
"Sayang, besok kamu ikut ke kantor, ya!" Amalia sontak terkejut mendengar perkataan suaminya.
"Mau ngapain." Angga menoel hidung istrinya, dan berkata.
"Mau ngenalin istrinya CEO tampan, ini!" Dengan pedenya dia memuji dirinya sendiri, membuat wanita disebelahnya tergelak.
"Idih!! pede banget sih, sayang." Saat-saat seperti ini yang membuat dirinya merasa hidupnya sudah lengkap.
"Udah ah, aku ganti baju dulu." Amalia berdiri dari duduknya menuju ke kamar mandi.
Setelah mengganti baju, Amalia mendekat kearah Suaminya. Angga yang masih sibuk dengan ponselnya. Seketika berhenti saat
melihat istrinya yang memakai dress tidur di atas lututnya. Menampilkan betapa mulusnya benda itu. Dengan sekali gerakan, sudah dipastikan istrinya akan jatuh kedalam pangkuannya.
"Sayang, ihhh geli!!" seru Amalia saat Angga mulai menyelusuri jenjang lehernya. Ucapan Amalia sepertinya tidak membuat Angga menghentikan aktivitasnya. Tanyanya semakin merajalela menjelajahi kedua bukit kembarnya. Amalia pun mulai terpancing gairahnya. Tapi dia ingat apa yang dikatakan oleh dokter, siang tadi. Membuat dua harus melakukan ini.
"Sayang, ingat kata dokter tadi." Seketika Angga menghentikan gerakannya, dan mendengus kesal. Karena hari ini dia, harus menahan hasratnya. Demi istrinya itu.
Merasa mendapat celah, Amalia melepaskan diri dari pangkuan suaminya. Dan mulai merangkak ke ranjang. Di susul oleh Angga yang terlihat murung. Tak lama setelah itu mereka sudah berada di alam mimpinya.
Di waktu yang sama. Sepasang suami istri yang masih terjaga, kini mereka berbaring mengapit cucunya. Bu Renata menyelusuri wajah Azka yang begitu mirip dengan ayahnya saat masih kecil. Pandangannya teralih pada suaminya. Yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pa, lagi mikirin apa?" tanya Bu Renata mengangkat tubuhnya dan menyenderkan punggungnya di dinding ranjang.
"Papa hanya sedang memikirkan almarhum Adi, Ma. Entah kenapa akhir-akhir ini Papa sering mimpiin dia." Mendengar suaminya menyinggung nama putra sulungnya, Bu Renata menjadi murung.
"Apa mungkin ada sesuatu yang masih menjadi beban di masa hidupnya, ya Ma?" Yang awalnya Bu Renata menatap kearah jendela kamarnya, kini dia beralih menatap suaminya. Kilatan rindu terlukis di mata suaminya dengan sosok yang sedang dibicarakan.
"Pa, mungkin selama ini kita tidak pernah mengirim doa untuk anak kita. Jadi Papa dimimpiin terus dengan Adi," ucap Bu Renata membuat pak Dwi menoleh kearahnya.
"Bener Ma. Besok kita ke makamnya, Ya. Kita ajak sekalian Angga dan Amalia." Bu Renata mengedipkan matanya dan tersenyum pada suaminya.
"Pa, gimana kalau kita buat acara resepsi pernikahan Angga dan Amalia," cetuk Bu Renata menyampaikan niatnya pada pak Dwi.
__ADS_1
"Tapi Ma." Bu Renata langsung melototi suaminya.
"Pa, Angga anak kita satu-satunya. Masa iya, nikah cuma di KUA aja. Sekalian kita kenalkan menanti kita di depan kolega-kolega Papa. Mama juga sudah gak sabar, mau ngenalin Amalia pada temen-temen Mama." Bu Renata begitu antusias dengan rencananya.
"Terserah kamu, aja Ma. Papa ngikut aja!" Bu Renata langsung tersenyum lega saat suaminya setuju dengan rencananya.
"Makasih, Pa."
Keesokan harinya. Sesuai rencana by Renata mereka pergi ke makam Adipati. Disebuah pemakaman umum di Jakarta pusat, itu tujuan mereka. Mereka berjalan masuk menuju nisan Adi. Setelah sampai di sana, lantunan demi lantunan ayat suci Al-Quran mereka bacakan untuk mendiang Adi.
Selepas mendoakan Adi, pak Dwi dan istrinya pamit duluan. Sementara Angga dan keluarga kecilnya menuju ke kantornya.
Sesampainya di kantor, semua mata memandang kearah mereka bertiga. Mereka bertanya-tanya dengan kedatangan Amalia disana. Tak banyak diantara mereka berbisik-bisik ria membicarakan Amalia.
Saat akan menuju ke ruangan Angga. Angel yang baru akan masuk keruangannya mengurungkan niatnya. Dan beralih melihat kearah keluarga kecil itu. Dengan gayanya yang tidak suka, Angel mendekati mereka bertiga.
"Kak Angga!" sapanya. Namun Angga tak bergeming.
"Ini orang kenapa ada bersama Kakak." Angel menunjuk ke wajah Amalia, dengan sigap tangan wanita itu di tepis oleh Angga.
"Istri? Hah, kapan kalian nikahnya?" tanya Angel menatap tajam kearah Amalia.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Angga sinis.
Angel memandang anak kecil yang berada disampingnya bundanya. Dia penasaran dengan anak itu.
"Oh, dengan cara kotor ini kamu menjerat kak Angga. Dasar wanita murahan!!"
"Jaga mulut kamu, jangan coba-coba menghina dia di depan mata saya." Angga menarik istrinya untuk masuk kedalam dan memilih meninggalkan Angel.
"Sayang, kamu gak usah dengerin omongan wanita itu. Yang penting sekarang, kita sudah resmi menikah," ujar Angga menenangkan istrinya yang mulai terlihat murung. Amalia tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Azka, sekarang jagain Bunda ya. Ayah kerja dulu," pinta Angga pada anaknya. Setelah itu, dia mengajak duduk anak istrinya di sofa. Saat dia akan beranjak dari sana, tangannya ditarik oleh Amalia.
__ADS_1
"Sayang, aku pulang aja ya!" ucap Amalia yang mulai merasa tidak nyaman.
"Nggak sayang. Kamu disini aja sama Azka. Aku cuma sebentar kok, kerjanya." Akhirnya dia pun menurut, dan lebih memilih duduk di sofa ruangan itu.
Tak lama setelah itu, Niko masuk keruangan Angga. Pria itu membawa beberapa dokumen untuk diserahkan pada atasannya.
"Permisi, Pak!" Angga memandang kearah asistennya.
"Pagi, tolong kamu kumpulkan semua pegawai di aula. Saya akan mengumumkan sesuatu," titahnya pada bawahnya itu.
"Baik Pak." Tidak menunggu lama, Niko pergi meninggalkan ruangan itu setelah memberikan dokumen itu pada Angga. Dan segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Angga.
Selang beberapa saat mereka sudah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup besar. Semua pegawai kantor Siantara grup berada di sana. Termasuk Angel.
Angga mengajak anak dan istrinya masuk kedalam. Setelah itu mengumumkan ke semua karyawannya kalau Amalia adalah istrinya. Dan Anak yang ada di gendongannya adalah anak kandungnya.
Semua karyawan Siantara grup terkejut mendengarnya. Tak banyak diantara mereka saling berbisik tidak suka pada Amalia. Tapi ada juga beberapa yang memuji pasangan itu sebagai Dangan yang romantis yang serasi.
Satu persatu karyawan membubarkan diri dari ruangan itu setelah pimpinannya menutup pengumuman itu. Niko mendekat kearah bosnya.
"Pak, hari ini kita ada meeting dengan jajaran direksi perusahaan. Seharusnya dua hari yang lalu. Tapi karena kesibukan Bapak, saya menghandle nya hari ini," ucapnya pada Angga.
"Ya sudah, ayo kita kesana." Tubuh Angga beralih pada anak dan istrinya.
"Sayang, kamu kembali keruangan aku dulu sama Azka. Nanti setelah meeting ini, kita pulang," Amelia pun mengangguk patuh dan mengajak anaknya ke ruangan Ayahnya.
Setelah disana, Azka begitu rewel, jenuh dan merengek karena capek. Berbagai cara Amalia lakukan untuk mendiamkan anaknya. Tapi tidak berhasil.
"Bunda Azka mau nontonnya video di labtobnya Ayah," pinta Azka pada bundanya. Angga memang sering mengajaknya nonton di Labtob miliknya.
Amalia tak lantas mengiyakan permintaan anaknya. Karena bagi dirinya, mengusik barang privasi milik suaminya itu tidak baik. Tapi karena anak itu masih merengek. Akhirnya dia mengabulkan permintaan anaknya. Dicari-carinya di galeri video yang di minta anaknya. Tapi tak sengaja, Amalia melihat ada foto kakaknya disana.
"Kenapa foto kakak ada disini?"
__ADS_1
To be continued