
Salah seorang preman itu melayangkan tembakannya di udara. Seketika dua orang yang sedang baku hantam menghentikan aktivitasnya dan mengarahkan perhatiannya di preman yang membawa pistol itu.
Dengan langkah tegas preman itu mendekati Angga. Seraya memainkan pistol yang ada ditangannya, dia berjalan memutari tubuh laki-laki yang terlihat tegang itu.. Pandangannya pun tak lepas dari laki-laki itu.
"Mau main-main dengan bos kami!!!" Preman itu menyusuri wajah Angga dengan pistolnya. Iris mata laki-laki itu pun mengikuti pergerakan pistol itu.
"Brengsek!!!" umpat Angga mendatang preman itu.
Preman yang bertato di lengannya itu langsung menjambak rambut Angga, dan mengunci pergerakan tangan Angga. Sesat kemudian preman berkepala plontos pun mendekat kearah mereka.
"Sudah bosan hidup, hahhh!!!" Angga hanya melirik sekilas pria itu. Tak ada sedikitpun rasa takut di dalam dirinya. Dia sudah pasrah dengan keadaan. Jika dia harus meregang nyawa demi sebuah kebenaran. Dia sudah siap untuk hal itu. Dia juga tidak lupa, kalau akan ada keajaiban yang akan membebaskan dirinya dari preman-preman itu.
Sementara Angga di cekal oleh dia preman itu. Satu orang preman lagi, mendekat ke pintu mobil Santika.
"Buka pintunya, atau kamu akan mati di sini!!!" teriak preman itu membuat wanita yang masih di dalam mobil itu bergedik ketakutan.
"Jangan dengarkan dia!!!" teriak Angga mencegah agar Santika tidak membuka pintu mobilnya.
Teriakan Angga membuat geram dua preman di sekelilingnya. Sehingga mereka lebih menyiksa pria yang sudah tak bisa berbuat apa-apa itu. Salah satu preman itu memukul perut Angga, hingga membuat pemiliknya meringis kesakitan.
"Dasar brengsek kalian!!!! Lepaskan saya dari sini!! Kalau tidak...." Belum berhenti Angga berbicara, kata-katanya di potong oleh preman berkepala plontos.
"Kalau tidak, apa!!! Hahaha...apa yang akan kamu lakukan di situasi seperti ini hehehehe!!!" Satu pukulan lagi mendarat di wajah pria yang masih memakai pakaian kerjanya. Pria itu meringis kesakitan, tapi tak membuat dia menyerah. Saat Ada celah, dia menginjak kaki preman yang mengunci tangannya. Sehingga preman itu melepaskan tangannya secara tidak sadar. Merasa sudah terbebas dari preman yang mencekal nya. Angga langsung menendang preman berkepala plontos itu, hingga preman itu terjungkal ke belakang. Angga beralih ke preman yang masih meringis kesakitan sembari memegangi kakinya. Menyadari preman itu masih membawa senjata apinya. Angga langsung menendang tangannya hingga pistol itu terjatuh di jalan. Dengan cepat Angga mengajar preman itu. Preman berkepala plontos bangun dari tempat dia terjungkal dan membantu temannya yang sedang terlibat baku hantam dengan Angga.
Merasa teman-temannya kualahan menghadapi musuhnya. Preman yang bertugas menakut-nakuti Santika ikut membantu teman-temannya. Disaat dia berjalan mendekat kearah mereka bertiga, bola matanya melihat pistol yang tergeletak tak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan cepat preman itu mengambil pistol itu dan menembakkan kearah Angga.
Dorrrr........
Satu tembakan melumpuhkan tangan preman itu, sehingga pistol yang dia pegang merosot jatuh ke bawah ...
Jangan bergerak!!!!!!
Teriakan itu membuat mereka bertiga yang terlibat baku hantam, secara tiba-tiba mematung saat menyadari polisi dan Niko datang.
Tiga orang polisi berlari mengamankan preman-preman itu. Dan satu orang lagi berjalan mendekati pria yang berdiri tidak jauh dari preman-preman itu dengan wajah yang sudah bonyok.
"Maafin saya Pak. Datang terlambat," ucap Niko meminta maaf pada Angga.
"Nggak apa, Nik. Terimakasih sudah menyelamatkan saya," balas Angga mengelap sisa darah di sudut bibirnya.
"Terimakasih Pak Angga. Saya akan bawa mereka ke kantor polisi. Silahkan anda datang sebagai saksi kasus penyerangan ini," sahut polisi itu.
__ADS_1
"Baik Pak, terimakasih kerjasamanya Pak. Saya akan datang nanti." Polisi itu kemudian menyusul tiga rekannya yang membawa ketiga preman itu ke atas mobil tahanan.
Sementara Angga, dia membuka pintu mobilnya untuk melihat keadaan Santika. Wanita itu masih di dalam mobil dengan wajah pucat akibat ketakutan yang menyerang dirinya. Angga langsung mendekap tubuh wanita itu yang mulai melemah.
"Kamu tenang kita sudah selamat!" ujar Angga menenangkan wanita itu. Dengan tubuh yang gemetar Santika berusaha menghilangkan ketakutannya.
"Kita turun dari sini, sekarang!" Santika pun mengangguk.
"Niko, tolong bantu dia masuk kedalam mobil kamu!" titah Angga pada asistennya.
Dengan cepat Niko berlari menuju ke pintu mobil Angga, di mana Santika yang akan turun dari mobil itu. Niko meraih tubuh wanita itu yang masih terlihat gemetar dan lemas. Setelah itu di papahnya menuju ke mobilnya. Diikuti oleh Angga di belakangnya.
"Kamu temani saja dulu, dia. Duduk di belakang. Biar saya yang bawa mobilnya," ucap Angga. Niko pun mengangguk patuh.
Niko mengambil kunci mobilnya di dalam saku celananya. Setelah itu diberikan pada bos-nya. Angga menahan tombol off pada gagang kunci mobil itu, sehingga secara otomatis pintu itu sudah tidak terkunci.
Angga membantu membukakan pintu mobil untuk assistennya dan Santika. Setelah memastikan mereka sudah masuk kedalam. Angga mengitari mobil itu menuju kursi pengemudi.
Angga mengendarai mobil itu menuju lapas di Jakarta Selatan. Dia ingin masalah Delon selesai makan itu juga. Sehingga dia pulang dengan membawa berita baik untuk istrinya.
"Pak, apakah kita akan melanjutkan perjalanan kita ke lapas?" tanya Niko pada bos-nya.
"Tapi Pak, melihat kondisi Bu Santika yang seperti ini. Apa memungkinkan dia untuk membuat pengakuan?" Pertanyaan assistennya membuat pria yang sedang menyetir itu sedikit berfikir. Pandangannya lalu beralih ke spion yang ada di atasnya. Disana dia bisa melihat dengan jelas kalau wanita yang ada di dekapan assistennya masih kelihatan pucat dan gemetaran. Sehingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk membawa wanita itu ke lapas.
"Saya takut, jika kita antar Santika ke rumahnya. Valentino akan mendatangi dia, dan mencelakai dia," ujar Angga sembari berfikir mencari jalan keluar.
Sudah dapat dipastikan. Valentino tidak akan membiarkan Santika mengakui kebenarannya di depan polisi. Mengingat kejadian yang baru saja di alami oleh Angga dan Santika. Jelas Valentino mencari segala cara untuk menggagalkan rencana Angga.
"Terus kita harus bagaimana, Pak?" tanya Niko pun masih bingung dengan masalah ini.
"Tidak mungkin saya bawa pulang dia ke rumah. Yang ada Papa akan curiga!"
Angga benar-benar buntu ide. Dia bingung dimana tempat yang tepat untuk menyembunyikan Santika dari Valentino.
Tiba-tiba dia teringat assistennya itu. Dia memfasilitasi apartemen pada Niko untuk tempat tinggal. Akhirnya Angga menemukan ide itu.
"Kita bawa dia ke apartemen kamu!!"
"Baik Pak!!"
Angga memutar balik mobil yang ia kendarai. Sekarang tujuannya adalah apartemen Niko. Untuk sementara Santika di amankan di sana. Mengingat keselamatannya terancam saat ini. Angga tidak ingin, rencananya kali ini gagal lagi.
__ADS_1
Setelah mengantar assistennya dan Santika dan memastikan keduanya masuk kedalam. Angga langsung pulang ke rumahnya. Sudah pasti orang tua dan istrinya mengkhawatirkan keadaannya. Apalagi ponselnya lowbat. Sehingga dia tidak bisa menghubungi orang rumah.
Di kediaman Pak Dwi.
"Am, dimana Angga? Sudah jam segini belum pulang dari kantor." Bu Renata begitu mengkhawatirkan keadaan putranya. Pertanyaan itu bukan yang pertama kali keluar dari mulutnya.
"Am ngga tau, Ma. Terakhir Mas Angga menghubungi Am. Kalau dia masih bertemu kliennya di cafe." Dan jawaban itu yang keluar dari mulut Amalia saat mertuanya menanyakan keberadaan suaminya.
"Handphone nya juga nggak aktif," keluh Pak Dwi beberapa kali menghubungi putranya dari ponselnya.
"Semoga aja gak terjadi apa-apa dengan Angga, Pa." Amalia dan pak Meng-aamiin-kan doa Bu Renata.
Obrolan mereka terhenti saat suara mobil memasuki bagasi rumah itu. Mendengar suara mobil datang, mereka bertiga langsung berjalan menuju ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang. Harapan mereka cuma satu, mobil Angga yang datang. Tapi mereka mengenyam kekecewaan saat melihat bukan mobil Angga yang terparkir di bagasi rumah itu. Di tambah lagi, mobil itu adalah mobil assistennya Angga. Membuat mereka tambah cemas dan takut terjadi apa-apa dengan pria itu.
Seketika wajah cemas mereka berubah ranum bahagia saat melihat pria itu keluar dari mobil. Melihat sisi yang familiar di mata mereka, kekhawatiran itu seketika sirna karena orang yang ditunggu sudah datang dengan keadaan selamat. Tapi lagi-lagi wajah tegang itu kembali meliput ketiganya saat pria itu sudah ada di dekatnya dengan wajah penuh memar di sana. Bu Renata langsung menghambur memeluk putranya dengan terisak.
"Sayang, kamu kenapa lagi!! hiks..hiks." Angga langsung mengusap punggung mamanya seraya berucap.
"Angga tidak apa, Ma. Kita masuk dulu, yuk!" Perlahan pelukan itu merenggang dan terlepas. Setelah itu mereka masuk kedalam menuju ruang tengah.
Bu Renata dan pak Dwi nenghampit tubuh Angga yang sedang duduk di sofa. Sementara Amalia, dia mengambil air hangat dan lap kering, untuk mengompres suaminya. Tak hanya itu, wanita yang memakai dress tidur itu membuatkan teh hangat untuk diminum Angga.
Setelah apa yang dibutuhkan sudah siap, Amalia kembali ke ruang tengah untuk bergabung dengan mereka bertiga. Dengan wajah khawatir, Amelia meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja. Dan mengambil secangkir teh hangat untuk di berikan pada suaminya.
"Sayang, minum dulu teh hangatnya." Angga mengambil secangkir teh itu, setelah itu dia mulai menyesap tehnya.
Melihat istrinya begitu khawatir, Angga mengulas senyuman agar wanita di depannya tidak mengkhawatirkan dia lagi.
"Aku nggak apa, sayang!" Pak Dwi yang duduk di sebelah putranya memberi celah pada Amalia untuk duduk di sebelah Angga dan bisa mengompres bekas luka-luka di wajah putranya.
Amalia langsung duduk di sebelah suaminya dan mulai mengompres wajah lelaki yang sangat dicintainya.
"Sekarang ceritakan pada kami, Angga! Apa yang terjadi dengan kamu!!" Pak Dwi mulai mengintrogasi putranya.
"Angga di rampok, Pa! Mobil Angga dibawa rampok itu kabur. Tapi polisi sudah mengejarnya," kilah Angga.
"Astaghfirullahalladzim, sayang. Untung kamu nggak apa!" sahut Bu Renata.
Psk Dwi melihat gelagat yang gak beres pada putranya. Dia sedikit curiga dengan Angga. Dia belum sepenuhnya percaya pada Angga.
"Kamu yakin, kamu di rampok?"
__ADS_1