
Keesokan harinya. Keluarga Amalia disibukkan dengan rencana pernikahannya dengan Angga. Rencananya sebelum menikah, pak Sapta akan mengadakan pengajian dulu di rumahnya. Meminta pada Allah untuk di beri kelancaran, acara pernikahan Angga dan Amalia besok. Beberapa tetangga ikut membantu persiapan pengajian itu.
Semua hidangan pun sudah tersusun di meja. Suara ceramah yang disampaikan oleh ustadz di desanya pun mulai terdengar. Menandakan acara pengajiannya sudah di mulai. Acara yang di gelar sederhana itu, tidak mengurangi rasa hikmat dari acara tersebut. Lantunan ayat suci Al-Quran pun seakan mengiring, sebagai doa-doa yang baik untuk kedua mempelai. Tidak lupa doa para tamu undangan pengajian pun ikut serta mengiring kelancaran acara besok.
Susunan acara demi acara pun tiba. Kini tiba saatnya para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh tuan rumah. Antrian panjang pun menjadi pemandangan saat mereka akan mengambil makanan.
"Teh Leha mah enak. Sekalinya dapat mantu tajir melintir. Hehehe," bisik Bu Irma pada teman dibelakangnya.
"Iya beruntung banget Amalia dapat suami sultan. Haha," sahut Bu Mira, yang dibisiki oleh Bu Irma.
"Alah palingan juga, tuh cowok dijebak sama anaknya teh Leha," imbuh Bu Dewi yang mendengar percakapan dua orang di depannya.
Angga yang mendengar percakapan mereka. Lantas menghampiri ibu-ibu yang sedang menggosip itu. Deheman Angga menghentikan aktivitas mereka. Mereka terlihat salah tingkah saat di pergoki oleh Angga.
"Saya mencinta Amalia bukan karena dia menjebak saya. Jadi jaga bicara anda semua," gertak Angga membuat ibu-ibu itu sedikit merasa tidak enak.
Angga kemudian pergi dari tempat itu. Dia begitu kesal, wanita yang dicintainya jadi bahan gosip para tetangganya disana.
Reyhan yang baru saja mengambil makanan lantas mendekati calon kakak iparnya yang sedang duduk disalah satu kursi disana. Terlihat jelas muka Angga yang sedang kesal.
"Kakak kenapa? Kok kayaknya lagi kesel gitu!" Reyhan langsung duduk di samping pria yang terlihat tampan dengan baju Koko dan kopiah di kepalanya itu.
"Nggak kok. Oh iya, kamu kelas berapa?" Jawab Angga kemudian bertanya balik ke remaja berusia lima belas tahun itu.
"Sekarang udah jelas satu SMA kak," ucap Reyhan menjawab pertanyaan calon kakak iparnya.
"Nanti kalau udah lulus, mau kuliah dimana?" Reyhan pun langsung tertunduk lesu mendengar pertanyaan dari Angga.
"Kok diem. Kamu gak usah khawatir. Kakak yang akan biayain kuliah kamu sampai selesai." Seketika wajahnya berubah menjadi berbinar saat Angga mengatakan akan membiayai kuliahnya.
"Beneran Kak."
__ADS_1
"Iya, makanya kamu harus rajin belajar. Kalau kamu juara kelas. Kakak yang akan kuliahin kamu."
"Reyhan ingin kuliah di Jakarta Kak. Di universitas Indonesia. Itu impian Reyhan selama ini." Rayhan adalah anak yang pintar. Selalu mendapat juara di sekolahnya. Tapi dia sempat mengurungkan niatnya untuk melanjutkan studi nya. Beruntung sekarang ada Angga yang mau membantunya.
Pagi harinya. Di sebuah KUA di kota Bogor tampak dua insan yang sedang jatuh cinta mengucapkan janji sucinya di depan penghulu. Pernikahan yang hanya dihadiri keluarga Amalia dan ketua RT sebagai saksi berjalan bagaimana mestinya.
Ranum bahagia tampak jelas dari keduanya. Begitu pun orang tua Amalia. Akhirnya putrinya menemukan kebahagiaan bersama lelaki yang dicintainya.
Setelah prosesi ijab qobul selesai. Sekarang dilanjut acara sungkeman atau meminta doa restu kepada kedua orang tua. Suasana haru menghiasi ruangan itu. Tangis bahagia dari Amalia dan kedua orangtuanya terdengar disana. Angga pun ikut menangis haru. Yang ia sesali dari pernikahan ini adalah kehadiran orang tuanya. Menjadikan pernikahan itu seperti belum lengkap.
"Sekarang Amalia adalah tanggung jawabmu. Jangan pernah kau sakiti hatinya ya Nak Angga," ujar pak Sapta saat Angga sungkem dihadapannya.
"Saya janji tidak akan membuat dia bersedih lagi. Saya akan selalu buat dia tersenyum. Terimakasih pa atas doa restunya." Mereka pun akhirnya berpelukan.
Rencananya Angga akan membawa Amalia tinggal di Bandung untuk sementara. Sebelum orang tuanya merestui hubungan mereka. Angga tidak akan membawa Amalia pulang ke Jakarta. Dia tidak mau mengambil resiko lagi, kalau pak Dwi akan memisahkan mereka lagi.
Mobil jemputan Angga dan Amalia sudah tiba. Mereka semuanya sudah berkumpul dihalaman untuk melepas kepergian Amalia dan Angga. Tampak jelas dari wajah Bu Leha, kalau dia sangat sedih. Baru bertemu dengan putrinya kini putrinya harus dibawa pergi suami putrinya.
"Biarlah ma, mereka kan mau bulan madu," sahut pak Sapta membuat dua insan yang sedang dimabuk asmara itu tersipu malu.
"Lagian rumah kita kan kecil, kasihan nak Angga harus tidur sekamar dengan Reyhan," lanjut pak Sapta.
"Am kamu baik-baik ya Nak disana. Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk kasih tahu kami. Jangan disimpan sendiri." Bu Leha pun langsung memeluk putrinya.
"Iya Ma, Am janji akan terbuka sama mama dan papa. Am pamit dulu ya," pamit Am pada Bu Leha setelah mereka berpelukan.
"Dek, jagain mama dan papa. Jangan bikin susah mereka ya," pesan wanita yang memakai kebaya putih itu pada adiknya.
"Siap Kak. Yang penting punya kakak ipar tajir melintir..kan bisa dikuliahin," cetus Reyhan mendapat bully and dari orangtuanya.
"Azka beneran gak tinggal Ama Kakek dan nenek," ujar pak Sapta pada cucunya.
__ADS_1
"Ndak. Azka mau punya adek bayi. Iya kan Bun," jawab Azka beralih pada bundanya. Seketika wajah Amalia memerah.
"Tuh Ngga, anak kamu udah pengen adik katanya. Kayaknya harus sedikit kerja keras deh. Biar bisa wujudin keinginan anak kamu," canda pak Sapta membuat semua orang yang ada di situ tergelak. Termasuk Angga.
"Beres Pa," jawab Angga mengacungkan jempolnya.
Setelah semuanya selesai. Angga dan Amalia masuk ke mobil. Mereka akan langsung menuju ke rumah Angga yang ada di Bandung. rumah itu di beli Angga sebagai hadiah pernikahan dirinya dan Amalia. Namun istrinya itu belum tahu. Angga ingin memberi kejutan untuk istrinya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima jam. Mereka sampai di sebuah rumah yang arsitektur nya seperti bangunan modern. rumah yang tidak jauh dari perkebunan buah-buahan dan aneka bunga itu tampak berdiri megah disana. Amalia begitu terkesima melihat pemandangan disekitar rumah itu. Begitu menyejukkan mata siapa saja yang memandang. Begitupun dengan Azka, dia begitu kegirangan melihat buah melon yang terjejer rapi diarea perkebunan buah itu.
"Bunda-Bunda, Azka mau melon nya," pinta Azka merengek.
"Sayang yang disitu belum matang. Nanti Ayah ajak Azka cari buah melon yang udah matang ya," jawab Angga memberi pengertian pada anaknya.
"Ayo masuk sayang!" ajak Angga menggandeng wanita yang memakai dress warna Salem.
Mereka masuk kedalam rumah itu. Lagi-lagi Amalia terperangah melihat keindahan rumah itu. Ada yang menarik perhatiannya. Yaitu sebuah foto keluarga yang didalamnya ada dia, putranya, dan suaminya. Dia begitu terharu melihat foto itu terpampang di ruang depan rumah itu.
"Sayang, kapan kamu buat ini semuanya?" tanya Amalia mendekati Angga.
"Ingat nggak waktu kita jalan-jalan ke pasar di Pekanbaru itu Lo. Kita kan foto bertiga waktu itu, hehehehe bagus kan." Amalia mengingat kejadian waktu mereka masuk ke studio foto untuk foto bersama. Dia tidak menyangka kalau foto mereka adalah foto prewedding. Amalia begitu terharu melihatnya. Terlihat jelas dalam foto itu sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Semoga kebahagiaan kita bertahan lama ya sayang," ujar Angga memeluk istrinya.
"Selamat datang nyonya Angga Dwipangga."
To be continued
Maaf beribu maaf. Kemarin tidak bisa up. Karena author sibuk. Tetangga ada yang kemalangan jadi ikut bantu-bantu disana. Janji author malam mau up. Nulis baru 300kata. Eh malah ketiduran. Maaf ya...
Janji deh hari ini up 3bab...biar kalian gak kecewa😍😘😘😘😘
__ADS_1