
Angga beranjak dari tempat duduknya kemudian membukakan pintu. Ceklek, setelah pintu terbuka, Angga sudah bisa menebaknya, siapa yang datang ke rumah Bi Rumi.
"Siang Pak, ini makanan dan pakaian yang Bapak minta, semuanya ada di sini!" ujar Niko memberikan beberapa paper bag pada Angga.
"Masuk, dulu Nik!" Angga mengajak Niko masuk kedalam, kemudian menutup kembali pintunya.
"Kamu yakin, tidak ada yang membuntuti kamu kesini?" tanya Angga sedikit takut, kalau persembunyiannya akan diketahui oleh papanya.
"Saya yakin Pak, tidak ada yang mengikuti saya!" jawab Niko yakin.
"Terimakasih ya Nik, berkat kamu saya bisa menemukan Amalia." Angga menepuk pundak Niko pelan.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Pak!" seru Niko merendah.
"Cuma kamu yang bisa mengerti perasaan saya, cinta saya pada Amalia sangatlah besar, hingga kadang-kadang suka marah-marah gak jelas sama kamu. Maafkan saya, ya!"
"Saya tahu Pak, semoga kedepannya tidak akan ada masalah lagi dengan hubungan Bapak dengan Amalia!" balas Niko tersenyum kearah Angga.
"Aamiin" sahut Angga.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak!" pamit Niko, mulai berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Angga.
"Terimakasih sekali lagi!" balas Angga, mengiring kepergian Niko.
Setelah Kepergian Niko, Angga masuk kedalam. Dilihatnya Amalia yang masih terlelap, dengan mulut sedikit terbuka. Jiwa isengnya mulai merasuki Angga, Angga kemudian mendekat, dan duduk disisi ranjang. Angga mengatupkan mulutnya Amalia yang sedikit terbuka, membuat Amalia terbangun dari tidurnya. Amalia terkejut saat Angga ada di sampingnya.
"Bapak?"
"Kamu tuh kalau tidur jelek tau!" goda Angga tersenyum mengejek.
"Maksud Bapak apa ngomong begitu, jelek-jelek begini, Bapak kebingungan kan, saat Amalia pergi meninggalkan Bapak!" balas Amalia yang sedikit cemberut.
Angga menjadi gemas melihat Amalia yang cemberut, mulut udah seperti bebek yang lagi nyosor ikan. Angga menyomot mulut Amalia, diikuti lirikan tajam dari Amalia.
"Itu mulut, bisa gak dikondisikan!" Angga beranjak saat Amalia sudah siap memukulnya.
"Kamu tahu nggak, saat-saat seperti ini yang selalu aku inginkan. Bisa bercanda bersama kamu. Menuangkan keluh kesah kita bersama." Angga kemudian mendekat lagi, dan duduk tepat dihadapan Amalia. Tangannya sudah mulai membelai pipi Amalia, membuat yang punya pipi tersipu malu.
"Sini, deket-deket aku! aku ingin setiap saat bisa memelukmu," Angga merentangkan tangannya, ingin disambut oleh Amalia. Dengan malu-malu, Amalia memeluk Angga.
__ADS_1
"Jangan pernah pergi lagi ya!" seru Angga mengecup rambut Amalia.
"Am tidak pantas untuk Bapak, Am hanya orang rendahan. Orang tua Bapak tidak suka dengan Am." Amalia menangis pilu, teringat saat Pak Dwi merendahkan dirinya.
Mendengar Amalia menangis, Angga melepaskan pelukannya. Diusapnya perlahan air mata Amalia, "Cuma kamu yang pantas bersanding dengan aku. Cuma kamu wanita yang mampu merubah hidup ku menjadi lebih baik. Aku ingin bisa beribadah bersama denganmu, melakukan kebaikan bersama denganmu, dan yang paling penting, aku ingin menyisakan hidupku bersama kamu." Angga kembali memeluk Amalia, dikecupnya bertubi-tubi ujung kepala Amalia. Tanpa terasa air matanya ikut jatuh membasahi rambut Amalia.
Angga teringat saat pertama kali bertemu dengan Amalia, saat dia melecehkan Amalia, dan membayar perbuatannya dengan selembar cek pada Amalia. Semua itu terlintas dikepalanya. Ternyata wanita yang ia rendahkan itu, mampu membuat dirinya menemukan cinta sejatinya.
"Bukankah Papanya Pak Angga mau menjodohkan Pak Angga dengan Bu Andin?" tanya Amalia disela-sela tangisnya.
"Jadi kamu mendengar gurauan Papa, waktu di pesta itu?" Amalia mengangguk.
"Dengar Am, meskipun Papa mau menjodohkan aku dengan anak presiden pun, aku tidak akan pernah mau. Karena aku sudah punya kamu, kamu segala-galanya buatku Am."
"Tapi, Bapak begitu akrab dengan Bu Andin, pake pangku-pangkuan segala!" seru Amalia membuat Angga mengulaskan senyumnya.
"Oh, jadi kamu cemburu?"
"Nggak, siapa yang cemburu!" elak Am, menatap kearah lain.
"Hmmm, masa sih, gak cemburu!" goda Angga membuat Amalia kesal, Amalia memukul-mukul kecil tangan Angga.
"Ya Allah, Tuhanku, apakah aku bisa meninggalkan pria yang benar-benar tulus mencintai ku. Tapi, bagaimana jika pak Dwi benar-benar mencelakai orangtuaku" batin Amalia.
Malam harinya,
Suara dari air yang menyentuh bumi mulai mengusik indera pendengaran. Memberikan rasa dingin hingga menusuk ke pori-pori kulit.
Setelah mengunci pintu ruang tamu serta beberapa jendela yang ada di ruangan itu, Angga memutuskan kembali masuk ke kamar yang ditempati Amalia untuk memastikan keadaannya. Ia mengulas senyum saat mendapati wanita itu tertidur pulas dengan tubuh terbungkus selimut hingga ke dada.
Perlahan ia mendekat dan mendaratkan tubuhnya di tepian tempat tidur. Matanya tak lepas memandangi wajah damai itu lekat-lekat. Angga mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Amalia dan membawanya ke belakang telinga wanita itu.
Sepersekian detik kemudian Angga melihat ada kerutan di dahinya Amalia, sepertinya wanita itu terusik dengan aktifitasnya.
"Pak ...."
"Apa aku mengganggumu?" Pertanyaan Angga hanya dijawab gelengan dari Amalia.
Sekarang, pandangan mata Angga beralih menatap perut rata Amalia dan mengusapnya lembut membuat darah wanita itu berdesir seketika.
__ADS_1
"Hai ... anak Papah. Apa kau baik-baik saja di sana? Maafkan Papah yang baru mengetahui keberadaanmu sekarang. Papah janji, Papah akan berupaya untuk membuatmu dan Mamah bahagia selamanya."
Mendengar itu, Amalia merasakan sesak di dadanya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Sebenarnya ia pun memimpikan hal yang sama namun ancaman pak Dwi begitu erat mengikatnya.
Tanpa sadar, pun tangan Amalia mengusap-ngusap rambut Angga yang masih asyik menciumi perutnya.
"Maafkan saya ..., lirih Amalia disela isakannya membuat Angga mengangkat kepalanya menatap Amalia.
"Kenapa menangis? Kamu nggak salah. Aku yang salah. Tapi aku akan menebus semuanya dan menjadikan kalian prioritasku sekarang."
Bukannya berhenti, Amalia semakin terisak membuat Angga panik dan menarik diri mendekat pada wanita yang dicintainya itu.
"Sayang, sudah jangan bersedih. Tidak baik untuk perkembangan anak kita," ujar Angga sembari menghapus jejak-jejak air mata Amalia.
Entah karena rindu yang tertahan atau apa, Amalia refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Angga dan menariknya ke dalam pelukannya. Tak ada tolakan dari Angga, justru pria itu menikmatinya.
Merasa Amalia sudah lebih tenang, Angga menarik tubuhnya dan menatap Amalia dari atas. Pandangan keduanya saling mengunci untuk beberapa saat sebelum kemudian pandangan itu teralih pada bibir Amalia yang begitu menggoda di matanya.
Tanpa aba-aba, Angga mengecup bibir itu membuat tubuh Amalia menegang seketika hingga tanpa sadar kedua belah bibirnya terbuka. Suatu kesalahan bagi Amalia, ternyata bibir itu kembali menjadi pusat pendaratan bibir Angga.
Bibir Angga mulai mengulum dengan lembut di bagian bibir bawah Amalia. Tidak ada balasan atau pun pergerakan dari Amalia. Angga tau, wanita itu masih terkejut tapi ia masih bisa menunggu sampai wanita itu benar-benar rileks.
Tanpa diduga, permainan Angga yang begitu lihai itu mampu membuat Amalia terbuai. Ia pun tak segan membalas ciuman. Pertautan bibir itu terjadi begitu menggairahkan.
Puas bermain-main di bibir bawah Amalia, perlahan-lahan lidah Angga masuk ke dalam rongga mulut Amalia. Ia mulai menari-narikan lidahnya di dalam sana, menggoda dan menggelitik satu sama lain.
"Emmhh ...."
Satu desahan lolos dari mulut Amalia membuat adrenalin Angga memacu begitu cepat. Sementara tangannya sudah tak terkendali, bermain-main di area yang paling sensitif Amalia yang sudah tak terbungkus pelindung itu. Entah kapan Angga melucuti pakaiannya di bagian 'itu', Amalia pun tak tau. Karena ia pun seperti tak mengenali dirinya sendiri efek gairah sudah membumbung tinggi menutupi akal sehatnya.
Cuaca dingin pada malam itu menjadi pendukung aktivitas panas mereka hingga pada akhirnya Amalia disadarkan dengan sentuhan di bagian bawah tubuh Angga yang menegang menyentuh kulit pahanya.
"Se-sepertinya kita sudahi sampai di sini, Pak ...." Amalia mendorong pelan dada Angga dengan perasaan tak enak membuat Angga menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan!"
To be continued...
Kira-kira besok mereka jadi nikah gak ya hehehe...
__ADS_1
Aduh si Angga mah main nyosor aja, huahuaa