
"Eh, Pa!" seru Delon dan Angga bersamaan. Psk Sapta mendekati mereka berdua, dia juga ikut duduk di samping Delon. Mimik wajahnya masih penasaran dengan apa yang anak dan menantunya bicarakan. "Kita cari makan dulu, yuk Pa!" lanjut Delon mengalihkan perhatian pak Sapta.
"Papa gak lapar, tadi kalian bicara apa? Masalah...masalah apa emangnya?" ulang pak Dwi menatap mereka berdua bergantian. Angga dan Delon saling pandang, mencari jawaban atas pertanyaan pak Sapta. Hingga Angga mengedipkan matanya, sebagai tanda agar kakak iparnya tidak dulu berkata jujur.
"Masalah di kantor, Pa. Biasalah, dunia bisnis sangat kejam. Salah sedikit saja, berakibat fatal untuk kedepannya," kilah Angga terus menatap wajah kakak iparnya.
"Iya, Pa. Tadi kita membicarakan masalah kantor. Papa bener gak mau makan, dulu?" timpal Delon cengengesan.
"Nggak, Lon. Papa belum lapar, coba kamu tawarin mamamu. Mungkin dia lapar. Tadi kan, pas berangkat. Mamamu belum makan!" ujar pak Sapta pada Delon. Pria itu langsung mengangguk, dan beranjak dari tempat duduknya menuju ke dalam ruang Amalia.
Tinggallah mereka berdua. Pak Sapta dan Angga. Banyak yang mereka obrolkan tentang bisnis dan masalah-masalah kantor. Pak Sapta, orang yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis. Ikut memberi beberapa saran pada menantunya. Bahkan beliau bercerita tentang perusahaan miliknya yang di rebut oleh Burhan, direktur umum yang di percayakan oleh pak Sapta. Dengan liciknya dia bekerjasama dengan pak Dwi untuk menghancurkan perusahaan itu dan di beli dengan harga yang sangat murah.
"Jadi, perusahaan samudra cinta itu adalah milik Papa?" tanya Angga keceplosan. Seketika wajahnya berubah pucat pasi, seperti seorang maling yang tertangkap basah.
"Perusahaan samudra cinta? Perusahan siapa itu, Ngga?" jawab pak Sapta sedikit bingung dengan pertanyaan menantunya, alhasil dia bertanya balik pada Angga.
Angga yang sudah terlanjur keceplosan, akhirnya dia menjawab jujur pertanyaan papa mertuanya. "Itu loh, Pa. Perusahaan yang sekarang jadi milik OM Burhan?" Pak Sapta sedikit syok dengan jawaban Angga. Dia berfikir kenapa perusahaan miliknya dulu, diganti nama dengan perusahaan samudra cinta. Padahal perusahaan itu dirintis oleh almarhum papanya dengan nama Surya Gemilang. Bukan tanpa alasan perusahaan itu di beriman Surya Gemilang. Itu adalah nama dari almarhum papanya. Kelak, perusahaan itu berkembang pesat seperti namanya yang sudah di kenal di rancah bisnis Nusantara. Papanya beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah dan dari berbagai kompetensi pembisnis handal. "Pa, Papa kok diem!" lanjut Angga, pak Sapta tersadar dari lamunannya.
"Papa gak nyangka, Burhan juga mengganti nama perusahaan itu. Papa benar-benar kecewa, karena tidak bisa menjaga amanat dari almarhum kakekmu."
"Jadi bener Pa, itu benar perusahaan Papa?"
"Iya, Ngga!"
Angga berfikir akan merebut kembali perusahaan itu dari tangan pak Burhan. Mengingat sekarang perusahaan itu diambang kebangkrutan. Jadi dengan mudah Angga akan bisa merebut kembali perusahaan itu dari tangan pak Burhan. Hanya tinggal menyusun siasatnya saja, agar pak Burhan tidak merasa curiga padanya.
Malam itu keluarga pak Sapta memilih menginap di rumah sakit. Sementara Delon, dia kembali ke apartemen milik Angga. Dan Angga sendiri, dia masih tetap setia menunggu istrinya.
Pagi-pagi Azka merengek ingin bertemu dengan bundanya. Mau tidak mau pak Dwi dan istrinya mengantar cucunya ke rumah sakit. Tapi dengan syarat, Azka sarapan dulu dan minum susunya. Azka pun menyetujui syarat itu. Dengan cepat, anak itu meneguk susu dan sereal nya. Setelah mangkok dan gelasnya kosong. Azka menagih janji kakek dan neneknya untuk mengantar ke tempat bundanya. Akhirnya mereka mengantarnya. Padahal matahari belum muncul dari arah timur, embun pagi belum mengering. Tapi mereka sudah berada dijalanan ibukota. Dengan diantar mang Darma, mereka sampai juga di rumah sakit, tempat Amalia di rawat. Azka langsung turun dari mobilnya, tanpa di bantu kakek dan neneknya. Dengan girangnya dia mengikuti langkah kaki pak Dwi dan istri. Hingga mereka hampir sampai di ruang VIP, tapi tiba-tiba ponsel pak Dwi berdering. Sehingga harus menghentikan langkah kakinya di tempat itu.
"Ma, Papa angkat telpon dulu, ya. Dari Burhan!" seru pak Dwi pada istrinya.
"Hmmm, jangan lama-lama ya, Pa. Nanti dicariin sama cucu Papa yang pintar ini." Bu Renata menoel dagu cucunya, sehingga pemiliknya meringis geli.
Pak Dwi memilih mencari tempat yang sinyal-nya jelas untuk menerima panggilan dari temannya. Sementara bu Renata dan Azka, mereka melanjutkan kembali langkah kakinya menuju ke ruang rawat Amalia.
__ADS_1
Saat mereka akan masuk, Pak Sapta dan istri juga akan keluar dari ruang itu. Sehingga tak sengaja bertabrakan dengan mereka berdua. "Azka," sapa pak Sapta setelah melihat kehadiran cucunya.
"Kakek!!? Yea...yea..." teriak Azka kegirangan, anak itu langsung memeluk kakeknya, tapi sebelum itu pak Sapta berjongkok agar bisa sejajar dengan cucunya. "Kakek datang," lanjut bocah itu.
"Wah berarti Bapak dan Ibu ini orangtuanya Amalia, ya!" tebak Bu Renata menatap keduanya.
"Iya benar, Bu!" balas Bu Leha.
"Wah senangnya, akhirnya kita bisa bertemu disini!" ujar Bu Renata menyalami Bu Leha sembari cipaka cipiki, setelah itu beralih dengan pak Sapta, mereka hanya bersalaman dan saling memperkenalkan diri.
"Mana Bapak, gak ikut Bu?" tanya pak Sapta sembari mencari-cari seseorang.
"Ikut, tapi masih terima telpon dari temannya. Oh iya, udah pada sarapan belum ini. Kebetulan saya bawa bubur ayam, kita sarapan dulu aja yuk!" tawar Bu Renata pada mereka berdua.
"Wah kebetulan banget ini, mah. Kita baru aja mau sarapan, ya kan Ma!" balas pak Sapta menengok ke arah istrinya.
"Ya udah, kita sarapan bersama dulu aja. Sayang, kita temenin kakek dan nenek sarapan, yuk!" Azka mengangguk senang.
"Ok, Nek!!!" Menempelkan ibu jari dan telunjuknya.
"Ya sudah, ayo!"
Sementara pak Dwi, yang sudah selesai dengan telponnya langsung menyusul istri dan cucunya. Beliau langsung masuk kedalam ruang rawat Amalia. Disana hanya ada Angga yang sedang menyuapi Amalia. "Pa! Mana Mama dan Azka? Gak ikut?" cecar Angga membuat pak Dwi bingung.
"Loh, bukannya mereka sudah ada di sini. Tadi, papa tinggal angket telpon dari om Burhan. Dan mama kamu kesini duluan sama Azka. Kok, sekarang gak ada?" Angga juga terlihat bingung setelah penjelasan dari papanya. "Terus dimana mereka?" lanjut pak Dwi yang kemudian duduk di sofa.
"Coba Papa telpon handphone nya Mama, dan tanyakan ada dimana sekarang?" saran Angga, dan langsung disetujui oleh pak Dwi. Beliau mengambil benda pipih dari saku jasnya, setelah itu menghubungi Bu Renata. Dan setelah tahu, istrinya ada dimana. Wajah pak Dwi berubah seketika.
"Kenapa, Pa?" tanya Angga khawatir setelah melihat perubahan di wajah papanya.
"Kamu tahu, mamamu ada dimana? Mamamu sedang sarapan bersama dengan mertuamu, Ngga!" Sekarang giliran wajah Angga yang menjadi pucat pasi. Dia hampir lupa, kalau hari ini kedua keluarga itu akan bertemu. Bukan, kebahagiaan yang akan mereka temukan saat ini. Tapi, kekacauan yang akan terjadi selanjutnya.
"Kenapa? Apa papa dan kamu, Mas! Gak suka dengan kehadiran orangtua Am disini!" sahut Amalia sedikit kasar.
"Sayang, kamu ngomong apa? Aku justru sangat senang, dengan kedatangan papa dan mama disini!" seloroh Angga yang mulai khawatir dengan Amelia.
__ADS_1
"Bohong! Kamu bohong, Mas! Kamu bahkan menyembunyikannya dari aku, istrimu!"
"Sayang, aku lakuin itu karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku takut, sayang takut!!!" Angga mulai menitikkan air matanya.
"Bohong!!!!"
"Cukup!!?? Cukup!!! Papa yang salah, dan Papa sendiri yang akan menemui orangtuamu untuk meminta maaf pada mereka!!" lerai Pak Dwi.
Pak Dwi langsung keluar menuju ke kantin. Mungkin sudah saatnya pak Sapta tahu, kalau Angga adalah anak dari musuhnya. Pak Dwi sampai juga di kantin itu. Dia langsung mencari di mana mereka duduk. Ternyata, istri, cucu dan besannya duduk di pojok sebelah jendela. Pak Dwi langsung menghampiri mereka.
"Kok lama, ya Bu Suami saya. Saya telpon dulu lagi aja, ya." Saat Bu Renata akan mengambil handphone, suara pak Dwi menghentikan aktivitasnya.
"Ma!" seru pak Dwi yang berdiri di belakang pak Sapta. Sontak suara pak Dwi menarik pak Sapta untuk menengok kebelakang. Dan berdoa terkejutnya dia dengan apa yang ia lihat. Orang yang selama sepuluh tahun ini, membuat dirinya dan keluarganya menderita berdiri pas di belakangnya.
"Dwi!???" pekiknya seraya bangkit dari tempat duduknya dan langsung mencengkeram kerah baju pak Dwi.
"Papa!!? Apa-apaan ini!!!!" teriak Bu Leha panik, beliau langsung mendekati suaminya di susul dengan Bu Renata.
"Cuihhh...masih berani kamu menunjukkan batang hidung kamu disini?" decaknya yang mulai memanas.
"Lepaskan Pa. Jangan buat keributan disini, pa!!!" lerai Bu Leha menarik tubuh suaminya.
"Apa Mama tahu, siapa orang ini!!! Dia adalah orang yang sudah membuat keluarga kita menderita!!! Dia juga orang yang membuat Delon di penjara!!!!" Ucapan pak Sapta membuat dua orang wanita di tempat itu membelalakkan matanya seraya membuka mulutnya menganga. Mereka tidak mempercayai hal itu.
"Tapi dia suami saya!!!!" teriak Bu Renata.
Azka yang melihat kejadian itu, menangis sekencang-kencangnya. Andi itu takut dengan pertengkaran mereka. Bu Leha langsung menggendong Azka dan membawanya pergi dari tempat itu. Beliau tidak mau Azka ketakutan lagi.
Sementara Azka dibawa pergi. Pak Sapta masih menatap tajam kearah pak Dwi. Terlihat jelas dari matanya. Api amarah meliputi dirinya.
"Sapta, saya minta maaf atas kejadian itu. Saya.." Bughh satu tinjuan berhasil membuat pak Dwi tersungkur.
"Astaghfirullah Papa!!!" pekik Bu Renata membantu suaminya untuk berdiri. "Cukup pak Sapta!!! Cukup!!!" lanjutnya.
"Saya tidak akan pernah membiarkan anak saya hidup dengan pria yang papanya seorang mafia seperti kamu. Orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan kamu!!!" Psk Sapta meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Dia berjalan dengan cepat menuju keruang rawat Amalia. Dan benar saja setelah sampai di sana, Angga ditarik paksa oleh pak Sapta. "Keluar!!! Pergi kamu dari sini!!!!!" Teriaknya membuat Angga terkejut. Dan sudah di pastikan kalau papa mertuanya itu sudah tahu semua.
"Pa!!! Ada apa ini?"