Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Berhasil


__ADS_3

Mobil merangkak pelan di jalanan malam itu, rintik hujan mulai membasahi badan mobil. Seklebat cahaya berwarna jingga pun ikut menghiasi malam itu. Salah satu pengendara yang terjebak macet adalah sepasang ayah dan putrinya yang jenuh menunggu giliran melaju. Terlebih emosi mereka sedang benar-benar diujung kepala, sehingga umpatan demi umpatan keluar dari mulut keduanya.


"Bodoh kamu Angel. Tidak bisa diandalkan!!" gertak pria berpostur tinggi tegap walau usianya tak lagi muda pada Putri semata wayangnya.


"Papa terus saja menyalahkan Angel. Apa Papa pikir Papa tidak salah dalam hal ini?" balas Angel dengan nada suara yang lebih tinggi. "Kalau saja Papa tidak salah menginvestasikan dana ke perusahaan bodong itu, kita tidak akan mengalami hal ini!" lanjutnya masih menggerutu.


Burhan memang sedang mendapat masalah. Investasi yang di lakukan beberapa bulan yang lalu pada perusahaan yang baru saja ia kenal itu hanya kamuflase mereka yang ingin menipunya. Perusahaan itu tidak pernah ada.


Suasana menjadi menegang antara ayah dan putrinya itu. Mereka saling menyalahkan atas apa yang menimpa mereka saat ini. Kini keduanya hanya saling diam, hingga dering ponsel Burhan pun mengusik keduanya. Betapa terkejutnya pria itu setelah melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Dengan ragu-ragu, akhirnya ia angkat juga telpon dari pimpinan perusahaan yang akan membeli ide produk yang ia curi dari perusahaan Angga.


"Selamat malam pak," sapanya basa-basi. Namun sapaan darinya bahkan tak dihiraukan oleh seseorang yang disebrang sana. Terbukti dari cara bicaranya yang meledak-ledak ingin segera bertemu dengannya. Akhirnya panggilan telpon itu berakhir dengan keputusan, mereka harus segera memberi penjelasan tentang produk yang baru saja diluncurkan oleh perusahaan Siantara grup. Kini tujuan mereka berubah, yang harusnya menuju ke rumah mereka. Kini harus putar balik menuju ke perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan mereka.


"Bagaimana ini, kalau sampai Mr Jhon mencabut kerjasamanya dengan perusahaan kita?" gerutu Burhan, namun tak mendapat respon dari lawan bicaranya.


Sesampainya di sebuah gedung berlantai dua puluh lima, mobil mereka berhenti. Dengan langkah gamang, mereka turun dari mobil dan langsung menuju keruangan Mr Jhon. Lift mereka berhenti di lantai dua puluh. Ada tiga ruangan yang berada di lantai itu, langkah kaki mereka berhenti di ruangan yang lebih besar dari ketiga ruangan itu dan memiliki plakat di depannya 'Ruang direktur'.


Setelah mengeruk pintu dan mendapat persetujuan dari pemilik ruangan tersebut, mereka berdua masuk. Beber saja, tatapan tak bersahabat menyambut kedatangan Burhan dan Angel. Dengan ragu mereka berdua duduk berhadapan dengan Mr Jhon dan assisten pribadinya.


"Jelaskan pada saya tentang video ini!" bentak pria berwajah oriental seraya melempar ponselnya yang masih menyala.


"Sa__ya bisa jelaskan semuanya ada anda, Mr," ucap Burhan terbata.

__ADS_1


"Saya tidak mau tahu! Saya akan tarik kerjasama kita. Itu artinya kalian harus mengembalikan uang yang sudah saya keluarkan untuk membeli ide produk itu!!" sarkas Mr Jhon dengan wajah memerah.


"Bisa-bisanya kalian menjual ide orang lain, demi mendapatkan uang dari saya!" lanjutnya memandang remeh dua orang di hadapannya itu.


"Saya bisa jelaskan semuanya Pak_."


"Cukup!! Saya tidak mau dengar penjelasan apapun dari kalian!!!" pangkas Mr Jhon, sontak membuat mereka berdua tak berani bersuara.


"Saya beri waktu dua hari untuk anda mengembalikan uang saya. Kalau dalam dua hari anda tidak bisa mengembalikannya, saya akan menyita aset yang anda miliki. Itu artinya____ kalian akan menjadi gembel."


Ancaman Mr Jhon menjadi perbincangan terakhir dari mereka bertiga. Karena setelah itu assisten pribadinya menyeret mereka berdua keluar dari ruangan itu. Tanpa sempat melakukan pembelaan.


Malam itu begitu berat dilalui sebuah keluarga yang kini tak bisa tidur dengan nyenyak. Hingga bayang-bayang ancaman dari rekan bisnisnya membuat mereka berfikir lebih keras lagi agar ancaman itu tak bener terwujud. Hingga menjelang pagi tiba, Burhan masih belum beranjak dari ruang kerjanya. Entah apa yang ia rencanakan selanjutnya. Namun jika dilihat dari ekspresinya yang terlihat kusut, ia belum menemukan titik terang dari masalahnya itu.


"Lebih baik saya turun sekarang, Pak. Itu sepertinya pak Burhan sudah datang!" seru Santika pada Delon, orang yang ditugaskan untuk mengawalnya.


"Iya, semoga berhasil ya?" Santika tersenyum simpul.


Karena memang semenjak kejadian semalam, hubungan keduanya lebih membaik. Hanya saja mereka masih terlihat canggung, dan masih belum mau menerima kenyataan jika keduanya masih saling mencintai.


Suara hils mendominasi di sebuah lorong menuju keruangan direktur utama. Seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai itu mulai mendekati ruangan itu. Detak jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena akan bertemu dengan pujaan hatinya. Melainkan, kali ini ia mengemban tugas yang sangat penting menyangkut keadilan untuk orang yang ia cintai.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya yang baru saja masuk kedalam, kini keluar lagi. Entah ada yang ketinggalan atau apa, yang jelas itu sangat menguntungkan bagi Santika agar bisa segera melaksanakan tugasnya.


"Selamat pagi, Pak Burhan?" sapanya kemudian mendekati pria itu.


"Pagi," balas pria itu mengedarkan pandangannya ke arah wanita yang menghampirinya.


"Saya Santika dari perusahaan Santika grup." Kemudian Santika memperkenalkan diri.


"Wah ada angin apa pimpinan perusahaan sehebat Santika grup berkenan datang ke kantor kami," ucap Burhan mulai mengeluarkan rayuan-rayuan recehan itu pada Santika.


"Silahkan masuk." Kemudian mempersilahkan tamunya masuk keruangannya.


Mereka mulai berbincang mengenai bisnis dan lain sebagainya. Setelah mempunyai celah untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Santika pun berkata, "saya punya tawaran yang menarik untuk Bapak...;"


Burhan mulai masuk ke perangkap Angga. Dia begitu antusias dengan tawaran yang baru saja di sebutkan oleh rekan bisnisnya itu. Seperti mendapat angin segar, ia pun menerima tawaran itu tanpa memikirkan yang matang.


"Baiklah, saya setuju dengan tawaran anda. Saya akan urus berkasnya," ujarnya, mendapat senyuman kemenangan dari wanita di hadapannya.


Saham yang dimiliki oleh Burhan di jualnya dengan harga yang jauh di bawah rata-rata. Dia memilih mengambil keputusan itu, di banding menyerahkan aset berhaganya pada Mr Jhon. Bukan tanpa alasan ia begitu mudahnya menyetujui tawaran itu. Karena ia menyangka bisa mengambil keuntungan dari itu, sehingga ia bisa memanfaatkan rekannya itu.


Setengah dari saham yang seharusnya masih ia miliki, tapi karena Santika begitu pandai mengelabuinya. Sehingga Burhan tak menyadari telah menandatangani perjanjian bahwasannya semua saham sudah menjadi milik Angga Dwipangga. Begitu tergesa-gesanya pria itu sehingga tak membaca isi surat perjalanan itu. Dengan begitu secara otomatis, perusahaan Samudra cinta resmi menjadi milik Angga Dwipangga.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2