
Angga langsung menuju ke lantai tujuh untuk mencari orang yang sudah menyebar gosip tentangnya. Sesampainya di lantai tujuh dia berjalan menuju ke ruangan Angel. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kak Angga," ujar Angel dengan raut wajah bahagia karena Angga datang keruangannya.
"Jelaskan padaku, apa maksudmu membuat berita bohong tentang rencana pernikahan kita? Jangan pernah mimpi kamu! Aku tidak akan pernah menikahi kamu!" kata Angga dengan nada bicara kasar.
"Apa maksudnya, kak!" kilah Angel pura-pura tidak mengerti ucapan Angga.
"Gak usah sok gak tahu, kamu!!!!" gertak Angga yang semakin emosi saat Angel berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Kakak bisa gak sih bersikap lembut pada Angel. Salah Angel apa kak?" tanya Angel dengan raut wajah memelas.
"Heh, masih bertanya salah kamu apa? kamu tidak ubahnya seperti benalu dalam hidup saya! Jadi saya ingatkan sekali lagi, jangan coba-coba cari masalah dengan saya, atau saya akan!!!" Angga menunjuk wajah Angel dan hampir menampar pipi Angel. Untung saja akal sehatnya bisa mengalahkan emosinya. Angga kemudian mengurungkan niatnya.
Angel hanya diam tak bergeming, dia juga tidak bisa membela diri. Karena Angga dengan mudah mengetahui rencana busuknya.
Setelah dirasa puas memberi pelajaran pada Angel. Angga kemudian pergi dari ruangan Angel menuju keruangannya. Niko yang melihat Angga keluar dari ruangan Angel hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada bosnya dan sekertarisnya itu. Niko membuntuti Angga menuju keruangannya. Karena ada hal penting yang akan ia sampaikan pada bosnya.
"Selamat pagi Pak," sapa Niko saat Angga akan duduk di kursi kebesarannya.
"Pagi, apa ada informasi tentang Amalia, Nik?" tanya Angga.
"Soal nomor itu Pak, bagaimana kalau nomor lain yang menghubungi nomor Amalia? Dengan begitu kita bisa tahu, itu benar nomor dia atau bukan," terang Niko mengutarakan idenya.
"Kamu benar Nik! Ya sudah sekarang coba pake nomor kamu dulu!" Angga kemudian mengeluarkan handphone nya dari saku jasnya, kemudian membuka kontak di layar handphonenya.
Setelah menyebutkan nomor Amalia, dan di ditulis oleh Niko. Mereka mencoba menghubungi nomor itu melalui handphone Niko. Niko menempelkan handphonenya di telinganya, menunggu Jawaban dari seberang. Dua detik kemudian, Niko mengerinyitkan keningnya karena merasa kecewa nomor yang ia hubungi tidak aktif lagi.
__ADS_1
"Gimana Nik?" tanya Angga penasaran. Dengan menghela nafas panjang Niko memberitahu pada Angga.
"Nomor nya tidak aktif Pak," jawab Niko.
Jawaban Niko membuat Angga sedikit menelan kekecewaan. Harapan satu-satunya untuk mengetahui informasi mengenai Amalia sirna.
"Ya sudahlah Nik, sebaiknya kita biarkan saja dulu nomor itu. Untuk beberapa saat kita tak usah lagi menghubungi. Mungkin suatu saat nomornya bisa di hubungi kembali. Kamu boleh kembali keruangan mu!" titah Angga pada Assisten nya itu. Niko Kemudian keluar dari ruangan Angga menuju ruangannya. Dia merasa ada yang aneh dengan nomor itu. Tapi karena bosnya memerintahkannya untuk mengabaikan nomor itu. Dia hanya bisa menuruti perintah atasannya itu.
Siska yang sedari tadi mendengar obrolan Windi, Viona dan Desi seketika terkejut dengan berita yang beredar itu. Dia tidak menyangka, kalau bosnya itu malah akan menikah dengan wanita lain. Sedikit rasa kesal, tapi dia juga berfikir semua bukan salahnya Angga. Amalia lah yang pergi meninggalkan Angga. Bukan Angga yang meninggalkan Amalia. Siska pun melanjutkan pekerjaannya kembali.
Usai mengerjakan semua tugasnya, Siska duduk di kursi yang ada di dapur kantor. Sembari meneguk segelas air bening, dia tampak berfikir. Dia jadi ingat obrolan Windi, Viona, dan Desi tadi. Dia memutuskan untuk mengabari Amalia tentang berita itu. Berharap Amalia bisa melupakan Angga setelah mendengar berita itu.
Diambilnya ponsel dari tasnya, kemudian dia mencari kontak Amalia dan langsung menghubungi Amalia. Setelah nada tersambung.
"Assalamualaikum, Am!"
"Kerja, ini aku lagi di kantor. Aku ada berita penting mengenai Pak Angga. Tapi kamu harus janji ya, jangan sedih!" Perkataan Siska seketika membuat suasana hati Amalia berubah.
"Am, kamu denger aku, kan!" Karena tidak mendapatkan respon dari Amalia, Siska memanggilnya.
"I-ya, aku denger kok. Kamu ceritain aja, inshaa Allah aku kuat kok!"
Siska menceritakan berita yang ia dengar tadi pada sahabatnya itu. Sedih, tentu saja sedih. Tapi Amalia sudah menyiapkan hatinya dari jauh-jauh hari mengenai ini. Jadi dia sudah siap dengan konsekuensinya meninggalkan kekasihnya itu. Tapi Amalia tidak menyangka, kalau akan terjadi secepat ini. Siska menutup telponnya, karena ada orang yang masuk ke dapur kantor.
Setelah mendapat telpon dari sahabatnya tadi. Amalia menjadi murung. Saat ini dia sedang membersihkan toko yang akan dia buat untuk memulai usahanya. Melihat Amalia menjadi murung, nenek Asih menghampirinya.
"Kamu kenapa, Am?" Bebek Asih menepuk pundak Amalia, dan membuat Amalia tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Eh Nenek, Am gak apa, kok!" kilahnya sembari memaksakan senyumnya.
"Apa kamu rindu suamimu, Ayah dari anakmu?" Pertanyaan Nek Asih membuat Amalia tak bisa mengontrol perasaannya. Seketika bulir bening lolos dari matanya.
"Kamu yang sabar, Am. Terkadang takdir begitu kejam pada kita. Memisahkan orang yang kita cintai pada kita. Tapi, Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Kamu yang iklas ya, sayang." Nenek Asih kemudian memeluk Amalia yang semakin terisak.
"Jika kamu rindu pada suamimu. Sebutlah dia selalu dalam setiap doa mu. Rayulah Allah agar membukakan pintu hati suamimu supaya dia kembali padamu." Amalia merenggangkan pelukannya dari tubuh nek Asih.
"Nek, terimakasih ya sudah mau menampung Amalia di sini. Amalia gak tahu Nek, kalau saja tidak ada Nenek," ujar Amalia sembari menghapus sisa-sisa air matanya.
"Nenek hanya perantara yang dikirim Allah untuk membantumu. Nenek justru senang dengan adanya kehadiran mu disini. Nenek jadi ada temannya."
"Kamu istirahat aja dulu Am. Nanti kalau pikiran ku sudah tenang, bisa dilanjut lagi beresin ini," sambung nek disambut anggukan oleh Amalia.
Mereka berdua keluar dari toko lalu menuju ke rumah. Amalia langsung, pergi ke kamarnya. Untuk mengistirahatkan dirinya.
"Aku yakin kamu bisa melupakan saya, Pak Angga!" Amalia mengelus foto Angga di ponselnya.
"Kamu berhak bahagia dengan wanita pilihan orang tuamu." Air mata Amalia kembali menetes. Dia jadi teringat momen-momen indah bersama Angga.
**********
Hari-hari dilalui Amalia dengan menjaga toko pakaian yang baru dia buka. Bukan cuma lewat offline saja, tapi juga lewat online ia jajakan dagangan nya. Dibantu oleh para tetangga yang tinggal dekat rumah nek Asih, toko baju Amalia mulai dikenal orang di area itu. Bukan cuma ikuti trend yang lagi booming tapi juga harganya sedikit miring di Bandung dengan penjual lainnya. Sehingga dalam waktu beberapa hari, dia sudah mempunyai pelanggan tetap.
Saat Amalia sedang melayani pembeli. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya siapa yang menelpon dirinya. Ternyata nomor yang tidak dia kenali...
to be continued
__ADS_1