Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Anggota baru


__ADS_3

Dengan di bantu oleh pengendara lainnya, Angga mengantar korban kecelakaan itu ke rumah sakit.


Yang membuat Angga tak kuasa menitikkan air matanya adalah


saat dia menatap sendu seorang anak kecil yang juga menjadi korban kecelakaan itu yang terus menangisi tubuh ibunya yang sudah berlumuran darah.


"Mas cepetan dong nyetir nya," racau Angga panik, karena tubuh wanita itu mulai dingin.


"Kamu harus kuat, harus bertahan demi anak kamu." Angga memegang erat tangan wanita itu, seolah menyalurkan energi positif agar wanita itu mau berjuang untuk keselamatannya.


"A-ku.. su...dah gak ku..at la..gi," racau wanita itu terbata.


Rasa sakit yang begitu menghujam seluruh tubuhnya, seolah ia pasrah, hari itulah ajal menjemputnya. Dadanya bak di hantam batu besar yang menyesakkan, pangkal tenggorokannya seperti seorang yang menahan dahaga di tengah panasnya gurun pasir. Deru nafasnya sudah tak lagi beraturan, desir darahnya pun tak mampu bekerja dengan baik. Hingga sebuah kalimat terakhir ia ucapkan dengan sulitnya.


"Aku..titip Nadira." Seiring kalimat itu usai ia ucapkan, matanya pun menyusul terpejam. Nafasnya berhenti berhembus, denyut nadinya pun menyusul berhenti.


"Bunda!!??" tangis anak itu pecah.


Seorang anak perempuan berusia lima tahun itu menangisi kepergian bundanya. Kini hidupnya menjadi piatu, tak beribu. Ayahnya, tak tahu dimana rimbanya. Membuat Angga ikut larut dalam kesedihan yang di alami Nadira. Terlebih, wanita yang sekarang ini terbujur kaku di pangkuannya adalah wanita yang pernah mengisi hatinya selama tiga tahun lebih. Dia tak menyangka, nasibnya akan tragis seperti ini terlepas darinya.


Jenazah Dona kini sudah di semayamkan di pemakaman umum Jakarta pusat. Nadira, terus menangisi kepergian bundanya di gundukan tanah. Membuat semua orang yang melihatnya ikut larut dalam kesedihannya.


"Non, Nona yang sabar ya. Bunda sudah bahagia di surga," ucap wanita paruh baya yang selama ini mengasuh anak itu.


"Dira ingin ikut bunda." Perkataan anak itu sontak membuat Angga memeluknya. Dia tahu betul rasanya kehilangan orang yang disayang.

__ADS_1


"Sayang, masih ada Om yang sayang sama kamu. Kita pulang ya, pulang ke rumah Om," bujuknya menatap sendu Nadira.


Berbekal bujukan dari Angga, akhirnya Nadira mau ikut dengannya. Ikut pulang kerumahnya. Mungkin dengan membawanya ke rumah, anak itu sedikit melupakan bundanya. Terlebih, ada Azka yang mungkin bisa menjadi teman untuk anak itu.


Saat sudah sampai dan masuk kedalam rumahnya. Amalia, bu Renata beserta Azka putranya menyambutnya penuh tanya. Tatapan tiga orang itu tak lepas dari seorang anak perempuan yang memakai setelan celana jeans dan kaos yang sedang sembunyi di balik kaki Angga.


"Mas siapa anak kecil itu?" Amalia membuka suara.


Angga mensejajarkan diri dari gadis kecil itu, di tatapnya penuh kasih anak yang kini menjadi tanggungjawabnya. Setelah itu ia berkata, "Dira, ikut mbak Inah dulu ya ke kamar. Ini rumah Dira sekarang."


Anak itu membalas menatapnya, setelah itu ia memperhatikan satu persatu orang yang berdiri berjejer di depannya. Ada rasa tak nyaman dari gadis kecil itu, tapi ia sadar tempatnya disini sekarang. Setelah puas bermain dengan pikirannya, ia pun mengangguk. Membuat Angga tersenyum lega.


"Sayang, kamu antarkan dulu Nadira di kamar tamu ya? Setelah itu aku akan ceritakan semuanya."


Usai mengantar Nadira ke kamarnya, Amalia kembali ke ruang tamu. Tapi, sepertinya suaminya sudah tak ada lagi di tempat itu. Menyisakan Azka dan ibu mertuanya.


"Ma, Mas Angga kemana?" tanya Amalia mendaratkan tubuhnya di samping Azka. Tak lama setelah itu, Angga muncul dari luar. Menjawab pertanyaan dari Amalia.


"Sekarang kamu ceritakan sama kami. Siapa anak itu?" Kini giliran bu Renata yang menggebu-gebu dengan rasa penasaran dalam dirinya.


"Nadira itu anaknya Dona. Apa kamu masih ingat, sayang? Dona, yang waktu dia nikahan kita hadir di pestanya." Sekilas Amalia mulai mengingat-ingat kejadian enam tahun yang lalu.


"Iya, Amalia ingat. Tapi kenapa dia ada sama kamu, Mas?" Wajah Angga mulai serius. Dia ceritakan pertemuannya tadi dengan Dona, dan Nadira bisa ikut bersamanya. Semua yang mendengarnya ikut iba dengan nasib gadis kecil itu.


"Kasihan kak Nadila." Terlebih Azka, dia membayangkan jika ia berada di posisi Nadira.

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu harus bersikap dan berteman baik ya dengan Kak Nadira." Azka mengangguk.


Percakapan mereka berakhir, mengingat sudah waktunya adzan Maghrib berkumandang. Mereka melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Usai membersihkan diri, dan sholat Maghrib. Angga menghampiri istrinya yang terlihat murung. "Sayang, kamu kenapa?" ujar Angga, yang sudah duduk di sebelah istrinya.


Wanita itu menoleh kearah suaminya. Di telusuri wajah tampan milik Angga, seraya memuji betapa indahnya ciptaan Tuhan yang berada tepat di depan wajahnya. Namun sikapnya membuat Angga semakin tak tenang.


"Sayang, apa kamu keberatan kalau aku bawa Nadira kesini?" Angga bertanya lagi, karena tak kunjung mendapat jawaban dari sang istri.


Amalia menggeleng seraya berkata, "Tuhan begitu baik padaku, Mas." Angga mengernyitkan keningnya. "Dia kirimkan Nadira padaku, setelah aku tahu kalau aku tak lagi bisa punya anak." Seketika Angga memegang kedua pundak istrinya.


"Maksud kamu apa sayang?"


Amalia menceritakan hasil pemeriksaan kesehatannya pada sang suami. Bahwa dia di vonis menderita rahim kering, sel telurnya tak bisa lagi membuahi ****** milik Angga. Karena itu, akan sulit bagi dia untuk hamil lagi.


"Sayang, kenapa kamu sembunyikan hal itu dariku?" Angga mulai mendekati istrinya yang perlahan mulai menitikkan air mata. Di tariknya perlahan tubuh sang istri, agar dapat ia dekap.


"Aku takut Mas," lirih Amalia sesegukan.


"Apa yang kamu takutkan. Itu hal penting sayang. Masalah kesehatanmu." Angga menurunkan nada bicaranya, dia begitu terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh Amalia.


"Bagiku tidak ada yang lebih penting dari kamu, mama, dan Azka."


Mereka larut dalam kesedihan yang harus di sudahi. Berharap kehadiran Nadira sebagai pelengkap di hidup mereka, kelak.

__ADS_1


__ADS_2