
Kurang lebih satu jam setengah mereka berada di ruang meeting. Akhirnya mereka mencapai kesepakatan, untuk menjalin kerjasama. Dan meeting pun berakhir dengan lancar.
"Baiklah Pak Angga, semoga kerjasama kita sama-sama menguntungkan bagi kita," ucap Santika, sembari menyalami Angga.
"I-ya Bu Santika. Saya senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Ibu," balas Angga.
Angga tak kunjung melepaskan tangan Santika dari tangannya. Dia memandang wajah Santika dengan seksama, hingga membuat wanita itu tertunduk malu. Tujuan Angga hanya satu, memancing wanita itu kedalam umpan permainannya. Angga yakin, tidak ada satu wanita pun yang akan menolaknya. Angga paling bisa membuat wanita bertekuk lutut di hadapannya. Mengingat gelar jomblo yang selama ini ia sandang, sebelum mengenal Istrinya. Akan mempermudah mempermudah dia menaklukkan wanita itu.
"Eh, maaf Bu. Saya kelepasan, saya terpaku dengan wanita secantik anda, Bu Santika," puji Angga membuat wanita itu semakin tersipu.
"Pak Angga bisa aja, kalau gitu saya permisi dulu, ya Pak!" pamit Santika pada pria di hadapannya itu. Angga pun mempersilahkan kliennya untuk meninggalkan tempat itu.
Angel yang melihat kejadian itu, membelalakkan matanya. Dia mengira kalau penyakit lamanya Angga kambuh. Yang suka gonta-ganti pasangan. Tapi dia tidak menyangka, kalau Angga bisa terpesona dengan wanita yang lebih tua darinya.
"Angel!! Apa kamu masih ada kepentingan disini?" sindir Angga menatap wanita yang berdiri mematung di belakangnya.
"Maaf, Kak! Angel permisi dulu," ucap Angel gaguk. Kemudian dia pergi meninggalkan ruangan itu. Tersisa Angga dan Niko.
Mereka berdua pun duduk bersebelahan. Angga sengaja menahan assistennya untuk tetap di tempat itu. Karena ada beberapa hal yang akan dia sampaikan.
"Kamu tahu, tugas kamu selanjutnya!!" ucap Angga mengelus dagunya.
"Iya Pak. Akan saya laksanakan!!" Niko sudah bisa menebak apa yang harus ia lakukan saat ini. Tugas selanjutnya adalah mengawasi gerak-gerik wanita itu. Agar atasannya bisa melancarkan aksinya.
Saat Angga berada di ruangannya. Dia sempatkan untuk menelpon istrinya. Juga memberitahu kalau malam ini dia akan pulang terlambat.
'maaf, ya sayang. malam ini aku pulangnya agak telat ya,' ucap Angga melalui ponselnya.
'iya, sayang! yang penting kamu bisa bawa diri kamu. Aku percaya kok, sama kamu!' balas Amalia.
Angga mulai menjalankan misinya. Setelah mendapat informasi dimana keberadaan Santika malam ini. Berbekal dari informasi dari orang suruhannya, Angga mendatangi tempat, dimana wanita itu nongkrong.
Jiwa mudanya Santika ternyata masih sangat kental. Wanita itu benar sekali nongkrong di cafe-cafe yang lagi trend di ibu kota.
__ADS_1
Disebuah cafe bernuansa romance, tempat wanita itu nongkrong saat ini. Wanita itu duduk disalah satu tempat yang telah di sediakan oleh pihak cafe. Sebuah room lengkap dengan tempat karoke nya, wanita itu sedang menikmati minumannya. Selain Santika yang berada di tempat itu. Ada beberapa teman lainnya yang menemaninya.
Sementara Angga sedang menunggu wanita itu keluar dari room privat, cafe tersebut. Dia duduk di salah satu bangku, tepat berada di depan room private itu. Sembari menikmati pesanannya, Angga terus memperhatikan ruangan yang ada di depannya itu.
Dan benar saja, tak berapa lama wanita itu keluar dari ruangan itu. Santika menuju ke toilet wanita yang terletak di sebelah barat dari ruangan itu. Wanita bermata coklat itu berjalan kearah toilet.
Dengan cepat Angga mengintili wanita itu. Santika masuk kedalam toilet untuk membenarkan make up-nya yang sedikit berantakan. Setelah rapi, wanita itupun keluar dari toilet. Dia berjalan kembali ke tempatnya tadi. Dari berlawanan arah Angga berjalan menuju ke toilet. Saat sudah dekat dengan Santika, Angga sengaja menabrakkan dirinya dengan Santika, sehingga wanita itu hampir terjungkal, namun di tangkap oleh Angga.
"Eh, maaf saya tidak sengaja," ucapnya seolah tidak tahu.
"Pak Angga!" tebak Santika, setelah melihat pria yang menolongnya.
"Bu Santika!" balas Angga.
"Terimakasih ya udah nolongin saya," ucap wanita yang memiliki kulit putih itu.
"Wah, saya yang seharusnya minta maaf pada Ibu." Wanita itu tersenyum lebar kearah pria di depannya.
"Gak apa, kok. Kesini dengan siapa?" tanya wanita itu yang sepertinya sudah masuk keperangkapnya Angga.
"Oh, saya juga sendiri," kilah Santika.
"Wah, kebetulan ini. Gimana kalau kita makan malam berdua," tawar Angga.
"Boleh!" Tanpa menunggu lama wanita itu langsung setuju. Angga tersenyum penuh kemenangan.
Santika ikut gabung di meja Angga. Sementara teman-temannya yang berada di room private, hanya dia kirim pesan untuk tidak mencarinya.
"Ngomong-ngomong wanita secantik Ibu, kok gak ada yang nemenin makan malam, sih!" Jurus-jurus Angga mulai di keluarkan.
"Ah, Bapak bisa aja. Saya memang sering nongkrong disini, sendiri. Tapi kadang-kadang sama temen juga," ucap Santika. Wanita itu mengulum senyum kearah Angga.
"Oh gitu, by the way. Jangan terlalu formal jika di luar kantor. Boleh saya sebut Ibu dengan sebutan nama?"
__ADS_1
"Boleh dong, pak Angga!"
"Etss, jangan panggil Bapak. Panggil nama saja. Ang-ga. Berasa tua saya kalau di sebut Bapak!" Mereka berdua tergelak.
Dalam hati Angga ternyata tidak mudah menaklukkan hati wanita itu. Dengan sedikit gombal-an wanita itu dengan mudahnya masuk ke permainannya.
"Ngomong-ngomong kamu kok belum menikah? atau jangan-jangan sedang menunggu seseorang?" Kini Angga sudah mulai mengulik tentang kepribadian Santika. Mungkin dari situ ada sebuah petunjuk.
"Saya..saya.. belum nemu pria yang pas saja, Ngga." Angga mengangguk.
"Oh, sayang wanita secantik kamu masih single. Pasti banyak pria-pria diluaran sana yang ingin mendapatkan hatimu!" Ucapan Angga sedikit menunjukkan perubahan dalam wajah Santika.
"Hati saya sudah mati.. terkubur bersama orang saya cintai." Dengan tidak sengaja wanita itu mengungkapkan hal itu.
Angga semakin gencar ingin lebih tahu lagi tentang wanita yang sedang bersamanya saat ini.
"Kenapa bisa seperti itu? hatimu sudah ada yang memiliki? maaf, kalau pertanyaan saya sedikit ngelantur."
"Tidak, saya justru senang bisa kenal dengan kamu. Mungkin saya memang butuh teman untuk berbagi cerita, seperti kamu."
Apa yang terjadi pada wanita itu. Bukannya dia termasuk orang yang mudah bergaul. Tapi dilihat dari nada bicaranya, seolah dia orang yang tertutup dengan orang disekitarnya.
"Saya pernah jatuh cinta, dengan seorang pria. Tapi pria itu sekarang sudah meninggal. Yang menjadi penyesalan saya. Pria itu merenggang nyawa di depan mata saya. Dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan dia." Angga masih menjadi pendengar yang baik.
"Karena suatu hal, saya meninggalkan dia di tempat itu. Yang lebih parahnya lagi, saya tak cukup berani mengatakan sebuah kebenaran." Sedikit lagi Angga bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Maksud kamu?"
"Pembunuhnya...maaf saya tidak bisa menceritakan ini pada kamu..." mimik wajah wanita itu berubah menjadi orang yang sedang ketakutan.
"Kamu kenapa, ini minum dulu... Biar sedikit tenang." Angga memberikan gelas minumannya kepada wanita itu. Dia semakin yakin kalau ada yang tidak beres.
"Boleh saya tanya sesuatu? tanya Angga saat sakura itu mulai tenang.
__ADS_1
"Apa yang barusan kamu ceritakan adalah kasus pembunuhan Adipati, putra dari pak Dwipangga?" seketika wajah wanita itu memucat...