
Empat bulan berlalu. Kehidupan keluarga kecil Angga dan Amalia berjalan dengan bahagia. Azka sudah mau tidur dengan Neneng. Angga pun tidak pernah pulang ke rumah orangtuanya. Walaupun dia sering ke Jakarta. Tapi dia tidak pernah mampir.
Malam itu sepasang suami-istri itu sedang berbaring di kamar. Selepas makan malam, mereka tak langsung tidur.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan padamu!" Amalia menatap wajah Suaminya.
"Katakan, sayang. Apa yang akan kamu bicarakan?" Angga menyenderkan kepala istrinya di dadanya.
"Dari dulu, aku ingin sekali punya usaha sendiri. Aku ingin punya butik baju, ya gak usah besar-besar juga gak apa." Amalia mulai mengeluarkan keinginannya selama ini.
"Kamu ingin membuka butik di mana, sayang?"
"Di Bandung."
"Itu artinya kita harus pindah dari sini. Agar tidak kejauhan. Ya udah, besok kita cari rumah sekaligus cari tempat untuk butik kamu." Angga akan mengabulkan permintaan istrinya. Asal wanita yang dicintainya itu bahagia, hidup bersama dia.
"Beneran, sayang!" Amalia langsung memeluk suaminya erat.
"Iya sayang. Apapun itu, jika membuatmu bahagia aku akan mengabulkannya," sahut Angga tersenyum manis pada istrinya.
"Termasuk menemui Papa Dwi dan Mama Renata?" Pertanyaan istrinya membuat pria itu diam dan mengarahkan pandangannya kearah lain.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, sayang. Kita menikah sudah empat bulan. Itu artinya kamu meninggalkan mereka sudah hampir lima bulan. Bahkan kamu menyembunyikan diri dari mereka. Kasihan mereka, sayang!" sambung Amalia, Angga kembali menatap wajah istrinya.
"Aku takut, mereka akan memisahkan kita lagi." Angga menjawab pertanyaan istrinya dengan suara berat. Dia teringat kejadian saat ayahnya memisahkan dirinya dari istri dan anaknya. Bahkan dia tidak ada di tengah-tengah istrinya saat melahirkan anaknya. Bagi Angga itu sangat menyakinkan.
"Sayang, kita belum mencobanya. Bagaimana kita tahu, kalau papa tidak menerima ku. Apalagi, setelah beliau melihat Azka. Aku yakin, papa akan luluh," bujuk Amalia pada suaminya. Dia tahu apa yang dirasakan suaminya. Karena dia juga merasakan hal itu.
__ADS_1
"Kamu yakin, sayang?" Wanita itu mengangguk. Jika dipikir memang apa yang dikatakan Amalia. Siapa yang tidak akan luluh melihat anaknya yang menggemaskan dan lucu itu. Apalagi, anaknya itu pintar sekali dan cepat akrab dengan siapapun.
"Besok kita temui mereka. Setelah melihat rumah dan ruko di Bandung." Wanita itu langsung mengucapkan puji syukur. Berharap hubungannya dengan mertuanya akan membaik.
Setelah bercengkrama dengan istrinya, dan istrinya pun sudah terlelap. Angga menghubungi assistennya untuk mencarikan rumah dan ruko untuk dirinya. Dia juga menugaskan pada asistennya agar besok semuanya harus sudah siap semuanya. Auto pria itu membuat assistennya ngelembur dengan tugas-tugasnya.
Selepas sarapan pagi keluarga kecil itu menuju ke kota Bandung. Untuk melihat rumah dan ruko yang sudah di kirim Niko, semalam. Angga memilih mencari mencari rumah untuk istrinya di daerah Bogor. Karena agar dia tidak terlalu jauh saat akan ke kantornya. Dan itu di setujui oleh istrinya.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah bergaya klasik modern. Dengan gaya arsitektur Eropa. Dengan banyak tiang-tiang besar di sekelilingnya. Mereka masuk kedalamnya. Untuk melihat isi didalamnya. Ternyata pemiliknya menjual rumah itu beserta isinya. Dan harganya lebih murah karena tidak melalui perantara. Rumah itu terdapat banyak kamar. Karena Angga ingin memiliki anak tidak cukup dua. Dia ingin punya anak lima dari Amalia. Setelah bertanya pada istrinya dengan rumah itu dan Amalia juga suka. Akhirnya Angga sepakat untuk membeli rumah itu dengan atas nama Amalia, istrinya.
Angga menugaskan Niko untuk mengurus surat-menyurat rumah itu. Sekarang mereka menuju ke ruko, tempat butiknya Amalia kelak. Tak jauh dari rumahnya, disana terdapat jejeran ruko di pinggir jalan lintas. Dan salah satunya di pilih oleh Niko sebagai rekomendasi untuk butik istri bosnya. Dan sangga juga suka dengan ruko itu, dan membelinya untuk istrinya. Semuanya diserahkan kepada Niko.
Lelah berjalan-jalan melihat rumah dan Ruko. Mereka singgah di restoran untuk makan siang. Restoran tradisional yang mereka pilih. Karena menu-menu masakan orang Sunda memang the best di mata keluarga kecil itu. Apalagi bocah kecil itu, dua sangat menyukai sayur asem. Dan tidak pernah ketinggalan dalam setiap menu keluarga mereka.
Usai mengisi perut dan sholat Dzuhur di masjid terdekat di daerah itu. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Jakarta. Ke rumah Pak Dwi. Sedikit rasa gugup, dari dalam hati ibu muda itu. Tapi, suaminya selalu memenangkan. Apalagi, putra kecilnya. Tapi saat masih setengah perjalanan mereka, tiba-tiba perut Amalia menjadi mual dan muntah-muntah. Angga langsung menepikan mobilnya di tepi jalan.
" Hoek, Hoek. Ngga tau, sayang. Kepala ku rasanya pusing sekali. Perutku juga mual!" Angga memijit-mijit tengkuk istrinya. Membalurkan minyak kayu putih, di tengkuk, perut istrinya.
"Bunda, mamam apa tadi?" Bocah kecil itu mendekat kearah Bundanya dan menanyakan hal itu. Dia menyaksikan dengannya. Jika makan jajanan warung, anak itu suka muntah-muntah.
"Bunda nggak makan apa-apa, sayang!" jawab Amalia lemah.
"Apa masih mual, sayang?" Wanita itupun mengangguk.
"Ya udah kita cari klinik di dekat sini." Angga kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari mencari klinik terdekat di daerah itu.
Sekitar tiga puluh kilometer dari tempat tadi, mereka menemukan sebuah klinik yang lumayan besar. Angga menghentikan mobilnya disana. Dia turun dari mobil, dan membantu istrinya untuk turun. Azka mengekor di belakang ayah bundanya. Mereka kemudian masuk kedalam. Sayang, kliniknya sedikit ramai. Jadi mereka masih harus menunggu lebih sabar lagi.
__ADS_1
"Kenapa Mas, istrinya?" tanya salah satu yang mengantar pasien juga disana.
"Perutnya mual, dan muntah-muntah, pak!" jawab Angga pada laki-laki berkepala plontos.
"Oh, hamil mungkin!" Celetuk pria itu. Angga melongo mendengar ucapan pria itu. Seketika pandangannya dialihkan menatap wajah istrinya.
"Sayang, kamu terakhir menstruasi kapan?" Kemudian dia bertanya pada istrinya perihal itu.
"Harusnya Minggu lalu, sayang." Angga langsung mendekat, dan memegang kedua lengan istrinya.
"Beneran, sayang. Jangan-jangan apa yang di bilang, Mas itu benar?" ucapannya kegirangan.
"Hamil, apa Bunda?" sahut Azka penasaran.
"Kamu akan punya adek, sayang!" jawab Angga. Seketika bocah itu melonjak kegirangan.
"Yeahhhh Azka mau punya Adek!" serunya sembari melonjak girang.
Setelah beberapa pasien lainnya di periksa. Sekarang giliran Amalia yang harus masuk kedalam. Angga pun ikut masuk kedalam. Mereka disambut dengan seorang dokter cantik. Setelah itu, Amalia baring di ranjang yang ada di situ. Dengan telaten, dokter itu memeriksa ibu muda itu sembari menanyakan keluhan yang dialami Amalia.
Setelah memeriksa Amalia, dokter itu mengajak mereka untuk duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang itu.
"Bagaimana keadaan istri, saya dok?" tanya Angga begitu antusias.
"Apa istri saya beneran hamil?" Dokter itu pun tersenyum menanggapi pertanyaan-pertanyaan Angga.
To be continued
__ADS_1