Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Kamu kenapa sayang?


__ADS_3

Di kamar yang bernuansa elegan, tampak seorang wanita yang memakai dres favoritnya duduk di sisi ranjang. Usai menidurkan putranya tadi, wanita itu bergegas kembali ke kamarnya. Takut jika, suaminya kelamaan menunggu. Namun, saat dia sudah masuk ke dalam, Amalia tidak menemukan Angga di kamarnya. Dan dia lebih memilih menunggunya di sana.


Tak berapa lama, suara handle pintu terbuka terdengar dari luar, sontak iris milik Amalia tertuju kesana. Seorang pria yang masih mengenakan pakaian kerjanya, segera mendekati dirinya yang sudah terlihat cantik, duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Angga pada istrinya.


"Aku 'kan nunggu kamu, Mas. Kok lama, apa ada masalah lagi?" Amalia segera bangkit dari duduknya, dan membantu sang suami melepaskan baju kerjanya.


"Nggak, kok. Maaf ya buat kamu menunggu." Sebuah kecupan mendarat di kening Amalia, sontak membuat wajah wanita itu bersemu merah.


Melihat istrinya yang semakin lama semakin cantik, membuat pria pemilik senyum manis itu melakukan lebih dari yang barusan ia lakukan. Perlahan ia balikkan tubuh sang istri membelakangi dirinya, setelah itu ia kalungkan kedua tangannya di perut Amalia.


Aroma wangi dari tubuh sang istri, sontak membuat pemilik hidung mancung itu mendaratkan hidungnya di pundak sang istri. "Sayang, kita buatkan adik untuk Azka, ya?" bisik pria itu membuat bulu kuduk Amalia berdiri.


"Mas, ihh.. mandi dulu, sana. Bau, tau!!!" ketus wanita itu merengut.


"Tunggu bentar lagi, ya sayang. Aku masih kangen banget sama kamu... Lagian 'kan udah lama kita gak_."


"Gak apa?" tegas Amalia, saat dia sudah berhasil melepaskan tubuhnya dari dekapan sang suami.


"Nggak itu." Angga menunjuk bagian intim tubuh istrinya dengan dagunya, sontak membuat wanita itu menjadi gemas.


Sebuah cubitan kecil mendarat di perut Angga, sontak membuat pemiliknya meringis kesakitan.


"Argghh, sakit sayang."


"Udah sana mandi dulu, setelah itu_."


"Setelah itu, kita," pangkas Angga menyatukan kedua jar telunjuknya.

__ADS_1


"Au ahh." Angga tergelak melihat ekspresi wajah istrinya. Betapa tidak rindunya dia, setelah kecelakaan yang dialami sang istri, pria itu belum berani menyentuh istrinya. Takut, akan melukainya lagi.


****************


Pagi harinya, semua keluarga berkumpul di meja makan. Azka dengan seragam sekolahnya duduk manis di sebelah neneknya. Amalia yang saat itu baru datang dari dapur, mendaratkan tubuhnya di seberang sang mertua. Sementara Angga duduk di kursi tunggal dengan wibawanya.


Di depan mereka sudah tersaji beberapa makanan sebagai menu sarapan pagi mereka. Nasi goreng dan beberapa lauk mampu membangkitkan cacing-cacing di perut mereka. Segara, Amalia menyendok kan makanan itu ke dalam piring sang suami.


"Segini, cukup Mas?" tanya wanita itu pada suaminya.


"Cukup, sayang."


"Azka mau pake lauk apa sayang?" Kini giliran Azka yang di tanya.


"Azka mau lauk sosis goreng, Bun. Gak mau pake nasi goreng, pake nasi putih aja," tunjuk anak kecil itu kearah sebakul nasi putih yang terletak di meja. "Pake sayul woltel juga, Bun," imbuhnya lagi. Segera disiapkan oleh sang bunda.


Kini pandangan Amalia beralih pada piring milik mertuanya yang masih kosong. "Ma, biar Amalia aja yang ambilkan nasinya," ucap wanita itu meraih sendok nasi yang hampir di pegang oleh Bu Renata.


"Cukup sayang. Terimakasih ya sayang," balas wanita paruh baya itu tersenyum hangat padanya.


Mereka bertiga makan dengan lahapnya. Beda dengan Amalia, perutnya justru terasa mual saat mencium aroma dari nasi goreng yang hampir masuk kedalam mulutnya. Sontak membuat wanita itu menutup mulutny dengan tangannya dan langsung berlari menuju Westafel di dapur.


"Uekkk..uek..." Amalia hampir memuntahkan semua makanan dan minuman yang baru saja masuk kedalam perutnya.


Keringat dingin seketika bermunculan di wajah cantik wanita itu. Sontak membuat sang suami segera menyusulnya dengan wajah panik.


"Sayang, kamu kenapa? Sakit?" cecar Angga memijit tengkuknya.


"Aku gak apa kok sayang," ujarnya menyibakkan tangannya setelah selesai dicucinya.

__ADS_1


"Tapi muka kamu pucat, loh. Kita ke dokter ya, aku takut kamu kenapa-kenapa," bujuk Angga namun segera di tolak olehnya.


"Nggak usah, Mas. Mungkin aku cuma masuk angin aja. Semalam 'kan aku mandinya kemalaman," tolak Amalia tersenyum getir, masih menahan mual dalam perutnya.


"Beneran? Gak apa?" Amalia mengangguk.


"Kita kembali ke meja makan, yuk?"


Dan Angga pun akhirnya mengikuti saran sang istri.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Bu Renata saat menantunya kembali dari dapur dengan wajah yang sedikit pucat.


"Gak apa kok, Ma."


"Wah jangan-jangan, Azka mau punya adik nih," ujar Bu Renata dengan senyum semeringai.


"Yeeeee, Azka punya adik. Azka seneng!!!!" teriak bocah itu kegirangan.


"Iya sayang, apa mungkin kamu_." Angga terlihat menghitung tanggal terakhir istrinya menstruasi. Seulas senyuman terpancar dari wajahnya, saat kemungkinan itu bisa terjadi.


"Nggak kok, Ma, Mas. Amalia memang sering telat datang bulan. Lagian, baru satu minggu kok telatnya," pangkas Amalia yakin.


"Belati Azka gak jadi punya adik, dong." Seulas kekecewaan dari anaknya, membuat dirinya merasa bersalah.


"Ada baiknya kalian pergi ke dokter, biar gak nebak-nebak gini," usul Bu Renata pada keduanya. "Mama harap sih, kamu beneran hamil, sayang. Biar rumah ini semakin ramai."


Ucapan mertuanya semakin membuat hatinya tak menentu. Dia takut akan mengecewakannya semuanya. Mengingat, kejadian penusukan waktu itu sedikit membuat dirinya ragu. Akan bisa secepatnya hamil lagi.


To be continued

__ADS_1


Assalamualaikum para reader setia Perjuangan cinta sang ceo. Maaf ya baru bisa up lagi.


__ADS_2