
Keesokan harinya. Tepat hari ini adalah hari dimana Amalia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Di sebuah ruang VIP, rawat inap Amalia, suasana semakin menegang. Terjadi adu pendapat antara Angga dan pak Sapta.
Bu Leha sudah mencegah suaminya untuk tidak kembali ke Jakarta. Sekuat tenaga dia melarang. Tapi tidak berhasil, justru membuat pertengkaran antara suami-istri itu. Akhirnya, Bu Leha memilih mengalah dan membiarkan suaminya untuk pergi ke Jakarta. Tujuannya hanya satu, menjemput Amalia untuk di bawa pulang ke Bogor.
"Pa, Amalia masih istri sahnya Angga. Angga yang berhak membawa pulang dia!!" salak Angga yang mulai terpancing.
"Tapi sebentar lagi, tidak! Saya akan minta Amalia pisah dari kamu!!?" gertak Pak Sapta egois.
Amalia hanya bisa menangis sesenggukan melihat pertengkaran mereka berdua. Dia tidak menyangka, kalau Papanya akan bersikap seperti itu. Jika ia harus memilih, dia hanya ingin pulang bersama suaminya.
"Pa, Papa jangan egois. Kasihan Amalia!!!" lerai Delon membuat Papanya mengerti.
"Sekarang, kita pulang!!!!!" Pak Sapta menarik paksa tangan Amalia agar ikut dengannya.
"Pa, Am mohon. Biarkan Am pulang berasa suami, Am!" rintih Amalia memelas. Pak Sapta menghentikan langkahnya, sorot matanya tajam menatap wajah Amalia, bak seekor elang yang siap menerkam mangsanya.
"Kamu! Kamu lebih memilih ikut suamimu, Am. Ketimbang ikut dengan Papa!!!!" Kemarahannya memuncak, saat Amalia memilih pulang dengan Angga. "Mana wujud bakti kamu pada Papa!!!!! Kamu memilih hidup bersama anak seorang mafia seperti dia!!!!" lanjutnya berteriak lantang seraya menunjuk wajah Angga.
"Ya sudah, Papa akan pergi!!!! Tapi jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki kamu di rumah Papa!!!" Pak Sapta langsung pergi dari sana dan melangkah lebar menuju ke luar. Dengan cepat Amalia mengejar Papanya.
__ADS_1
"Pa!!!! Papa!!!!" teriaknya setengah berlari di susul oleh Angga dan Delon.
"Sayang, kamu baru saja sembuh. Jangan lari, sayang!!?!" pekik Angga memperingati istrinya. Tapi sepertinya Amalia tidak lagi menghiraukan tubuhnya. Dia terus mengejar Papanya yang sudah hampir menjauh.
"Tapi, Papa! Am harus kejar Papa!!!!" Amalia tahu, jika Papanya sudah marah, tidak ada satupun orang yang berani melawan. Tapi sekarang berbeda, dia bukannya tidak patuh pada Papanya. Tapi, kewajibannya seorang wanita bersuami ialah mematuhi titah suaminya.
Pak Sapta terus melangkahkan kakinya lebar, hingga dia sampai di halaman rumah sakit. Dari Arah kiri ada sebuah mobil MPV berwarna hitam melaju kencang menuju kearahnya, mobil itu sedang membawa pasien yang darurat. Dan Pak Sapta tidak menyadari itu, hingga mobil itu nyaris menabraknya. Suara klakson dari mobil itu pun terdengar nyaring. Hingga seseorang mendorong tubuh Pak Sapta menjauh dari tempat itu, dan orang itu yang tertabrak.
Brakhhhh... bughh.....orang itu terpental sampai jarak setengah meter dan pyar.... kepalanya terhantam paping, di halaman rumah sakit.
"Papa!!!!!" teriak seorang wanita tak jauh dari tempat itu di susul teriakan seorang anak kecil.
"Kakek!!!! Huhuhu!!!"
"Dwi!!? Kamu harus sadar Dwi!!!! Wi!!! sadarlah!!! Cepat angkat dia bawa kedalam!!!!" teriaknya lantang meminta pertolongan pada semua orang yang ada di sana. Tiga orang perawat laki-laki datang membawa brankar dari dalam rumah sakit. Bu Renata dan Azka menangis pilu melihat kecelakaan yang dialami suaminya.
Setelah tubuh Pak Dwi di gotong, dan di baringkan ke brankar. Mereka segera membawanya kedalam. "Dwi...kamu harus sadar...Dwi....aku sudah memaafkan mu... Dwi!?!" Pak Sapta terus mengucapkan kata-kata itu seiring perjalanannya membawa tubuh Pak Dwi ke ruang IGD.
Angga yang melihat papanya terbaring di brankar bersimbah darah, berteriak histeris. "Papa!!?? Apa yang terjadi dengannya?" Pertanyaan Angga tidak ada satupun yang menjawab. Hingga mereka sampai di ruang IGD. Tiga orang perawat itu membawanya kedalam. Menyisakan Angga dan Pak Sapta. Bu Renata juga datang bersama Azka dengan diiringi tangis mereka berdua. Amalia dsn Delon pun, ikut bergabung bersama mereka.
__ADS_1
Pak Dwi merasa cemas dan gelisah. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan besannya itu. Dia berjalan mondar-mandir dari sisi satu ke sisi lain, untuk mengurangi rasa gelisah ya. Tapi, tak dapat di pungkiri. Semakin dia melangkahkan kakinya, rasa cemas itu semakin mendera dirinya.
Angga memeluk tubuh mamanya, wanita itu sudah terlihat pucat. Sembari terisak di dada anaknya, wanita itu memanggil-manggil nama suaminya. "Papa...Papa, Ngga...hiks..hiks.." racaunya.
Sementara Azka, dia sekarang berada di gendongan pamannya. Anak itu terlihat ketakutan, setelah melihat kejadian yang membuat kakeknya berlumuran darah. Anak itu, bahkan tidak berani membuka wajahnya yang di sembunyikan di balik bidang dada pamannya. Delon mendekati Papanya, di ingin tahu kejadian yang sebenarnya.
"Pa, apa yang terjadi?" tanyanya memegang pelan pundak papanya. Wajah Pak Sapta berubah menjadi sendu. Pria yang keras hatinya, seakan melunak setelah melihat pengorbanan pak Dwi yang sudah menyelamatkan nyawanya. "Pa, Papa gak apa, kan?" tanya Delon yang melihat wajah papanya berubah pucat pasi.
"Lon, Dwi....dia menyelamatkan Papa!!!" ujar Pak Sapta dengan suara berat. "Mobil itu...harusnya menabrak Papa!!!" lanjutnya masih dengan terbata-bata.
Amalia yang tidak tega melihat papanya terpukul, akhirnya dia mendekat dan memeluk tubuh Papanya. "Harusnya Papa yang ada di dalam..." lanjut pak Sapta, yang mulai menitikkan air matanya.
"Pa, Papa tenang ya!!!" ucap Amalia menenangkan papanya yang mulai merasa ketakutan, merasa bersalah, bercampur aduk di dalam dadanya.
Tak lama setelah itu, dokter yang menangani pak Dwi keluar dari ruang IGD. Angga dan Bu Renata bergegas menghampirinya. "Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Bu Renata harap-harap cemas.
Dokter itu menghembuskan nafasnya ke udara. Raut penyesalan terlihat jelas di wajah dokter itu. Dia berfikir sejenak mencari kata-kata yang pas, agar keluarga pasiennya tidak histeris mendengar apa yang akan dia sampaikan. Setelah menemukannya, beliau berucap. "Maaf, kaki sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien. Tapi, takdir berkata lain.. Pak Dwi tidak bisa kami selamatkan!!"
Tangis Bu Renata pecah. Wanita itu bahkan tak sadarkan diri, sehingga Angga langsung membawanya ke ruang rawat, agar di tangani oleh dokter. Sementara Pak Sapta. Tulang-belulangnya seketika melemas mendengar kematian musuhnya. Harusnya dia bahagia, dengan kematian pak Dwi. Tapi, pria itu justru merasa bersalah. Kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Hingga dia terduduk di lantai. "Ini salah Papa!!!" lirihnya, menangis pilu.
__ADS_1
Amalia juga menangis. Dia tidak menyangka kalau mertuanya akan pergi secepat ini. Sesak di dadanya mulai menyerang wanita itu. Jika dia ingat, dia sempat mengutuk papa mertuanya tidak akan memaafkan kesalahannya. Sama halnya dengan Papanya, hatinya di liputi rasa penyesalan. Sementara Azka, anak itu menangis histeris. Dia terus menyebut nama kakeknya. Tubuhnya meronta-ronta di gendongan pamannya. Betapa tidak, selama Amalia dirawat di rumah sakit. Psk Dwi lah yang merawat dengan telaten bocah itu. Ketelatenannya merawat Azka, sangat membekas di hati anak itu.
To be continued....