
Bekas luka tusuk Amalia terbuka lagi, karena wanita itu terlalu banyak bergerak. Karena masalah Papa dan Suaminya membuat dia banyak menangis sesenggukan. Itu yang mengakibatkan luka itu kembali menganga dan harus di lakukan operasi ulang. Walau demikian tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi dengan keselamatan wanita itu. Setelah melakukan operasi itu, Amalia kembali tidak di bolehkan terlalu banyak orang yang menjenguknya. Hanya di bolehkan satu dari keluarga yang ada di sana.
"Saya yang akan menjaga istri saya, Dok!" ucap Angga lantang, membuat pak Sapta mengeratkan rahangnya.
"Siapa yang akan mengizinkan kamu untuk menjaga putri saya!!!" balas pak Sapta dengan suara yang tak bisa di bantah.
"Pa, yang dibutuhkan Amalia saat ini, memang Angga, Pa! Amalia butuh Angga?!!" sahut Bu Leha dengan sedikit memohon.
"Nggak, Ma. Biar kamu saja yang masuk kedalam. Dan kamu, silahkan kamu pergi dari tempat ini!!!" teriak lantang Pak Sapta menunjuk ke wajah Angga. Delon tidak bisa tinggal diam melihat Papanya yang semakin menggebu sehingga merusak nalarnya. Yang di butuhkan adiknya saat ini adalah suaminya.
"Pa, dengarkan Delon baik-baik. Sekarang yang dibutuhkan Am adalah suaminya. Papa harus mengalah, ya! Setidaknya setelah Amalia pulih, izinkan Angga mendampinginya." Tatapan mata yang mematikan dari Pak Sapta perlahan runtuh setelah mendengar ucapan dari Delon. "Papa gak mau, kan! Lihat Amalia kesakitan lagi," sambung Delon dan Pak Sapta hanya diam.
"Pa!!" Bu Leha mengangguk, memberi kode untuk suaminya.
"Baiklah, tapi hanya sampai Amalia sembuh saja! Kamu boleh dekat-dekat dengan dia!" Angga tersenyum bahagia mendengar ucapan papa mertuanya. Tidak jadi masalah dengan syarat yang diajukan oleh Pak Sapta. Itu sudah cukup senang, baginya. Setelah itu, jadi urusan belakangan.
Satu Minggu telah berlalu. Angga masih setia menunggu istrinya. Dengan bujukan dari Delon, Pak Sapta dan istrinya pulang ke Bogor. Karena tidak mungkin mereka menjaga Amalia selama di rumah sakit. Mengingat kondisi mereka yang sudah berumur, banyak keluhan yang mereka alami. Apalagi, Pak Sapta menolak tinggal di apartemen Angga.
"Kak, Angga minta tolong, ya. Kakak handle dulu pekerjaan Angga di kantor. Angga belum bisa bekerja dengan tenang kalau Amalia belum pulih," pinta Angga pada Delon siang itu, saat Delon mampir setelah selesai rapat di daerah yang dekat dari rumah sakit itu.
"Iya, Ngga. Oh, iya! Kapan Amalia keluar dari sini? Apa lukanya belum kering?" tanya Delon.
"Besok, Kak. Tadi dokter bilang ke Angga. Besok Am sudah bisa di bawa pulang." Delon tersenyum lega mendengarnya.
"Kak, jangan beritahu dulu ke Papa ya? Kalau Am besok sudah bisa pulang!" pinta Angga lagi memelas. Delon menepuk pundak adik iparnya. "Angga takut, Papa akan misahin kami lagi!"
"Iya, Kakak gak akan kasih tahu mereka," balas Delon. Dia bisa mengerti kecemasan adik iparnya itu. Delon juga kagum dengan perjuangan cinta Angga pada adiknya. Sebesar itu, tapi kenapa Papanya masih belum menerimanya.
"Makasih, ya Kak!" Siang itu mereka habiskan makan siang berdua di dalam ruang rawat Amalia. Banyak hal yang di bahas oleh keduanya. Termasuk menyelidiki perusahan samudera cinta, yang sekarang di pimpin oleh Pak Burhan. Titik terang yang kemarin membuat Angga terlihat bahagia, karena dia dengan mudah bisa mendapatkan kembali perusahaan itu. Kini harus menelan kekecewaan. Pak Burhan berhasil menarik investor dari Kalimantan untuk menyelamatkan perusahaannya. Dan itu artinya, Angga akan sulit merebut perusahaan itu dari tangan Pak Burhan.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Azka bersama Bu Renata datang. Anak itu begitu rindu dengan Ayah dan Bundanya. Selama Amalia di rawat di rumah sakit, Azka memang jarang sekali datang kesana. Bu Renata takut, jika kejadian keributan itu terjadi lagi. Karena dia tidak tahu kalau orangtua Amalia sudah pulang ke Bogor.
"Ayah!!!" teriak Azka sambil berlari memeluk Ayahnya.
"Sayang!!! Sttt...Bunda lagi Bobo, jangan teriak-teriak ya, sayang!" seru Angga, anak itu pun mengangguk patuh.
"Ma, Papa kok gak ikut?" tanya Angga beralih pada Bu Renata.
"Nggak, Ngga! Papamu masih belum siap bertemu dengan mertua kamu!" Bu Renata mencari tempat untuk duduk. "Dimana mereka?" lanjutnya, setelah duduk di sofa.
"Mereka pulang ke Bogor, Ma!" jawab Angga.
"Serius, kamu Ngga?" tanya Bu Renata tidak percaya.
"Iya, Ma!"
"Inshaa Allah besok, Ma!"
"Alhamdulillah!"
Tak beberapa lama, Amalia bangun dari tidur siangnya. Setelah mendengar percakapan mereka. "Ayah, Bunda bangun!" seru Azka yang menyadari bundanya sudah bangun. Amalia tersenyum pada anaknya.
"Iya, sayang! Azka mau sama Bunda?"
"Iya," ucap Azka kegirangan.
"Yuk, sama Nenek aja ya!" ajak Bu Renata pada cucunya, setelah itu Azka turun dari pangkuan Ayahnya. Dan ikut dengan Bu Renata menemui menantunya.
"Bunda!!" sapa bocah kecil itu sedikit takut membuat bundanya sakit.
__ADS_1
"Sini, sayang! Jangan takut. Duduk sini!" titah Amalia menepuk kasur di sebelahnya. Dengan di bantu oleh Bu Renata, Azka duduk tepat di mana yang Amelia tunjuk.
"Bunda, masih sakit?" Tangan anak itu mengelus halus rambut bundanya.
"Nggak, sayang! Bunda sudah sembuh!" Amalia tersenyum pada anaknya.
"Bunda, Kakek Sapta kok jahat sama Kakek Dwi. Kasihan Kakek Dwi sedih," adu Azka membayangkan kejadian pak Sapta yang mencengkram pak Dwi.
"Sayang, Kakek hanya sedikit emosi. Tapi udah baikan, kok!" ujar Amalia memberi pengertian pada anaknya. Ternyata ingatan Azka begitu kuat, sampai dia begitu fasih menceritakan kejadian yang ia lihat.
"Iya, Bu. Kasihan Kakek Dwi!"
Di kediaman Pak Sapta. Siang itu, ada yang mengganjal di pikirannya. Dari kemarin, Delon tidak mengabari keadaan putrinya. Padahal Pak Sapta sudah mewanti-wanti agar memberi kabar setiap harinya. Tapi sudah dua hari Delon tidak menelpon atau mengirim pesan padanya. Pak Sapta berniat akan ke Jakarta lagi, untuk mengetahui keadaan Amalia. Apa sudah bisa di bawa pulang atau belum. Meskipun mengizinkan Angga untuk menjaganya, bukan berarti beliau sudah memberi restu untuk mereka.
"Pa, Papa mau kemana? Kok bawa ransel begini?" tanya Bu Leha yang sedang menyapu halaman.
"Papa mau ke Jakarta!" Bu Leha mlongo.
"Mau ngapain Pa?"
"Ngapain? Jemput Amalia dong Ma. Papa nggak akan biarin Angga membawanya pulang ke rumah!" Bu Leha hanya bisa mengelus dadanya.
"Pa, sudahlah Pa. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang, anak kita bahagia Pa. Apa Papa akan mengorbankan kebahagiaan anak kita?" Bu Leha memegangi lengannya suaminya agar mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jakarta.
"Nggak, Ma! Mama tahu kan, seperti apa terpuruknya keluarga kita setelah kita bangkrut. Apa Mama lupa, saat Amalia di olok-olok temannya karena tidak bisa bayar SPP? Apa Mama lupa, saat Amalia harus berkeliling menjual gorengan dari kampung ke kampung, demi membayar uang sekolahnya? Apa Mama, lupa!!?!!" teriak Pak Sapta dengan wajah yang memerah.
"Iya, Mama ingat Pa! Tapi, apa tega merebut kebahagiaan Amalia yang baru saja ia enyam? Apa Papa tega memisahkan anak- dengan Papanya? Apa Papa tega melihat Amalia menderita lagi? Sadar Pa, sadar! Kasihan anak kita. Buang dendam Papa yang tak berguna itu!!!"
"Cukup, Ma!!! Cukup!!!! Gak usah ngajarin Papa! Suka tidak suka, Papa akan tetap membawa Amalia pergi dari keluarga brengsek itu.
__ADS_1