


"Ngga!!" seru pak Dwi membuat Angga melonjak kaget.


"Papa!!"


"Dari tadi Papa panggil kamu, gak dengar juga. Kamu lagi ngapain?" Pak Dwi mendekat kearah Angga melihat apa yang sedang di kerjakan oleh anaknya.


"Kenapa kamu, membuka artikel itu lagi?"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2