Perjuangan Cinta Sang Ceo

Perjuangan Cinta Sang Ceo
Ayah untuk Azka


__ADS_3

"Bunda ayo kita ketempat Ayah." Azka terus menarik tangan Amalia menuju kamar Angga.


"Sayang, emang kamu tahu dimana kamarnya?"


"Tahu dong, itu dikit lagi nyampe."


Merasa berdua akhirnya sampai di depan kamarnya Angga. Tapi pintu kamarnya tertutup. Sehingga mereka berdua berdiri di depan kamarnya.


"Tuh kan tutup, kita pulang aja ya Nak." Amalia mencoba membujuk putranya untuk tidak bertemu dengan Angga. Karena dia merasa tak enak, apalagi mereka belum saling kenal.


"Nggak Bunda, Azka mau ketemu Ayah," ujar Azka bersikeras mau bertemu dengan ayahnya. "Bunda ketuk pintunya, ya!" lanjutnya kemudian.


Akhirnya Amalia pun menuruti permintaan putranya. Dia mencoba mengetuk pintu kamar Angga. Beberapa kali dia sudah mengetuknya. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Amalia pun mencoba membujuk putranya lagi.


"Azka anak Bunda. Mungkin Ayah belum bangun. Nanti aja kesini lagi ya?" bujuknya sembari menatap wajah putranya.


Azka malah menangis merengek. Ingin tetap bertemu dengan ayahnya. Amalia pun menjadi bingung. Karena putranya menangis dan bersikeras ingin bertemu ayahnya.


Afdal yang baru datang dari depan langsung menghampiri Amalia dan Azka yang berdiri di depan kamar Angga. Kebetulan dia dimintai tolong oleh Angga untuk membelikan beberapa barang. Setelah dapat, dia berniat akan mengantarnya.


"Azka, kenapa sayang. Kok nangis?" Afdal langsung menggendong anak kecil yang menangis itu.


"Kenapa dia menangis, Am?" Afdal pun bertanya pada bundanya Azka.


"Azka minta ketemu bos kamu, Af. Dari bangun tidur tadi, dia mau dianterin kesini," jelas Amalia. Afdal pun mengelus-elus rambut Azka. Anak itu sudah mulai tenang.

__ADS_1


"Ya udah, Azka sama Ayah Af-dal ya Nak. Bunda mau nyelesain masak dulu ya Nak. Afdal aku titip Azka sebentar, ya." Azka pun mau ditinggal oleh Amalia. Jadi Amalia kembali lagi ke rumah untuk menyelesaikan masaknya.


Gemercik air keran mengcengkang telinga Angga. Sehingga dia tidak terdengar suara ribut-ribut di depan kamarnya. Pria bertubuh atletis itu sedang membersihkan dirinya. Usai mandi dia pun langsung keluar dari kamar mandi. Suara ketukan pintu, membuat dia mengurungkan niatnya untuk mengganti pakaian. Angga kemudian membuka pintu kamarnya.


"Ayah!!!" Seruan dan senyuman anak kecil itu membuat Angga terlihat senang.


"Maaf ya Pak, Azka merengek ingin bertemu dengan Bapak," ujar Afdal pada Angga. Angga beralih menggendong anak yang membawa dodot susunya kegendongannya. Azka pun jadi kegirangan.


"Azka kangen Ayah, ya!" Azka pun mengangguk karena mulutnya dipenuhi dengan Dodot susunya.


"Oh iya Pak, ini pesanan Bapak sudah saya belikan semuanya." Afdal kemudian memberikan kantong plastik pada Angga.


"Ya sudah kamu boleh pulang sekarang. Azka biar bersama saya disini. Nanti saya yang akan mengantarnya."


Selepas kepergian Afdal, Azka dibawa masuk kedalam kamar Angga. Anak itu didudukan di ranjang tempat tidurnya. Sementara dia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Apapun dilakukan oleh Angga untuk Azka. Dimulai jadi kudanya Azka. Bermain game lewat ponselnya, belajar berhitung bersama. Dan mereka bernyanyi bersama. Azka pun sangat gembira bisa bermain dengan Angga. Bahkan anak kecil itu melarang Angga untuk pergi dari sana.


Saat Angga menceritakan sebentar lagi akan pulang ke Jakarta. Anak itu berubah murung. Raut kesedihan menghinggapi diwajahnya. Angga jadi tidak tega melihatnya. Dan berjanji akan mengajaknya pulang ke Jakarta. Seketika wajahnya kembali ceria lagi.


Puas bermain dengan Angga. Azka pun minta diantar pulang. Karena belum mandi. Angga kemudian mengantarnya pulang sampai ke rumah. Kebetulan nek Asih ada dihalaman rumah. Jadi Angga menitipkan Azka pada Nek Asih. Kemudian dia pamit kembali ke penginapan nya.


Hari ini memang tidak ada pekerjaan. Jadi Angga, Niko dan Afdal tidak kemana-mana. Besok rencananya acara peresmian pembangunan gudang itu. Lusa Angga dan Niko sudah harus kembali ke Jakarta.


Tapi entah kenapa dia merasa ingin lebih lama lagi tinggal disitu. Dia merasa sangat nyaman dengan kehadiran Azka di dalam hidupnya. Anak kecil itu seketika merubah hidup Angga. Angga lebih bersemangat lagi melewati hari-harinya.

__ADS_1


Malam pun tiba. Setelah menutup toko baju miliknya. Amalia masuk ke rumah. Kebetulan Azka sudah lebih dulu tidur ditemani oleh nek Asih. Melihat anaknya sudah tidur. Amalia pergi ke dapur untuk membuatkan kopi Afdal yang masih berkutat dengan labtobnya di ruang tamu.


Dengan membawa secangkir kopi, Amalia menuju ke ruang tamu. Secangkir kopi itu kemudian dia letakkan di meja. Saat dia akan kembali ke dalam. Afdal memanggilnya.


"Am, temani aku ngobrol disini." Amalia pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih duduk disebelah Afdal.


"Tumben minta ditemenin," godanya pada Afdal yang terlihat sedikit serius.


"Ada hal penting yang akan aku sampaikan pada mu," jawabnya. Amalia pun hanya tersenyum.


"Apa kamu sudah mempunyai jawaban untuk permintaan Nenek?" Pertanyaan Afdal membuat Amalia gugup. Dia sendiri belum mempunyai jawaban itu.


"Aku tahu, mungkin kamu ragu untuk memberikan keputusan. Mungkin dengan apa yang akan aku sampaikan ke kamu. Bisa membuatmu bisa secepatnya memberikan jawaban itu." Afdal tahu, Amalia masih bingung menentukan pilihannya. Karena itu, dia ingin mengutarakan perasaannya pada Amalia.


"Aku mencintaimu Am." Mendengar kata-kata itu lolos dari mulut Afdal membuat Amalia semakin merasa bersalah. Dia tidak menyangka pria disampingnya itu akan jatuh cinta padanya. Sementara hatinya, masih belum bisa menerima kehadiran laki-laki lain. Di hatinya masih terpatri nama Angga.


Pria itu kemudian menatap mata Amalia dengan lekat. Terlihat jelas di mata pria itu. Kalau ucapannya memang tidak main-main.


"Maaf AF, aku perlu waktu lagi untuk menjawabnya. Aku belum bisa kasih jawabannya sekarang," jawab Amalia sedikit gugup. Dia takut salah bicara.


"Apa karena kamu masih mengharapkan Ayahnya Azka?" Pertanyaan Afdal membuat dirinya semakin gugup. Karena memang itu alasannya. Tapi dia tidak mungkin mengatakannya pada Afdal.


"Jika iya. Aku gak akan maksa kamu untuk menerimaku. Kamu berhak bahagia Am. Tapi kamu juga harus memikirkan anak kamu." Afdal pun menepuk pundak Amalia pelan dan tersenyum pada wanita itu. Seolah memberitahu jika dia akan menerima apa yang akan menjadi keputusan Amalia.


"Sekarang tidurlah! Kamu pasti capek kan." Amalia pun tersenyum.

__ADS_1


Amalia memutuskan untuk kembali ke kamar. Perkataan Afdal membuat dirinya sudah memejamkan matanya. Apalagi mengingat kedekatan anaknya dengan Afdal. Yang paling penting saat ini. Anaknya bahagia. Kebahagiaan anaknya ada pada laki-laki yang dipanggil ayah oleh anaknya. Hatinya pun bimbang. Tapi mungkin dia sudah harus melupakannya Angga dan mulai membuka hatinya untuk pria lain.


to be continued


__ADS_2