Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Penyesalan yang tak ada gunanya


__ADS_3

Pagi itu di kediaman Pak Dwi. Saat mereka sedang sarapan di meja makan. Azka merengek untuk bertemu dengan Bundanya. Apalagi, dia mendengar kalau Bundanya akan pulang hari ini, anak itu minta pada kakek dan neneknya untuk ikut menjemput Amalia pulang ke rumah.


"Ayo, Kek! Kita susul Bunda!!!" rengeknya tidak mau makan.


Pak Dwi bukannya tidak mau mengabulkan permintaan cucunya. Hanya saja, dia tidak mau terjadi keributan lagi di rumah sakit, gara-gara pak Sapta melihat dia. Apalagi tadi setelah menelpon Angga, pak Sapta ada di sana dan ngotot mau membawa pulang Amalia ke Bogor.


"Sayang, habiskan dulu makanannya, ya! Nanti, kita susul bunda," bujuk Bu Renata menyuapkan makanan ke mulut cucunya. Pak Dwi hanya melirik istrinya, dia sendiri masih ragu dengan ajakan Bu Renata untuk membawa cucunya ke rumah sakit.


"Pa, kita antar Azka aja sekarang. Dia tetap gak mau makan, sebelum ketemu sama Bundanya," ujar Bu Renata meletakkan sendok yang ia pegang. Pak Dwi hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya sudah. Kita kerumah sakit sekarang!" ucap Pak Dwi mendapat sorakan gembira dari cucunya. Anak itu langsung bersemangat dan kelihatan ceria pagi. "Azka tunggu di sini dulu, Kakek dan Nenek mau bicara, ya sayang!" lanjutnya mendapat jawaban dari cucunya.


"Ok, Kek. Sayang Kakek!" celoteh anak itu langsung memeluk pak Dwi. Pria itu menjadi terharu melihat Azka yang begitu mrnyanyanginya.


"Ya udah, Kakek ke kamar dulu." Psk Dwi mengusap-usap lembut rambut cucunya, setelah itu dia beranjak menuju ke kamar dan diikuti oleh istrinya.

__ADS_1


Bu Renata sempat bingung dengan perubahan sikap suaminya. Yang terlihat lebih pendiam akhir-akhir ini. Namun jika sedang berdua, pak Dwi terlihat hangat di mata istrinya. Terbukti, saat pagi tadi akan bangun dari tidurnya. Dia membangunkan istrinya dengan dua kecupan di kening istrinya. Bu Renata sempat kaget, namun setelah pak Dwi berkata demikian. 'Ma, makasih ya udah temenin Papa selama ini. Papa juga minta maaf jika Papa belum menjadi suami yang baik untuk Mama'. Hatinya begitu terharu mendengar penuturan suaminya yang menurutnya janggal. Tapi, dia tidak ingin membuang kesempatan itu, dengan menaruh curiga lagi dengan suaminya. Alhasil, mereka saling berpelukan melepas kerinduan yang seakan mereka rasakan nantinya.


"Pa, ada apa? Kok Papa ngajakin Mama disini?" tanya Bu Renata, saat mereka sudah sampai di kamar.


"Sapta, dia akan mengajak Amalia pulang ke Bogor!" Bu Renata tercengang.


"Ya ampun Pa, terus gimana dengan rumah tangga Angga dan Amalia!" teriak Bu Renata panik.


"Entahlah Ma, ini semua gara-gara Papa. Andai waktu itu Papa tidak melakukan kesalahan. Anak kita tidak akan menderita seperti ini," ucap Pak Dwi kelu. Raut wajahnya seketika berubah menjadi sedih. Karena keegoisannya, Angga harus menanggungnya sekarang. "Papa gak mau memperkeruh keadaan lagi, Ma. Papa takut, nanti kalau Papa bertemu lagi dengan Sapta, dia akan emosi lagi. Nanti Papa tunggu di lobi saja, ya!" lanjutnya, dan Bu Renata langsung memeluk suaminya.


Kini mereka sudah sampai di halaman rumah sakit. Mobil yang di bawa oleh supir keluarga pak Dwi mencari tempat parkir yang nyaman untuk menghentikan mobil mereka. Setelah dapat, dengan perlahan sopir itu memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir sempurna, mobil itu berhenti.


Pak Dwi dan Bu Renata turun dari mobil secara bersamaan. Setelah itu membantu Azka untuk turun, anak itu duduk di jok depan. Katanya biar bisa melindungi Kakek dan Neneknya. Setelah mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan menuju lobi rumah sakit.


Saat mereka sedang berjalan menuju lobi, tiba-tiba Pak Sapta keluar dari dalam dengan amarah yang meluap-luap sehingga tidak menyadari ada mobil yang melaju kencang kearahnya. Pak Dwi yang melihat itu, langsung berlari mendekati Pak Sapta. Setelah sampai di belakang Pak Sapta, Pak Dwi mendorong keras tubuh pak Sapta hingga terpental ke depan dan terhindar dari mobil itu yang semakin dekat kearahnya. Alih-alih akan menyelamatkan diri, namun waktunya tidak terburu. Mobil MPV berwarna hitam itu menghantam dirinya hingga melayang dari jarak setengah meter. Saking kencangnya mobil itu, Pak Dwi terpental ke depan dan Pyar kepalanya terhantam paping.

__ADS_1


Dia masih sempat sadar, hingga dia melihat banyak orang berkerumun di sana. Salah satunya adalah Pak Sapta, orang yang ia tolong. Namun rasa sakit yang teramat sangat ia rasakan di tubuhnya. Hingga dia harus cepat mengatakan. "Sapta..." Dadanya sakit seperti terhantam bebatuan dari atas gunung. Hingga dia tidak sanggup lagi. Seraya matanya mulai terpejam, namun bibirnya masih bisa bersuara. "Maafkan aku...."


Dan setelah itu, Pak Dwi tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Roh yang berada di jasadnya sudah di cabut oleh malaikat Izrail, seiring dengan kepergiannya. Dendam kusumat yang berada dalam diri pak Sapta luntur bersama kepergian Pak Dwi untuk selamanya.


Jenazah Pak Dwi di bawa keluar dari ruang UGD. Isak tangis dari Amalia dsn Angga tak henti-hentinya mengiringi jenazah itu hingga ke ruang mayat. Pak Sapta, pria itu tidak mampu lagi mengendalikan dirinya. Penyesalan, karena tidak memaafkan Pak Sapta menggerogoti dirinya. Hingga dia melihat sebujur tubuh tak bernyawa dengan di tutupi kain putih melintas di depannya. Pilu, hatinya sangat pilu. Andai waktu bisa di putar kembali, dia memilih akan memaafkan pak Dwi. Tapi semua itu sudah terlambat. Dan Pak Dwi sudah meninggalkan dunia ini. Permusuhan itu dibawa hingga mati oleh Pak Dwi.


Kini mereka sudah berada di kediaman Angga. Isakan tangis dari Bu Renata dan Amalia masih bisa terdengar para pelayat di sana. Apalagi Azka. Anak itu bahkan duduk di samping jenazah kakeknya. Menggoyang-goyang tubuh kakeknya. Berharap mata kakeknya yang tertutup rapat, bisa kembali terbuka.


"Kakek, bangun Kek!!! Huhuhu siapa yang ajak main Azka kalau bunda pelgi!!!" teriaknya berulang-ulang kali. Melihat Azka yang terlihat terpukul para pelayat ikut larut dalam kesedihan anak itu.


Sementara Angga, dia tidak bisa lagi berkata-kata. Hatinya pilu, melihat kepergian Papanya. Rasanya baru kemarin dia berdamai dengan Papanya. Sekarang, dia harus kehilangan sosok yang selalu ia tentang. Perasaan bersalah pun hinggap di hati pria itu, karena selama hidupnya selalu menentang perintah Papanya.


Pak Sapta, dia hanya bisa menatap kosong jenazah pak Dwi. Rasanya dia tidak percaya. Setelah hampir sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Dan mereka dipertemukan lagi, namun dalam keadaan yang kurang baik. Karena sebelumnya dendam sudah merasuk dari dalam diri Pak Sapta. Hingga dia buta. Tidak bisa melihat permintaan maaf yang tulus dari Pak Dwi, hingga alam yang memperlihatkan betapa tulusnya Pak Dwi ingin menebus kesalahan di masalalunya. Hingga dia rela mengorbankan nyawanya demi kata maaf dari Pak Sapta. Salam membawanya ke tempat peristirahatan terakhir dengan luka dan penyesalan dari dalam diri pak Sapta.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2