Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Kalah telak


__ADS_3

Di hari yang sama. Di sebuah gudang produksi milik direktur utama PT Dirgantara group, suasana tampak riuh sejak kedatangan pemilik perusahaan tersebut. Tak seperti biasa, pegawai melakukan pekerjaannya dengan sangat cepat. Sesuai rencana Angga yang akan segera meluncurkan produk yang di curi oleh Angel dan Burhan lebih cepat dari hasil meeting kemarin.


Sengaja ia mengelabuhi dua manusia licik itu dengan cara tadi. Dengan begitu ide yang mereka curi dan akan di jual pada perusahaan Asing yang baru saja bekerjasama dengan mereka akan kadaluarsa. Karena perusahaan Angga yang lebih dulu meluncurkan produk tersebut. Kalaupun mereka berhasil meluncurkan produk itu, toh perusahaan merekalah yang akan disangka peniru.


Dari hasil pengujian hingga produk itu terbit hanya membutuhkan waktu satu minggu. Angga kini berhasil meluncurkan dan peresmian produknya di hotel grandyestota, Jakarta pusat. Beberapa kolega dan rekan bisnisnya pun ikut menghadiri acara tersebut.


Apa yang dilakukan oleh Angga, sontak membuat Angel dan Burhan menganga. Bisa-bisanya mereka kalah cepat dengan Dirgantara grup. Bahkan mereka berdua pun turut menyaksikan peluncuran produk tersebut. Terbukti produk minuman dari bahan kualitas itu berhasil. Terlihat baru sehari produk mereka di iklankan di media elektronik dan media massa, sudah mendapat respon yang luar biasa dari distributor ataupun agen dari berbagai daerah.


"Selamat untuk Pak Angga Dwipangga atas kesuksesannya meluncurkan produk minuman yang luar biasa ini," puji seorang kolega sekaligus donatur dari produk tersebut.


"Terimakasih atas pujiannya Pak. Tentu saja keberhasilan ini semata-mata bukan hanya milik saya, tapi karena team lah yang sangat luar biasa melancarkan semuanya," balas Angga merendah.


Percakapan mereka berdua menjadi pusat perhatian dua orang wanita dan satu orang pria paruh baya yang duduk tak jauh dari tempat duduk Angga dan rekan bisnisnya itu.


"Ngel, bagaimana bisa kamu kecolongan. Bodoh kamu!!" sarkas Burhan mulai menyalahkan putrinya.


"Pa, Angel gak tau. sungguh ini diluar ekspektasi Angel. Bahkan mereka bermain cantik, hingga gerak-geriknya Angel gak bisa baca," bela wanita cantik dengan dres maroon nya.


Sepertinya orang yang mereka bicarakan itu mendengar perdebatan mereka. Sekilas pria itu melirik kearahnya dan tersenyum puas melihat musuhnya yang kalah talak darinya. Tak ingin membuang kesempatan itu, pria itupun menghampiri ke tempat duduk mereka.


"Om, senang Om Burhan bisa hadir di acara launching produk baru di perusahaan Angga," ujar Angga tersenyum kearah Burhan. Sementara pria yang memakai jas berwarna hitam itu tersenyum getir sebagai tanggapan perkataannya.


"Ka__mu memang hebat Ngga," puji Burhan terbata.

__ADS_1


"Ah, Om terlalu memuji. Ini juga berkat kerja keras dari putri anda juga Om," balas Angga melirik wanita disebelahnya. Sontak membuat wanita itu tertunduk malu.


Mereka kemudian berbincang, meskipun suasananya sedikit canggung. Tak hanya sekedar berbincang yang dilakukan Angga adalah untuk mencari celah kelemahan musuhnya. Hingga acara berakhir, dan semua orang sudah membubarkan diri dari aula hotel tersebut.


"Kamu memang luar biasa, Ngga. Kakak salut dengan kinerja kamu. Pantas saja semua pesaing bisnismu bergidik ngeri jika Berhad langsung denganmu." Delon memberi selamat atas prestasi adik iparnya yang luar biasa.


"Terimakasih Kak. Kakak juga sudah ikut andil membantu semua rencana Angga. Kalau bukan kerja keras kita, Angga yakin kita tidak akan sesukses ini." Mereka saling melempar senyum.


Acara launching produk Angga tersenut memang tidak di hadiri langsung oleh istrinya. Sejak dua hari yang lalu, kesehatan Azka sedikit mengkhawatirkan. Walaupun tidak terlalu parah. Tapi wanita itu tak ingin sedikit pun meninggalkan putranya yang sedang sakit. Dia lebih memilih untuk tinggal di rumah dan menyaksikan acara tersebut dari layar televisi.


"Sekarang Kakak tahu 'kan? Apa yang akan Kakak lakukan selanjutnya?" Angga melirik ke arah Santika yang berdiri tepat di samping Delon. "Apa Bu Santika sudah siap?" Kemudian bertanya pada wanita itu.


"Sudah Pak Angga. Semua sudah disiapkan oleh Pak Delon," jawab wanita itu penuh keyakinan.


Kerlip lampu mulai menghiasi kota Jakarta. Mentari yang selama dua belas jam menemani kehidupan manusia, kini mulai menyembunyikan wajahnya. Beberapa aktivitas pun sudah mulai berhenti, pun dengan aula hotel grandyestoya sudah kosong. Mereka semua sudah mulai meninggi tempat itu. Delon, Angga dan Santika. Mereka bertiga berjalan bersama menuju lobi hotel tersebut. Usai melaksanakan sholat Maghrib, mereka memilih untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Kak, lebih baik Kakak antar Bu Santika, deh. Kasihan kalau harus menunggu sopirnya," usul Angga yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak ipar.


"Eh gak perlu repot-repot. Biar saya tunggu sopir saya aja disini," tolak Santika.


"Ya kali Kakak tega gitu biarin seorang wanita sendiri disini. Nanti kalau ada orang yang berbuat jahat gimana?" sahut Angga menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Lagian 'kan ini malam Minggu, sekalian gitu jalan. Biar bisa merubah status Kakak, gitu?" lanjutnya.

__ADS_1


"Udah deh Ngga. Gak usah cari masalah ya dengan Kakak," ancam Delon sinis. Sementara hanya tertunduk.


"Kasihan loh Kak," bisik Angga menyenggol lengan Delon.


Delon kemudian memandang wanita yang memakai setelan blazer lengkap dengan celananya. Melihat Santika gugup saat ia perhatikan. Akhirnya pria itu melempar pandangannya kesembarang. Ada sesuatu yang aneh disana, tiap kali ia menatap wanita itu. Dari sisi lain ia membenarkan perkataan adik iparnya itu. Tapi disisi lain ia gengsi untuk sekedar mengantarnya pulang.


"Angga duluan ya?" ujar Angga yang mulai menangkap hawa tidak beres dari keduanya. Ia tak ingin lama-lama menjadi nyamuk ditengah-tengah calon pasangan yang masih sama-sama gengsi itu.


Selepas kepergian Angga, akhirnya Santika bersuara. "Kalau gitu saya juga permisi dulu," pamitnya pada Delon.


"Tapi jemputan kamu belum datang. Sebaiknya kamu tunggu dulu disini," sergah Delon.


"Saya naik taksi saja. Karena supir saya baru saja mengabarkan kalau beliau masih perjalanan menjemput Mama di bandara," terang Santika, mulai beranjak dari tempatnya. Sontak membuat Delon mencegahnya.


"Saya antar!"


Dua orang yang sekarang berada di dalam mobil itu hanya saling diam. Suasana tampak sepi, yang terdengar hanya suara mesin mobil mereka. Tak ada yang berbuat membuka suara lebih dulu saat mereka masuk tadi. Hingga tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang hampir saja menabrak ke arah mobil mereka. Beruntung Delon sudah lebih dulu siap dengan pedal rem di kakinya. Sehingga mereka bisa selamat dari kecelakaan itu. Tapi sebagai gantinya, kepala keduanya terbentur benda dihadapannya.


"Auhhh, sakit!!" Delon yang juga terbentur stir mobil langsung memeriksa keadaan wanita yang sedang bersamanya.


"Kamu nggak apa? Ada yang luka?" cecar Delon memegangi pelipis Santika.


Perlakuan Delon membuat Santika terperangah. Hingga pandangan mereka kembali bertemu. Tak bisa dipungkiri dari keduanya, menang masih memiliki getaran cinta itu. Sayang, mereka tak cukup berani mengakui itu. Seolah masih ada benteng yang menjulang, yang menjadi penghalang kisah cinta mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2