Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Kecurigaan Pak Dwi


__ADS_3

"Iya, Pa! Emangnya kenapa, Pa?" Angga bisa melihat dari mimik wajah papanya, kalau Pak Dwi tidak mempercayai-nya.


"Papa hanya merasa aneh saja. Kamu di rampok, tapi handphone dan tas, dompet kamu tidak di ambilnya," jelas pria yang memiliki tahi lalat di dekat hidungnya.


"Oh... itu karena, mereka cuma mengincar mobil Angga, aja!" kilah Angga sedikit gugup menjawab pertanyaan Papanya.


"Udah deh Pa. Papa ini seperti Intel yang sedang mengintrogasi penjahat aja," sahut Bu Renata melihat kearah suaminya.


"Ya udah, sayang. Bawa suamimu ke kamar. Biar bisa istirahat," lanjut Bu Renata beralih memandang menantunya.


"I-ya Ma!" jawab Amalia.


Wanita berambut sebahu itu membantu suaminya untuk berdiri, setelah itu memapahnya untuk berjalan menuju ke kamarnya. Sebenarnya pria itu masih bisa untuk sekedar jalan sendiri. Tapi, dengan begitu dia bisa bermanja-manja dengan istrinya.


Setelah sampai di kamar. Amalia membukakan sepatu suaminya. Tapi di tolak oleh pria yang sudah duduk di ranjang.


"Nggak perlu, sayang. Aku bisa sendiri. Kamu siapkan aja pakaian ganti untukku." Amalia tersenyum melihat suaminya yang begitu menghargainya. Bergegas dia mengambil barang yang di perintahkan suaminya. Tak lupa juga, mengambil handuk yang tersampir di tempat jemuran dari besi yang ada di kamar itu. Dan memberikannya pada suaminya.


"Aku mandi dulu, ya!" seru Angga berlalu menuju ke kamar mandi.


Sembari menunggu suaminya mandi. Amalia membereskan tas kerja, dan meletakkan sepatu suaminya di rak sepatu. Sesaat setelah itu, handphone suaminya berdering. Nada suaranya mengusik telinganya. Kemudian, wanita dia mendekat untuk sekedar ingin tahu siapa yang menelpon suaminya. Tapi saat dia melihat di layar handphone itu, ada tulisan nama Angel. Amalia mengerinyitkan dahinya. Tak ingin mengusik privasi suaminya, dia tidak mengangkat telpon dari Angel.


Angga sudah selesai dengan mandinya. Pria itu kemudian keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Seraya mengeringkan rambut yang masih terlihat basah, pria itu berjalan mendekati istrinya.


Menyadari suaminya sudah keluar dari kamar mandi. Amalia, memberitahu pada Angga kalau Angel menelponya.


"Sayang. Angel telpon, barusan." Angga tak begitu menanggapi ucapan istrinya. Dia memilih untuk menyampirkan handuk di tempatnya. Setelah itu dia merangkul istrinya dari belakang.


"Sayang, aku ngomong Lo sama kamu. Kok gak di tanggepin, sih!" Amalia sedikit kesal karena ucapannya tidak ditanggapi oleh suaminya.


"Untuk apa, wanita ular itu menelpon ku?" Angga menciumi rambut istrinya.


"Ya mana aku tahu! Kangen kali," sungut Amalia.


Angga menghadapkan tubuh istrinya di hadapannya. Dia bisa melihat wajah istrinya sedang cemberut. Dan itu lucu menurutnya. Pria itu kemudian mengangkat dagu wanita dihadapannya, seraya berucap, "sayang, kamu lucu kalau lagi cemberut!" Amalia langsung mencubit lengan Angga.


"Aughhh sakit, sayang. Nakal banget, sih!"


"Lagian, aku sebel. Wanita itu kenapa menelpon kamu. Apa kalian ada..." Amalia tak melanjutkan kata-katanya, dan bermain dengan pikirannya.


"Kamu mikir apa? Biarkan saja, wanita itu menelpon ku. Aku gak ada urusan dengan dia," ucap Angga yang mulai menyadari Amalia mencurigainya. Angga kemudian mendaratkan bokongnya di ranjang.


"Aku ada berita gembira, buat kamu." Kalimat Angga seketika merubah wajah istrinya. Yang tadinya, kesal menjadi penasaran.


"Apa, sayang?" Amalia mulai mendekati Angga.


"Sini, dulu!" perintah Angga sembari menunjuk pahanya, agar Amalia bisa duduk di sana.


"Modus," sarkas Amalia.

__ADS_1


"Bukan modus, sayang!" elak Angga.


"Terus..." salak Amalia.


"Usaha!!" Mereka berdua tergelak.


Amalia kemudian mendaratkan bokongnya di kedua paha suaminya. Sementara Angga, dia lingkarkan tangannya di pinggang Amalia sembari menciumi tengkuk leher istrinya.


"Sayang, katanya mau ngomong. Kok malah mesum gini, sih!" seloroh Amalia yang mulai tidak nyaman dengan perbuatan suaminya.


"Hmmm, habisnya kamu itu candu. Candu yang mampu membuat aku ingin lagi, lagi, dan lagi..." Bertubi-tubi Angga menciumi tengkuk leher istrinya. Membuat wanita itu merinding.


"Ihhh... Mesum..."


"Nggak apalah, mesum dengan istrinya!"


"Ya udah cepetan cerita."


Angga mulai terlihat serius. Sembari menopangkan dagunya di pundak istrinya. Dia mulai bercerita.


"Aku udah berhasil menemukan pelakunya!" Kalimat Angga mampu membuat terkejut wanita yang berada di pangkuannya.


"Serius, sayang? Itu artinya, kak Delon akan segera bebas?" tanya Amalia tak percaya.


"Iya sayang. Aku udah berhasil membuat Santika mengakui, siapa pembunuhnya."


Amalia terlihat sangat senang. Dia tidak menyangka kalau suaminya benar-benar membantu agar kakaknya terbebas dari tuduhan itu.


"Harusnya, malam ini kak Delon sudah bisa bebas. Tapi keadaan Santika belum memungkinkan untuk membuat pengakuan di kantor polisi," jelas Angga, membuat Amalia memalingkan wajahnya kearah suaminya.


"Hmmm berarti yang kamu katakan di depan tadi bohong?" Angga mengangguk.


"Kenapa sayang? Apa kamu malu, kalau papa tahu kakakku seorang napi. Jadi, kamu tidak menceritakan itu pada Papa." Amalia terlihat murung.


kamu salah, sayang. Seandainya kamu tahu orang yang menjebloskan kakakmu adalah Papa. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu membenci aku dan papaku." Batin Angga.


Melihat suaminya diam. Amalia membenarkan pikirannya sendiri. Perlahan dia mengangkat tubuhnya dari pangkuan suaminya. Sesaat kemudian, Angga menariknya. Hingga Amalia masih duduk di pangkuannya.


"Bukan itu alasannya, sayang. Maaf aku belum bisa menceritakan hal itu sekarang. Nanti aku akan ceritakan kalau waktunya sudah tepat. Aku harap kamu mau mengerti." Amalia diam tak bersuara. Dia masih mencerna kata demi kata yang diucapkan suaminya. Dapat dia simpulkan, kalau Angga mempunyai rahasia yang belum bisa di ceritakan padanya.


"Sekarang kita istirahat, ya! Besok pagi-pagi aku akan membawa Santika untuk membuat pengakuan di kantor polisi. Agar kak Delon bisa segera bebas. Dan pelakunya bisa segera di tangkap," ucap Anggap, dan di turuti oleh Amalia.


Walaupun dia belum puas dengan jawaban Angga. Dia mencoba untuk menerima keputusan suaminya. Amalia tidak mau menjadi egois untuk hal itu. Apalagi Angga sudah berusaha membebaskan kakaknya, terlepas dari rahasianya. Amalia sangat berterimakasih atas itu.


Keesokan paginya.


Angga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Pun dengan Andika yang sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga itu. Beberapa hidangan tersaji rapi di meja makan. Disana juga sudah ada Pak Dwi, Bu Renata, dan Azka. Hanya tinggal menunggu Angga keluar dari kamarnya.


Yang ditunggu pun sudah keluar. Dengan setelan jas biru dongker dan kemeja berwarna cream. Pria itu menapaki satu persatu anak tangga menuju ke meja makan. Saat sudah sampai, pria itu menyapa satu persatu orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Ayah... Azka kangen," celoteh anaknya.


Seharian kemarin mereka tidak bertemu dan saat dia pulang putranya sudah tidur di kamar kakeknya.


"Hmmm, Ayah juga kangen, sini sayang!!" Angga menepuk pahanya.


Tanpa menunggu lama lagi, Azka turun dari duduknya dan segera menghampiri ayahnya untuk minta dipangku. Angga menciumi anaknya, rasa kangen dengan Azka benar-benar tulus dalam hatinya.


"Maafin Ayah, ya. Ayah belum bisa main lagi, dengan Azka. Ayah masih banyak kerjaan," ucap Angga mengelus-elus rambut anaknya.


"Iya Ayah. Azka main Ama Kakek," seloroh Azka memainkan jarinya.


"Sekarang kita sarapan dulu, yuk! Azka mau makan apa? Nasi goreng atau roti pakai selai strawberry?" cecar Angga menunjuk satu persatu makanan yang tersaji di meja makan.


"Roti aja, Ayah. Azka udah mimik cucu. Di buatin Nenek," jawab bocah yang berusia genap tiga tahun itu.


Angga kemudian mengambilkan makanan yang diminta oleh anaknya.


"Sayang, sini sama Bunda. Ayah mau sarapan, mau berangkat kerja!" ajak Amalia mengambil putranya dari pangkuan suaminya.


Mereka menikmati sarapan paginya dengan hikmat. Sesekali obrolan kecil menjadi hiasan sarapan pagi itu. Tapi ada yang aneh dengan Pak Dwi. Dia memperhatikan anaknya, sejak baru datang ke meja makan tadi.


Angga sudah selesai dari sarapannya. Dan berpamitan dengan mereka yang ada di sana untuk berangkat ke kantor. Setelah itu meninggalkan tempat itu. Tak lama dari sepeninggal Angga. Pak Dwi juga berpamitan dengan menantu, cucu dan istrinya untuk pergi ke suatu tempat.


Tak ada yang mencurigai gelagat pak Dwi. Hingga dia pergi dari tempat itu.


Dengan mengendarai mobil Niko, Angga pergi ke apartemen assistennya itu. Pagi itu masih sedikit senggang kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Sehingga Angga dengan cepat sampai di tempat.


Sebuah apartemen mewah di kawasan Thamrin, tempat Angga menghentikan mobilnya. Sebelum memasuki apartemen itu, Angga menelpon Niko terlebih dulu. Untuk memastikan keadaannya aman.


Setelah dirasa aman oleh Angga, dia langsung menuju ke lantai dua lima, tempat apartemen assistennya berada. Tanpa disadari oleh Angga, sepasang mata mengikuti langkahnya.


Sampai di lantai dua puluh lima. Angga keluar dari lift itu, dan menyusuri beberapa unit apartemen disana. Saat menemukan apartemen Niko. Angga langsung menekan bel, di dekat pintu. Tak berapa lama. Niko membukakan pintu apartemennya. Angga pun langsung masuk kedalam.


Niko mempersilahkan bos-nya untuk duduk di sofa ruang tamunya. Sementara dia memanggil Santika untuk menemui Angga. Beruntung di apartemen itu memiliki dua kamar. Sehingga Niko tidak perlu tidur di sofa.


"Bu Santika, ada Pak Angga di luar!" kata Niko mengetuk pintu Santika. Wanita itu membukakan pintunya. Wanita itu sudah terlihat lebih fresh dari semalam.


"Apa Ibu sudah siap untuk bertemu dengan Pak Angga?" Wanita itu mengangguk yakin.


"Baiklah, ayo saya antar," ajak Niko mengiring wanita Santika untuk menemui Angga.


Saat sudah berada di ruang tamu. Santika langsung duduk di sebelah Angga. Dia belum berani menatap wajah pria yang berada di depannya.


"Kamu tidak usah takut, kita akan ke kantor polisi sekarang. Dan untuk keselamatan mu, saya yang akan menjamin. Sampai Valentino benar-benar di tangkap," ujar Angga. Wanita itu hanya mengangguk.


"Terimakasih," ucapnya.


Tak lama setelah itu suara bel berbunyi. Membuat mereka bertiga saling pandang.

__ADS_1


"Siapa?"


__ADS_2