
"Ngga, kenapa kamu diam?" tanya pak Dwi tak kunjung mendapat jawaban dari putranya itu.
Pria itu seperti tidak mendengar suara papanya. Pikirannya berkelana mencari jawaban yang tepat agar pak Dwi tidak merasa curiga. Dikiranya sudah mendapat jawaban itu barulah dia membuka suara, "nanti Angga carikan waktu yang tepat, agar Papa bisa bertemu dengan pak Sapta." Dan pak Dwi pun tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin benar apa yang dikatakan anaknya. Terlebih lagi, hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.
Tak lama setelah itu, pintu ruang kerja itu di buka. Seorang wanita yang memakai setelan baju tidur datang dari balik pintu. Bu Renata mendekati kedua pria yang sedang berbincang itu. Sorot matanya fokus kearah wajah suaminya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran wanita itu. Menyadari kehadiran Bu Renata, pak Dwi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah istrinya.
"Mama! Ada apa, Ma?" Bu Renata menatap tegang pria yang berada tepat di depannya.
"Papa dari tadi aneh, apa Papa sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama?" Pertanyaan Bu Renata membuat dua pria yang ada di situ saling menatap. Mencari jawaban atas pertanyaan wanita itu.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Mama, Ngga! Katakan sejujurnya, apa yang dirahasiakan papamu." Sekarang iris Bu Renata mengarah ke putranya yang sedang duduk di kursi.
"Gak ada Ma. Kita hanya lagi bahas proyek baru saja," kilah pria itu. Namun jawaban dari Angga tidak membuat wanita paruh baya itu berhenti mencurigainya.
"Sudah, Ma. Papa gak seperti yang Mama curigai. Papa gak selingkuh. Kita ke kamar saja, yuk!" ajak pak Dwi, sedikit menuntun istrinya untuk kembali ke kamar. Melihat pemandangan itu, membuat pria yang mulai beranjak dari duduknya menggeleng lucu. Angga senang Papanya bisa berhenti bermain-main dengan wanita-wanita nya. Sama halnya dengan dia.
Sejak dari rumah Bu Rosa tadi, gelagat pak Dwi membuat istrinya menjadi curiga. Terlebih lagi, saat sudah sampai di rumah. Pak Dwi langsung masuk ke ruang kerja. Menambah kecurigaan Bu Renata. Akhirnya dia memutuskan untuk menyusul suaminya di ruang kerjanya, ternyata pak Dwi tidak sendirian. Ada putranya juga terlihat sedang serius berbincang.
Angga memilih kembali ke kamarnya. Pasti sekarang istrinya sedang menunggunya. Dan mencemaskan dia. Karena papanya tiba-tiba memanggilnya.
Saat sudah membuka pintu kamarnya, Amalia langsung beranjak dari baringnya dan berjalan mendekat kearah suaminya.
Seraya berkata, "ada apa, sayang?" Angga langsung memeluk wanita itu, yang sudah terlihat cemas.
__ADS_1
"Nggak ada apa, kok sayang. Aku kangen," bisiknya menempelkan bibirnya di telinga Amalia.
Mendengar itu, Amalia sedikit lega. Dia pikir ada sesuatu yang akan mengancam hubungannya dengan Angga. Akhirnya, mereka melanjutkan adegan tadi, di atas ranjang. Malam yang mulai dingin itu, sama sekali tidak dirasakan oleh mereka yang sedang terbakar hasrat yang menggebu. Layaknya pasangan yang pengantin baru, mereka melakukannya berulang-ulang kali. Dan ada sebuah harapan dari pergulatan itu, Angga ingin segera memberi adik untuk Azka.
Pagi harinya. Usai sarapan, Angga langsung berangkat ke kantornya. Rencananya hari ini dia dan istrinya akan ke Bogor untuk mengantar kakak iparnya ke rumah pak Sapta. Dari itulah Angga akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu. Pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan pada assistennya. Ada meeting, yang memaksa pria itu datang ke kantor pagi-pagi sekali.
Sementara Amalia, wanita itu sedang sibuk menyuapi putranya. Hari ini Azka tidak begitu nafsu, untuk makan. Badannya juga sedikit hangat. Mungkin karena anak itu kebanyakan makan es krim saat sedang berbelanja dengan neneknya. Sehingga, badannya sedikit demam.
Bu Renata yang selesai merapikan meja makan menghampiri menantu dan cucunya di ruang tengah. "Apa badannya panas, sayang?" tanyanya sembari memegang dahi Azka. "Sedikit anget," lanjutnya.
"Ayo sayang, mamamnya cepet ya..aaaa." Amalia menyuapkan makanan di mulut anaknya. Tapi sepertinya memang tidak berselera, sehingga bocah itu hanya memakan ujung sendoknya makanan itu. "Kita ke dokter, ya!" ajak Amalia, yang panik melihat anaknya tidak mau makan. Azka menggeleng. Dia tetap menempel di gendongan bundanya.
"Azka mau makan apa? Nanti Nenek beliin?" tawar Bu Renata yang ikut panik melihat cucunya. "Bakso, pizza, atau burger. Mau?" Anak itu tetap menggeleng.
"Sayang makan, ya. Nanti ayah pulang, kita ke rumah nenek Leha. Kita makan sayur asem, lagi. Mau?" Azka tetap menggeleng. Sekuat apapun mereka berdua membujuk anak itu. Tapi sepertinya, tidak mempan. Azka yang memang jarang sakit, sekalinya sakit akan manja dan rewel.
Sementara anaknya tidur, Amalia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia bersiap-siap untuk mengemas baju ganti yang akan di bawa ke Bogor nanti. Tak berapa lama telponnya berdering. Dan itu dari Angga.
"Sayang, kamu udah siap, kan?" tanya Angga dari seberang.
"Hmmm udah, sayang. Apa mau berangkat sekarang?"
"Iya, ini aku udah jalan arah pulang."
__ADS_1
"Hmmm tapi Azka. Azka masih tidur, badannya sedikit anget sayang. Tapi udah aku kasih obat, kok!"
"Ya Allah, ya udah aku pulang sekarang. Atau kita batalkan aja ke Bogornya?"
"Jangan sayang, kasihan kak Delon udah rindu papa dan mama. Atau nggak gini aja, kamu antar aja kak Delon nya sendiri. Aku gak jadi ikut ke Bogor."
Angga tampak berfikir.
"Azka gak kenapa-kenapa, sayang. Cuma anget. Nanti juga sembuh." Amalia tahu apa yang di pikirkan suaminya.
"Hmmm, ya udah kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya."
"Iya sayang, hati-hati ya. Salam buat mama dan papa. Assalamualaikum."
Setelah menjawab salam dari istrinya. Angga memutar balik mobilnya. Sekarang tujuannya ke apartemennya, menjemput kakak iparnya. Angga terlebih dulu menelpon Delon untuk siap-siap. Karena sebentar lagi, dia akan sampai di apartemennya.
Lima belas menit kemudian Angga sudah bersama Delon menuju ke Bogor. Delon juga mempertanyakan adik perempuannya yang tidak jadi ikut ke Bandung. Setelah mendapat penjelasan dari Angga, dia akhirnya mengerti alasan Amalia tidak jadi ke Bogor. Di tengah-tengah perjalanannya, Angga mendapat telpon dari anak buahnya yang di tugaskan untuk mencintai Valentino di Bandara malang.
"Bagaimana? Apa kalian menemukannya?"
"Shitt, sial!!!"
"Kenapa Ngga?" tanya Delon saat adiknya mengumpat kesal setengah mendapat telpon dari seseorang.
__ADS_1
To be continued
Di part selanjutnya... siap-siap ketegangan yang akan terjadi... kira-kira ada apa ya?