
Santika tak lantas menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sedang bersamanya. Wajahnya ia palingkan, melihat ke sembarangan arah. Mimik wajahnya pun seperti seorang yang sedang tertekan, tubuhnya gemetaran. Setelah mendengar pertanyaan dari Angga.
"Santika, kamu tidak perlu takut untuk berkata jujur. Apakah benar orang yang kamu maksud adalah Adipati Dwipangga?" ulang Angga, memegang tangan wanita itu. Tangannya terlihat basah akibat keringat yang mulai muncul di sana.
Perlahan dia palingkan wajahnya menghadap Angga. Sedikit demi sedikit dia kumpulkan keberanian untuk bertanya pada laki-laki yang masih memegang tangannya. Setelah sedikit terkumpul keberaniannya, Wanita itu pun bersuara.
"Dari-mana kamu tahu tentang itu?" tanyanya dengan nada berat. Dia masih diliputi dengan rasa ketakutan yang menyerang dirinya.
"Adipati adalah kakak saya!" jawab Angga. Lagi-lagi jawabannya membuat wanita itu terkejut.
"Kakak?" ulang Santika.
"Iya."
"Sekarang lebih baik kamu berkata jujur pada saya. Apa yang kamu lihat disana, siapa yang membunuh kakakku?" Angga mulai mencecar pertanyaan ke Santika.
"Sepertinya kamu ketakutan. Apa ada yang mengancammu?" Pertanyaan itu membuat wanita bermata coklat itu memandang ke wajah Angga.
Ingin dia ingin mengatakan semuanya. Mungkin sudah saatnya kebenaran itu terungkap. Dia sudah lelah setiap malam dihantui rasa bersalah. Di dalam sikapnya yang tegas memimpin perusahaan, wanita cantik itu menyimpan ketakutan jika di malam hari. Terkadang dia tidak ingin memejamkan matanya, karena setiap dia memejamkan matanya dia selalu dihantui peristiwa itu.
"Saya...saya...takut.. takut.." Ketakutan itu muncul lagi, saat dia ingin membongkar semuanya.
"Kamu tenang, saya akan melindungi kamu. Sekarang katakan, apa yang kamu lihat di-sana." Angga kembali menenangkan wanita itu yang sudah mulai tidak terkendali.
Wajahnya tiba-tiba memucat. Butir-butir keringat pun muncul di sekitar wajahnya.
"Kamu tenang!! tenang!! lihat saya, tatap mata saya. Kamu jangan takut, saya akan melindungi kamu. Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Angga memindahkan tangannya ke bahu wanita itu, dan menatap penuh keyakinan pada Santika. Agar wanita yang bertubuh tinggi itu bisa lebih tenang.
Santika menghelakan nafasnya di udara. Setelah merasa ada celah di rongga-rongga dadanya. Dia mulai bercerita.
"Valentino, dia pembunuhnya!!" Satu kalimat keluar dari bibir wanita itu. Angga mencoba menetralkan dirinya untuk tidak terbawa emosi. Dirasa sudah bisa mengendalikan dirinya, Angga meminta pada wanita itu untuk melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Santika menceritakan kejadian tawuran itu. Berawal dari kesalahpahaman kejadian itu terjadi.
Santika adalah kekasih dari Valentino. Tapi dia tidak pernah mencintai pria itu. Karena sifat arogan nya yang membuat wanita itu berpaling. Apalagi sejak bertemu dengan Adipati. Wanita itu mengangguminya. Beberapa kali dia minta putus dari pacarnya, tapi tidak pernah berhasil. Hingga suatu ketika pacarnya memergoki Santika bersama dengan Adipati.
Bukan disengaja mereka bertemu. Tapi Valentino mengira mereka sedang jalan bareng. Hingga disana awal mula perkelahian mereka.
Ternyata tak cukup di sana. Valentino semakin berbuat gila. Bahkan dia mengroyok Adipati bersama teman-temannya. Merasa tidak terima temannya babak belur, sahabat-sahabat Adipati membalas perbuatan mereka.
Perkelahian mereka memuncak saat Adipati melihat Santika diperlakukan tidak senonoh oleh Valentino.
Santika dibawa di gudang, tempat terjadinya pembunuhan itu. Di sana, Valentino mencoba menodai Santika. Beruntung, Adipati mengikuti mereka. Dia bisa mencegah perbuatan Adipati.
Disaat itulah perkelahian meregang nyawa itu berasal. Tak hanya mereka berdua. Tapi rekan-rekannya pun sama. Sampai akhirnya, pisau itu ditancapkan oleh Valentino di perut Adipati. Hingga Adipati tewas di tempat.
Menyadari hal itu, Valentino langsung menghampiri Santika. Dia mengancam akan menghabisi orangtuanya, kalau sampai dia cerita pada polisi.
Agar tidak di curigai oleh polisi. Valentino menyusun rencana. Agar dia terbebas dari tuduhan itu. Adipati memang sedang ada masalah dengan Delon. Dan dia tahu saat mereka terlibat baku hantam di parkiran kampus. Karena itu dia mengkambing hitamkan Delon sebagai pelakunya. Dan menyeret Santika dari tempat itu.
"Kenapa kamu membuat kesaksian palsu. Kalau Delon lah pelakunya?" tanya pria yang mulai tersulut emosi. Tapi masih bisa ia kontrol.
"Malam itu, setelah kejadian yang menewaskan Adi. Valentino datang ke rumah. Dia mengancam saya, akan memberhentikan papa saya dari pekerjaannya."
Papanya Santika adalah pegawai di perusahaan besar milik David, papa dari Valentino. Sementara semua keluarganya bergantung dari papanya. Sehingga dia harus menutup mulut, agar keluarganya bisa selamat dari ancaman Valentino.
Kejadian itu bukan hanya Santika yang tahu, tapi Kevin, teman Adipati dia juga menyaksikan kejadian itu. Karena Kevin diajak oleh Adipati ke tempat itu.
"Jadi itu bukan tawuran?"
"Bukan."
Dari awal Angga sudah bisa menebak. Kalau yang membunuh kakaknya adalah Valentino. Sejak Delon menceritakan kronologi kejadiannya.
__ADS_1
"Sekarang, kamu harus ikut saya!" Angga menarik tangan Santika.
"Kema-na?" tanya Santika gugup.
"Ke kantor polisi, kemana lagi!" seru Angga sedikit menaikan nada bicaranya.
"Tidak! saya tidak mau. Saya takut, kalau saya di penjara!!!" tolak wanita itu, menarik pergelangan tangannya dari genggaman tangan Angga.
"Saya bisa menjamin, kamu tidak akan di penjara. Kita harus bebaskan Delon. Dia tidak bersalah, dan karena kesaksian palsu kamu. Dia mendekam di penjara, atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan." Wanita itu tampak sedang berfikir, sejurus kemudian dia mengangguk. Bersedia mengatakan kesaksiannya untuk membebaskan Delon.
"Baik!! saya akan ikut!!" Mereka berdua meninggalkan tempat itu menuju ke lapas, yang berada di Jakarta pusat.
"Kamu naik mobil, saya!!" perintah Angga pada Santika. Dan wanita itupun menurutinya.
Setelah masuk kedalam mobil. Angga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar untuk membebaskan kakak iparnya dari tahanan. Dan melaporkan pelaku aslinya.
Angga memilih mencari jalan pintas, agar bisa cepat sampai tujuan. Saat dia sedang fokus menyetir, dia memperhatikan ada sebuah mobil yang membuntutinya. Angga langsung mengambil tindakan, dia menghubungi assistennya untuk mencari bantuan.
Dan benar saja, mobil itu memang mengincar dirinya. Selang beberapa saat, sebuah tembakan mengenai tepat ban belakang mobil Angga . Sehingga mobilnya hilang kendali, dan hampir menabrak pohon besar. Beruntung mobil itu berhenti tepat waktu.
Selang beberapa saat, tiga pria berpostur tinggi besar berjalan kearah mobilnya. Menggedor-gedor kaca mobil Angga. Membuat Santika ketakutan.
"Jangan panik, kita pasti akan selamat!" ujar Angga menenangkan wanita itu.
"Kamu tunggu saja di dalam. Biar saya yang keluar dari sini. Dan satu lagi. Jangan keluar dari mobil ini, sebelum saya perintahkan." Angga mengintruksikan pada Santika, agar mereka berdua bisa selamat dari orang-orang itu.
Angga kemudian turun dari mobil itu. Dia sudah dulu di sambut dengan pria berkepala plontos. Satu pukulan dari pria itu, tapi masih bisa di tepis oleh Angga.
Hingga suara tembakan membuyarkan konsentrasi Angga...
To be continued
__ADS_1