
Amalia yang melihat kejadian itu terlihat panik. Meskipun sekarang dia masih kesal dengan suaminya. Tapi dia tidak tega melihat Angga di tarik dan dimarahi oleh Papanya. "Papa?!!" pekik Amalia yang akan beranjak menyusul Angga dan pak Sapta, tapi pergerakannya terhenti karena nyeri di perutnya dirasakan lagi oleh dia, "arghhhh," pekiknya memegangi perutnya.
Angga yang melihat istrinya kesakitan, dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman papa mertuanya. "Lepaskan saya, Pa! Amalia kesakitan, Pa!!!" teriaknya dengan tangan yang sedikit mendorong pak Sapta, hingga tangannya bisa terlepas dari pak Sapta. Angga langsung berlari menuju ke Amalia. "Sayang, kamu gak apa, kan! Aku panggilkan dokter, ya!" seru Angga panik.
Pria paruh baya yang masih berdiri mematung di sana, lantas menyatukan rahangnya. Dia benar-benar sudah tidak bisa menerima kenyataan itu. Hingga akhirnya, saat Angga akan keluar memanggil dokter, pria itu berteriak. "Jauhi anak saya!!!" Angga menghentikan langkahnya, dan mendekat kearah pria itu seraya memohon.
"Pa, tolong dengarkan penjelasan Angga. Angga mohon, setelah Amalia sembuh Angga akan jelaskan semuanya!!! Tolong jangan pisahkan kami!!!" Pria itu membuang muka, tidak ingin melihat Angga yang terus memohon padanya. Hingga kedatangan pak Dwi dan Bu Renata semakin memperkeruh keadaan.
"Pak Sapta, tolong berikan kami kesempatan untuk menebus kesalahan suami saya. Saya tahu itu berat untuk anda bisa menerimanya. Mereka saling cinta, Pak!!" tutur Bu Renata ikut memelas.
Tapi sepertinya kebencian sudah mendarah daging di diri pak Sapta, hingga beliau tidak memberikan kesempatan itu pada mereka. "Pergi, saya bilang pergi, pergi!!??" teriaknya lantang, dsn tak ingin di bantah.
"Sapta, biarkan saya yang menebus kesalahan saya. Jangan kamu limpahkan kepada anak-anak kita!!?" ujar Pak Dwi mencoba meraih tangan besannya. Tapi tidak, pak Sapta justru semakin tersulut emosi.
"Kamu mau menebus kesalahan kamu? Dengan apa, kamu mau menebus kesalahan kamu, Dwipangga?"
"Pa...Amalia mohon, jangan pisahkan Am dengan suami Am, Pa!" sahut Amalia memohon.
"Nggak Am, kalau kamu masih ingin bersama laki-laki itu. Papa yang akan berhenti menjadi orangtua kamu!!!" Ucapan papanya membuat Amalia menangis, dia tidak mungkin memilih salah satunya. Bagi dia semuanya penting. Orangtua, tidak akan yang bisa menggantikan peran mereka. Suami, dia adalah laki-laki yang dia cinta, selain itu dia adalah Ayah dari Anaknya. Tidak mungkin dia memilih salah satunya.
__ADS_1
"Pa!! Am mohon!!!"
"Tidak, Papa tidak punya penawaran lain. Kamu pilih suami kamu, atau orangtua kamu!!!!" Angga langsung bersimpuh di kaki Pak Sapta.
"Pa, Angga mohon Pa. Jangan pisahkan kami!!!! Angga mohon!!!" Tangisnya pecah. Sakit, dadanya sakit. Dia tidak mau dipisahkan lagi dengan wanita yang dia cintai.
"Tidak!!! Saya bilang tidak, ya tidak!!!!!"
Melihat anaknya bersimpuh memohon pada pak Sapta. Membuat hatinya pak Dwi teriris. Karena keegoisan di masa lalunya, sekarang anaknya yang harus menerima akibatnya. Anda waktu bisa di putar kembali, dia tidak akan berbuat seperti itu. Baginya sekarang, kebahagiaan Angga prioritas utama buat pak Dwi. Apalagi setelah kejadian demi kejadian di lewati oleh mereka. Di saat Angga meninggalkan dia dan istrinya. Bu Renata sampai dipresi dan terpuruk. Beliau tidak ingin, kejadian itu terjadi lagi. Akhirnya dia harus melakukan sesuatu agar pak Sapta sedikit luluh.
"Sapta, saya mohon maafkan saya!!!" ucapnya ikut bersimpuh di depan kaki besannya.
Sungguh apa yang dilakukan pak Dwi membuat semua orang yang ada disana tercengang. Wibawanya yang selama ini di jaga, seketika runtuh di depan besannya. Kesalahan masa lalunya yang membuat dia meruntuhkan itu semua. Amalia sampai menitikkan air matanya, melihat pengorbanan papa mertuanya. Dia sempat benci dengan pria itu. Hingga mengutuk dirinya tidak akan memaafkan kesalahannya. Tapi melihat pak Dwi bersimpuh di depan kaki papanya. Hati Amelia menjadi tersentuh, dan merasa bersalah. Dia tidak tega melihat Papa mertuanya berbuat seperti itu.
"Nggak, Ngga! Papa harus nglakuin ini Ngga!" ucap Pak Dwi bersikeras tak mau berdiri.
Hati pak Sapta sepertinya sudah diliputi kebencian sehingga tertutup tidak mau melihat ketulusan Pak Dwi. Pria itu justru pergi dari tempat itu dan tidak menghiraukan mereka berdua. Pak Sapta menghampiri Amalia yang masih terbaring di brankar rumah sakit, sambil sesekali mendesis kesakitan di bagian perutnya.
Angga hanya bisa pasrah dengan perlakukan papa mertuanya. Mungkin beliau butuh waktu untuk menerima permintaan maaf dari dia dan pak Dwi. Dan akhirnya mereka berdiri, tangis pilu menyelimuti ruangan itu. Bukan hanya Amalia tapi juga Angga. Pria itu seakan tak bisa berfikir lagi, dia memilih untuk keluar dari ruangan itu pun dengan Bu Renata dan Pak Dwi. Tapi mereka tidak pulang ke rumah, dan memilih menunggu di luar.
__ADS_1
"Sekarang, kamu pilih orang tua kamu atau suami kamu, Am!" ucap Pak Sapta saat Angga dan orangtuanya tidak ada di sana.
"Pa, Am tidak bisa memilih. Am sayang Papa dan Mama. Begitupun juga dengan suami Am. Am mohon Papa ngerti." Amalia menangis sesenggukan, dia sudah tidak perduli lagi dengan lukanya. Itu tidak seberapa sekarang di banding rasa sakit hatinya karena Papanya memberikan pilihan yang sulit.
Tak berapa lama, Delon datang. Dia melihat Angga duduk dengan wajah memelas. Sedih, sakit hati. Pria itu terlebih dahulu menemui mereka.
"Ngga, apa yang terjadi dengan Amalia?" tanya Delon yang mengkhawatirkan keadaan adiknya. Angga mendongakkan kepalanya menatap nanar kearah Delon.
"Papa, Papa sudah tahu semuanya!" Ucapan Angga membuat Delon menghela nafasnya berat. Pasti telah terjadi keributan di sana. "Papa meminta Amalia untuk memilih antara saya dan orangtuanya," lanjut Angga lagi.
Delon mencari cara agar Papanya bisa memaafkan Pak Dwi. "Ya udah, saya masuk dulu ya Ngga, Om, Tante!" pamit pria berkemeja garis-garis. Dan mereka bertiga hanya mengangguk pelan.
Delon masuk kedalam. Dilihatnya Papanya yang masih terlihat marah sedang bicara dengan adiknya. Setelah melihat dia datang, Papanya langsung menghampirinya dan memukul wajahnya.
"Kenapa kamu ngga bilang ke Papa! Kalau orangtuanya Angga itu Dwi!!!" Teriaknya lantang. Delon hanya meringis kesakitan sembari memegangi sudut bibirnya yang terlihat memar. "Apa maksud kamu, Hah!!?!" lanjut pak Sapta.
"Pa, Delon bisa jelaskan semuanya. Awalnya Delon sama seperti Papa. Mengutuk Angga, tapi setelah Delon tahu kalau Angga tulus mencintai Amalia. Hari Delon berubah, Pa. Angga sampai rela mati-matian mencari Kevin untuk bersaksi kalau Delon gak bersalah. Setelah dia gagal, dia mencari cara agar mendapatkan petunjuk lain. Dengan menjebak Santika agar mau memberikan kesaksiannya di kantor polisi. Apa itu belum cukup, kalau dia benar-benar tulus mencintai Amalia!" Delon menceritakan pengorbanannya dalam membebaskan dia.
"Pa, benar Pak Dwi memang salah. Tapi, setiap manusia bisa berubah, Pa. Mungkin sekarang beliau sudah berubah, dan mengakui kesalahannya!" lanjutnya lagi. Pak Sapta masih diam, beliau menelaah satu demi satu kata-kata yang keluar dari mulut putranya itu.
__ADS_1
"Papa belum bisa memaafkan dia!!!" Satu kalimat terlontar dari mulut pria itu. Dan Delon hanya bisa pasrah menerima keputusan Papanya.
To be continued